
Malam ini akan dilaksanakan pesta penyambutan untuk para pejuang yang berperang di daerah perbatasan, pesta akan dilakukan di istana.
Penghargaan tertinggi kali ini didapatkan Jendral besar An Zhangye dan pasukannya.
Malam hari tiba dengan cepat, semua orang telah berkumpul di halaman istana.
Pesta berlangsung meriah dibawah naungan langit malam bertabur bintang.
Sama sekali tidak ada awan yang menutupi langit sehingga bulan purnama dan bintang terlihat dengan jelas.
An Liu Jin tidak terlalu suka suasana pesta yang terlalu ramai, jadi dia berjalan-jalan sendiri di sekitar istana.
An Liu Jin berjalan sambil melihat bintang-bintang.
Secara tidak sengaja saat ingin berbelok, An Liu Jin menabrak seorang dayang wanita, dan dayang itu terjatuh ke lantai batu.
"Maafkan saya nona,saya tidak melihat jalan dengan benar." Ujarnya sambil menghampiri dayang tersebut.
Saat dilihatnya wajah dayang tersebut, perasaan senang membuncah di hatinya.
"Kamu!?" Ujar dayang itu.
"Oh, itu kamu nona?" Ujar An Liu Jin senang.
"Ah, iya. Apa yang tuan muda lakukan disini?" Ujar dayang itu.
"Yaah, saya tidak terlalu suka keramaian pesta, jadi saya memutuskan untuk berjalan-jalan sejenak." Ujar An Liu Jin.
"Tidak terlalu suka? Aneh, biasanya para tuan muda bangsawan suka pesta dan minuman, kenapa tuan muda tidak suka?" Tanya dayang itu.
"Hahaha, ternyata kamu orang yang suka bertanya ya." Ujar An Liu Jin sambil tertawa.
"Yah, tidak ada alasan khusus untuk itu. Saya hanya tidak suka melihat rubah saling menjilat dan berkata-kata manis. Itu membuat saya muak." Ujar An Liu Jin.
"Ah, begitu ya." Ujar dayang itu mengerti.
"Baiklah, saya harus pergi. Tuan putri menunggu saya, saya harus segera kesana" Ujar dayang itu tanpa basa-basi.
An Liu Jin teringat bahwa kekaisaran Dongfeng hanya memiliki satu orang putri, Putri Dong Fang Lin.
"Oh, kamu dayang nya tuan putri?" Tanya An Liu Jin.
"Iya, saya dayang pribadi tuan putri." Ujar dayang itu sambil tersenyum bangga.
"Oh, baik. Pergilah, nanti tuan putri akan marah padamu." Ujar An Liu Jin sambil tersenyum.
"Baiklah, saya permisi." Ujar dayang itu.
"Oh, Lin!" Panggil An Liu Jin cepat.
"Ya, tuan muda?" Tanya Lin.
"Apakah kita akan bertemu lagi?" Tanya An Liu Jin.
"Saya harap begitu." Ujar Lin sambil tersenyum lalu buru-buru pergi.
An Liu Jin termenung melihat punggung Lin yang lama-kelamaan menghilang di bawah sinar bulan.
"Kuharap juga begitu." Ujar An Liu Jin tersenyum.
...
"Kaisar Ye matahari kekaisaran Dongfeng telah tiba!" Suara Kasim menggelegar mengumumkan kedatangan kaisar.
"Permaisuri Wang telah tiba!" Ujar Kasim lagi.
Kaisar dan permaisuri duduk bersebelahan di tahta masing-masing.
"Semoga Huangdi dan Huanghao berumur panjang hingga 10.000 tahun dan diberi 10.000 kebahagiaan." Ujar semua orang yang ada di pesta dengan serempak sambil membungkuk hormat kepada Kaisar Ye dan permaisuri Wang.
"Putra mahkota dan putri mahkota telah tiba!" Ujar Kasim mengumumkan kedatangan Putra dan Putri mahkota.
Putra dan putri mahkota lalu duduk bersebelahan di tempat duduk mereka.
"Selamat datang matahari dan bulan masa depan Kekaisaran Dongfeng, semoga berumur panjang dan diberi 1.000 kebahagiaan." Ujar semua orang serempak.
Walaupun mereka memberi salam, salam mereka terlihat tidak tulus dan mengejek.
"Li Huang Guifei telah tiba!"
"Shu Guifei telah tiba!"
"Wang Fei, Zhu Fei, Wu Fei, dan Ai Fei telah tiba!"
"Para pangeran dan putri telah tiba!"
Note: Semua yang disebutkan sebelum para pangeran dan putri adalah para selir kaisar, mulai dari selir tingkat pertama hingga tingkat empat.
"Semua keluarga kekaisaran Dongfeng telah tiba!" Ujar kasim.
"Semoga keluarga kekaisaran akan mendapatkan kejayaan dan kemakmuran selamanya!" Ujar semua orang dengan serempak dan membungkuk hormat.
"Zhen sangat bersyukur karena kita bisa berkumpul disini untuk merayakan kemenangan atas perang kita di perbatasan, yang sudah berlangsung sampai 5 tahun." Ujar Kaisar.
"Zhen sangat berterimakasih kepada para pejuang dan pasukan yang telah berhasil membawa kemenangan kepada negeri Dongfeng ini."
"Terutama yang paling berjasa adalah Pasukan Elang kerajaan yang di ketuai oleh wakil jendral besar luar negeri, An Liu Jin. Dan pasukan Serigala putih yang di ketuai oleh Wang Liu."
Ujar sang kaisar dengan bangga.
"Dengan ini, Zhen memberikan hadiah kepada seluruh pasukan Elang kerajaan dan semua pasukan Serigala putih yang telah berjasa berupa hadiah uang 100 tael emas." Ujar Kaisar.
"Silahkan Wang Liu dan An Liu Jin kemari untuk menerima titah ku." Ujar Kaisar Ye.
"Wang Liu, dengarkan titah ku."
"Dengan ini kuberikan wilayah Utara kepada Wang Liu, dan Wang Liu akan diangkat sebagai komandan pasukan perang di bagian Utara. Dia juga kuberikan benteng Utara untuk pertahanan negeri yang seluas 8 hektare." Ujar Kaisar Ye.
"Titah akan efektif mulai bulan depan."
Kata-kata kaisar Ye membuat wajah Wang Liu tidak senang.
Selain itu orang-orang juga mulai berbicara tentang dia.
Masalahnya adalah, Kaisar Ye memberikan daerah perbatasan Utara yang terkenal sering terjadi peperangan, selain itu daerah Utara juga jauh dari ibukota.
Orang-orang mulai berpikir bahwa pasti ini tindakan kaisar untuk menekan kekuatan permaisuri Wang yang sudah terlalu kuat, dan untuk mengasingkan Wang Liu yang merupakan keponakan laki-laki permaisuri.
"Kemurahan hatimu tidak terukur Yang Mulia!" Ujar Wang Liu sambil menerima surat titah kaisar dengan wajah tidak senang, tidak dia murka.
"An Liu Jin, dengarkan titah ku."
"Kemurahan hatimu tidak terukur Yang Mulia!" Ujar An Liu Jin sambil menerima surat titah kaisar.
"Selain itu, aku akan mempertunangkan mu dengan putriku satu-satunya, Dong Fang Lin." Ujar Kaisar Ye.
Kalimat itu mengejutkan semua orang termasuk An Liu Jin sendiri.
Ini benar-benar menunjukkan bahwa An Liu Jin akan menjadi menantu kekaisaran dan orang kepercayaan kaisar.
Kaisar benar-benar membedakan antara An Liu Jin dan Wang Liu, padahal mereka sama-sama berjasa dalam perang.
"Kemarilah putriku." Ujar Kaisar mengulurkan tangannya untuk Putrinya.
Putri keempat yang duduk di dekat kaisar bangkit dari tempat duduknya dan menerima uluran tangan ayahnya.
Di balik cadarnya, Dong Fang Lin tersenyum senang.
Kaisar menautkan tangan putri keempat dengan An Liu Jin.
"Jaga putriku baik-baik." Ujar Kaisar kepada An Liu Jin.
"Ba..baik, yang mulia." Ujar An Liu Jin.
Dia masih shock masalah pernikahannya dengan putri keempat.
Semua orang mulai heboh dengan apa yang baru saja terjadi, topik utamanya adalah pertunangan antara An Liu Jin dan Dong Fang Lin.
...
An Yanran menatap benci kearah An Xie Tian yang duduk diseberang nya.
An Xie Tian yang sudah menyadari tatapannya hanya pura-pura tidak tahu dan tetap tersenyum sambil sesekali tertawa dengan Murong Qiuyue.
"Jie jie, saya rasa kamu dari tadi terus mendapat tatapan tajam dari arah seberang."
Ujar Murong Qiuyue sambil berbisik.
"Abaikan saja anjing yang menggonggong. Dia tidak dapat melakukan apapun." Ujar An Xie Tian sambil tersenyum sembari menyesap tehnya.
"Jie jie memang keren, aku sangat kagum pada jie jie." Ujar Murong Qiuyue dengan mata yang berbinar.
'Jie jie memang bukan orang biasa, aku semakin mengaguminya. Dia berbeda dari Xiaojie yang lain. Sikapnya lembut dan anggun, tapi saat berbicara jie jie bisa sangat kejam. Aku ingin selalu berada di sampingnya.'
"Aku biasa saja, tidak perlu berlebihan." Ujar An Xie Tian.
"Jangan merendahkan diri jie jie, saya tahu kalau jie jie adalah orang yang berbeda, saya bisa merasakannya. Jie jie adalah salah satu orang yang luar biasa yang pernah saya temui selain kaisar dan ayah saya." Ujar Murong Qiuyue sambil tersenyum.
"Hahaha, kau ini bisa saja." Ujar An Xie Tian.
Interaksi menyenangkan antara keduanya ditanggapi dengan kebencian oleh An Yanran.
Dia tidak suka melihat An Xie Tian bahagia.
'Aku akan membalas mu An Xie Tian, lihat saja. Akan kurobek wajah cantikmu itu nanti.'
Sementara itu dari kejauhan sepasang mata berwarna biru laut memperhatikan An Xie Tian dari kejauhan.
"Dilihat darimanapun kamu tetap cantik." Ujarnya sambil tersenyum.
Dia hanya berani berkata dan tidak berani berbuat apa-apa, karena wanita itu adalah wanita yang dicintai oleh kakaknya juga.
"Sayang sekali..." Ujarnya sambil menghela nafas lalu menyesap arak yang ada di cangkirnya.
Bola mata An Xie Tian meneliti kesekitar saat matanya menangkap sosok pria berambut putih yang terasa familiar di ingatannya.
Mata berwarna biru laut dan dihiasi topeng perak yang menawan, rambut putih yang berkibar di tiup angin, juga wajah tampan bak ukiran tangan malaikat.
'Ah, tidak mungkin itu dia.' Ujar An Xie Tian dalam hati.
...
Mata putra mahkota tidak pernah beralih dari arah seorang wanita cantik yang dikaguminya.
Putri mahkota yang melihat hal tersebut hanya diam menyesap arak sambil menggenggam erat kain gaunnya dengan tangan yang lain.
'Bagaimana bisa aku melihat suamiku memperhatikan wanita lain dengan penuh cinta tepat di depan mataku sendiri. Sebagai putri mahkota aku harus menanggung sakit hati ini.' Ujar putri mahkota dalam hati.
Sedangkan putra mahkota tidak menyadari tatapan cemburu istrinya dan masih menatap wanita cantik itu.
Dan wanita itu? Dia masih asyik mengobrol sambil sesekali memasukkan kue kering kedalam mulutnya dan meminum tehnya.
Putra mahkota memperhatikan hal itu sambil sesekali tertawa saat melihat An Xie Tian makan kue kering dengan rakus.
"Wanita ini begitu unik dan aneh, tidak seperti Xiaojie yang lain yang menjaga keanggunan saat makan, dia tidak memperdulikan orang lain yang menatapnya, hahaha..." Ujar putra mahkota merasa lucu.
Hatinya terasa senang dan tubuhnya merasa aneh.
Seakan-akan ada Beratus kupu-kupu yang sedang menggelitik didalam perutnya dan hatinya.
Perasaan yang sangat menyenangkan.
Dia tidak menyadari tatapan cemburu dari istrinya, ataupun mengetahui perasaan adik laki-lakinya yang menyukai wanita yang sama dengannya.
.
.
.
***Hai, guys! Apa kabar? Maaf ya baru bisa update sekarang, karena aku gak ada paket buat bisa update cerita ini jadi...ya gitu deh :)
Gimana nih? Cinta segi berapakah ini?
Kira-kira pemeran utama wanita kita akan jodoh sama siapa ya...???
Simak terus kelanjutan kisahnya disini.
Jangan lupa*** klik like,Coment dan follow aku juga yaa ;)
Love you all :3
.
.
.
Tbc...