
" itu terserah kamu" jawab Haikal dengan entengnya.
deg
Setelah itu Haikal kemudian keluar dari kamarnya dan itu membuat Airin sangat membenci Haikal. Selama ini dia mencoba mempertahankan rumah tangganya dan berusaha melayani suaminya dengan baik kecuali untuk urusan ranjang.
Airin tadinya tidak terlalu terganggu dengan kabar dari ibu mertuanya bahwa Haikal punya kekasih dan mereka menjalin hubungan sebelum Haikal dan Airin menikah.
Akhirnya Airin mencari tahu dan kabar itu ternyata benar adanya, dan Haikal sering menginap di apartemen kekasihnya.
"aku harus memastikan kalau ak sedang tidak hamil, lalu aku harus meminta cerai" bathin Airin
" kali ini ak tidak akan mengalah lagi, aku harus bangkit demi anak-anakku" Airin menyemangati diri sendiri
Dibulan kedua setelah kejadian itu, Airin tidak mendapat tamu bulanannya. tadinya dia tidak peduli karena memang tidak ada tanda-tanda yang biasa dirasakan orang hamil pada umumnya.
Airin pun penasaran, ia kemudian ke kamar mandi dah mencoba menggunakan alat tes kehamilan dan ternyata benar dugaannya dua garis terpampang didepan matanya.
" ya alloh, amanah ini harus hamba jaga, berilah hamba kekuatan dan kesabaran" ucapnya dalam do'a. kali ini dia harus lebih kuat untuk menjaga malaikat2 kecilnya
Setelah membersihkan diri dan berpakaian rapi, Airin langsung mencari anaknya yang tadi dia titipkan pada mbok Nan
" mbok sini Ray biar sama saya saja" pintanya pada si mbok
" setelah kerjaannya selesai, mbok ikut saya ya" ucapnya lagi
" iya bu" jawab si mbok" tanpa banyak bertanya
Airin berencana keluar untuk bertemu dengan kakeknya Haikal dan sekalian belanja keperluan anak2nya.
"Ada apa mau menemui kakek ditempat seperti ini, kenapa tidak di rumah saja?" tanya kakek
" maaf kek, kalau Airin lancang dan mengganggu waktu kakek" ucap Airin karena tidak enak hati
" tidak apa2 ,apa yang ingin kamu bicarakan" ucap kakek to the point
" maaf sebelumnya kek, Airin tidak bermaksud ingin mengadukan sikap mas Haikal dan kelakuannya di luar rumah. terus terang Airin nyerah dengan sikapnya, dan rencananya setelah melahirkan Airin akan menggugat cerai mas Haikal" Airin mencoba menjelaskan
" apa sekarang ini kamu sedang hamil?" tanya kakek
" iya kek, tapi Airin belum periksa ke dokter, baru pakai tespek saja"jawab Airin karena setelah bertemu dengan kakek dia sudah punya janji dengan dokter kandungan.
" maaf, kakek kira dengan menikahkan kamu sama Haikal akan membuat sikapnya berubah menjadi lebih baik. jika itu sudah keputusanmu, kakek hanya bisa mendo'akan kebahagiaan kalian" ucap kakek dengan mata berkaca2
" terima kasih kek. mengenai anak2, Airin akan melakukan tes DNA agar kedepannya tidak terjadi salah paham lagi" jelas Airin
Kakek hanya menganggukan kepalanya, dia terlihat sedih. Airin menceritakan tentang rencanya kepada kakek bukan tanpa alasan, karena dalam keluarga suaminya hanya kakek yang bisa dipercaya.
Setelah menemui kakek,Airin pergi ke Rumah sakit untuk memeriksakan kandungannya.
Bulan berganti tak terasa kini usia kandungan Airin sudah sembilan bulan dan Ray anak pertamanya sudah bisa berjalan, Ray menjadi anak yang mandiri dan cerdas, seoalah dia tau akan keadaan sang ibu yng sedang mengandung adiknya.
Di rumahnya, hanya si mbok yang selalu menemani dalam keadaan apapun, sehingga jika dia bercerai Airin ingin membawa serta mbok Nan untuk tinggal dengannya membantu membesarkan anak-anaknya.
" astagfirulloh, mulesnya semakin sering, apa waktunya sudah dekat ya alloh" bathin Airin. kemudian dia segera me