Vertical Garden

Vertical Garden
Pelakor



Lili celingak celinguk sambil ngobrol dengn bunda Meli, dia ingin bertanya tapi ragu-ragu karena daritadi belum melihat Bara. harusnya jam segitu Bara sudah pulang kantor.


" oh iya tan, Bara nya kemana kok jam segini belum kelihatan?" tanya Lili


"ya dirumahnya sama istri dan anaknya" ucap bunda Meli yang membuat Lili kaget


" apa? istri ?" tanya Lili tidak percaya


" iya, emang gue belum cerita ya" Bella kemudian ikut nimbrung.


" lupa he..he.." ucap Lili, mencoba mengingat kapan Bella cerita tentang Bara. dia pun jadi penasaran dengan sosok istri Bara.


"anaknya Bara umur berapa tante" tanya Lili


" 14 sama 12 thn " jawab Bunda Meli


" apa? maksud tante?" tanya Lili lagi


" ish..lu nanya mulu deh,tante biar nanti bella yang cerita sama Lili. kita ke kamar dulu ya tan" ucap bella


" ya udah kalian istirahat sana" seru bunda


Bella dan Lili akhirnya pergi sementara Lili masih penasaran dengan status Bara. Setelah dikamar dan keadaan sudah santai , Bella pun menceritakan tentang sepupunya itu sesuai yang dia tahu, karena diabpun dapat cerita dari mamahnya bukan dari orangnya langsung.


" jadi Bara nikah sama janda anak dua? dan anak-anaknya dah gede?lu bohong, ga salah dengar ?" ucap Lili masih tak percaya


Lili tau Bara ada sosok pria yang perfec , laki-laki idaman para wanita termasuk dirinya, tapi kenapa lebih memilih wanita itu, Lili ga habis pikir.


" udah lah lu cari yang lain aja Li, kayak ga ada cowok lain aja kayak si Roy tuh kan sering nembak lu, kenapa ga diterima aja biar ga jomblo terus" ucqp Bella


" sembarangan lu, cinta gue itu limited edition ya, hanya untuk orang yang special kayak Bara" jawab Lili


" tapi kan dia dah kawin...tralala trilili" ucap Bella


" jangan- jangan tuh janda pake pelet lagi, kok mau-maunya si Bara nikah sama dia, gue ga bakal nyerah buat dapetin hatinya Bara" ucap Lili menyeringai dia sudah memikirkan ide untuk jadi pelakor.


" lu mau jadi pelakor Li, yang benar aja. jangan macam- macam deh" sidik Bella, dia berpikir kalau temannya itu punya niat ga baik.


Suara lenguhan terdengar dari wanita yang tidur dalam dekapan seorang pria yang masih tertidur dengan pulesnya. Airin bangun pada sepertiga malam, ia ingin melakukan ibadah malamnya. Airin pun masuk ke kamar mandi untuk bersuci.


ceklek


Suara pintu kamar mandi terbuka, Airin sudah terlihat segar, dan mencoba membangunkan suaminya.


" mas..mas bangun dah mau subuh nih" seru Airin dengan menjaga jarak karena ia sudah berwudhu.


" emmm..ia sayang, kamu dah mandi ya" ucap Bara sambil mengucek matanya dan memperhatikan istrinya yang sedang memakai mukena.


"iya, mas juga mandi sana" ucap Airin


Bara pun pergi ke kamar mandi untuk bersuci. adzan subuh telah berkumandang, Bara dan Airin menghentikan dzikirnya dan bersiap-siap melakukan solat berjamaah bersama penghuni rumah yang lainnya.


Pagi ini keluarga Bara sarapan dengan roti bakar karena itu request dari Aira dan dia juga yang membakar dibantu sama si mbok.


" dek kamu hari ini diantar papa aja ya, sekalian papa langsung meeting,jalannya searah dengan sekolah kamu" ucap Bara pada Aira


" iya pah" jawab Aira


" klien baru mas?" tanya Airin


" klien lama, ngajak ketemuan diluar.katanya biar ga bosen, nyari suasana baru" jawab Bara


" ya udah, berangkat dulu ya. hari ini kamu ada acara keluar ga? " tanya Bara


" belum sih, paling mau ke cafe ga apa-apa kan" tanya Airin.


" ga apa-apa, hati- hati ya kabarin mas kalo dah mau jalan" ucap Bara mengelus kepala Airin dan mencium keningnya


" bu Aira berangkat ya" ucap Aira sambil mencium tangan sang ibu kemudian ke si mbok pamit juga


Aira sudah menganggap si mbok seperti neneknya sendiri dan Airin pun menganggap orang-orang yang bekerja di rumah sudah seperti keluarga sendiri.