
Bara pun menepikan mobilnya agar tidak menghalangi pengendara lain, dia kemudian menarik napas dan menghembuskannya, setelah itu memutar badannya menghadap ke arah Airin.
" sayang... bukannya kamu tadi mau jemput anak kita" ucap Bara, tentu saja mata Airin melotot mendengar pernyataan Bara.
Perasaan Airin dag dig dug sepertinya jantungnya mau lepas, bagaimana tidak? pada saat Bara ngerem mendadak ,terus menepikan mobilnya, memegang pipinya sambil bilang SAYANG, itu membuat Airin salah tingkah.
Airin kemudian tersĂ dar lalu dia melepaskan tangan Bara dari wajahnya, dia menundukkan badan menyembunyikan wajahnya yang pasti seperti kepiting rebus.
" kamu kenapa?" tanya Bara
" diam" ucap Airin masih dalam posisi yang sama, lalu dia mencoba menetralkan perasaannya.
Airin lalu bangun dan menyuruh Bara melanjutkan perjalanannya sesuai dengan petunjuk yang diberikan Airin.
" nanti lampu merah yang ada didepan belok kanan pa" ucap Airin
" baik bu" ucap Bara mencoba menggoda Airin
Airin hanya mendelikkan matanya tanpa ingin membalas ucapan Bara.
" itu didepan pa tempatnya" ucap Airin
Akhirnya mereka sampai dan Bara mencari parkiran kosong. Airin mau membuka pintu tapi dicegah oleh Bara.
" tunggu dulu" serunya
Airin pun mengurungkan niatnya karena takutnya ada yang mau dibicarakan dulu. Airin melihat Bara membuka pintu turun dari mobil, lalu mengitari mobil untuk membukakan pintu Airin (uuhhh so sweetđ).
Tapi Airin tidak meleleh hatinya dengan perlakuan Bara
" kirain mau ngapain" batin Airin
"silahkan tuan putri" ucap Bara mempersilahkan Airin keluar sambil mengeluarkan senyum mautnya ( dalam pikiran halunya, Airin akan mengucapkan terima kasih sambil membalas senyumnya,atau memeluknya minimal).
"makasih" ucap Airin ketus lalu keluar dari mobil, muka Bara berubah sendu ( realita tak sesuai ekspetasi)
" assalamu'alaikum ustad, saya mau menjemput Arrayan Alfarizqi, kelas tujuh" ucap Airin kepada ustad yang berjaga.
" wa'alaikum salam, sebentar ya bu" jawab ustad tersebut.
Bara memindai pemandangan yang berada disekitarnya.Lalu dia bertanya pada Airin karena banyaknya orang tua yang menjemput anak-anak mereka.
" kok yang dijemput anak cowok semua, memangnya disini pesantren khusus cowok ya?" tanya Bara
Sebelum menjawab pertanyaan Bara, Airin dikejutkan dengan seseorang yang menghampirinya.
" assalamu'alaikum bu Airin, masih ingat saya ga" tanya seorang ibu yang usianya sepertinya tidak jauh berbeda dengannya.
"iya, wa'alikum salam" jawab Airin sambil mengingat siapa perempuan itu
" ishh bu Airin ini, pasti lupa sama saya ya, kita kan pernah ngobrol waktu pertama kali daftar ulang kemarin" ucap ibu itu mengingatkan seraya merajuk
" oh iya maaf, apa kabar?" tanya Airin berusaha seakrab mungkin agar lawan bicaranya tidak tersinggung,
" baik bu, oh iya waktu itu kan saya mau ngenalin abang saya, sebentar ya" ucap ibu itu sambil celingak celinguk mencari seseorang
" nah itu dia, Abang..." teriaknya memanggil kakaknya. tak berselang lama seseorang menghampiri mereka.
" ini lho abangnya saya, namanya Amir, dia DUDA bu sedang mencari calon istri he..he.." ucap ibu itu lagi, sedangkan yang dikenalkan mukanya memerah karena malu.
Lain halnya dengan Bara, mukanya memerah karena menahan amarah. Bara dan Amir saling berjabat tangan, Bara menjabat tangan Amir dengan sedikit mengeratkan jabatan tangannya.
" perkenalkan saya Bara, CALON SUAMI Airin" ucap Bara dengan tegas
"Amir" ucap Amir dengan singkat
perempuan yang memperkenalkan Amir tadi mukanya memberengut, ia kecewa ternyata Airin sudah punya calon suami.