
Assalamu'alaikum para readers semoga kalian sehat2 ya, maaf kalo uploadnya suka lama, habisnya kadang kehabisan ide. Vertical Garden akan segera tamat aku buat sampai 40 episode aja, soalnya pengen nyari judul baru.
Do'ain ya mudah2an LuLus Kontraknya, jangan lupa kritik dan sarannya, biar judul- judul selanjutnya lebih baik lagi, semoga Alloh membalas kebaikan kalian dan memberikan keberkahan kepada kita semua, amiin🤲
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Pagi ini tidak seperti biasanya Airin malas bangun, dia malah mempererat pelukannya pada sang suami, sehingga Bara akhirnya terbangun.
" sayang...tumben ga langsung bangun" tanya Bara tapi mata Airin tidak terbuka juga.
Bara meletakkan tangannya pada dahi Airin, dia takut Airin sakit, setelah dicek tapi tidak panas.
Bara mencoba bangun terlebih dahulu dengan pelan-pelan agar tidur Airin tidak terganggu, dia mengganjalkan guling agar bisa Airin peluk menggantikan dirinya.
Sebelum ke kamar mandi, Bara mencium kening Airin terlebih dahulu.
ceklek
Suara pintu kamar mandi terbuka, Airin masih tetap nyaman dengan gulingnya tanpa ada perubahan sedikit pun.
Bara melaksanakan solat malamnya tanpa ditemani istri tercintanya. setelah solat, dia mencoba membangunkan Airin lagi.
"sayang...ayo bangun keburu subuh lho, mau solat malam ga?" tanya Bara sambil mengelus lengan dan mengusap kepala istrinya.
"eemmmm.." cuma lenguhan yang terdengar dari bibir istrinya. Airin sangat berat untuk membuka matanya seperti ada lem yang menempel.
Bara akhirnya membiarkan istrinya , kemudian dia keluar dari kamarnya menuju tempat solat subuh berjamaah di rumahnya.
" ibu mana pah?" tanya Aira karena biasanya orang tuanya itu turun bersamaan.
" kayaknya lagi ga enak badan, tadi dah dibangunin tapi ga bangun juga,ga biasanya" jawab Bara
" ayo berjamaahnya tanpa ibu, keburu habis waktunya" ajak Bara karena memang adzan subuh sudah berkumandang dari tadi.
Bara dibuat heran dengan keadaan Airin kali ini, suhu badannya biasa aja tapi kok susah dibangunin.
" sayang..kamu belum solat subuh , ayo bangun ntar mas siram lho, mas tinggal berangkat kerja ya" ucap Bara mengancam seperti waktu Airin membangunkan Aira.
Bara menuntun Airin menuju kamar mandi, dia tidak meninggalkannya begitu saja karena dia tahu Airin sangat membutuhkannya.
Dibantunya Airin ubtuk mencuci muka terlebih dahulu, perlahan-lahan matanya terbuka melihat cermin lalu melihat kearah suaminya berada.
" mas ngapain disitu, malu tau aku mau mandi" ucap Airin
Bara hanya terheran-heran dengan sikap Airin yang seperti itu. tà pi dia tidak beranjak dari sana karena ada yang aneh dengan istriny itu, dia ga mau Airin kenapa-kenapa.
" mas...kok malah bengong sih, keluar sana aku mau mandi" seru Airin lagi.
" ngga..mas disitu aja, takutnya kamu mandinya lama, keburu kesiangan subuhnya" ucap Bara beralasan
" ish... ya udah liatnya balik sana, jangan lihat kesini" Airin mengalah karena memang waktu subuh sudah sangat mepet
Setelah melakukan kewajibannya Airin bukannya bersiap untuk keluar dari kamar seperti biasanya, ini malah ketempat tidur lagi, perilaku istrinya kali ini sangat luar biasa membuat Bara geleng- geleng kepala.
" mas sini, hari ini libur ya" ucap Airin lalu menarik tangan Bara.
Airin menyuruh Bara untuk membuka bajunya lalu tiduran diatas ranjang, hal itu membuat Bara bertanya-tanya.
" kamu kenapa sih, kok jadi manja begini. ini bukan kamu banget walaupun mas suka sih he..he.." tanya Bara
" manja gimana? maksud mas , aku berubah gitu ga kayak biasanya" tanya Airin yang tidak menyadari apa yang terjadi pada dirinya
" biasanya aku manja sama siapa? apa harus manja sama si mbok atau pa satpam gitu" ucap Airin sambil matanya berkaca- kaca
Melihat itu bara langsung bangun karena sepertinya istrinya akan menangis
'" sayang..kok nangis sih" Bara mencoba menenangkan Airin yang berderai air mata.
" mas keluar aja sana" ucap Airin lalu dia tidur menyamping memunggungi suaminya
"sayang..." ucap bara dia ingin menanyakan ada apa dengan istrinya itu, tadi nyuruh libur sekarang disuruh pergi
Tak ada pergerakan dari Airin, lalu Bara keluar dari kamarnya, karena sudah pasti Aira sidah menunggu untuk sarapan.