
**β οΈ Warning β οΈ
Biasakan untuk selalu memberikan like sebelum membaca.
Terimakasih^^
ππΌ
.
ππΌ
.
ππΌ**
"Taizi.", Dong Fang Yu tiba dan memberi salam pada putra mahkota.
"Ah, adik ketiga. Kamu sudah kembali, bagaimana?", Tanya Dong Fang Jin.
"Seperti yang kakak perintahkan, saya sudah menyelidiki kamp militer yang disiapkan tentara Ming. Selama beberapa bulan ini mereka melakukan transaksi dengan perkumpulan pedagang. Barang-barangnya berupa obat-obatan dan senjata dari luar kekaisaran. Sayangnya saya tidak bisa menyelidiki lebih jauh tentang senjata mereka.", Lapor Dong Fang Yu panjang lebar.
"Tidak apa-apa, kamu sudah melakukan kerja yang bagus. Aku sangat terbantu, terimakasih.", Ujar putra mahkota lalu tersenyum.
"Saya akan membantu, tugas apapun yang kakak berikan akan saya lakukan.", Ujar Dong Fang Yu.
"Lalu, apakah kamu tau kapan mereka akan menyerang?", Tanya Dong Fang Jin.
"Maaf Taizi, tapi penjagaan kamp militer tentara Ming sungguh ketat. Saya hanya bisa mengawasi dari jauh dan tidak bisa menyusup kedalam kamp.", Jawab Dong Fang Yu.
"Ah, begitu ya. Kalau begitu kita sebaiknya bersiap-siap. Takutnya mereka menyerang saat kita lengah.", Ujar putra mahkota.
"Benar Taizi. Saya sudah mulai melakukan persiapan, tapi persiapannya belum siap sepenuhnya.", Ujar Dong Fang Yu lagi.
"Bagus, kamu sudah melakukan kerja bagus.", Ujar Dong Fang Jin sambil menepuk bahu adiknya lalu tersenyum.
"Terimakasih Yu, kamu benar-benar bisa diandalkan.", Ujar putra mahkota lagi.
Dong Fang Jin berjalan kearah pintu yang menghubungkan ruangannya dengan beranda.
"Lihatlah bintangnya Yu, bukankah mereka sangat indah?", Ujar Dong Fang Jin lalu tersenyum sembari menatap langit malam bertabur bintang.
Dong Fang Yu mengikuti kakaknya ke beranda dan menatap langit malam.
Bintang-bintang berhamburan dan bercahaya dengan indahnya.
"Taizi benar, bintangnya sangat indah.", Jawab Yu.
"Karena keindahan malam ini, aku jadi merindukannya.", Ujar Dong Fang Jin lalu menatap adiknya.
"Siapa yang Taizi maksud?", Tanya Fang Yu.
"Wanita secantik bunga, semulus giok, seputih porselen. Nona An Xie Tian.", Ujarnya sambil tersenyum.
'Deg!'
"Anda.. merindukan Xie Tian Gu Niang?", Ujar Dong Fang Yu.
Fang Yu mengepalkan kedua tangannya, dia merasa cemburu dan kesal.
"Benar, wanita seperti dia sangat pantas dirindukan.", Ujar Dong Fang Jin sambil tersenyum kearah langit malam.
"Bukankah begitu?", Tanyanya lagi lalu menatap adiknya dengan serius.
'Deg!'
"Bolehkah aku bertanya, maksud lain dari pertanyaan Taizi?", Tanya Dong Fang Yu tidak nyaman.
'Apa maksud putra mahkota? Apakah dia mengetahui perasaan ku pada Xie Tian?'
Dong Fang Jin menggenggam bahu Dong Fang Yu dan menatapnya dengan serius.
"Tidak ada maksud lain. Hanya saja aku ingin mengingatkan, aku tidak suka jika orang lain melirik apa yang aku inginkan. Kamu paham kan?", Ujarnya lalu tersenyum.
"Ya, saya paham.", Ujar Dong Fang Yu lalu menunduk.
"Baiklah, kamu boleh pergi.", Ujar putra mahkota.
"Saya permisi.", Ujar Dong Fang Yu lalu pergi keluar dari ruangan putra mahkota.
Dong Fang Jin menatap punggung adiknya yang semakin menjauh.
Setelah adiknya benar-benar sudah tidak terlihat, dia kembali menatap langit malam.
"Haih, adikku masih terlalu terjerat padaku. Aku harus menyadarkannya pelan-pelan, bahwa dia bisa memiliki apa yang diinginkannya.", Ujar putra mahkota lalu menggeleng pelan.
"Terlalu damai akhir-akhir ini, aku takut kalau kedamaian ini adalah ketenangan sebelum badai menerjang.", Ujarnya sambil menatap bintang-bintang yang ada di langit.
...
Sementara itu...
Kediaman Marquis Utara, paviliun Wisteria.
"Kamu mau pergi?", Ujar sang putri saat Xiao Lin menyampaikan maksudnya.
"Benar Yang Mulia. Saya mendapatkan surat dari ibu saya, kalau ayah saya di kampung sakit keras. Permintaan ayah saya adalah menikahkan saya dengan pria pilihannya, karena itu saya akan kembali ke kampung halaman untuk menikah.", Ujar Xiao Lin.
"Oh, begitu ya... Baik, kamu pergilah. Aku juga akan membekali kamu dengan mas kawin untuk pernikahanmu. Pergi dan berbahagialah ya.", Ujar sang putri lalu menggenggam tangan Xiao Lin.
"Pu-putri..? Kamu...", Xiao Lin merasa tidak nyaman.
"Dimana kampung halaman mu Lin?", Tanya An Liu Jin.
"Kampung halaman saya berada di kota Cang'Lu, sekita 5 hari perjalanan dari ibukota.", Ujar Xiao Lin menjawab pertanyaan An Liu Jin, namun dia tidak menatap wajahnya. Dia takut tidak sanggup.
"Perjalanannya cukup jauh, bagaimana jika aku menyiapkan kereta dan penjaga untukmu? Perjalananmu pasti akan aman dan nyaman.", Ujar An Liu Jin.
"Ti-tidak perlu tuan. Saya takut menyusahkan anda.", Jawab Xiao Lin sambil menunduk.
"Tidak apa-apa, Xiao Lin. Kami akan mempersiapkan keberangkatan mu dengan baik.", Ujar Dong Fang Lin sambil tersenyum.
"Ti-tidak perlu. Saya tidak mau merepotkan putri dan tuan. Saya juga sudah mempersiapkan keberangkatan saya dari jauh hari, jadi saya harus menolak kebaikan Yang Mulia.", Ujar Xiao Lin sambil membungkuk hormat.
Tapi kedua tangannya mengepal penuh amarah.
"Ah, begitu ya. Ya sudah, tidak apa-apa. Semoga kamu bahagia ya.", Ujar Dong Fang Lin lalu menggenggam tangan Xiao Lin erat sambil tersenyum hangat.
"Kapan kamu akan berangkat?", Tanya An Liu Jin.
"Saya akan berangkat besok, tuan.", Jawab Xiao Lin.
"Oh, begitu.", Ujar An Liu Jin singkat.
"Sudahlah. Xiao Lin, sebentar lagi kamu berangkat. Kamu harus mempersiapkan banyak hal, kembalilah ke kamarmu.", Ujar Dong Fang Lin sambil tersenyum.
"Ba-baik putri. Terimakasih atas kebaikan anda selama ini, saya permisi.", Ujar Xiao Lin lalu keluar dari ruangan Dong Fang Lin dan An Liu Jin.
'Plak!'
"Awww!", An Liu Jin meringis kesakitan saat tangannya dipukul oleh Dong Fang Lin.
"Apa maksudmu dengan 'Oh, begitu' hah?", Ujar Dong Fang Lin sambil merengut.
"Eh, apa maksudmu?", Tanya An Liu Jin.
"Apa maksudku? Apa maksudmu dengan jawaban dingin dan singkat itu? Kamu mau melukai perasaan Xiao Lin?", Ujar Dong Fang Lin.
"Bukan seperti itu, hanya saja... Aku hanya tidak terlalu menunjukkan kepedulian ku padanya. Bukankah itu bagus? Aku kan hanya milikmu...", Ujar An Liu Jin lalu memeluk Dong Fang Lin.
"Hey! Lepaskan aku! Hahaha...", Dong Fang Lin tertawa.
An Liu Jin melepaskan pelukannya.
"Tapi kenapa kamu marah? Bukankah seharusnya kamu senang dengan tindakanku?", Tanya An Liu Jin.
"Haah, sebagai istrimu aku cukup senang kamu tidak memperhatikan wanita lain.
Tapi sebagai wanita, aku merasa kata-katamu agak keterlaluan.
Kamu bisa saja menyakiti perasaan Xiao Lin.", Ujar Dong Fang Lin.
"Ya sudah, aku tau kalau aku salah.", Ujar An Liu Jin lalu kembali memeluk Dong Fang Lin.
"Hahaha, kenapa suamiku menjadi lebih imut daripada sebelumnya? Aku lebih menyukai suamiku yang bersikap malu-malu dan kaku.", Ujar Dong Fang Lin sambil tertawa mengejek.
"Kalau itu yang putri mau.", Ujar An Liu Jin lalu berdiri dan membungkuk hormat pada Dong Fang Lin.
"Saya menghormat pada Yang Mulia putri.", Ujar An Liu Jin sambil membungkuk hormat.
"Liu Jin! Apa yang kamu lakukan, hentikan!", Ujar Dong Fang Lin sambil tertawa.
"Bukankah Tuan putri sendiri yang bilang, kalau anda suka saya yang kaku dan malu-malu? Inilah saya.", Ujar An Liu Jin.
"Ka-kamu... Hahahaha.", Dong Fang Lin tertawa karena lelucon An Liu Jin.
"Baiklah, baiklah! Hentikan! Kembali seperti biasa.", Ujar Dong Fang Lin sambil mengelap cairan dari matanya yang keluar karena kebanyakan tertawa.
"Baik putri!", Ujar An Liu Jin lalu menggendong Dong Fang Lin ala bridal style.
"Liu Jin! Apa yang kamu lakukan! Turunkan aku!", Ujar Dong Fang Lin sambil menutupi wajahnya karena malu.
"Bukankah kamu bilang untuk kembali seperti biasa? Ayo lakukan seperti biasa.", Ujar An Liu Jin lalu tersenyum.
"Liu Jin!"
...
Xiao Lin mulai menyusun barang-barangnya kedalam buntelan dan peti kayu.
Sisanya dia masukkan kedalam cincin ruang miliknya.
"Mempersiapkan keberangkatan ku dengan baik? Dia hanya ingin aku cepat pergi dari kehidupan pernikahannya agar tidak lagi mengganggu suaminya.", Gumam Xiao Lin di sela kegiatannya membereskan barang-barang.
"Xiao Lin?", Ujar suara di belakang Xiao Lin dari arah pintu kamarnya. Itu adalah Wan-er, dayang tuan putri yang lain.
"Ah, Wan-er? Ada apa?", Tanya Xiao Lin sambil tersenyum.
"Tidak ada. Aku dengar kamu mau pergi dan kembali ke kampung halaman mu untuk menikah?", Ujar Wan-er.
"Kamu yakin?", Ujar Wan-er lagi sambil menaikkan sebelah alisnya.
"Apa maksudmu Wan-er?", Tanya Xiao Lin sambil mengernyitkan dahinya.
"Menurut penyelidikan ku, bukankah seharusnya kamu pergi untuk menemui master mu?", Tanya Wan-er.
'Deg!'
"A-apa maksudmu sebenarnya Wan-er? Ma-master? Apa maksudnya? Hahaha, jangan bercanda.", Ujar Xiao Lin gugup.
"Jangan kira kalau kamu sudah melatih merpati pembawa surat mu dengan baik.", Ujar Wan-er sambil tersenyum miring.
'Deg!'
"A-apa?", Xiao Lin terlihat terkejut.
"Kamu mau pergi kemana, mata-mata?", Ujar Wan-er sambil menyilangkan tangannya di dada.
"Jadi kamu tau?", Ujar Xiao Lin tiba-tiba bersikap waspada.
"Aku sudah mulai menyelidiki gerak-gerik mu yang mencurigakan saat kamu baru masuk ke istana putri. Tidak kusangka kamu adalah mata-mata. Katakan! Kamu bekerja dengan siapa?", Tanya Wan-er.
"Haruskah aku menjawab?", Ujar Xiao Lin sambil tersenyum licik.
"Hahaha, tidak harus. Asalkan kamu mati, kamu tidak bisa kembali untuk melapor.
Dan biar kutebak, bukankah kamu kesini untuk membunuh sang putri dan tuan muda An?", Ujar Wan-er sambil tersenyum miring.
"Oh, kamu banyak tahu daripada yang aku kira.", Ujar Xiao Lin dengan ekspresi terkejut di wajahnya tapi masih dengan senyum miring.
"Tentu, menyelidiki orang-orang yang mencurigakan sepertimu adalah tugasku.", Ujar Wan-er.
"Sepertinya kamu juga bukan dayang biasa. Katakan kamu bekerja untuk siapa, setelah itu aku juga akan mengatakan kepada siapa aku bekerja.", Ujar Xiao Lin tersenyum licik.
"Aku bekerja pada putra mahkota untuk melindungi tuan putri. Dan mata-mata sepertimu adalah ancaman bagi tuan putri.", Ujar Wan-er sambil menatap tajam Xiao Lin.
Xiao Lin lalu melemparkan jarum beracun kearah Wan-er.
Wan-er dengan sigap menghindar dari serangan Xiao Lin.
Xiao Lin kembali menyerang dengan pisau belati.
Wan-er mempertahankan diri dengan bersenjatakan tusuk rambut yang rupanya adalah pisau kecil.
Xiao Lin menendang perut Wan-er cukup keras sehingga Wan-er batuk darah.
"Uhuk uhuk!"
"Tidak kusangka orang putra mahkota begitu lemah, sama lemahnya dengan dirinya.", Ujar Xiao Lin sambil tersenyum miring meremehkan.
"Jangan rendahkan putra mahkota!", Ujar Wan-er kembali bangkit dan menyerang Xiao Lin.
"Hahaha, anjing yang setia rupanya. Tadinya aku mau memberimu uang yang banyak untuk menutup mulutmu, tapi sepertinya itu tidak bisa dilakukan kecuali membunuhmu.", Ujar Xiao Lin lalu menahan serangan dari Wan-er.
Xiao Lin berhasil kabur lewat jendela, tapi Wan-er dengan cepat mengejarnya.
Mereka berlari sampai menuju arah hutan.
Xiao Lin berlari sangat cepat menggunakan Qing gong, tapi Wan-er tidak kalah cepat.
Mata-mata profesional memang beda.
Xiao Lin kembali melemparkan jarum-jarum beracun dari tangannya.
Dua jarum berhasil mengenai Wan-er.
Wan-er langsung jatuh karena racun yang ada di jarum.
"Uhuk, uhuk! Uggh!", Wan-er meringis kesakitan.
Xiao Lin mendekatinya sambil tersenyum licik.
"Bagaimana rasanya racun menyebar keseluruh tubuhmu? Bukankah menyakitkan?", Ujar Xiao Lin.
"Uggh! Dasar J*lang!", Ujar Wan-er lalu batuk darah.
"Ssst! Ssst! Sst! Diamlah. Ini adalah racun dari serangga racun perak, tidak berwarna dan berbau. Bahkan dengan jarum perak pun tidak dapat terdeteksi. Racunnya akan segera menyerang jantungmu, setelah itu kamu akan mati. Hahahaha...", Xiao Lin berkata sambil tertawa.
Tidak lama kemudia Wan-er menghembuskan nafas terakhirnya.
"Haah, pekerjaan kali ini terlalu berantakan. Aku akan membereskan kekacauan ini.", Ujar Xiao Lin.
Dia lalu mencabut jarum racun yang ada di tubuh Wan-er untuk menghilangkan jejak.
Setelah itu dia merobek pakaian Wan-er dan mengambil beberapa benda berharga dari jenazah Wan-er.
"Kalau seperti ini, kematiannya akan dikira sebagai kecelakaan karena dirampok.", Ujar Xiao Lin sambil tersenyum licik.
Setelah itu Xiao Lin kembali ke kediam Marquis Utara dan melanjutkan membereskan barang-barangnya.
...
Keesokan harinya...
Xiao Lin memasuki kereta kuda.
Barang-barangnya sudah tertata rapi di bagian belakang kereta.
Xiao Lin menoleh kebelakang untuk yang terakhir kalinya.
Dia menatap kediaman Marquis Utara dengan seksama.
"Aku akan kembali...", Ujarnya sambil tersenyum miring.
Tak lama kemudia kereta kuda berangkat, kusir mengarahkan keretanya keluar dari ibukota.
"Akhirnya aku keluar dari kehidupan dayang ini.", Ujar Xiao Lin lalu menarik jarum yang ada di lehernya.
Ternyata dia menggunakan teknik jarum pengubah wajah untuk merubah bentuk wajahnya.
Wajahnya pun berubah. Mulai dari garis wajahnya, matanya, bibirnya, juga hidungnya.
"Nona, master sudah menunggu kedatanganmu. Saya yakin kalau anda membawakan berita baik untuk beliau.", Ujar si kusir.
Mereka berbicara lewat jendela kecil yang bisa dibuka ataupun ditutup yang menghubungkan bagian dalam kereta dan tempat kusir.
"Hm, sebenarnya laporan ku mungkin tidak akan sebagus itu. Tapi mungkin cukup untuk membuat master senang. Setelah ini aku akan mengikuti master dan menjalankan rencana kita.", Ujar Xiao Lin yang sekarang wajahnya telah berubah.
"Setelah rencana kita sukses, master akan menguasai seluruh kekaisaran.", Ujar si kusir.
"Benar. Akhirnya master bisa mengakui putra kandungnya dengan bangga.", Ujar Xiao Lin sambil tersenyum.
"Anda benar nona. Saya tidak sabar melihat master tersenyum bahagia.", Ujar si kusir.
"Kalau begitu percepat laju kudanya, agar kita bisa cepat melapor pada master.", Ujar Xiao Lin sambil tersenyum.
"Baik nona. Hiyaat!", Si kusir lalu memacu kudanya lebih kencang.
"Perjalanan ini akan memakan waktu sekitar 3 hari. Master, tunggulah saya...", Ujar Xiao Lin sambil melihat langit biru dari jendela keretanya.
...
Hai guys! Apa kabar nih? Semoga baik dan sehat selalu ya ^3^
Karena aku sudah update, jadi jangan lupa untuk klik
likeππΌ
Berikan komentar π¬
Tambahkan favorit +β€οΈ
Dan rate 5 bintangnya ya βββββ
Kalau bisa tipsnya juga dong, aku lagi bokek nih T~T
Baiklah, sampai sini dulu chapter hari ini.
Sampai jumpa di chapter selanjutnya,
bye-bye π
........................
Sang putri dan An Liu Jin menunjukkan keromantisan nya π
*Xiao Lin seorang mata-mata? Kira-kira untuk siapakah dia bekerja? Β°oΒ°
Apa tanggapan kalian?
A. Aku tidak peduli dengan Xiao Lin si mata-mata, tunjukkan saja keromantisan pasangan lain!
B. Untuk siapa Xiao Lin bekerja? Apakah itu penting? Yang jelas dia jahat.
C. Aku ingin cepat-cepat melihat siapa pasangan masa depan An Xie Tian.
D. Update saja chapter selanjutnya dengan cepat* π‘
......................
Hahahaha baiklah, baik.
Tuliskan jawaban kalian di kolom komentarπ
Sampai jumpa minggu depan^^
.
.
.
*Tbc...
****** gak Lo baca 2252 kata* π€£π€£π€£