
...⚠️ Warning ⚠️...
...Biasakan untuk selalu memberikan like sebelum membaca....
...Terimakasih^^...
...👍🏻...
.......
...👍🏻...
.......
...👍🏻...
...Pagi hari, istana kekaisaran Dongfeng......
Pengadilan pagi istana hari itu dikejutkan dengan seorang tawanan yang merupakan pembunuh yang berhasil ditangkap dari kediaman Jendral besar An.
"Yang Mulia, wanita ini adalah pembunuh yang mencoba membunuh Putri keempat dan jendral muda.", Ujar seorang pengawal yang membawa tawanan itu.
Kaisar Ye memperhatikan wanita yang sedang berlutut dihadapannya itu.
'Wanita ini masih begitu muda tapi sudah menjadi pembunuh, sayang sekali...'
"Yang Mulia! Kami mengonfirmasi kalau dia adalah salah satu anak buah Raja Ming. Wanita ini adalah satu-satunya yang berhasil kabur dengan selamat saat penangkapan."
Lapor salah satu pengawal lagi.
"Oh, kamu satu-satunya yang berhasil selamat!? Lalu kenapa kamu tidak langsung kabur dan malah mencoba membunuh Putri ku dan suaminya? Siapa kamu?", Tanya kaisar Ye.
"Lapor Yang Mulia! Kami berhasil mendapatkan informasi tentang dirinya. Namanya adalah Xiao Lin, satu-satunya anggota sekte jarum terbang yang masih tersisa. Dia mulai mengikuti Raja Ming mulai usianya 11 tahun.", Jawab seorang pengawal.
"Yang Mulia, dia juga pernah ditugaskan menjadi mata-mata. Dia menyamar menjadi salah satu dayang putri keempat lalu ikut ke kediaman Marquis Utara sebagai dayang pribadi putri.
Sepertinya Raja Ming memang berencana untuk menyakiti sang putri juga.", Ucap salah satu penyidik.
"Oh, kamu juga menjadi agen mata-mata ya...
Seharusnya kamu kabur selagi ada kesempatan, ada dendam apa kamu dengan putri dan suaminya? Apakah kamu ingin menyelesaikan tugas dari Raja Ming untukmu?", Ujar kaisar Ye dengan nada meremehkan.
"Kenapa?", Suara rendah terdengar dari Xiao Lin.
"Apa? Beraninya wanita ini bica-
"Biarkan dia bicara! Apa yang mau kamu katakan?", Sela kaisar Ye.
"Ibuku adalah seorang gadis petani, dan ayahku adalah seseorang yang sangat terhormat.
Suatu hari gadis petani bertemu dengan seorang prajurit yang terluka. Dia merawat prajurit itu hingga sembuh.
Cinta tumbuh diantara mereka, menciptakan buah hati di rahim si gadis petani.
Si prajurit mengungkapkan jati dirinya, si gadis petani langsung bersujud dihadapannya.
Hanya liontin giok saja yang menjadi pertanda hubungan mereka.
Si prajurit terhormat meninggalkan cinta dan buah hatinya yang masih dalam perut dengan senyum dan janji.", Ujar Xiao Lin lalu tertawa kecil.
"Katakan padaku, Yang Mulia Kaisar. Kira-kira apakah yang terjadi pada wanita itu?", Sambung Xiao Lin lagi lalu menatap kaisar Ye tepat di matanya.
Kaisar Ye menatap Xiao Lin terkejut dan bingung.
Entah kenapa wajah gadis ini terasa sangat familiar.
"Apa maksudmu?", Tanya Kaisar Ye sambil mengernyitkan dahinya.
"Jika Yang Mulia tidak bisa menjawabnya, maka saya akan mengatakannya.
Gadis petani itu tetap menunggu si prajurit itu kembali.
Bahkan sampai bertahun-tahun dan akhirnya dia meninggal karena sakit.
Dia meninggalkan buah cintanya, putrinya sendirian.
Sebelum menutup mata dia berpesan
'Ambillah liontin giok ini dan pergilah ke gerbang Utara. Disana kamu akan menemukan kebahagiaan juga kemalangan.'
Putrinya yang tidak tau apa-apa lalu menerima liontin giok dan pergi berkelana setelah ibunya meninggal.
Seperti pesan sang ibu, dia pergi ke gerbang Utara Istana. 'Sungguh indah dan megah' pikirnya.
Dia hanya tinggal menunjukkan liontin giok itu maka dia akan mendapatkan kebahagiaan dan kemalangannya, atau itulah yang dia kira.
Tidak, sama sekali tidak ada kebahagiaan.
Dia malah dicaci maki dan diusir dari sana.
Tatapan dingin dari wanita Kaisar itu masih terasa begitu dingin saat menatap jijik padanya.", Ujar Xiao Lin lalu tertawa.
Xiao Lin meraih sesuatu dari dalam pakaiannya. Sebuah liontin giok dengan ukiran indah terpampang disana membuat seisi istana jatuh dalam keterkejutan.
Simbol kekaisaran yang hanya dimiliki keluarga kerajaan. Dan yang lebih mengejutkan lagi, itu adalah simbol milik Kaisar.
Mengapa gadis ini memilikinya?
"Siapa kamu?", Tanya kaisar masih dalam keterkejutannya.
"Siapa aku? Bukankah seharusnya aku yang tanya? Siapa aku, Ayahanda?", Ujar Xiao Lin yang membuat seisi istana jatuh dalam keterkejutan untuk yang kedua kalinya.
"Apa!?", Kaisar Ye tidak dapat berkata-kata.
Apakah ini benar? Wajah gadis itu memang sangat mirip dengan wanita yang pernah ditemuinya 17 tahun yang lalu.
Tepatnya saat dia sedang kabur dari kejaran pembunuh bayaran, untungnya dia berhasil kabur dengan menyamar sebagai prajurit dan bertemu dengan wanita berhati malaikat itu.
Tapi... Mungkinkah?
"Gadis tidak tau diri! Beraninya kamu berpura-pura!", Ujar salah satu pejabat istana.
"Aku tidak berpura-pura! Saat umurku 7 tahun, ibuku meninggal dan memberikan ini padaku! Dia juga mengatakan siapa ayahku dan kemana aku harus mencarinya!
Jika bukan karena permaisuri Zhang waktu itu, maka aku sudah diakui sebagai salah satu putri kaisar!
Jika bukan karena waktu itu dia mengusirku dari gerbang Utara... Mungkin saja... Mungkin saja aku bisa mendapatkan cintaku...", Ujar Xiao Lin lalu menangis.
"Jika saja saat itu aku tidak bertemu Master, mungkin saja aku sudah mati...", Ujar Xiao Lin ditengah tangisnya.
"Ka-kamu... Kamu benar-benar putriku?", Ujar kaisar Ye terkejut.
"Seperti yang anda lihat, Yang Mulia. Apakah anda tidak lihat satu-satunya bukti yang saya bawa? Liontin ini adalah pemberian anda pada ibu saya. Anda tidak lupa bukan?", Ujar Xiao Lin.
"Ini... Ya, aku... Aku ingat. Jadi, kamu... Putriku?", Ujar kaisar Ye menatap Xiao Lin tidak percaya.
"Benar Ayahanda. Jika bukan karena permaisuri Zhang Junda, maka kita sudah bertemu sejak dulu...", Ujar Xiao Lin sambil tersenyum.
"Lancang!", Teriak putra mahkota.
"Apa maksudmu, Yang Mulia putra mahkota?", Tanya Xiao Lin sambil menggeram kesal.
"Jin-er?", Kaisar Ye menatap putra sulungnya bingung.
"Itu sama sekali tidak benar! Jika aku tidak salah, maka saat umurmu 7 tahun itu adalah 10 tahun yang lalu bukan?", Tanya putra mahkota.
"Benar, itu adalah 10 tahun yang lalu.", Ujar Xiao Lin.
"Itu tidak benar! Penjagaan gerbang Utara memang wewenang permaisuri, namun saat itu ibuku sakit parah sehingga wewenang nya jatuh ke tangan selir agung, Wang Mei Li.
Jadi, wanita kaisar yang mengusirmu adalah permaisuri Wang yang sudah mati karena tuduhan pengkhianatan bukan ibuku permaisuri Zhang!", Sanggah putra mahkota.
Para pejabat langsung mengangguk setuju.
Wewenang permaisuri saat itu memang diserahkan kepada selir agung karena alasan kesehatan permaisuri.
Jadi wanita jahat yang sudah mengusir anak kaisar adalah Wang Mei Li.
Kaisar Ye menggenggam tangannya penuh amarah.
"Lalu jika kamu tau kalau kamu adalah putriku, lalu mengapa kamu mencoba membunuh saudarimu sendiri? Bahkan bergabung dengan kelompok pemberontak!", Ujar kaisar Ye pada Xiao Lin.
"Harusnya kamu menanyakan itu sendiri pada putrimu dan suaminya, Ayahanda.", Ujar Xiao Lin.
Dia lalu tersenyum.
Xiao Lin berdiri lalu berlari kearah salah satu tiang istana dan membenturkan kepalanya sendiri hingga berdarah-darah.
Seluruh istana langsung heboh karena perlakuannya.
"Cepat panggilkan tabib istana!", Teriak kaisar Ye khawatir.
'Sudah cukup, sudah cukup...
Aku tidak ingin kehilangan anak-anakku...'
Xiao Lin terbaring lemah di pangkuan Kaisar.
"Ayah...", Ujarnya lemah.
"Ah, kamu bangun. Kumohon, bertahanlah... Tabib istana akan segera datang.", Ujar kaisar Ye.
"Maafkan aku, aku sudah salah paham. Aku juga sudah mencoba melukai saudariku sendiri karena keegoisan ku seorang. Maafkan aku.... Ayah...", Ujar Xiao Lin lalu menghembuskan nafas terakhirnya.
Kaisar Ye meneteskan air matanya.
Dia lalu menutup mata Xiao Lin yang masih terbuka.
'Berapa banyak lagi aku harus kehilangan?'
Semua orang terlihat bersedih untuk Kaisar.
Dia baru saja bertemu dengan putrinya, namun kebahagiaan itu langsung direnggut saat itu juga.
Sungguh malang...
.
.
.
Kediaman Marquis Utara...
An Xie Tian menyiapkan kereta kudanya pagi-pagi.
Dia akan pergi dengan Dong Li, Minji, Makge, dan Chunjun
Dia tidak bisa membawa Jiang Li dan Xu Lian karena mereka adalah pemimpin kelompok.
Jadi agar pasukan Mawar besi tetap terawat, An Xie Tian meninggalkan Jiang Li dan Xu Lian untuk menjaga mereka.
Dong Li dan Minji akan berperan sebagai pelayannya sedangkan Makge dan Chunjun sebagai pengawalnya.
"Baiklah, kita pergi.", Ujar An Xie Tian.
Dia sudah menyuruh XiaoMei untuk memberikan surat pada ayahnya, dengan itu ayahnya tidak akan khawatir saat dia tidak ada.
An Xie Tian akan segera naik ke kereta saat suara derap langkah kuda menghentikannya.
"Gu Niang! Xie Tian Gu Niang!", Teriak si pengendara kuda.
An Xie Tian berbalik dan menemukan seorang pria yang sedang terburu-buru turun dari kudanya.
"Kamu...?", An Xie Tian terlihat bingung.
"Maafkan atas kelancangan saya Gu Niang.", Ujar pria itu lalu membungkuk hormat.
"Oh, bukankah kamu adalah salah satu pimpinan pasukan saat penyerangan terhadap para pemberontak? Kamu berperang bersama pangeran ketiga, benar?", Ujar An Xie Tian mengenali siapa pria itu.
"Ah, benar Gu Niang. Nama saya adalah Lao, saya adalah pengawal pribadi pangeran ketiga.", Ujar Lao.
"Apa yang membawamu kesini, Lao?", Tanya An Xie Tian.
"Sa-saya ingin memberikan ini...", Ujar Lao lalu menyerahkan kotak kayu dengan pahatan indah dan sebuah ukiran huruf diatasnya.
"Apa ini?", Tanya An Xie Tian bingung.
"Sesuatu yang seharusnya sudah anda miliki sejak dulu.", Ujar Lao sambil tersenyum.
"Apa...?", An Xie Tian menatap kotak itu bingung.
"Saya kemari hanya untuk menyerahkan kotak itu saja, saya akan pamit permisi sekarang.", Ujar Lao lalu kembali membungkuk hormat dan menaiki kudanya.
Saat An Xie Tian akan bertanya lebih jauh, Lao sudah memacu kudanya pergi dengan cepat.
An Xie Tian tidak berkata apa-apa lagi.
"Sudahlah, aku juga harus cepat.", Ujar An Xie Tian lalu membawa kotak kayu itu bersamanya menaiki kereta kuda.
Semilir angin menerpa wajahnya.
Dia merasa tenang, bahagia, sekaligus khawatir.
'Fang Yu, tunggulah sebentar lagi. Aku akan menyembuhkan mu...'
An Xie Tian berhenti menatap keluar jendela lalu mengalihkan pandangannya ke arah kotak kayu yang ada disebelahnya.
An Xie Tian meletakkan kotak kayu itu di pangkuannya.
An Xie Tian membaca ukiran huruf yang terukir di atas kotak kayu itu. "Fang...Yu.."
" Ini milik pangeran ketiga?
Gumam An Xie Tian lalu membukanya.
Didalamnya terdapat beberapa pucuk surat.
"Apa ini?", Tanya An Xie Tian lalu membuka surat pertama.
~~
Pagi ini sangatlah cerah, mentari menyinari seluruh kamarku dengan cahayanya.
Tapi senyumanmu lebih cerah dibandingkan mentari.
Walaupun wajahmu tertutup cadar, tapi kecantikan mu benar-benar tidak bisa ditutupi hanya dengan itu.
Ingin sekali rasanya aku berlari dan memelukmu.
Ingin sekali rasanya aku membawamu pergi jauh dari sini lalu hidup dengan tenang berdua bersamamu.
Pangeran ini tidak bisa berhenti memikirkan mu di setiap waktu.
~
An Xie Tian tersenyum, dia lalu membuka surat kedua.
Surat kedua:
~~
Sungguh, tidak bisakah kamu menjadi milikku?
Aku sungguh sangat mencintai mu.
An Xie Tian.
Walaupun arti namamu adalah gelap, namun kamu membawa cahaya kedalam hidupku.
Kamulah warnaku.
Namun aku tidak dapat memilikimu.
Sepertinya aku harus kehilangan cahaya hidupku lagi.
~
An Xie Tian terharu membaca surat itu.
Dia lalu lanjut membaca surat ketiga.
Surat ketiga:
~~
Sepertinya kamu menungguku, apa aku salah?
Kamu terlihat seperti mengunggu seseorang, apakah itu aku?
Sudah satu bulan aku tidak menemuimu secara langsung. Tapi percayalah, aku selalu ada di dekatmu.
Memperhatikan dari kejauhan sudah cukup untukku.
Jangan anggap aku ingkar janji.
Aku selalu disini setiap hari sambil menjaga malam mu.
~
An Xie Tian tercengang membaca surat itu.
"Ternyata dia selalu datang, mengapa dia tidak menemui ku saja?", Ujar An Xie Tian lalu meneteskan air mata sambil menutupi matanya dengan tangan kirinya.
Surat keempat:
~~
Aku sangat senang.
Kakak ipar bilang, kamu menolak lamaran putra mahkota.
Dia menyemangati aku untuk jangan menyerah sekarang.
Tunggulah aku.
Aku akan segera datang dan menjadi pangeran yang meminang mu.
Lihatlah wajah dan pakaianku yang ternoda tinta, aku sungguh kacau jika itu menyangkut dirimu.
~
An Xie Tian menutup mulutnya karena terkejut.
"Dia...akan melamar ku?", Ujar An Xie Tian lalu merona karena senang dan malu.
Dia lalu membuka surat kelima dan juga yang terakhir.
Surat kelima:
~~
Aku sedih, aku terluka.
Sungguh.
Surat lamaran telah kutulis tergesa-gesa, tapi aku masih saja terlambat.
Kamu sudah menjadi milik seseorang.
Hujan telah membuyarkan seluruh tinta yang ada di kertas dan juga membuyarkan seluruh hatiku.
Apa yang aku harapkan sebenarnya?
Bagaimana bisa kamu menjadi milikku?
~
An Xie Tian merasa sangat bersalah setelah membaca surat yang terakhir.
"Maafkan aku..."
An Xie Tian meletakkan kembali surat-surat itu kedalam kotak kayu lalu menutupnya.
"Sungguh, maafkan aku...", Ujar An Xie Tian lalu memeluk kotak kayu tersebut.
An Xie Tian kembali meletakkan kotak kayu itu disampingnya.
"Tunggulah aku..."
Perjalanannya masih cukup panjang.
An Xie Tian berharap semoga saja dia akan kembali membawa senyum kebahagiaan.
.
.
.
Pusing menyerang kepala Dong Fang Yu, padahal dia bahkan belum membuka matanya.
Dong Fang Yu membuka matanya perlahan.
Manik biru itu berkedip beberapa kali.
'Aku dimana?', Pikir Dong Fang Yu.
Dong Fang Yu mencoba bangkit, namun rasa sakit di sekujur tubuhnya menyerang tiba-tiba.
Tubuhnya terasa seperti dihantam dan ditusuk dari dalam.
Belum lagi napasnya yang sesak menambahkan penderitaannya.
Dong Fang Yu berusaha menahan semua rasa sakit itu lalu bangkit dari tempat tidur.
Dong Fang Yu mengingat kejadian terakhir yang terjadi padanya sebelum pingsan.
"Xie Tian!", Ujarnya lalu dengan cepat berdiri membuat tubuhnya didera rasa sakit yang teramat sangat.
"Nngghh...", Dong Fang Yu berhasil berdiri dengan menahan rasa sakitnya.
Dia berhasil berjalan dan membuka pintu kamar.
Pemandangan taman istana yang indah dan penuh dengan bunga langsung menyambutnya.
'Ini istana?'
"Sebaiknya kamu jangan banyak bergerak dulu Biao Ge.", Ujar sebuah suara lembut dari arah belakang.
Dong Fang Yu berbalik dan menemukan Chu Xian Yue yang tengah berdiri dibelakangnya.
"Bagaimana kamu bisa berada disini? Bagaimana jika pengawal istana menangkap mu!?", Ujar Dong Fang Yu terkejut karena kehadiran Chu Xian Yue yang juga sepupunya itu.
"Hah, tidak perlu khawatir. Mereka tidak akan mudah menemukan ku.", Ujar Chu Xian Yue dengan nada meremehkan.
"Apa yang kamu inginkan?", Tanya Dong Fang Yu.
"Hah, jujur saja. Aku sangat kecewa padamu Biao Ge. Bagaimana bisa kamu menggunakan pasukan bulan sabit yang hanya bisa kamu gunakan sekali untuk membantu Dongfeng mengalahkan para pemberontak itu? Bagaimanapun juga, Dongfeng adalah salah satu kekaisaran yang menghancurkan kerajaan Chu kita.", Ujar Chu Xian Yue dengan tatapan tidak suka.
"Dongfeng adalah kota kelahiranku, tanah airku, dan juga rumahku.
Dan di perang kala itu ada orang yang perlu aku lindungi, aku terpaksa menggunakannya. Aku tau kamu memiliki dendam terhadap Dongfeng, maafkan aku.", Ujar Dong Fang Yu lalu menundukkan kepalanya tanda menyesal.
"Lihatlah dirimu, kamu sampai terluka parah seperti itu. Apa yang pernah dilakukan Dongfeng padamu? Apa yang Ayahanda kaisarmu pernah berikan padamu?
Ah, dan apakah orang yang kamu lindungi itu adalah wanita?
Biao Ge, aku tau jika cinta bisa membuatmu gila. Tapi setidaknya jangan menjadi idiot.", Ujar Chu Xian Yue dengan kata-katanya yang pedas dan menusuk.
"Aku tau tapi aku..Uhuk..uhh...", Dong Fang Yu belum menyelesaikan perkataannya ketika tiba-tiba dia memuntahkan darah segar.
"Biao Ge!", Chu Xian Yue menangkap tubuh sepupunya yang tiba-tiba ambruk.
"Astaga, sebenarnya seberapa parah lukamu?", Ujar Chu Xian Yue khawatir.
Dong Fang Yu memegangi dadanya sambil menahan sakit.
"Uggghhh..."
"Ayo, aku akan mengantarmu kembali ke tempat tidur.", Ujar Chu Xian Yue.
"Tidak! Aku harus mencari Xie Tian.", Ujar Dong Fang Yu kekeh.
"Siapa Xie Tian...ooh... Apakah itu adalah nama orang..ah tidak..wanita yang harus kau lindungi itu?", Ujar Chu Xian Yue sambil tersenyum meledek.
"Ugh, ya.", Ujar Dong Fang Yu singkat tanpa memperdulikan senyum mengejek Chu Xian Yue.
"Baiklah baiklah, begini saja. Aku akan mengawasi dan menjaga wanita itu untukmu, sebaliknya kamu tetap disini dan beristirahat. Bagaimana?", Ujar Chu Xian Yue.
Dong Fang Yu berpikir sejenak.
"Memangnya kamu tau seperti apa An Xie Tian itu?", Tanya Dong Fang Yu.
"Nah, kau sudah mengatakan nama lengkapnya. Sekarang mudah saja mencarinya.", Ujar Chu Xian Yue sambil tertawa kecil.
"Ah!", Dong Fang Yu menyadari akal-akalan Chu Xian Yue yang mendorongnya mengatakan siapa wanita itu.
"Tenang saja Biao Ge, aku akan menjaganya dengan baik. Karena itu, kamu beristirahatlah disini. Aku akan menjaganya sampai kamu sembuh.", Ujar Chu Xian Yue sambil tersenyum lalu mengantarkan Dong Fang Yu kembali ke tempat tidur.
"Baiklah, aku minta bantuan mu.", Ujar Dong Fang Yu sambil tersenyum tipis.
Ah, tipikal lelaki dingin.
"Baiklah, percayakan saja wanitamu pada sepupumu ini Biao Ge. Baik, aku pergi dulu.", Ujar Chu Xian Yue pamit lalu pergi.
Dong Fang Yu menyadari keakrabannya dengan Chu Xian Yue yang bisa dikatakan sangat cepat padahal dia baru bertemu sekali dengan sepupunya itu.
Dong Fang Yu tersenyum karena rasa hangat yang timbul didalam hatinya.
Dong Fang Yu lalu menatap kearah pintu dimana sepupunya itu pergi lewat sana.
"Kuharap kamu bisa menjaganya dengan baik, walaupun sebenarnya aku ragu...
Apakah aku bisa menjaganya setelah ini?", Ujar Dong Fang Yu sambil tersenyum lemah.
"Uhuk uhuk!", Dong Fang Yu kembali memuntahkan darah segar.
"Kuharap aku juga punya waktu untuk menjaganya...", Ujar Dong Fang Yu sambil menatap langit-langit.
.
.
.
Hai guys! Apa kabar nih? Semoga baik dan sehat selalu ya ^^
***Jangan lupa klik
Like 👍🏻
Berikan komentar 💬
Tambahkan favorit +❤️
Dan juga rate 5 bintangnya ya ⭐⭐⭐⭐⭐
Sampai sini dulu chapter hari ini, sampai jumpa di chapter selanjutnya. Bye-bye 👋🏻***
.
.
.
To be continued...