Vertical Garden

Vertical Garden
HAMIL?



Benar saja Aira sudah menunggu untuk sarapan bersama, melihat hanya papanya yang turun Aira bertanya ingin memastikan.


" jadi ibu beneran sakit pah, sakit apa? Aira boleh lihat ga?" tanya Aira ,dia sangat khawatir dengan keadaan sang ibu.


" sarapannya udah belum? " tanya Bara disertai gelengan kepala Aira


" kamu sarapan aja dulu, abis itu langsung berangkat diantar sopir ya karena papa hari ini ga ke kantor. kalo masalah ibu, papa juga ga tau sakit apa, tapi tadi dah tidur lagi. lihat ibunya nanti aja pulang sekolah ya. jangan khawatir papa akan jagain ibu" jelas Bara dengan panjang lebar


" apa ibu akan dibawa ke rumah sakit?" tanya Aira sambil mengunyah sarapannya, begitu pun dengan Bara.


" ngga, nanti papa akan telp dokter untuk datang kemari" ucap Bara


Sarapan pun selesai , Aira bersiap untuk pergi ke sekolah diantar sang sopir.


" pah Aira berangkat dulu ya" ucap Aira pamitan sama Bara


Bara kembali ke kamarnya untuk menelpon dokter agar memeriksa istrinya. Setelah itu, dia mencoba untuk membangunkan istrinya lagi untuk sarapan.


" sayang.. bangun donk sarapan dulu" ucap Bara


Airin masih tak bergerak, dia masih setia dengan selimut dan gulingnya. Bara memikirkan cara lain untuk membangunkan istrinya itu.


Bara kemudian mencium seluruh wajah istrinya yang masih memejamkan mata, alhasil Airin pun terganggu dengan itu.


" mas..jangan kayak gitu..geli" ucap Airin dengan manja, dan itu membuat Bara semakin semangat untuk mengganggu tidur istrinya


" bangun ga, sarapan dulu yuk, ntar kamu tambah sakit kalo ga sarapan" ucap Bara sambil meneruskan aksinya.


" iya..iya .." Airin mencoba bangun dibantu oleh Bara. Airin malah memeluk Bara dengan eratnya


" aduh sayang jangan kencang- kencang meluknya, mas ga kemana- mana kok" ucap Bara sambil tersenyum, dia sangat suka dengan tingkah Airin yang seperti ini.


"Aku ga mau kehilangan kamu, akan aku obatin walaupun harus ke luar negri sekalipun" gumam Bara. kemudian dia memakaikan jilbab instant milik istrinya dan menggendongnya keluar kamar menuju ruang makan


" hah...mas kenapa digendong, ntar malu sama si mbok" ucap Airin sambil menyembunyikan wajahnya di dada bidang Bara.


" duh romantisnya pagi-pagi den" goda si mbok,


Sedangkan Airin yang merasa malu masih menyembunyikan wajahnya dan mencubit pinggang suaminya.


"aduh sakit sayang... tau nih mbok tiba- tiba jadi begini" ucap Bara


" mungkin bawaan bayi den" ucap si mbok lagi


"apa?" ucap Bara dan Airin berbarengan


Bara tentu saja bahagia kalo memang berita itu benar, lain halnya dengan Airin. dia bukannya tak ingin mengandung anak Bara tapi pengalaman kehamilan sebelumnya membuat dia berpikir yang tidak- tidak.


apa Bara akan bersikap seperti suami sebelumnya ketika dia hamil, ga ada perhatiannya sama sekali jangankan menyentuhnya bertanya ingin apa aja ga pernah. hanya si mbok yang setia menemaninya.


" sayang kamu kenapa? sebentar lagi dokter datang buat periksa, siapa tau benar disini ada Bara junior" ucap Bara sambil mengusap perut sang istri


Airin yang masih sibuk dengan pikirannya tidak merespon ucapan Bara.


" HAMIL, bagaimana ini. ya alloh aku bukannya tidak bersyukur atas amanah ini tapi apa akan terulang lagi seperti kehamilanku yang sebelumnya, suamiku tidak perduli dengan anak yang aku kandung, apa aku juga harus mengakhiri pernikahanku lagi? ya alloh bagaimana ini" batin Airin terus berperang


Dokter yang di panggil ke rumah pun datang, Bara mempersilahkan untuk memeriksa istrinya.


Dia tampak tidak sabar untuk mengetahui sakit apa yang diderita istrinya.


" bagaimana dok?" tanya Bara