
Malam pun tiba, Airin dan keluarganya tidak ada persiapan khusus untuk menyambut kedatangan Bara yang katanya akan datang beserta orang tua nya.
" bu, om itu jadi datang? " tanya Ray, dia jadi bingung karena ibunya terlihat biasa-biasa saja tanpa ada persiapan apapun.
" ibu juga ga tau, dia serius atau ngga. kalau mau datang ya datang aja" ucap Airin
Tak berselang lama, datanglah Aira. dia memberitahukan kalau ada tamu di depan rumahnya. karena saat ini Airin dan anak-anaknya ada di kamarnya.
" bu ada tamu tuh, om-om ganteng kayaknya sama keluarganya deh" ucap Aira
deg
Airin dan Ray saling bertatapan, kemudian Airin menyuruh Aira untuk ke kamarnya.
" sekarang ade ke kamar dulu ya, jangan keluar kalau ibu ga panggil ya" seru Airin pada anak perempuannya. tanpa ada bantahan Aira pun langsung pergi ke kamarnya.
" sekarang gimana bu?" tanya Ray
" kamu tenang aja, kita temui mereka tapi sebelumnya ganti baju dulu ya" ucap Airin menenangka Ray, dan Ray pun nurut langsung pergi ke kamarnya.
Beberapa menit kemudian Airin dan Ray sudah berada di ruang tamu, karena tadi si mbok sudah menyuruhnya masuk dan sudah tersedia juga makanan ringan serta minumannya.
"assalamu'alaikum semuanya, mohon maaf tidak ada penyambutan khusus atas kedatangan Pa Bara beserta keluarga" begitulah kira-kira sambutan dari empunya rumah.
" wa'alaikum salam, tidak apa-apa nak. masih ingat dengan ibu tidak?" tanya bundanya Bara
" alhamdulillah bu, masih ingat, maaf ya waktu itu saya nagihnya melalui anda, karena saya kira tidak akan bertemu lagi dengan anak anda" jawab Airin sambil melirik Bara.
" tidak apa- apa, memang mencari laki- laki yang bertanggung jawab itu agak susah ya" ucap bunda menyindir sang anak
" sudahlah bun, sebaiknya kita sampaikan tujuan awal kita datang kemari biar ngga kemaleman" ucap ayah menengahi agar tidak terjadi perdebatan antara ibu dan anak.
" iya yah" ucap Bara membela sang ayah karena sudah tidak sabar untuk melamar pujaan hati.
" baiklah. begini nak Airin, kedatangan kami kesini berniat ingin melamar nak Airin untuk anak kami Bara, dan kami menunggu jawaban hari ini juga" ucap ayah Bara yang sudah diamanati sang anak agar segera mendapat jawaban.
" Ray tolong panggil oŕang-orang yang ada dirumah" ucap Airin pada sang anak
" silahkan sambil dicicipi makanannya" ucap Airin lagi dengan tersenyum
Ray langsung pergi mencari para penghuni rumah. tidak lama kemudian berkumpulah mereka di ruang tamu.
" baiklah keluarga saya sudah berkumpul dan saya akan memberikan jawabannya" ucap Airin
" bismillah, mohon maaf saya tidak bisa menerima lamaran pa Bara, untuk alasannya tentu anda sudah tau " ucap Airin menolak dengan tegas.
" baiklah kalau begitu, mungkin kamu tidak percaya dengan keseriusan saya. akan saya buktikan kalau saya benar- benar memncintai kamu dan ingin menikahi kamu dan saya juga akan menerima anak- anakmu untuk menjadi bagian dari hidup saya, yaitu anak kita" ucap Bara berusaha meyakinkan.
Belum sempat Airin mempertimbangkan ucapan Bara, datangnya tamu tak diundang. mereka adalah Yoga, pa rt, pa ustad dan tetangga yang diundang Yoga atas suruhan Bara.
Airin pun kaget kenapa Bara sampai senekad itu dan ini namanya pemaksaan.
"maaf pa Bara bisa kita bicara berdua?" ucap Airin sambil berdiri diikuti oleh Bara.
" anda ini kenapa sih, pemaksa banget, jelas-jelas saya menolak lamarannya, tapi kenapa anda malah mengundang tetangga saya" tanya Airin dengan kesal.
" kan saya sudah bilang, kamu calon istri saya, kalau ga mau, berarti kamu maunya jadi istri saya" jawab Bara dengan tersenyum.
" saya ini punya anak, tak bisa memutuskan seorang diri, dan keluarga anda juga belum tentu mau menerima anak- anak saya" ucap Airin
" orang tua saya bisa menerima kehadiran anak- anak kok, jadi apa yang harus dipermasalahkan?" ucap Bara
" dengar, saya sudah mengetahui siapa kamu? keadaan keluargamu semuanya, maka dari itu saya ingin segera menikahimu hari ini juga" ucap Bara sambil memegang lengan Airin
Datanglah Ray dan Aira menyusul ibunya karena lama tidak kunjung kembali ke ruang tamu.
" bu , bagaimana?" tanya Ray
Airin menghampiri kedua anaknya dan memeluk mereka. Lalu Airin mengajak duduk
" kakak dan adek , ibu mau tanya. kalian setuju ga jika ibu menikah lagi?" tanya Airin. dia harap-harap cemas menunggu jawaban dari kedua anaknya.