
...⚠️ Warning ⚠️...
...Biasakan untuk selalu memberikan like sebelum membaca....
...Terimakasih^^...
...👍🏻...
.......
...👍🏻...
.......
...👍🏻...
" Menurut informasi yang aku dapat, An Xie Tian adalah putri sulung Jendral besar An.
Dia menjadi bahan pembicaraan di ibukota Dongfeng akhir-akhir ini karena hubungan pertunangannya dengan Kaisar Tianxing.
Dia semakin membuat ibukota heboh setelah mengungkapkan identitas lainnya sebagai Master Aris, pemimpin organisasi Mawar besi.
Dia juga salah satu orang yang berjasa menghalau pemberontak yang menyerang Dongfeng baru-baru ini.
Satu kata untuk wanita ini, menakjubkan."
"Pantas saja Fang Yu Ge tergila-gila pada wanita ini, An Xie Tian benar-benar wanita yang hebat.
Tapi... Bagaimanapun juga An Xie Tian sudah bertunangan, aku takut mereka berdua tidak bisa bersama pada akhirnya."
Chu Xian Yue bergumam sendiri sambil memainkan pisau miliknya.
"Dari yang aku lihat, An Xie Tian ini juga memiliki sesuatu dalam dirinya.
Tidak mungkin dia mau membantu pasukan putra mahkota untuk menghalau pemberontak tanpa alasan?
Pasti dia memiliki alasan untuk itu.
Dan sepertinya alasan itu berhubungan dengan Dong Fang Yu...", Gumamnya lagi.
Chu Xian Yue saat ini sedang mengawasi orang-orang dibawahnya yang sedang beristirahat.
Itu adalah rombongan An Xie Tian yang sedang menuju ke suatu tempat.
Chu Xian Yue hanya bisa bersembunyi di atas pohon sambil mengamati mereka.
Bagaimanapun juga dia sudah berjanji pada Dong Fang Yu untuk melindungi wanita yang dicintainya itu.
Masalahnya adalah, wanita yang dijaganya ini sangat merepotkan.
Entah kemana dia akan pergi saat ini.
Chu Xian Yue hanya bisa mengikuti dengan sabar.
.
.
.
Qi Chuankang mendapatkan surat merpati dari tunangannya, An Xie Tian.
Dia akan berkunjung ke Tianxing.
Qi Chuankang tersenyum.
Tentu saja dia senang, namun dia juga merasa bingung.
"Kenapa tiba-tiba An Xie Tian ingin mengunjungi Tianxing? Apalagi ini baru beberapa hari setelah serangan pemberontak, apa dia benar-benar tidak takut?", Qi Chuankang bertanya-tanya.
Tapi pada akhirnya Qi Chuankang hanya mengangkat bahunya tanda tidak peduli lalu melanjutkan pekerjaannya.
Menjadi seorang Kaisar bukan hal yang mudah.
.
.
.
An Xie Tian dan kelompoknya sampai didepan pintu gerbang kekaisaran Tianxing.
Gerbang didepan mereka sangat besar dan megah dengan plakat kayu bertuliskan 'Tianxing' menghiasi diatas gerbang.
"Kita sudah sampai...?", Gumam An Xie Tian saat menengok dari dalam jendela kereta kudanya.
"Benar nona, kita sudah sampai.", Ujar Makge yang bertugas sebagai kusir kuda.
Saat tiba, mereka disambut dengan tentara kekaisaran Tianxing yang akan mengawal mereka sampai istana.
"Mari Gu Niang...", Ujar kapten Gu sang pemimpin pasukan.
Kereta An Xie Tian masuk dengan mudah karena dikawal tentara kekaisaran.
Warga Tianxing mulai berbisik saat kereta mewah An Xie Tian melewati mereka.
"Apakah itu adalah calon permaisuri kita?"
"Benar, dia adalah nona besar An dari negeri Dongfeng. Dengar-dengar dia juga seorang pendekar pedang dan ahli alkemis yang hebat."
"Wah, benarkah? Kalau begitu negeri Tianxing kita benar-benar beruntung."
"Katanya dia juga sangat cantik, lebih cantik dari Chen Guifei. Keluarga Chen pasti tidak akan senang dengan kedatangan Permaisuri baru."
"Kenapa juga Yang Mulia Kaisar tidak menjadikan Chen Guifei sebagai permaisuri? Bukankah kalau Chen Guifei menjadi permaisuri, maka Tianxing juga akan mendapatkan keuntungan dari perdana menteri Chen?"
"Dimana kamu taruh otakmu? Saat ini saja kelurga Chen sudah mendominasi Tianxing, bagaimana bisa kaisar memberikan kekuasaan lagi pada keluarga Chen!?
Jika itu terjadi, maka keseimbangan kekuasaan di Tianxing benar-benar akan berat sebelah terpusat ke keluarga Chen."
"Ah, benar juga! Jadi karena itu kaisar sengaja mencari permaisuri dari negeri lain agar kekuasaan negara tetap stabil?"
"Hm, itu mungkin salah satu alasannya. Tapi bukan itu alasan utamanya. Kaisar benar-benar jatuh cinta pada calon permaisurinya."
"Wah, benarkah? Aku senang mendengarnya!"
An Xie Tian bisa mendengar perkataan orang-orang diluar dengan telinganya yang super tajam.
"Pernikahan karena cinta ya...
Cinta... Cinta itu jahat. Cinta hampir merenggut nyawa pria yang aku cintai. Cintaku beracun...", Gumam An Xie Tian sambil menutup kedua matanya.
Kelompok An Xie Tian akhirnya tiba di gerbang istana kekaisaran Tianxing.
Didepan sana, kaisar Kang telah menunggu An Xie Tian sambil tersenyum.
Qi Chuankang mengulurkan tangannya untuk membantu An Xie Tian turun dari kereta kuda.
"Selamat datang di Tianxing, Tian-er.", Ujar Qi Chuankang sambil tersenyum.
"Saya senang bisa disini, Yang Mulia.", Ujar An Xie Tian lalu membungkuk hormat.
"Mari.", Ujar Qi Chuankang sambil menggandeng tangan An Xie Tian masuk kedalam bangunan istana Kaisar.
"Ini adalah istana utama. Tempatku tinggal, bekerja, dan tempat rapat pagi.", Ujar Qi Chuankang menjelaskan tentang bangunan yang mereka masuki.
Saat mereka berjalan lebih jauh, empat orang wanita berdiri dihadapan mereka kemudian membungkuk hormat.
"Salam Yang Mulia!", Ujar empat wanita itu bersamaan.
"Ah, Xie Tian. Perkenalkan, ini para selirku dan juga calon orang-orang yang akan kamu pimpin di masa depan nanti.", Ujar Qi Chuankang sambil menunjuk keempat wanita dihadapan mereka.
"Salam para selir.", Ujar An Xie Tian menangguk dengan anggun kepada para selir itu.
"Salam Gu Niang. Kalau boleh tau, siapa nama anda?", Tanya seorang wanita yang sepertinya paling berkuasa diantara mereka berempat.
Benar, dia adalah Chen Guifei, Chen Rong.
"Nama saya An Xie Tian, dari kediaman Marquis Utara Dongfeng. Saya harap para Jie-jie semua bisa membimbing saya di kemudian hari.", Ujar An Xie Tian.
"Wah, sepertinya kamu tidak perlu dibimbing lagi. Kamu sudah begitu sempurna, karena itu Yang Mulia memilihmu bukan?", Ujar seorang wanita bergaun biru laut.
"Ah, Mei-mei sekalian. Tidak sopan jika hanya Xie Tian Gu Niang yang memperkenalkan dirinya, mari kita perkenalkan diri kita juga.", Ujar Chen Rong.
"Baik Chen Jie-jie.", Jawab ketiga lainnya patuh.
"Nama saya Chen Rong, putri dari perdana menteri Chen di Tianxing. Pangkat saya adalah Chen Guifei, pangkat tertinggi saat ini. Saya harap Mei-mei bisa membimbing Ben gong saat sudah menjadi permaisuri nanti.", Ujar Chen Rong sambil tersenyum.
Entah kenapa An Xie Tian merasakan maksud tidak baik dari perkataan Chen Rong.
Dia lalu membalas Chen Rong dengan senyum dan anggukan ringan.
"Nama saya Mu Xiao Jing, pangkat saya adalah Mu Fei. Peringkat saya setara dengan Li Jie-jie yang ada disebelah Ben gong ini.", Ujar Mu Xiao Jing.
Dia adalah wanita bergaun biru laut yang ikut bersuara tadi.
"Nama saya Li Yinian. Seperti yang dikatakan Mu Mei-mei tadi, pangkat saya Adalah Li Fei. Pangkat kami satu tingkat dibawah Guifei.", Ujar Li Yinian.
Wanita ini terlihat lebih dewasa dan bijaksana dari yang lain.
"Nama saya Gu Li Zhi, putri dari komandan Gu yang mengantar anda tadi. Saya yang paling muda dari para Jie-jie disini, pangkat saya adalah Gu Pin.", Ujar wanita bergaun ungu pucat.
Dia terlihat muda dan ceria.
"Salam kenal para Jie-jie semua, semoga kita bisa berhubungan baik di kemudian hari.", Ujar An Xie Tian sambil tersenyum.
Baiklah, ini agak merepotkan.
Belum menikah saja dia sudah dikenalkan dengan empat istri yang lain.
Ini benar-benar menjadi tanggungan beban yang berat menikahi pria yang sudah beristri, karena itu An Xie Tian tidak mau.
"Baiklah, kalian boleh pergi. Aku akan kembali bekerja. Dan Xie Tian, dayang Xu akan mengantarmu ke paviliun bulan. Kamu akan tidur disana selama tinggal disini.", Ujar Qi Chuankang sambil tersenyum.
"Baik Yang Mulia.", Ujar An Xie Tian.
Qi Chuankang lalu pergi diikuti para Kasim dan dayang penggiring nya.
An Xie Tian berbalik dan menatap keempat wanita kaisar yang ada dihadapannya.
Entah kenapa pandangan mereka menjadi lebih dingin daripada sebelumnya.
"Kalau begitu kami akan pergi dulu, sampai jumpa Xie Tian Gu Niang.", Ujar Chen Rong lalu berjalan pergi.
Ketiga wanita lainnya ikut mengekor dibelakan Chen Rong.
An Xie Tian ditinggal sendiri.
Dia lalu diarahkan dengan Dayang Xu yang tadi sempat di perintahkan kaisar.
An Xie Tian dan rombongannya lalu mengikuti dayang Xu pergi ke paviliun bulan.
...
An Xie Tian memandang bangunan didepannya. Disinilah dia akan tinggal sampai 3 hari kedepan.
Ini tidak terlalu mewah, terkesan sederhana namun tetap berkelas.
Kolam ikan kecil dan gazebo yang diletakkan disampingnya membuat An Xie Tian merasa sedikit tenang.
Mungkin dia bisa bersantai disitu jika ada waktu luang.
An Xie Tian memasuki kamar tidurnya.
Ini cukup besar dan mewah untuk sekedar kamar untuk tamu.
Dia lalu merebahkan diri di ranjang sembari melepas penat perjalanannya.
Bagaimanapun juga, perjalanan dari Dongfeng ke Tianxing membutuhkan waktu sekitar dua hari satu malam.
Waktu yang cukup membuat seorang An Xie Tian kelelahan karena kursi kereta yang tidak nyaman.
An Xie Tian kemudia mencuci tangan, kaki, dan juga wajahnya.
Entah kenapa air disini terasa berbeda dari rumahnya. Mungkin dia sudah mulai homesick, padahal ini bahkan belum dua hari sajak dia meninggalkan rumah.
Setelah selesai membersihkan diri, An Xie Tian lalu merebahkan diri di ranjang.
Dia memutuskan untuk beristirahat terlebih dahulu sebelum melakukan gerakan selanjutnya.
Rencananya akan dia mulai saat bertemu dengan Kaisar Kang nanti, dan jika rencananya tidak berhasil maka...
Saatnya menjalankan rencana B.
Tapi rencana B terlalu beresiko.
An Xie Tian berharap masalahnya dapat ditangani hanya dengan rencana awal, namun An Xie Tian pribadi tidak merasa terlalu keberatan dengan rencana B.
An Xie Tian menatap langit-langit kamarnya.
"Kuharap aku bisa kembali dengan hasil yang baik nanti. Akan sia-sia aku kesini tapi tidak mendapatkan apa yang aku inginkan.", Gumam An Xie Tian.
Dia lalu menutup mata dan mulai tidur.
.
.
.
Qi Chuankang sedang memeriksa dokumen negara saat Kasim Gao masuk kedalam ruang kerjanya.
"Salam Yang Mulia.", Sapa Gao Lishi.
"Hm, jadi?", Qi Chuankang tidak basa-basi dan langsung menanyakan Gao Lishi tentang perintahnya tadi.
"Nona An Xie Tian saat ini sedang berada di paviliun bulan, dia sedang beristirahat karena kelelahan, begitu juga dengan para bawahannya.", Jawab Kasim Gao.
"Begitu... Lalu, apakah kamu sudah tau apa alasannya tiba-tiba datang kesini?", Tanya kaisar Kang.
"Saya masih belum tau alasan jelasnya, namun mereka bilang alasan mereka murni hanya karena kunjungan biasa."
Gao Lishi sebenarnya merasa bingung dengan junjungannya itu.
Bukankah dia seharusnya senang karena wanita cantik yang juga calon permaisurinya itu datang berkunjung?
Itu wajar saja menurutnya kalau An Xie Tian ingin melihat-lihat tempat yang akan menjadi rumahnya di masa depan.
Lalu kenapa kaisarnya ini sekarang malah merasa bingung dan curiga?
"Apakah kamu tidak merasa ada yang aneh?", Tanya Kang lagi.
"Tidak Yang Mulia. Bukankah wajar saja jika seorang wanita yang menjadi calon permaisuri datang berkunjung untuk melihat-lihat Tianxing? Bagaimanapun juga, tempat ini akan menjadi rumahnya di masa depan.", Jawab Gao Lishi.
"Ah, mungkin kamu benar. Mungkin aku saja yang berpikiran terlalu jauh."
Alasan Kang berpikir keras bukan tanpa alasan. An Xie Tian adalah wanita yang keras, dingin, dan tergolong acuh pada masalah remeh seperti ini.
Akan sangat aneh jika dia kemari tanpa alasan yang jelas
'Mungkin ini hanya perasaanku saja?'
"Baiklah, kamu boleh pergi.", Ujar Kaisar Kang.
Gao Lishi membungkuk hormat lalu pergi tak mau mengganggu junjungannya itu lebih lama lagi.
Kaisar Kang menyandarkan tubuhnya di sandaran kursinya.
Hari masih agak sore.
"Setelah ini aku akan malam dengan An Xie Tian dan para selir.", Gumam Kang.
Dia lalu menghela nafas berat.
Qi Chuankang tau kalau An Xie Tian adalah tipikal wanita yang tidak suka berbagi.
Namun para selir yang dimilikinya itu berguna untuk menstabilkan kekuasaan istana berkat ayah-ayah mereka dan sebagai alat agar para pejabat lain tidak protes masalah keturunan juga menambahkan koleksi wanita di haremnya.
Bagaimanapun juga, Qi Chuankang adalah lelaki sehat yang memiliki empat orang Istri dan juga tiga orang anak.
Entah kenapa Qi Chuankang merasa tenang karena dia tidak memiliki putra.
Jika saja salah satu selirnya melahirkan anak laki-laki, Qi Chuankang takut kalau kehidupan An Xie Tian sebagai permaisuri masa depan tidak akan mudah.
Apalagi kalau yang melahirkan putra adalah Chen Rong.
Semakin memikirkannya, Qi Chuankang semakin pusing.
"Ah, mungkin aku harus istirahat sebentar...", Gumam Kang pada dirinya sendiri lalu berjalan ke kursi santainya.
Qi Chuankang memilih rileks sejenak dari permasalahan-permasalahan negara yang saat ini menunggu dengan setia di meja kerjanya.
Qi Chuankang lalu menyesap teh yang sudah disediakan sambil memandangi pemandangan taman bunga istananya dari jendela.
"Indahnya..."
"Akan sangat bagus kalau aku dan Xie Tian bisa jalan-jalan disana sebagai pasangan.", Ujar Kaisar Kang sambil tersenyum.
.
.
.
...**Hai guys! apa kabar nih? baik dan sehat selalu dong yaa:)...
...Jangan lupa klik like 👍🏻...
...Berikan komentar 💬...
...Tambahkan favorit +❤️...
...Dan jangan lupa rate 5 bintangnya ya ⭐⭐⭐⭐⭐...
...Sampai sini dulu chapter hari ini, sampai jumpa di chapter selanjutnya, bye-bye 👋🏻...
.......
.......
.......
~**To be continued...