Vertical Garden

Vertical Garden
extra part 2



"sayang, kamu mengenalnya?" tanya Bara tak lupa dia menarik pinggang Airin agar lebih dekat dengannya.


" oh iya mas, kenalin ini dokter hendrik" ucap Airin memperkenalkan suaminya pada dokter itu.


Setelah berbincang, Airin pun pamit karena akan menemui dokter kandungan.


" sayang.. yang td beneran cuma teman? kayaknya kalo dilihat dari tatapannya sama kamu, ada yang lain deh" tanya Bara penuh curiga.


" nanti deh ak jelasin, kalo setengah2 bisa salah paham" ucap Airin


Mereka pun akhirnya sampai didepan ruangan dokter kandungan, dan disana tidak tampak adanya antrian jadi mereka langsung dipersilahkan masuk.


"silahkan masuk pa, bu" ucap seorang suster


" assalamu'alaikum dokter susan" sapa Airin.


" wa'alaikum salam, Airin ya?" jawab dokter tersebut , ia kaget karena setelah bertahun-tahun akhirnya ketemu lagi dengan pasien yang tadinya ingin dijadikan adik ipar.


" iya dok" ucap Airin sambil cipika cipiki.


" ini siapa?" tanya dokter susan


" oh ini suami saya dok, namanya Bara" ucap Airin memperkenalkan suaminya.


Setelah berkenalan, mereka pun menyampaikan tujuannya, dan Airin pun diperiksa.


" selamat ya, saya yakin kalau kamu kuat dan Alloh memberinya sekarang karena kamu memang sudah siap" ucap dokter Susan


Dokter Susan adalah salah satu orang yang menguatkan Airin ketika dia bermasalah dengan suami dan keluarganya dulu.


" dok, boleh ga kalau saya minta no pribadinya, untuk konsultasi nanti" tanya Airin


" boleh ..." jawab dokter susan


" pa Bara saya minta maaf sebelumnya, saya tau kondisi kehamilan Airin sebelumnya jadi saya harap, anda bisa menjadi suami yang bertanggung jawab dan menerima Keadaan Airin karena namanya ibu hamil moodnya suka berubah2, mohon ada bersabar menghadapinya" jelas dokter Susan


" pasti dok saya akan sangat menjaganya" ucap Bara sambil melihat kearah Airin, tapi Airin sibuk dengan pikirannya.


Setelah berpamitan, mereka pun menuju parkiran rumah sakit, rencananya Bara akan membawa Airin ke rumah orang tuanya


" sayang kita ketemu bunda dulu ya, mereka pasti senang dengan kehamilan kamu" ucap Bara, sedangkan Airin hanya mengangguk tidak semangat.


" kenapa harus tinggal disana? kamu kan lagi hamil dan aku harus menjaga kamu, kalo perlu aku akan ke di rumah" ucap Bara agak kesal karena istrinya menanyakan itu lagi.


" bagaimana reaksi ayah sama bunda? apa akan sama kayk mertuaku dulu? ya alloh harus bagaimana ini, aku belum siap kalo harus mendapat tatapan sinis mereka, ketidak pedulian mereka, bahkan mereka tidak akan mengakui kalo ini cucu mereka" batin Airin terus berperang dengan masa lalunya.


" mas kalo ke rumah bundanya nanti2 aja boleh ga,aku mau ke rumah lama" ucap Airin sambil menunduk, dia takut Bara akan marah.


cekitttt..deg


Bara mengerem mendadak lalu melihat ke arah Airin, dia kemudian menepikan mobilnya.


" kamu itu kenapa sih dari tadi ngomongnya rumah lama terus, kamu dah ga betah dirumah kita hah... kenapa?" tanya Bara, tapi Airin hanya diam


" jawab, jangan diam aja" Bara mulai kesal, seolah dia lupa pesan dokter tadi


" kalo ga mau nganter, biar aku naik taksi aja" ucap Airin, tangannya sudah memegang pintu untuk membukanya. tapi pintu mobil masih terkunci.


Bara akhirnya melajukan kembali mobilnya tapi arahnya tidak jadi ke rumah orang tuanya melainkan ke rumah Airin yang lama.


Setelah sampai di depan rumahnya, Airin langsung membuka pintu segera turun dari mobil, lalu masuk ke dalam rumah.


" assalamu'alaikum..." ucap Airin lalu langsung menuju kamarnya.


Sedangkan Bara pergi tanpa pamit sama orang rumah, si mbok yang merasa ada yang tidak beres dengan majikannya langsung pergi ke kamar Airin.


tok..tok..


"bu..." ucap si mbok, Airin tidak langsung membuka pintu, setelah beberapa kali memanggil akhirnya Airin membuka pintunya.


" apa pa Bara udah pergi mbok? " tanya Airin


" sudah bu, bahkan ga masuk dulu, kelihatannya lagi marah" jawab si mbok seadanya.


" masuk aja mbok" ucap Airin melebarkan pintu kamarnya.


" maaf bu kalo si mbok kepo..." ucapan si mbok terpotong oleh jawaban Airin


" saya hamil...saya ingat lagi kejadian dulu mbok, makanya lebih baik saya disini sambil menyiapkan mental takutnya akan terulang lagi" ucap Airin sambil beberapa kali mengambil napas dalam2 dan menghembuskannya.