
Qi Chuankang duduk di ruangannya sambil menyesap teh di tangannya.
"Yang Mulia, selir kehormatan Chen guifei ada disini." Ujar kasim yang berada diluar ruangannya.
"Biarkan dia masuk." Ujar kaisar Kang singkat.
'Krieet!'
Pintu terbuka dan dari luar seorang wanita yang menggunakan gaun yang terbuat dari sutra dan benang emas masuk kedalam ruangan kaisar.
"Chen Rong hadir disini yang mulia." Ujar wanita itu sambil menampilkan senyumannya yang cantik.
"Ah, selirku. Kau disini? Kemarilah." Ujar kaisar Kang.
Sang wanita yang mendengar itu langsung menampakkan wajah cerah sambil tersenyum. Dia lalu berjalan sambil berlenggok kearah kaisar Kang.
"Yang mulia, qie merindukan anda." Ujar wanita itu yang merupakan selir kesukaan Qi Chuankang, Chen Rong.
"Ai fei ku merindukan aku?" Ujar Qi Chuankang sambil menerima Chen Rong dalam pelukannya.
"Iya, sudah beberapa bulan anda tidak ke tempat saya, saya jadi sangat merindukan anda." Ujar wanita itu dengan nada yang genit.
"Hahaha, Chen Rong. Kamu memang yang paling hebat saat menggodaku." Ujar Qi Chuankang tertawa geli.
"Hm, yang mulia mengganggu saya lagi." Ujar wanita itu sambil cemberut.
"Baiklah, aku akan ke tempat mu besok malam." Ujar Kaisar Kang.
"Mengapa besok yang mulia? Kenapa tidak malam ini saja?" Ujar wanita itu bingung.
"Aku masih lelah, besok saja." Ujar kaisar Kang.
"Memangnya anda habis darimana? Apakah anda memiliki kekasih gelap yang lainnya diluar sana? Karena itukah yang mulia mencampakkan qie?" Ujar wanita itu penuh emosi.
"Cukup Chen Rong!" Teriak kaisar Kang marah.
"Yang- yang mulia?" Ujar wanita itu terkejut.
"Keluar dari ruangan ku!" Ujar kaisar Kang mengusir wanita itu.
"Hmph! Baiklah!" Ujar wanita itu juga dengan marah lalu keluar dari kamar kaisar.
"Haah, wanita itu semakin hari semakin menyusahkan." Ujar Kaisar Kang sambil memijit pelipisnya yang sakit.
-
Chen Rong adalah selir kesukaan kaisar Kang.
Dia semakin disayang kaisar setelah melahirkan putri pertama kaisar Kang, Qi Liu Li.
Setelah melahirkan anak kaisar dia diberi gelar selir tingkat 2, yang tingkatannya satu tingkat dibawah permaisuri.
Setelah mendapatkan gelar yang tinggi dan kasih sayang kaisar, dia memerintah istana belakang layaknya seorang permaisuri.
Tidak ada yang berani dengannya, karena posisinya yang tinggi.
Namun Chen Rong adalah wanita yang penuh ambisi.
Chen Rong memiliki ambisi untuk menjadi permaisuri, namun kaisar Kang tidak memberikan posisi itu padanya walaupun dia sudah meminta posisi itu pada kaisar tapi selalu ditolak mentah-mentah.
-
'Prang!'
Chen Rong melemparkan sebuah vas bunga ke dinding hingga pecah.
"Sialan! Sebenarnya kenapa sikap kaisar berubah padaku? Dia berubah sejak kunjungannya ke negeri Dongfeng. Sebenarnya apa yang ada disitu sehingga mengubahnya!?" Ujar Chen Rong penuh amarah.
"Niang-niang, tenangkan diri anda." Ujar salah satu dayang yang bekerja untuk Chen Rong.
"Niang-niang, saya mendapatkan kabar dari Kasim yang bekerja di istana Kaisar. Dia bilang kalau akhir-akhir ini kaisar pergi ke Dongfeng untuk menemui seorang wanita." Ujar seorang dayang lagi yang juga bekerja untuk Chen Rong.
"Wanita? Bukankah kaisar selalu menaggap wanita itu merepotkan? Karena itu dia hanya perhatian padaku dan tidak untuk selir yang lain. Tapi kau bilang kalau dia pergi ke Dongfeng untuk bertemu wanita!?" Ujar Chen Rong terpancing emosinya.
"Iya Niang-niang. Dia bilang kalau kaisar sering bercerita kepada kepala Kasim Lishi soal wanita itu, dia bilang kalau wanita itu adalah kekasihnya dan akan menjadi permaisuri masa depannya." Ujar dayang itu.
"Apa, permaisuri masa depan!?" Ujar Chen Rong benar-benar marah.
"Hanya aku yang boleh menjadi permaisuri!" Ujar Chen Rong marah.
"Te- tenanglah Niang-niang." Ujar dayangnya menenangkannya.
"Siapa sebenarnya wanita itu? Mengapa kaisar ingin menjadikannya permaisuri?" Ujar Chen Rong.
"Nubi tidak tau, tapi katanya wanita itu sangat cantik dan baik hati sehingga kaisar jatuh cinta padanya." Ujar dayang itu.
"Heh! Cinta? Omong kosong!" Ujar Chen Rong lagi-lagi marah dan melemparkan sebuah guci ke dinding.
"Kaisar sialan! Padahal ayahku sudah membantunya naik tahta, dan bahkan aku melahirkan seorang putri cantik untuknya. Tapi dia malah jatuh cinta pada wanita lain dan ingin menjadikannya permaisuri!?" Ujar Chen Rong emosi sambil masih melemparkan barang-barang miliknya kesana kemari.
"Niang-niang, tenanglah."
"Siapapun wanita itu, aku akan membunuhnya! Hanya aku yang akan menjadi permaisuri negeri Tianxing, hanya aku!"
---- SKIP ---
Sementara itu...
"Apakah 6 pendekar sudah anda atasi nona?" Tanya XiaoMei.
"Ahahaha, yaa..tentu saja. Mereka sudah ada di kediaman milikku sekarang." Ujar An Xie Tian.
"Haah, nona ini. Bagaimana nona bisa melupakan mereka? Apalagi nona lupa saat waktunya makan siang, untung saja mereka tidak mati kelaparan." Ujar XiaoMei sambil menggelengkan kepalanya.
"Ya, mereka sangat kelaparan. Saat aku sampai disana makanannya sudah basi karena kami memesan hidangan yang mudah basi. Jadi setelah itu aku memesankan beberapa porsi lagi untuk mereka makan.
Aku merasa sangat bersalah." Ujar An Xie Tian sambil tertawa geli.
"Haah, nona ini. Memang apa yang nona lakukan sampai-sampai nona lupa? Apakah anda bertemu seorang tuan muda tampan atau apa?" Ujar XiaoMei.
"Ap-apa!? Ti- tidak seperti itu! A- aku hanya lupa sejenak kok." Ujar An Xie Tian gugup.
Dia tidak bisa menceritakan tentang Dong Fang Yu pada XiaoMei, dia akan malu nantinya jika menceritakannya.
"Aiihhh, nona? Nubi kan hanya bertanya, mengapa anda begitu gugup?" Tanya XiaoMei dengan nada nakal.
"Uggh! Apa-apaan itu XiaoMei, kau menggodaku?" Ujar An Xie Tian marah.
"Hohoho, tentu saja tidak nona, saya hanya bertanya." Ujar XiaoMei tertawa kecil.
"Huh, gadis kecil ini..." Ujar An Xie Tian sambil memicingkan matanya kearah XiaoMei tanda tak suka.
"Yah, jika anda sudah bertemu pangeran tampan anda, maka kalian bisa menjalin hubungan lalu menikah." Ujar XiaoMei.
"Lagipula anda sudah dalam waktu untuk menikah, nona kedua juga sudah menikah, anda mulai menjadi bahan perbincangan di ibukota karena tidak menikah." Ujar XiaoMei lagi.
"Siapa yang berani mengejek saya? Biar nenek ini yang menghajarnya!" Ujar An Xie Tian geram sambil menaikkan dua lengan bajunya.
"Lagipula, jika aku ingin menikah, aku akan melakukannya kapanpun aku ingin. Aku ini An Xie Tian, Elder Miss dari kediaman Marquis Utara. Siapa yang berani menolak lamaran ku?" Ujar An Xie Tian dengan wajah mengangkat sombong.
"Walaupun kedudukan anda tinggi, tapi kecantikan anda tidak akan menunggu, ada saatnya kecantikan anda akan pudar." Ujar XiaoMei.
"Hm, ya ya. Aku akan menikah setelah menemukan pria yang benar-benar cocok dihatiku. Aku ingin pria yang mengerti diriku dan hanya memikirkan aku, aku juga tidak ingin menikah dengan pria yang telah memiliki istri." Ujar An Xie Tian sambil tersenyum.
"Yah, nona sangat cantik dan baik hati, tentu saja anda akan mendapatkan banyak calon sesuai dengan kriteria nona." Ujar XiaoMei sambil menyisir rambut An Xie Tian.
"Tentu saja, aku tinggal menunjuk pria itu, dan pria itu akan bertekuk lutut padaku, bahkan jika pria itu seorang kaisar sekalipun." Ujar An Xie Tian lalu tertawa.
"Haah, ya ya nona. Sekarang biarkan saya menyisir rambut anda, setelah ini mandilah." Ujar XiaoMei.
"Baiklah XiaoMei ku yang cantik." Ujar An Xie Tian sambil tersenyum.
XiaoMei ikut tersenyum, nonanya sangat berbeda dengan terakhir kali nonanya bangun setelah tercebur ke danau beku.
Hatinya terasa sangat hangat dengan perlakuan nonanya yang sekarang.
'nona, anda tenang saja. Saya akan selalu setia kepada anda dan akan selalu setia di sisi anda.'
---
"Yang mulia." Ujar sosok berbaju hitam memberi hormat kepada junjungannya.
"Ada laporan apa Lao?" Ujar pria berambut perak itu.
"Sepertinya raja Ming mulai bertindak, dia sudah menghimpun pasukan dari beberapa desa kecil yang berdekatan dengan kerajaan Ming Utara." Ujar sosok berbaju hitam bernama Lao itu.
"Hm,begitu? Dia juga sudah mengirimkan pembunuh bayaran profesional untuk membunuhku, kurasa sudah saatnya kita bekerja keras untuk mendapatkan bukti kejahatan Raja Ming dan menunjukkannya kepada Ayahanda kaisar. Biar kita bongkar kedoknya di depan kaisar." Ujar pria berambut perak itu, mata birunya menatap langit malam yang berbintang diatas sana.
"Terus amati pergerakan Raja Ming, terutama di desa Yuehei." Ujar pria itu, topeng peraknya bersinar diterpa cahaya bulan purnama.
"Baik yang mulia." Pria bernama Lao itu memberi hormat lalu pergi.
Dong Fang Yu menatap kearah jendela yang dilewati Lao untuk pergi sembari menatap kepergian pengawal bayangannya itu.
"Kami harus berhasil."
.
.
.
***Hai guys! Apa kabar? Baik dong ya.
Sehat aja kan kalian semua? Semoga sehat selalu.
Aku minta maaf banget karena telat update, kemarin aku bikin chapter 31 dan ternyata kehapus pas mau aku publish.
Maafkan kelalaian ku ya guys😔🙏
Maaf juga karena chapter kali ini agak pendek.
Oke, Jangan lupa vote, komen, dan follow aku juga ya. Bye-bye 👋
.
.
.
Tbc***...