Time Travel: Rebirth Of The Daughter Of The Marquess

Time Travel: Rebirth Of The Daughter Of The Marquess
Ch 62: Kaisar dan Tuan putri



...⚠️ Warning ⚠️...


...Biasakan untuk selalu memberikan like sebelum membaca....


...^^Terimakasih^^...


...👍🏻...


.......


...👍🏻...


.......


...👍🏻...


"Kita sudah menghafal denah istana ini, mempelajarinya, dan mencari rute terbaik untuk mencapai ruang penyimpanan harta." An Xie Tian berkata sambil menatap keempat bawahannya.


"Waktu pergantian penjagaan juga sudah diperhitungkan untuk mempermudah misi kita." Sambungnya lagi.


"Minji akan tetap disini untuk mengurangi kecurigaan, Makge dan Chunjun akan berjaga disekitar kalau-kalau kita ketahuan, dan Dong Li akan menjadi pengalih perhatian para penjaga. Kalian mengerti!?" Tanya An Xie Tian sambil menatap tajam para bawahannya.


"Mengerti Master!", Jawab mereka.


"Ini saatnya menjalankan rencana B..." Gumam An Xie Tian.


...


Seperti yang diperintahkan An Xie Tian, para bawahannya menjalankannya dengan baik.


An Xie Tian berhasil menyusup kedalam ruang penyimpanan harta istana kekaisaran Tianxing sementara Dong Li mengalihkan perhatian para penjaga.


An Xie Tian mulai menelusuri satu-persatu barang yang ada di ruangan tersebut.


Memang banyak barang berharga seperti emas, perak, perhiasan, permata dan lainnya.


Tapi entah kenapa An Xie Tian merasa ada sesuatu yang salah.


An Xie Tian menjelajahi ruangan tersebut dari satu sisi ke sisi lainnya.


Akhirnya An Xie Tian menyadari sesuatu.


"Ah, seperti itu rupanya..." An Xie Tian tersenyum miring.


Dari luar gedung ini terlihat lebih besar, namun saat masuk terasa mengecil.


Hanya ada satu jawaban dari keanehan itu, ruangan tersembunyi.


An Xie Tian mengetuk pelan setiap sisi dinding dan akhirnya menemukan sisi yang berbunyi beda.


An Xie Tian mencari-cari sesuatu di dinding itu, semacam tuas atau semacamnya.


Dan benar saja, setelah menarik tempat lilin yang terpasang di sisi dinding itu, dinding didepannya itu tergerak dan menampilkan celah seperti pintu yang awalnya tidak terlihat.


An Xie Tian menatap celah itu sambil tersenyum bangga.


"Jangan remehkan otak modern ku ini. Begini-begini aku suka nonton film Indiana Jones tau..." Gumam An Xie Tian sambil terkekeh kecil.


An Xie Tian membuka celah itu dan nampak lah sebuah tangga yang menuju kebawah.


An Xie Tian menuruni tangga itu.


Dibawah sana sangat gelap sehingga An Xie Tian mengeluarkan sebuah batu berwarna kebiruan dan mengalirkan sedikit energinya ke batu itu. Batu itu langsung menyala dengan cahaya biru yang indah.


An Xie Tian mengamati ruang bawah tanah yang tersembunyi dibawah ruang penyimpanan harta itu.


Ada lebih banyak benda-benda langka dan berharga disini.


Senjata legendaris, permata-permata langka, pil-pil berharga, dan barang-barang berharga lainnya.


Lama An Xie Tian mencari, namun dia tetap tidak bisa menemukan benda yang dicarinya.


Apalagi sebenarnya An Xie Tian tidak pernah melihat secara langsung seperti apa sebenarnya benda yang dicarinya itu selain melihatnya dibuku.


An Xie Tian melihat lemari dengan susunan pil-pil langka didalamnya, namun setelah melihatnya satu-persatu tetap saja benda itu tidak ada di salah satunya.


An Xie Tian mulai frustasi.


Apa benar benda itu ada disini? Apa jangan-jangan cerita yang didengarnya tentang benda itu bohong?


Tidak! Jangan sampai! An Xie Tian tidak memiliki harapan lain selain benda itu!


An Xie Tian tidak menyerah dan tetap mencari disekitar sana.


An Xie Tian lalu menajamkan indra penciumannya.


Dia bisa mencium banyak aroma dari berbagai arah, namun ada satu aroma pekat unik yang menggelitik indra penciumannya.


Aroma itu berasal dari sebuah kotak kayu berwarna hitam berukir bunga teratai.


An Xie Tian membuka kotak tersebut dan menemukan kotak kecil lainnya dengan potongan puzzle geser diatasnya.


An Xie Tian menggeser potongan-potongan puzzle kecil itu hingga terbentuklah gambar lambang negeri Tianxing yang sempurna.


Kotak kecil itu terbuka setelah puzzle selesai.


An Xie Tian berhasil menemukan botol giok hijau didalamnya.


"Aku berhasil! Ini dia pil naga emas yang aku cari-cari!", Ujar An Xie Tian sambil tersenyum senang.


An Xie Tian meninggalkan secari kertas di kotak itu.


: Aku pinjam sebentar ya, nanti aku kembalikan.


^^^'As.'^^^


'As' adalah inisial lain An Xie Tian saat masih menjadi agen mata-mata, setiap dia selesai mengerjakan tugasnya dia selalu meninggalkan tanda berupa inisial 'As' tersebut.


Karena itu selain dikenal sebagai Aris, dia juga dipanggil dengan sebutan Miss As oleh para musuhnya.


An Xie Tian lalu kembali menutup kotak-kotak itu lalu pergi dari ruang bawah tanah.


Setelah mengecek keadaan sekitar, barulah dia keluar dari ruang penyimpanan harta.


...


Tanpa An Xie Tian sadari kalau aksinya selama ini diperhatikan oleh sepasang mata hijau keabu-abuan milik Kaisar Tianxing.


"Benar-benar wanita yang berani dan keras kepala...", Gumamnya setelah melihat An Xie Tian keluar dari bangunan ruang penyimpanan harta.


Qi Chuankang keluar dari tempat persembunyiannya setelah An Xie Tian benar-benar sudah pergi.


Qi Chuankang akan melangkah pergi saat tiba-tiba dia merasakan kehadiran seseorang lalu dengan cepat dia mengarahkan pedang yang dibawanya kearah orang itu.


"Siapa kamu?" Qi Chuankang menatap sosok berpakaian serba hitam itu tajam.


"Kamu menolak saat dia meminta pil itu baik-baik, namun kamu diam saja saat melihatnya membawa pil itu. Kenapa?", Tanya orang itu yang juga mengacungkan pedangnya pada Qi Chuankang.


"Mengapa kamu ingin tau?" Qi Chuankang menaikkan sebelah alisnya.


"Aku merasa bingung padamu. Mengapa kamu membiarkan wanita yang kamu cintai menolong pria lain? Padahal kamu tau kalau wanita itu juga memiliki perasaan yang sama pada pria lain itu?" Tanya orang itu lagi.


Kini Qi Chuankang semakin yakin kalau orang ini adalah seorang wanita setelah mendengar suaranya yang tinggi namun lembut.


"Itu bukan urusanmu." Ujar Qi Chuankang lalu mengibaskan pedangnya kearah orang itu.


Pertarungan antara keduanya tidak dapat dihindari. Pertarungannya berlangsung alot karena ilmu pedang keduanya sama-sama kuat.


Pertarungan baru terhenti saat pedang Qi Chuankang tidak sengaja menarik penutup kepala orang itu, yang lalu menampilkan rambut perak panjang dan lembut juga sepasang mata biru kehijauan yang menatap tajam kearahnya.


Qi Chuankang tertegun melihat wajah orang itu yang nampak cantik dan bersinar dibawah sinar rembulan.


Qi Chuankang tersadar dari lamunan sesaatnya.


"Rambut perak dan wajah menawan. Setau saya, hanya anggota keluarga kerajaan Chu yang memiliki ciri unik itu. Lalu, apa yang dilakukan seorang tuan putri disini saat ini?" Qi Chuankang berkata dengan nada yang agak nakal dan mengejek.


Chu Xian Yue menatapnya tidak suka.


"Aku tidak suka ketika seseorang memanggilku tuan putri, itu membuatku terdengar seperti wanita lemah yang perlu dilindungi." Chu Xian Yue berkata sambil masih menatap tajam kearah Qi Chuankang.


"Tenanglah nona manis." Qi Chuankang menurunkan pedangnya lalu memasukkannya kembali kedalam sarung pedangnya.


Chu Xian Yue yang melihat hal itu juga menurunkan pedang namun tanpa menurunkan sikap waspada nya.


"Apa yang kamu mau sebenarnya?" Tanya Chu Xian Yue menatap Qi Chuankang bingung.


"Apa maksudmu?" Qi Chuankang bertanya sambil menaikkan kedua belah alisnya pura-pura bodoh.


"Kamu tidak memberikannya diawal tapi membiarkannya mencurinya darimu. Apa kamu mempunyai hobi aneh semacam itu?" Chu Xian Yue mulai berpikiran aneh tentang motif Qi Chuankang.


"Putri, sepertinya anda lupa kalau anda berada di istanaku. Dengan satu perintah dariku, sepasukan pengawal akan mengepung dan menangkapmu lalu memasukkanmu kedalam penjara." Kata-kata Qi Chuankang yang tiba-tiba berubah menjadi agak mengerikan tidak membuat Chu Xian Yue takut.


"Tidak, memang tidak. Aku merasa senang karena memiliki mainan menarik sepertimu." Qi Chuankang berkata sambil tersenyum miring.


Senyumnya membuat Chu Xian Yue agak merinding.


"Maaf saja, tapi aku bukan barang atau mainan." Chu Xian Yue membuang wajah tak lagi menatap Qi Chuankang.


"Apa yang dilakukan tuan putri Chu disini? Aku tebak, sepertinya ini ada hubungannya dengan pangeran ketiga Dong Fang Yu." Tebakan tepat dari Qi Chuankang.


"Aku kesini hanya untuk mengawasi dan melindungi wanita itu, tapi aku malah bertemu dengan pria berselera aneh sepertimu." Chu Xian Yue menatap Qi Chuankang dengan pandangan mengejek.


"Sepertinya anda membolos pelajaran tata Krama. Bagaimanapun aku ini seorang kaisar, bukankah seorang tuan putri harus bersikap anggun dan sopan?" Qi Chuankang tidak menghiraukan ejekan Chu Xian Yue dan malah mengejeknya balik.


"Cih, aku tidak peduli dengan peraturan semacam itu. Lagipula kaisar sepertimu tidak pantas dihormati. Hanya bisa menumpuk wanita di Harem mu, tapi tidak menghiraukan rakyat yang menderita." Chu Xian Yue mulai berkomentar sarkas.


"Sepertinya kamu belum mengetahui apa-apa tentang Tianxing. Angka kemiskinan di Tianxing sangat rendah, hampir semua rakyatku hidup sejahtera. Tidak ada orang kelaparan atau pengemis di kerajaanku. Dan asal kau tau, para selir di Harem ku memang banyak. Tapi aku berlaku adil pada mereka semua. Aku menikahi mereka bukan karena aku ingin, tapi karena desakan dari para mentri, pejabat, dan juga rakyat yang memintaku menikah untuk memperbanyak keturunan anggota kerajaan yang tinggal aku seorang." Komentar sarkas Chu Xian Yue dijawab tuntas oleh Qi Chuankang.


Chu Xian Yue tertegun dengan jawaban Qi Chuankang.


Dia memang mendengar kalau Tianxing adalah negeri yang maju dan makmur, hal itu berkat kerja keras kaisar muda yang kompeten dalam melaksanakan tugasnya.


Entah kenapa dia menjadi merasa agak bersalah setelah melontarkan kalimat kasar yang tadi.


"Apa ini? Kamu merasa tidak enak padaku? Tidak perlu sungkan, santai saja. Aku bukan tipe kaisar yang pendendam." Qi Chuankang berkata saat melihat wajah bersalah dari Chu Xian Yue.


"Cih, aku juga tidak peduli." Chu Xian Yue berkata seperti itu dan langsung berlari dan melompat.


"Hei! Tunggu!" Qi Chuankang memanggilnya.


"Apa lagi? Kamu ingin menangkapku?" Tanya Chu Xian Yue.


"Tidak, bukan itu. Anu, namamu siapa?", Tanya Qi Chuankang.


Chu Xian Yue tersenyum sekilas.


"Xian Yue, Chu Xian Yue." Setelah mengatakan namanya Chu Xian Yue lalu menghilang diantara atap-atap yang dilompatinya.


Qi Chuankang menatap kepergian Chu Xian Yue.


Qi Chuankang menggumamkan sesuatu, sangat kecil hingga hampir tidak kedengaran.


"Chu Xian Yue... Cantik."


.


.


.


An Xie Tian menatap botol giok berisi pil naga emas ditangannya.


Walaupun dia memilikinya tapi dia tidak bisa menggunakannya. Dia harus membuat yang lain, namun hal itu bisa dibilang agak mustahil.


Pembuatan satu pil ini membutuhkan waktu sekitar berpuluh-puluh tahun hanya untuk menyempurnakannya.


Jika dia menggunakan pil ini, maka Tianxing akan kehilangan harta karun berharga mereka yang hanya satu didunia.


Apalagi ini adalah peninggalan leluhur mereka, bagaimana bisa An Xie Tian tega menggunakannya.


An Xie Tian berpikir sangat keras.


Bisa saja sih dia membuatnya, tapi butuh berpuluh-puluh tahun dulu untuk membuat pilnya sempurna dan An Xie Tian tidak memiliki waktu sebanyak itu.


Tidak, bukan An Xie Tian, tapi 'dia'.


An Xie Tian menghela nafas berat.


Dia merasa bimbang.


Dilain sisi dia senang karena berhasil mendapatkan pilnya, tapi lalu apa?


Dia tidak bisa menggunakan pil ini begitu saja.


"Aku bisa membantumu." Suara Hei Huo tiba-tiba terdengar.


"Guru? Guru punya cara untuk membuat pil ini dengan cepat?", Tanya An Xie Tian.


"Tentu, tapi itu sangat beresiko dan memiliki efek samping.", Terang Hei Huo.


"Apa itu? Apa resiko dan efek sampingnya?", Tanya An Xie Tian.


"Jika kamu gagal, kemungkinan pilnya akan meledak dan kamu harus mengulanginya dari awal. Dan jika kamu berhasil..." Hei Huo tidak menyelesaikan perkataannya.


"Kenapa? Apa yang akan terjadi jika aku berhasil?", Tanya An Xie Tian.


"Kamu akan cacat. Kamu tidak bisa berkultivasi dan berlatih ilmu bela diri lagi." Perkataan Hei Huo membuat An Xie Tian terkejut.


Hanya dua pilihan yang dia punya, menyelamatkan orang itu dan menjadi cacat, atau melepaskannya.


Tidak, dia harus mencoba!


Cacat pun tidak apa-apa.


"Baik, aku akan mencobanya." An Xie Tian bertekad pada dirinya sendiri.


Bahkan jika itu nyawanya, apalagi jika hanya merelakan pelatihannya dan menjadi orang cacat.


"Tapi jika seperti itu maka kau akan menjadi orang lemah seperti dulu. Orang-orang tidak akan menghormatimu lagi. Mengapa kamu tidak menggunakan saja pil itu? Pil itu sudah ada ditanganmu, apa lagi yang kamu pikirkan?" Hei Huo mencoba membujuk An Xie Tian.


Dia kira kalau memberitahu An Xie Tian tentang dampaknya maka wanita itu akan menyerah. Tapi sepertinya Hei Huo lupa betapa keras kepalanya wanita itu.


Dan An Xie Tian bahkan tidak mau menggunakan pil itu saja, lalu apa maunya?


"Maaf guru, tapi ini adalah pilihanku. Menjadi cacat pun tidak apa-apa. Menjadi hebat bukanlah segalanya jika itu membuatmu kehilangan hal paling berharga dalam dirimu.


Cinta memang penting, tapi ada yang lebih berharga dari itu..." An Xie Tian berkata.


"Apa yang lebih penting dari cintamu?" Hei Huo bertanya.


Selama ini An Xie Tian nekat melakukan hal-hal seperti ini untuk cintanya, lalu apa lagi hal yang paling berharga melebihi cinta untuknya?


"Kepercayaan. Aku memang berhasil mendapatkan pil ini dengan mencurinya, namun aku juga sudah berjanji untuk mengembalikannya. Kang sudah sangat baik padaku, bagaimana aku bisa membalas kebaikannya dengan cera seperti ini?" An Xie Tian berkata sambil tersenyum.


Hei Huo tidak habis pikir.


Dia mengira kalau Zhu Xiao Nian itu adalah wanita dingin, keras kepala, dan egois. Namun dia berhasil menunjukkan sisi hangatnya dengan mengutamakan kepercayaan orang lain padanya.


Sepertinya takdir Phoenix benar-benar jatuh ke tangan yang tepat.


"Baiklah, aku akan mengajarkanmu caranya." Akhirnya Hei Huo menyerah.


Walaupun Zhu Xiao Nian menunjukkan kesungguhan hatinya, namun watak keras kepalanya benar-benar tidak bisa dihilangkan.


"Benarkah!? Guru memang yang terbaik." An Xie Tian tersenyum senang.


Akhirnya malam itu diakhiri An Xie Tian dengan tidur.


Besok dia akan pulang ke Dongfeng.


Jangan sampai Qi Chuankang menyadari kalau pilnya sudah hilang.


Pastinya dia akan menjadi tersangka utamanya. Sebelum itu terjadi sebaiknya dia melarikan diri terlebih dahulu.


.


.


.


...**Hai guys! Apa kabar nih? Baik dan sehat selalu dong yaa^^...


...Karena aku sudah update, jadi jangan lupa klik Like 👍🏻...


...Berikan komentar 💬...


...Tambahkan favorit +❤️...


...Dan jangan lupa rate 5 bintangnya ya ⭐⭐⭐⭐⭐...


...Sampai sini dulu chapter hari ini, sampai jumpa di chapter selanjutnya. Bye-bye 👋🏻**...


.......


.......


.......


To be continued...