
...~oOo~...
...**⚠️ Warning ⚠️...
...Biasakan untuk selalu memberikan like sebelum membaca....
...~^^Terimakasih^^~...
...👍🏻...
.......
...👍🏻...
.......
...👍🏻**...
...~oOo~...
Peperangan dimulai dengan sangat tiba-tiba.
Tanah kekaisaran Dongfeng bergemuruh dan terbelah, menampakkan kehoror-an yang tersembunyi dibawah tanah.
Pria dengan kulit pucat, rambut hitam, mata merah, dan tanduk hitam besar seperti kambing tiba-tiba muncul membawa pasukannya untuk menyerang.
Memporak porandakan satu benua dalam satu hari.
"Tian-er, cepat!", Permaisuri Xiao menarik tangan adik iparnya dan tangan lainnya menggendong putranya yang baru berusia satu tahun.
Mereka berlari didalam jalan rahasia yang ada dibawah tanah istana kekaisaran.
"Kakak ipar! Ada apa ini? Kenapa kakak tiba-tiba membangunkan ku ditengah malam dan membawaku kesini? Apa yang terjadi?", Tanya An Xie Tian bingung.
"Kekaisaran kita...sudah tidak aman lagi.", Ujar Permaisuri Xiao.
Sekilas An Xie Tian melihat setetes air mata jatuh di pipi kakak iparnya.
Kabar itu mengejutkannya.
Perasaannya campur aduk.
Kekaisaran sudah tidak aman? Apa maksudnya? Apa jangan-jangan...
"A-apa maksud kakak ipar..."
"Bertanya nanti saja Tian-er, yang lain sudah menunggu diluar jalan ini.", Ujar Permaisuri Xiao masih terus berlari.
Tanpa menanyakan apa-apa lagi, An Xie Tian mengikuti kakak iparnya berlari.
...
"Bagaimana? Apa para wanita dan anak-anak sudah dievakuasi?", Tanya Dong Fang Jin.
"Sudah kakak.", Jawab Dong Fang Yu.
Dong Fang Jin terlihat menghela nafas tenang. Paling tidak dia bisa tenang karena istri dan anaknya sudah selamat.
"Kakak...apa perintah mu selanjutnya?", Tanya Dong Fang Yu lagi.
"Siapkan pasukan, kita akan membalas serangan Hei Mowang...", Terdapat kilat amarah dari Kaisar muda Dongfeng itu.
Banyak rakyatnya yang gugur akibat serangan tiba-tiba si Raja iblis, itu benar-benar menyulut amarah yang ada didalam diri Dong Fang Jin.
"Baik, saya mengerti.", Dong Fang Yu menunduk hormat lalu keluar dari ruangan kaisar.
Dong Fang Jin terduduk lalu memijat pelipisnya.
Tak ada lagi waktu tenang.
Dia tau kalau ketegangan ini akan berlangsung lama.
...
An Xie Tian dan Permaisuri Xiao Ning An berhasil keluar dari terowongan jalan rahasia.
Di sisi lain ternyata sudah banyak wanita dan anak-anak yang berkumpul.
Para dayang, pelayan istana, para nyonya bangsawan, nona muda, wanita dari kalangan rakyat biasa, dan anak-anak.
Semuanya berkumpul disana.
Tak banyak yang bisa diselamatkan setelah serangan tersebut.
Kaisar memerintahkan para Kasim untuk melindungi para pengungsi, sedangkan para prajurit dan semua pria di kekaisaran disiapkan untuk berperang.
Ini sungguh situasi yang tidak terduga.
Chu Xian Yue menghampiri An Xie Tian dan Permaisuri Xiao. Dia lalu menggenggam tangan An Xie Tian.
"Haah, kau akhirnya disini. Aku ingin menjemputmu tadi, tapi para Kasim ini menghentikan ku. Untunglah Permaisuri Xiao membawamu, syukurlah...", Chu Xian Yue terlihat lega.
"Yue-er, kakak ipar, sebenarnya apa yang terjadi disini? Kenapa semua orang berkumpul disini?", Tanya An Xie Tian.
"Raja iblis menyerang kekaisaran...
Saat ini para prajurit menahan Raja iblis agar kita bisa kabur ke daerah perbatasan. Kita akan menuju Tianxing.", Ujar Permaisuri Xiao. Suaranya terdengar sedih.
"La..lalu Yang Mulia Kaisar? Dan...Fang Yu? Bagaimana dengan mereka?", Tanya An Xie Tian panik.
"Mereka...tetap tinggal.", Permaisuri Xiao menunduk.
"Kita harus bergerak cepat. Kita harus memimpin para pengungsi ini menuju ke tempat yang aman.", Ujar Chu Xian Yue menambahkan.
"Apa? La-lalu bagaimana dengan yang lain? Apa kita akan meninggalkan mereka? Fang...Fang Yu...dan semuanya... Ayahku... Kakak sepupu...", An Xie Tian sangat khawatir hingga kata-katanya putus-putus.
"Tenanglah Xie Tian, percayalah pada mereka. Mereka lebih kuat dari yang kamu kira.", Ujar Permaisuri Xiao menenangkan.
"Tidak! Aku ingin kembali! Aku ingin menolong Fang Yu!", Ujar An Xie Tian lalu berbalik dan ingin memasuki jalan rahasia lagi.
"Xie Tian sadarlah! Apa yang bisa kau lakukan jika kamu kembali kesana? Kamu bisa membantu apa? Kamu hanya akan menjadi beban jika kembali lagi kesana!", Chu Xian Yue berteriak.
Beberapa orang sampai berbalik karena teriakan Permaisuri Tianxing tersebut.
"Ta-tapi...aku...", An Xie Tian mulai menangis.
Dia merasa tidak berdaya, lemah...
Dia tidak bisa melakukan apa-apa selain melarikan diri, betapa menyedihkannya.
Padahal dulu dia adalah seorang agen profesional yang hebat, bagaimana bisa dia menjadi segitu lemah dan bodohnya?
"Tian-er, aku tau kau sedih. Aku juga sedih. Tapi kita harus melewati ini, bersama.
Kita bisa membantu mengurangi beban mereka yang sedang berperang disana dengan mengirim orang-orang ini ke tempat yang aman.", Permaisuri Xiao berkata sambil mengelus lembut pipi adik iparnya itu.
"Kakak ipar...", An Xie Tian menatap Permaisuri Xiao nanar.
Dia kagum dengan keteguhan hati dan kebijaksanaan kakak iparnya tersebut.
Bahkan di situasi seperti ini, Xiao Ning An masih bisa bersikap tenang.
Dia menunjukkan kualitasnya sebagai seorang istri penguasa dan ibu negara yang bijaksana.
An Xie Tian mengusap air matanya, dia lalu tersenyum.
"Baiklah, aku percaya. Mari kita bawa semua orang ini ke tempat yang aman.", Ujar An Xie Tian.
...
Iris semerah darah itu berkilat penuh amarah.
Matanya meneliti satu persatu orang yang menghadang didepannya, bersiap untuk menyerang kapan saja.
Iris merah itu menangkap wajah yang familiar.
'Sheng Yue...'
Sheng Yue, sang Dewa bulan.
Orang yang menyegel tubuh dan jiwanya selama 3000 tahun, dan juga mantan sahabat karibnya.
Persahabatan antara Raja iblis, Dewa bulan, dan seorang Dewi bumi.
Kisah yang menggentarkan hati siapa saja karena kuatnya hubungan persahabatan diantara mereka.
Namun kisah itu berubah saat sang Raja iblis dan Dewi bumi saling jatuh cinta.
Raja iblis hitam dan sang burung Phoenix.
Namun cinta mereka terlarang.
Kisah cinta mereka menjadi awalan dari sebuah petaka besar yang akan terjadi di masa depan.
Kaum Dewa dan kaum iblis tidak boleh bersama, itu hukum dari sang pencipta.
Larangan itu tidak membuat hubungan mereka putus, bahkan semakin erat.
Mereka sama-sama di mabuk cinta.
Sang pencipta murka dan memisahkan mereka berdua.
Karena hal itulah yang membuat Raja iblis terobsesi menyatukan tiga dunia, agar tidak ada lagi kisah cinta beda dunia seperti mereka yang terhalang oleh hukum dari sang pencipta.
Perang antara tiga dunia dimulai.
Perang tersebut berlangsung hingga 300 tahun lamanya.
Sheng Yue sang Dewa bulan terpaksa menyegel sahabatnya sendiri menggunakan segel bulan darah agar sahabatnya itu tidak membunuh lebih banyak orang lagi.
Hal itu membuat sang Raja iblis merasa dikhianati oleh sahabatnya sendiri.
Dan itu diperparah ketika dia tau siapa yang mengusulkan hal itu.
Hei Huo, kekasihnya sendiri. Phoenix hitam, Dewi bumi yang dicintainya.
Merasa dikhianati oleh sahabatnya dan kekasihnya sendiri membuat Hei Mowang menyimpan dendam kusumat pada kaum Dewa dan manusia.
Dendamnya semakin hari semakin besar hingga akhirnya 3000 tahun telah lewat.
Dia kembali...
Membawa terori bagi ketiga dunia.
Susunan tiga dunia yang telah diramalkan hancur ditangannya.
...
Sementara itu...
"Xiao Nian...Zhu Xiao Nian..."
Suara lembut seorang wanita yang familiar membuat An Xie Tian terbangun.
Tidak ada siapa-siapa.
Itu tidak membuat An Xie Tian bingung.
"Guru? Akhirnya kamu kembali? Kemana saja anda satu tahun belakangan ini?", Tanya An Xie Tian.
Benar, setelah kejadian setahun yang lalu, Hei Huo tidak pernah lagi bercakap-cakap atau memanggil An Xie Tian.
Dia seakan-akan hilang begitu saja.
Tapi disinilah dia, suaranya kembali hadir dan sama jernihnya seperti setahun yang lalu.
"Aku merasakan getaran aura jahat, apa yang terjadi selama aku tidur? Apakah...", Suara Hei Huo terdengar cemas.
"Ternyata guru selama ini tertidur? Kenapa berhibernasi secara tiba-tiba sih? Harusnya guru bilang dulu sebelumnya.", Ujar An Xie Tian.
"Zhu Xiao Nian! Aku sedang bertanya padamu! Apa yang terjadi? Dan kenapa kau tidak berada di istana? Bukankah kamu sudah menikah dengan Dong Fang Yu? Karena itu saat ini kamu sedang mengandung bukan? Apa aku salah?", Tanya Hei Huo.
"Banyak yang terjadi selama guru tertidur. Aku menikah dengan Fang Yu, saat ini aku memang sedang mengandung 6 minggu.
Dan... tentang aura jahat yang guru rasakan, mungkin saya tau itu berasal dari siapa...", An Xie Tian menunduk, dia tak menyelesaikan perkataannya dan membuat Hei Huo makin penasaran.
"Siapa? Siapa yang kau maksud?", Tanya Hei Huo tidak sabar.
"Hei Mowang, sang Raja iblis."
Sunyi...
Jeda lama diambil sampai akhirnya Hei Huo kembali bersuara.
"Hei...Mowang? Ra-raja iblis?"
Dari suara Hei Huo entah mengapa An Xie Tian menangkap rasa takut, rasa bersalah, juga rasa rindu. Apa dia salah?
"Apa...guru mengenalnya?", Tanya An Xie Tian bingung.
"Kita sekarang ada dimana?", Tanya Hei Huo tiba-tiba.
"Entahlah, di suatu tempat menuju perbatasan. Kami harus bermalam dulu karena para anak-anak dan orang tua sudah terlalu lelah untuk terus berjalan. Besok kami akan melanjutkan perjalanan ke Tianxing.", Jawab An Xie Tian.
"Tianxing? Untuk apa kalian kesana?", Tanya Hei Huo lagi.
"Tentu saja untuk mengevakuasi orang-orang ini. Perang dengan Raja iblis pecah di ibukota, kami harus mengevakuasi orang-orang agar tidak memakan lebih banyak korban jiwa.", Jawab An Xie Tian lagi.
"Tenang saja, aku percaya pada kakak ipar dan suamiku. Mereka dan juga aliansi seluruh benua Timur pasti bisa melawan Raja iblis.", Sambung An Xie Tian sambil tersenyum.
"Tidak, mereka tidak bisa mengalahkannya. Menahannya sementara mungkin bisa, tapi tidak dengan mengalahkannya...", Suara Hei Huo terdengar putus asa.
"Ti-tidak mungkin... Apa maksudmu guru?", Tanya An Xie Tian bingung.
Setelah gurunya terbangun dari tidur panjang selama setahun, dia malah meracau hal-hal yang membuat orang takut. Apa-apaan itu?
"Xiao Nian, aku mengenal Raja iblis. Kekuatannya sangat besar hingga bisa menggetarkan langit dan bumi, kekuatan manusia fana biasa tidak akan bisa mengalahkannya. Aku..."
Rasa bersalah, An Xie Tian bisa merasakannya lagi.
"Guru, apa yang kamu ketahui tentang Hei Mowang ini?", Tanya An Xie Tian mulai curiga.
"Kurasa sudah seharusnya aku ceritakan... Tentang hubungan persahabatan antara aku, Dewa bulan, dan Raja iblis...", Hei Huo memulai ceritanya.
Setelah cerita selesai....
"Sungguh, aku hanya ingin agar dia tidak melakukan dosa lebih banyak lagi. Aku ingin kami bersama, tapi cara yang diambilnya dengan membunuh banyak orang sangatlah salah...", Hei Huo berkata segera setelah mengakhiri ceritanya.
An Xie Tian mengangguk paham.
"Aku paham dengan keadaan guru. Keputusan yang guru ambil saat itu tidaklah salah, ini bukan kesalahan guru.", Ujar An Xie Tian.
Dia lalu kembali berbisik pelan.
"Apa kau bilang!?", Hei Huo hampir hanya mendengar angin saat An Xie Tian berbisik.
"Tidak tidak! Guru salah dengar, aku hanya bicara pada diri sendiri.", Ujar An Xie Tian menghilangkan kecurigaan gurunya itu.
"Lupakan saja...", Ujar Hei Huo akhirnya.
"Apapun yang terjadi...kita harus barada disana.", Ujar Hei Huo lagi.
"Apa!? Disana? Dimana maksud guru?", Tanya An Xie Tian. Firasatnya tidak enak.
"Aku punya cara mengalahkan Hei Mowang..."
.
.
.
Kekaisaran Dongfeng...
Pekikakan kuda terdengar memenuhi padang luas itu, derap langkah tegap saling bersahutan saat para prajurit perkasa berjalan.
Diseberang sana terlihat padang tandus dengan rumput hitam seperti habis dibakar.
Seorang pria dengan sorot mata dingin, rahang tegas, dan wajah yang angkuh duduk di singgasananya yang terbentuk dari tulang belulang.
Tanduk hitamnya menjulang cukup tinggi keatas.
(Anggap aja si abang ada tanduknya:v)
(Noh, biar hati kalian tidak resah:P)
Para prajurit melemparkan beribu anak panah kearah pria itu, berharap panah-panah itu dapat menghentikan kehoror-an yang akan datang.
Tapi tidak.
Dengan mudah sang Raja iblis menangkis semua panah yang datang dengan mengibaskan satu tangannya.
Sulur-sulur hitam keluar dari dalam tanah dan bergerak mengikuti arah tangan sang Raja iblis, menghancurkan pertahanan para prajurit. Banyak prajurit gugur karena satu serangan itu.
Dong Fang Yu terlihat kontras dengan armor perang biru dan kuda putihnya.
Memimpin 3000 pasukan bukanlah hal yang mudah, namun Dong Fang Yu melakukannya dengan baik.
Para prajurit menaruh kepercayaan pada pemimpinnya itu.
Dong Fang Yu terkenal dengan kejeniusannya dalam strategi perang dan kebijaksanaannya dalam mengambil keputusan, hal itu membuat mereka semua menaruh kesetiaan yang besar padanya.
Pasukannya sendiri diberi nama pasukan 'bulan perak'.
"Bulan perak! Serang!", Komando dari pemimpin mereka menyulut semangat dalam dada.
Derap langkah kuda menggentarkan tanah.
Mereka terus maju kedepan.
Tanah didepan mereka terbuka, dari dalam tanah keluarlah makhluk-makhluk serupa seperti manusia setengah binatang.
Para siluman.
Raja iblis membangkitkan pasukannya dari dalam tanah.
Pedang mereka terus beradu.
Korban berjatuhan dari kedua belah pihak.
Dong Fang Yu dan beberapa prajuritnya berhasil menembus pasukan siluman, tanpa pikir panjang mereka terus maju lebih dekat pada sang kematian.
Sulur-sulur hitam kembali muncul, semua prajurit yang ada dibelakang Dong Fang Yu sengaja dijatuhkan hingga menyisakan dirinya seorang.
Dong Fang Yu turun dari kudanya dan mengacungkan pedangnya pada sang Raja iblis didepannya.
"Takkan kubiarkan kau menghancurkan tanah air ku...", Ujarnya.
"Hahaha...tanah air mu? Bukankah rumahmu ada di langit sana, Sheng Yue?", Ujar Hei Mowang sambil menyeringai lebar.
"Langit?", Dong Fang Yu mengernyit bingung.
"Sheng Yue, apa kau lupa pada kawan lamamu ini? Hey, ini aku Hei Mowang!
Kawan yang sudah kau khianati.
Sudah 3000 tahun sejak kita terakhir kali bertemu, tak kusangka kau banyak berubah. Mengapa kau ada didalam tubuh fana itu? Dimana tubuh abadi mu?"
Pertanyaan Raja iblis semakin membuat Dong Fang Yu bingung.
"Aku tidak mengenalmu, tapi aku akan melawanmu sampai titik darah penghabisan jika kau menyakiti orang-orangku.", Ujar Dong Fang Yu lalu menaikkan pedangnya kearah Hei Mowang.
"Hahaha, sampai titik darah penghabisan? Baik, akan ku kabulkan keinginan terakhirmu!" Hei Mowang bangkit dari singgasananya dan dengan cepat sudah berada didepan Dong Fang Yu.
Dong Fang Yu terbelalak dan dengan cepat menangkis serangan Raja iblis tersebut.
Hei Mowang mundur selangkah.
Dia tidak bersenjata pada awalnya, tapi lalu dia mengeluarkan sebilah pedang berwarna hitam dengan gagang berbentuk ular dan tulang-tulang.
"Aku akui ilmu pedangmu masih hebat, kawan lama...", Hei Mowang menyeringai kejam.
"Sudah kubilang aku tidak mengenalmu!" Dong Fang Yu dengan cepat menyerang Hei Mowang dengan pedangnya, yang tentu ditangkis oleh sang Raja iblis.
Pedang mereka saling beradu.
Ilmu pedang keduanya sama-sama kuat.
Hei Mowang mengeluarkan aura iblis nya, hal itu membuat tubuh Dong Fang Yu tertekan.
Pertarungan berlangsung hingga siang hari tanpa ada satupun yang berniat untuk menyerah.
Dong Fang Yu sudah kelelahan namun Hei Mowang masih terlihat segar seakan pertarungannya selama berjam-jam tadi hanyalah pemanasan.
"Fang Yu!" Teriak seseorang dari belakang.
An Xie Tian berkuda dan membelah pasukan bersama seorang wanita lainnya.
"Tian-er!?", Dong Fang Yu tentunya terkejut.
Seharusnya istrinya itu sudah melewati perbatasan, mengapa dia ada disini!?
"Huo-er..." Bisikan rindu terdengar dari bibir sang Raja iblis.
An Xie Tian dan wanita itu turun dari kudanya.
"Mowang...hentikan ini...kumohon. Jangan berbuat dosa lagi...", Ujar wanita yang datang bersama An Xie Tian. Yang tidak lain dan tidak bukan adalah Hei Huo, sang Phoenix hitam.
"Ha? Menggelikan. Setelah kau mengkhianati aku, kau berkata seperti pengkhianatan itu adalah untuk membantuku? Kau wanita tidak tau malu Hei Huo!", Ujar Hei Mowang dengan senyum sinisnya.
"Tian-er, ada apa ini? Kenapa kamu ada disini? Bukankah seharusnya kau sudah berada di perbatasan bersama Xian Yue dan lainnya!?", Tanya Dong Fang Yu.
"Maaf, tapi guruku punya cara untuk mengalahkan Raja iblis, jadi dia menyuruhku untuk kembali kesini...", An Xie Tian menjelaskan dengan jujur.
"Jadi wanita itu adalah gurumu? Siapa dia? Mengapa dia terlihat seperti kenal dekat dengan Raja iblis?", Tanya Dong Fang Yu lagi.
"Guruku adalah Phoenix hitam, Hei Huo. Yang juga adalah...kekasih masa lalu Raja iblis yang mengkhianatinya...", Ujar An Xie Tian ragu.
"Ke..kekasih Raja iblis? Phoenix hitam!? Sang Dewi bumi!?", Dong Fang Yu jatuh dalam keterkejutan.
Tiba-tiba dari arah sana terjadi pertarungan antara Raja iblis dan Hei Huo.
"Mereka bertarung!", An Xie Tian terlihat khawatir.
An Xie Tian mengingat sesuatu lalu membisikkan hal itu pada suaminya.
Dia lalu menyerahkan sesuatu secara diam-diam pada Dong Fang Yu.
An Xie Tian dan Dong Fang Yu saling mengangguk mengerti.
Hei Huo mengeluarkan darah dari sudut bibirnya akibat serangan Raja iblis.
"Aku tidak ingin menyakitimu Huo-er, kemarilah... bergabunglah denganku dan kita patahkan hukum menggelikan sang penguasa, bersama...", Hei Mowang menjulurkan tangannya pada Hei Huo.
Hei Huo dengan ragu menyambut tangan kekasihnya, namun setelah tangan mereka saling berpegangan, Hei Huo kembali menyerang Raja iblis.
"Xiao Nian, sekarang!" Teriak Hei Huo.
Dong Fang Yu dan An Xie Tian menyerang bersama.
Dong Fang Yu menempelkan kertas segel yang diberikan An Xie Tian tadi.
Hei Mowang tak bisa bergerak untuk sementara.
Hei Mowang menatap Hei Huo penuh dengan amarah dan rasa pengkhianatan untuk yang kedua kalinya.
"Maafkan aku, tapi aku tidak ingin kau berbuat dosa lebih banyak. Sudah cukup nyawa yang kau ambil, berhentilah sekarang...", Ujar Hei Huo lirih lalu mencium kening Hei Mowang.
Hei Huo lalu menyentuh dahi Dong Fang Yu dengan telunjuknya untuk mentransfer kan mantra bulan sabit padanya.
Dengan mantra itu, Dong Fang Yu bisa menyegel jiwa Hei Mowang dengan segel bulan darah sekali lagi seperti yang dilakukan Dewa bulan dulu.
"Dewi, ilmu apa yang kau berikan padaku ini?", Tanya Dong Fang Yu.
"Kau adalah titisan Sheng Yue, sang Dewa bulan. Ini adalah takdirmu untuk menyegel Raja iblis sekali lagi.", Ujar Hei Huo lalu tersenyum pada pria bersurai perak tersebut.
Dong Fang Yu mengangguk.
Tiba-tiba segel kertas yang menempel di kepala Hei Mowang terbakar.
Raja iblis berhasil bebas.
"Kamu tidak berpikir aku bisa ditahan dengan segel rendahan seperti itu bukan!?", Ujar Hei Mowang lalu tertawa jahat.
"Sekarang! Segel dia sekarang!", Teriak Hei Huo.
Hei Mowang menyerang An Xie Tian.
An Xie Tian yang sudah tidak memiliki kekuatan apa-apa tidak bisa menghindari sulur-sulur hitam yang mengarah padanya.
An Xie Tian menutup matanya, berharap kalau rasa sakitnya cepat hilang.
'Pada akhirnya Fang Yu tidak akan mengetahui jika aku sedang mengandung anaknya...'
Hei Huo melindungi An Xie Tian, namun kekuatannya tidak cukup.
Akhirnya sulur-sulur hitam itu menembus tubuhnya.
An Xie Tian membuka matanya dan melihat gurunya berada didepan dengan tubuh yang berdarah-darah.
"Gu-guru..."
(Abaikan panahnya)
Hei Mowang terbelalak.
"Huo-er!"
An Xie Tian menangkap tubuh Hei Huo yang limbung.
"Guru!", Teriak An Xie Tian histeris.
Sunyi...
Tidak ada yang bicara.
Hei Huo membisikkan sesuatu pada An Xie Tian sambil mengelus lembut pipi wanita itu.
Hei Huo tersenyum untuk yang terakhir kalinya dan menghembuskan nafas terakhir.
"Guru? Gu-guru? Guru!!!", An Xie Tian menangis sambil memeluk tubuh Hei Huo yang tidak bernyawa.
Tubuh Hei Huo perlahan-lahan menghilang seakan terbakar menjadi debu.
"Ketika seorang Phoenix mati, maka dia akan terlahir kembali dari abunya sendiri..."
Itulah yang dikatakan Hei Huo pada An Xie Tian sebelum dia menghembuskan nafas terakhir.
Cahaya keemasan melingkari tubuh An Xie Tian.
"Ku serahkan kekuatan terakhirku padamu, api Phoenix dapat menyucikan jiwa yang tersesat..."
An Xie Tian mengangkat wajahnya ketika cahaya keemasan itu benar-benar menghilang.
"Sucikan lah jiwanya untukku, dengan itu aku akan beristirahat dengan tenang."
Dong Fang Yu sangat ingin sekali memeluk istrinya erat saat ini. Dia tau kalau istrinya membutuhkan itu.
.
.
.
...~oOo~...
**Cerita berlanjut di Chapter :Akhir (bagian 2)
...~oOo~...
...Jangan lupa klik...
...Like 👍🏻...
...Berikan komentar 💬...
...Tambahkan favorit +❤️...
...Dan jangan lupa rate 5 bintangnya ya ⭐⭐⭐⭐⭐**...
.......
.......
.......
To be continued...