Vertical Garden

Vertical Garden
Extra part 3



Si mbok mengerti keadaan Airin, dia tidak ingin memberikan pendapatnya pada Airin karena mungkin moodnya ibu hamil yang berada di depannya ini sedang tidak baik.


Sementara Bara yang sedang merasa kesal akhirnya pergi ke rumah orang tuanya seorng diri.


"assalamu'alaikum.." ucapnya dengan wajah kusut


" wa'alaikum salam" jawab si mbok


" mau minum apa den?" tanya si mbok


" kopi aja " jawabnya dengan cepat, ia ingin segera menemui bundanya


tok..tok


" bunda...bun.." ceklek pintu pun terbuka, bunda heran dengan kedatangan Bara


" kamu ga ngantor? siang2 begini dah di rumah?" tanya bunda


Bara langsung masuk ke kamar orang tuanya lalu duduk disofa kamar itu.


"Airin hamil bun" ucap Bara


" apa? hamil?Airin nya mana?" tanya bunda


" dirumahnya yang lama" jawab Bara


" kamu ninggalin dia disana?" tanya bunda lagi


" dia yang mau bunda, tadinya mau kesini dulu pas pulang dari rumah sakit, eh..dijalan dia minta dianterin ke rumahnya" jelas Bara, lalu bunda mendekatinya dan menjewer kupingnya


" aduh, ampun bunda...ampun...sakit bun" ucap Bara


" lagian kamu itu ya jadi suami ga peka banget, perasaan ibu hamil itu sensitif, pengennya diperhatiin, banyak maunya, suka berubah2, jadi kamu harus siap2, jangn cuma enaknya aja, jangan cuma bikinnya aja yang semangat" kesal bunda


" emangnya dokter ga bilang apa2 sama kamu" tanya bunda


" dokter cuma bilang, harus sabar karena dia tau tentang kehamilan Airin yang sebelumnya" ucap Bara


" emang kehamilan sebelumnya kenapa, apa ada trauma?" tanya bunda


" ga tau " jawab Bara, lalu bunda memukul lengan Bara


" kamu itu ya.." ucap bunda dengan kekesalan yang meningkat dua kali lipat


" ayo kita ke rumah Airin" ajak bunda


" den ini kopinya" ucap si mbok


" minum aja mbok, lagian bikin kopi lama banget" ucap Bara


Bunda dan Bara pergi berdua, mereka menuju rumah Airin. setelah setengah jam lebih, sampailah mereka di rumah Airin.


"assalamu'alaikum, mbok Airin ada?" tanya bunda. "ada nyonya, sebentar saya panggilkan" jawab si mbok, tapi Bara sudah mendahului si mbok untuk ke kamar Airin.


" biarinlah mbok, dia kangen kali sama istrinya" ucap bunda


Bara sudah beberapa kali mengeruk pintu kamar Airin, tapi tidak ada tanda2 kalo Airin akan membuka pintunya.


Kemudian Bara menemui sang bunda dan si mbok.


" mbok apa yang terjadi waktu Airin hamil anak2nya, apa dia ada trauma?" tanya Bara


" anu den, itu bu Airin memang ada trauma" ucap si mbok sambil melirik kearah kamar Airin, karena dia takut Airin keluar kamar dan mendengar si mbok bercerita tentang kondisinya


Si mbok pun menceritakannya dari mulai kehamilan yang pertama dan kedua


" pantesan aja, dia seperti ketakutan waktu diberi tahu kalau lagi hamil" ucap Bara


" bu Airin juga tadi nanya, boleh ga kalau suatu saat dia balik lagi kesini, gitu katanya" jels si mbok


" kenapa mbok?" tanya bunda


" mungkin merasa pernikahannya akan berakhir seperti sebelumnya" ucap si mbok


" ngga bun, Bara ga akan biarin itu terjadi" ucap Bara


Disaat mereka sedang asik ngobrol, datanglah Aira dengan beberapa koper di belakangnya.


" Ra itu koper siapa?" tanya bunda


" koper ibu sama Aira" jawab Aira sambil menyalami orang2 yang ada disana


" maksudnya?" tanya Bara


" tadi ibu nelp, katanya kalau udah pulang sekolah Aira disuruh kesini sekalian bawa bajunya" jawab Aira


" ya udah sekarang Aira ganti baju dulu, solat abis itu makan ya, oma tunggu " ucap bunda


Lalu Aira pergi ke kamarnya , melakukan apa yang dibilang omanya tadi. Aira akhirnya keluar dari kamarnya dan itu membuat Bara sedikit lega, kali ini dia akan membutuhkan bantuan Aira supaya Airin mau membuka kamarnya