Vertical Garden

Vertical Garden
extra part 1



"bagaimana dok, istri saya sakit apa?"tanya Bara


"sebaiknya istrinya dibawa ke rumah sakit saja, biar nanti ada tes nya sekalian" ucap dokter sambil tersenyum


" apa separah itu dok sakitnya sampai harus ke rumah sakit segala" tanya Airin


" tenang bu, ini hanya untuk memastikan saja, biar nanti ditangani sama ahlinya, jadi lebih aman" ucap dokter mencoba menenangkan Airin


" pa lebih cepat lebih baik" ucap dokter lagi tapi kali ini ke Bara.


" iya dok , terima kasih" ucap Bara


Dokter pun pergi setelah diantar si mbok sampai depan rumah.


Di kamar Bara membujuk Airin agar mau ke rumah sakit.


" sayang... ke rumah sakit sekarng yuk, mumpung mas libur nih" ajak Bara


" ga mau, kalau mas mau ke kantor pergi aja ga apa-apa" ucap Airin sambil memainkan ponselnya


Bara heran dengan perubahan Airin hari ini, tadi pagi begitu manja, sekarang kembali ke mode Airin yang biasanya.


" ok kalo ga mau, tapi kasih mas alasannya" ucap Bara


" ga ada alasanlah" debat Airin


" harus ada sayang...kalo ga mau ntar mas paksa gendong dari sini ke mobil, terus ntar di rumah sakit dari parkiran digendong lagi sampai ke ruangan dokternya, gimana?" ucap Bara sambil menaik turunkan alisnya


" mana bisa begitu" ucap Airin


" ya bisalah, kamu ga liat nih otot2 mas kalau ga gendong kamu ntar mubazir lho" ucap Bara


"ha..ha..ha...mana ada otot mubazir hampir tiap malam minta lembur kok" ucap Airin mengerucutkan bibirnya. Bara mendekati istrinya lalu mengecup bibirnya yang sangat menggoda itu.


" modus mulu " ucap Airin


" kalo hasilnya positif, bolehkan aku tinggal di rumah lama, aku takut kondisi kehamilanku kayak dulu, hanya si mbok yang bisa mengatasi kehamilanku, dia sudah faham" ucap Airin lagi dengan wajar sendu, lalu dia menuju lemari pakaian dan memakai baju yang sudah rapi.


Sementara Bara hanya memperhatikan gerak gerik istrinya, dan mencoba mencerna apa maksud istrinya tersebut tapi dia tetap tidak mengerti.


" sebaiknya nanti tanya si mbok aja" gumamnya


" ayo" ajak Airin, dia mengulurkan tangannya kepada Bara. lalu mereka pun keluar dari kamar menuju parkiran.


Bara dan Airin pun pergi ke rumah sakit, diperjalanan Airin hanya diam, Bara pun tidak mau mengganggu pikiran istrinya. lama2 Airin tertidur.


" sayang...dah sampe nih. sayang..." ucap Bara sambil mencolek pipi istrinya. dia gemas karena kalau diperhatikan memang ada sedikit perubahan pada pipi istrinya itu


" emmm dah sampe ya, hush..." Airin mencoba menarik nafasnya lalu membuangnya untuk merilekskan perasaannya.


Airin mencoba keluar dari mobil duluan, tapi tangannya di pegang Bara. Lalu Bara keluar lebih dulu dan membukakan pintu mobil dimana Airin akan keluar.


Mereka bergandengan tangan menuju reseptionis, Bara mendaftarkan istrinya tersebut ke dokter kandungan.


Dari arah samping tampak seseorang sedang memperhatikan pasangan Bara dan Airin.


"Airin.." sapa seseorang setelah jaraknya sudah tidak terlalu jauh, merasa ada yang memanggil istrinya Bara melihat seorang dokter memakai baju dinasnya serta kacamata yang bertenggr.


"Airin apa kabar ?" tanya sang dokter lalu mengulurkan tangannya.


" baik" jawab Airin singkat sambil mengatupkan tangannya di dada


" sayang, kamu mengenalnya?" tanya Bara tak lupa dia menarik pinggang Airin agar lebih dekat dengannya.