
β οΈ Warning β οΈ
Biasakan untuk selalu memberikan like sebelum membaca.
Terimakasih^^
ππΌ
.
ππΌ
.
ππΌ
Satu setengah bulan kemudian...
'Gubrak!'
"Hati-hati!", An Liu Jin menangkap tubuh Xiao Lin yang jatuh dari kursi.
Saat tubuhnya jatuh keduanya tidak siap sehingga mereka berdua jatuh ketanah dengan posisi tumpang tindih.
"Awww...", Xiao Lin meringis kesakitan karena lututnya berdarah terkena lantai dapur.
"Xiao Lin, kamu tidak apa-apa?", Tanya An Liu Jin.
Mereka berdua bangkit dari tempat jatuhnya.
"Saya tidak apa-apa...", Ujar Xiao Lin masih menahan sakit.
"Kenapa kamu bisa jatuh dari atas sana?", Tanya An Liu Jin.
"Ta-tadi saya mau mengambil bumbu dapur yang ada di rak atas, tapi karena tubuh saya pendek jadi tidak sampai. Karena itu saya menggunakan kursi ini, saat saya mau mengambil bumbunya ternyata ada tikus, saya terkejut sampai pegangan saya terlepas dan kaki kursinya terjungkit. Karena itu saya jatuh...", Ujar Xiao Lin menjelaskan panjang lebar.
"Ma-maafkan saya...", Ujar Xiao Lin sambil menundukkan kepalanya.
"Haah..ya sudah, yang penting kamu tidak apa-apa.", Ujar An Liu Jin sambil menggelengkan kepalanya.
An Liu Jin melihat wajah Xiao Lin yang terlihat kesakitan dan gaun yang dipakainya ternoda oleh darah.
"Kamu terluka?", Ujar An Liu Jin.
"Eh? I-iya. Sepertinya lutut saya bergesekan dengan lantai hingga terluka...", Ujar Xiao Lin.
"Sini, biar aku obati...", Ujar An Liu Jin lalu menggenggam tangan Xiao Lin untuk membantunya berjalan.
Mereka lalu duduk di kursi, An Liu Jin mengambilkan kotak obat.
An Liu Jin sedikit mengangkat rok Xiao Lin agar bisa mengobati lukanya.
"Tu-tuan?", Xiao Lin terkejut dan malu-malu.
"Aku hanya akan mengoleskan obat, kamu tidak perlu malu.", Ujar An Liu Jin sambil tersenyum.
Wajah Xiao Lin memerah karena senyuman An Liu Jin, hatinya terasa hangat karenanya.
An Liu Jin mengoleskan salep luka lalu menutupi luka di lutut Xiao Lin dengan perban.
"Baiklah, sudah selesai.", Ujar An Liu Jin sambil tersenyum.
"Te-terimakasih tuan...", Ujar Xiao Lin malu-malu.
"Ya, sama-sama. Kalau begitu aku pergi dulu...", Ujar An Liu Jin sambil tersenyum lalu berjalan ingin meninggalkan dapur.
Xiao Lin lalu mengangguk.
"Eh, tunggu tuan. Tadi tuan kesini ada perlu apa?", Tanya Xiao Lin.
"Oh, Iya! Untung saja kamu ingatkan aku Lin. Tadi aku mau menyuruh paman koki untuk membuatkan putri kue gula. Dia menyukainya, karena kulihat dia akhir-akhir ini terlihat kurang bersemangat makanya aku mau menyuruh paman membuatkannya sebagai kejutan.", Ujar An Liu Jin sambil tersenyum.
"Dia pasti akan suka iya kan?", Tanya An Liu Jin sambil tersenyum senang.
'Deg!'
"Ah, i-iya...pasti sang putri akan senang dan menyukainya...", Ujar Lin sambil tersenyum.
Agak terpaksa, mungkin?
"Dimana paman koki? Dia tidak disini?", Tanya An Liu Jin lagi.
"Ah, iya. Paman koki sedang pergi keluar, dia memintaku untuk menjaga dapur saat dia pergi. Kebetulan saya ingin memasak sesuatu, karena itu tadi...", Ujar Xiao Lin sambil tertawa kecil.
"Begitu ya... Baiklah, kalau paman koki kembali suruh dia membuatkan kue gula untuk sang putri.", Ujar An Liu Jin sambil tersenyum.
"Baik tuan.", Ujar Xiao Lin mengangguk.
An Liu Jin lalu pergi meninggalkannya di dapur.
"Dia...untuk sang putri..., Benar. Apa yang kamu harapkan Lin? Bagaimana mungkin? Uggh, aku harus bisa membuang perasaan ini, jika tidak aku tidak akan bisa melaksanakan perintah master...", Ujar Xiao Lin.
Tidak seperti tadi, raut wajahnya yang cantik dan rapuh menahan sakit kini berubah menjadi sedingin es. Dia berjalan tanpa kesakitan sedikitpun.
'Harus bisa melaksanakan perintah master, harus...'
...
Paviliun Wisteria, kamar sang putri...
"Putri, tuan datang untuk menemui anda.", Ujar Wan-er pada Fang Lin.
"Biarkan dia masuk.", Ujar Fang Lin sambil tersenyum.
"Putri...", Ujar An Liu Jin menyapa istrinya sambil tersenyum.
"Sudah kubilang jangan panggil aku putri lagi. Aku ini sekarang istrimu tau! Panggil aku Lin-er.", Ujar Fang Lin sambil tersenyum.
"Hahaha, baiklah. Lin-er.", Ujar An Liu Jin lalu tersenyum.
"Hahaha, itu terdengar bagus.", Ujar Fang Lin tersenyum senang.
An Liu Jin lalu duduk disebelah Dong Fang Lin.
"Ada apa? Tumben sekali siang-siang seperti ini kamu kesini?", Tanya Fang Lin.
"Apakah harus ada alasan khusus untuk menemui istriku sendiri?", Tanya Liu Jin sambil tersenyum miring dan mengangkat sebelah alisnya.
"Hm, tentu tidak. Kamu bisa menemui istrimu kapanpun kamu mau.", Ujar Fang Lin sambil tersenyum.
Wan-er membawakan sepoci teh dan beberapa cemilan.
"Liu Jin?", Panggil Fang Lin.
"Ya?", Jawab Liu Jin.
"Apakah kamu mencintai perempuan lain?", Tanya Fang Lin tiba-tiba.
An Liu Jin hampir menyemburkan teh yang ada di mulutnya karena terkejut.
"A-apa maksudmu tiba-tiba bertanya?", Tanya An Liu Jin sambil mengernyitkan dahinya karena bingung.
"Aku...aku hanya merasa kamu.. bahwa kamu memiliki ketertarikan pada Xiao Lin. Apakah kamu menyukainya?", Tanya Dong Fang Lin serius.
An Liu Jin tidak bisa menjawab.
Dia sendiri tidak tau. Setiap bertemu dengan Xiao Lin dia memang merasa senang dan berdebar, apakah itu artinya dia mencintai Xiao Lin?
An Liu Jin menundukkan kepalanya.
Fang Lin menggenggam tangan An Liu Jin erat sambil tersenyum lalu berkata.
"Tidak apa-apa, jawablah dengan jujur. Aku tidak mau dibohongi. Lebih baik kamu jawab jujur sekarang daripada aku mengetahui kebenarannya dari orang lain.", Ujar Dong Fang Lin.
"Apa maksudmu?", Tanya Fang Lin.
"Setiap aku bersamanya aku merasa senang, kadang juga berdebar. Tapi aku lebih senang dan berdebar jika denganmu. Apakah menurutmu aku mencintai dia?", Ujar An Liu Jin sambil menaikkan kedua belah alisnya.
"Sudahlah, aku akan menikahkan mu dengan Xiao Lin. Daripada kamu tetap penasaran dan mencari tau perasaan apa itu lalu melakukan hal-hal yang tidak baik, lebih baik kalian menikah.", Ujar Fang Lin lalu membalikkan wajahnya dan melepaskan genggaman tangannya.
"A-apa? Menikah? Aku tidak mau.", Ujar Liu Jin.
"Liu Jin, kamu bahkan belum tau dengan jelas perasaanmu padaku dan kita masih mencari tau apa itu. Tapi kamu juga memiliki perasaan padanya, lebih baik kalian menikah. Aku merestui hubungan kalian.", Ujar Dong Fang Lin.
"Ti-tidak, aku..."
"Cukup. Aku akan membuat surat kepada ayah untuk merestui hubungan kalian.", Ujar Fang Lin.
"Tunggu! Kamu juga tau aku belum tau perasaan apa yang aku miliki terhadapnya, bagaimana kamu bisa langsung menikahkan kami berdua?", Ujar An Liu Jin tidak setuju.
"Ya! Kamu memang belum tau perasaanmu padanya, tapi dia sudah tau perasaannya padamu! Dia mencintaimu Liu Jin!", Ujar Dong Fang Lin menaikkan suaranya.
"A-apa?"
"Dia mencintaimu. Aku tau saat melihat tatapannya padamu. Tatapan yang begitu hangat dan lembut, tatapan yang penuh cinta. Aku tau dia mencintaimu. Karena itu, sebaiknya kalian menikah.", Ujar Dong Fang Lin lalu menundukkan kepalanya, dia mulai menangis.
"Tapi aku belum tau perasaanku, bagaimana jika itu hanya perasaan suka kepada teman? Satu yang aku tau, Lin-er. Aku mencintaimu.", Ujar An Liu Jin sambil menggenggam erat tangan Dong Fang Lin.
Dong Fang Lin tidak bisa berkata-kata.
Matanya semakin berkaca-kaca saat dia mendengar kata-kata Liu Jin.
"Liu..Jin?"
"Ya, aku mencintaimu. Karena itu aku tidak mau menikahi wanita lain atau mencari selir. Aku hanya ingin dirimu, aku mencintaimu Lin-er.", Ujar An Liu Jin lalu mengelus pipi Dong Fang Lin dengan lembut.
Dong Fang Lin langsung memeluk suaminya dengan erat.
"Liu Jin, kamu benar-benar mencintaiku? Benarkah?", Ujar Fang Lin senang.
"Tentu, hanya kamu...", Ujar Liu Jin sambil tersenyum hangat.
"Tidak ada wanita lain didalam hatimu?", Ujar Fang Lin sambil menatap tajam Liu Jin.
"Kamu tidak percaya? Kalau begitu kamu bisa membelah dadaku.", Ujar An Liu Jin sambil tersenyum.
"Hahaha, tidak perlu! Itu menakutkan!", Ujar Fang Lin sambil tertawa lalu kembali mengeratkan pelukannya.
Tanpa mereka berdua sadari kalau ada seseorang diluar.
Itu adalah Xiao Lin yang sedang berdiri di samping pintu sambil mengepalkan kedua belah tangannya.
Dia sudah menahan tangisnya dari tadi.
Xiao Lin lalu berlari dan menjauh dari kamar sang putri sambil menangis terisak.
"Dia dengan jelas mengatakan tidak mencintai aku...", Ujar Xiao Lin sambil mengusap air matanya dan tetap berlari.
...
Sementara itu, paviliun An Xie Tian...
An Xie Tian sedang berkultivasi dengan posisi lotus nya.
Sudah 1 bulan sejak dia mulai berkultivasi.
An Xie Tian membuka matanya, dia kembali membuat terobosan pada tingkat kultivasi nya. Naik satu tingkat menuju alam roh langit tingkat kedua.
"Bagus...", Ujar An Xie Tian sambil tersenyum miring saat melihat bahwa tubuhnya kembali membuat terobosan.
"Butuh 1 bulan, tapi aku berhasil menerobos hingga tingkat alam roh langit.", Ujar An Xie Tian lalu menyeka keringat yang ada di keningnya.
Setelah berkultivasi, dia lalu mandi.
Setelah mandi, dia melanjutkan dengan mempelajari kitab-kitab ilmu bela diri.
Saat sedang membaca, seseorang memasuki ruang bacanya.
Itu adalah Xu Lian, dia sudah selesai dan kembali dari tugas yang diperintahkan An Xie Tian.
"Master.", Salam Xu Lian sambil membungkuk hormat.
"Apa yang kamu dapatkan?", Tanya An Xie Tian.
"Seperti perintah anda, saya mengawasi kamp militer yang ada di gunung Elang dekat desa Yuehei. Saat saya mengawasi disana, beberapa kali pengiriman kereta barang tiba.
Dan dari peti barang tersebut terdapat lambang perkumpulan para pedagang.
Barang yang dikirim juga tidak sedikit, kebanyakan obat-obatan dan beberapa senjata hebat dari luar kekaisaran.
Benar-benar menyeramkan.", Lapor Xu Lian.
"Perkumpulan para pedagang? Apakah ini ada hubungannya dengan...?", An Xie Tian melirik Xu Lian.
"Tuan besar Lu beberapa kali datang ke kamp militer itu bersama barang-barangnya.
Sepertinya barang-barang itu dikirim oleh tuan Lu. Dan, sepertinya tuan Lu memiliki kesepakatan dengan raja Ming.
Saya juga sudah mengumpulkan bukti-buktinya.", Ujar Xu Lian lagi.
"Baiklah, kerja bagus. Kamu boleh kembali dan beristirahat di markas.", Ujar An Xie Tian sambil tersenyum.
Xu Lian membungkuk lalu menghilang dengan cepat.
"Perkumpulan para pedagang? Tuan besar Lu? Kesepakatan dengan raja Ming? Huhuhu...Tuan Lu. Sepertinya dia sudah lupa dengan apa yang terjadi pada Lu Wu Mei putrinya dan Lu Zao Yi cucunya.
Khukhukhu...", An Xie Tian berkata sambil tertawa sendiri.
"Baiklah, sepertinya akan ada beberapa keributan sebentar lagi.
Kalau begitu... haruskah aku juga bersiap?", Ujar An Xie Tian lalu tersenyum miring.
.
.
.
**Hai guys! Apa kabar nih? Semoga baik dan sehat selalu yaa^^
Karena aku sudah update, jangan lupa klik
LikeππΌ
Berikan komentar π¬
Tambahkan favorit +β€οΈ
Dan jangan lupa rate 5 bintangnya ya !!! βββββ
Okay, sampai sini dulu chapter hari ini.
Sampai jumpa di chapter selanjutnya,
bye-bye π
.
.
.
*To be continued***...