
**⚠️ Warning ⚠️
Biasakan memberi like sebelum membaca!
👍
👍
👍**
Malam hari
Istana kekaisaran, ruang pribadi kaisar...
"Yang mulia, putra mahkota ingin menemui anda."
"Biarkan dia masuk.", Ujar kaisar saat mendengar putranya ingin menemuinya.
Putra mahkota memasuki ruangan pribadi ayahnya dengan membawa sebuah surat di tangannya.
"Saya memberi salam pada ayahanda kaisar.", Ujar putra mahkota sambil memberi hormat pada ayahnya.
"Kenapa kamu tiba-tiba datang kesini? Ada apa?", Tanya kaisar.
"Saya ingin memberitahu ayahanda sesuatu.", Ujar putra mahkota serius.
'Hm, aku kenal wajah itu. Putra mahkota menunjukkan wajah itu jika dia benar-benar sudah bertekad akan sesuatu.'
"Baiklah, apa itu?", Ujar kaisar.
"Saya ingin ayahanda mengadakan pesta besar untuk 7 bulanan putri mahkota.", Ujar putra mahkota.
"Apa? Hahahaha, kukira apa yang mau kamu bicarakan. Menantuku sedang hamil, tentu saja aku akan menggelar pesta besar untuknya.", Ujar kaisar sambil tertawa.
"Bukan seperti itu ayah, ini adalah hal yang penting.", Ujar putra mahkota mencoba mengatakan sesuatu.
"Ya, kamu benar. Ini adalah hal yang penting. Kamu tenang saja, Zhen akan membuatkan pesta besar untuk cucu pertamaku. Dia adalah cucu pertama kekaisaran Dongfeng, tentu saja dia sangat istimewa.", Ujar kaisar lalu menyeruput teh miliknya.
"Bukan ayahanda, tapi ada hal lain yang lebih penting dari itu.", Ujar putra mahkota.
"Hal yang lebih penting? Apa itu?", Tanya Kaisar bingung.
"Ini tentang..."
...
Kembali ke mansion jendral besar An...
"Apa? Calon...suami!?", Teriak An Xie Tian terkejut.
"Be..benar nona.", Ujar XiaoMei takut akan perasaan nonanya.
"Apa maksudnya itu?", Ujar An Xie Tian kembali ke kewarasannya.
"Itu...tadi setelah anda pergi, ada kereta kuda yang tiba didepan kediaman kita. Dari dalam kereta kuda, ada seorang tuan muda yang keluar dari sana. Dia sangat tampan nona! Dia juga terlihat terpelajar.", Ujar XiaoMei menceritakan.
"Lalu kenapa kalau dia tampan? Bagaimana bisa kalian menyimpulkan bahwa dia akan menjadi calon suamiku? Lagipula siapa pria itu?", Ujar An Xie Tian.
"Katanya, dia adalah keponakan Nyonya selir Lu. Dia adalah putra sulung dari kakak laki-laki sulung nyonya selir.", Terang XiaoMei.
"Keponakan Lu Wu Mei?", Ujar An Xie Tian heran.
"Benar nona.", Ujar XiaoMei menambahkan.
"Katanya dia adalah pewaris selanjutnya keluarga Lu, namanya adalah Lu Zao yi.", Sambung XiaoMei lagi.
"Oh, begitu. Lalu darimana nya dia bisa disebut sebagai calon suamiku!", Ujar An Xie Tian tiba-tiba membuat XiaoMei terkejut.
"No..nona, nona tenang dulu...", Ujar XiaoMei sambil memegangi pundak nonanya untuk menenangkan amarahnya.
Tiba-tiba...
"Nona, saya pelayan dari kediaman utama. Tuan besar meminta anda untuk makan malam bersama di kediaman utama.", Ujar seseorang dari luar.
"Ya, baiklah. Aku akan bersiap-siap.", Ujar An Xie Tian.
An Xie Tian lalu mengganti bajunya dan mengenakan riasan tipis, tak lupa dengan cadar yang selalu menutupi wajahnya.
"Baiklah, ayo.", Ujar An Xie Tian memerintahkan pelayan tadi.
Mereka lalu pergi ke kediaman utama untuk makan malam bersama.
...
Kediaman utama, ruang makan...
"Saya memberi salam kepada ayah dan ibu selir.", Ujar An Xie Tian saat tiba di ruang makan.
"Tian-er, kamu sudah sampai. Ayo duduk disini.", Ujar An Zhangye senang melihat putrinya.
"Baik ayah.", An Xie Tian lalu duduk di sisi kiri ayahnya.
Meja makan yang ada disana berbentuk bulat, Disebelah kanan An Zhangye Lu Wu Mei duduk, dan Disebelah kirinya An Xie Tian.
"Permisi, maaf saya datang terlambat.", Ujar seorang pemuda dari pintu masuk.
"Yi-er, ayo duduk disebelah bibi.", Ujar Lu Wu Mei menyambut keponakannya.
Ya, yang datang itu adalah Lu Zao yi, keponakan Lu Wu Mei.
Mereka berempat lalu makan di meja makan yang sama.
Saat sudah selesai makan malam...
"Ehem, Tian-er.", Panggil Lu Wu Mei kepada An Xie Tian.
"Ya, ibu selir?", Jawab An Xie Tian.
"Kurasa sejak tadi kamu belum berkenalan dengan Yi-er. An Xie Tian, perkenalkan ini Lu Zao yi, keponakan ibu.", Ujar Lu Wu Mei.
"Dan Yi-er, ini adalah An Xie Tian, anak bibi.", Ujar Lu Wu Mei memperkenalkan An Xie Tian kepada keponakannya.
Hm, baiklah. Apa yang dikatakan XiaoMei tidak salah. Pria ini memang memenuhi syarat untuk dipanggil sebagai pria tampan.
"An Xie Tian, salam kenal.", Ujar Lu Zao yi lalu menjulurkan tangannya kearah An Xie Tian.
"Ya, salam kenal.", Ujar An Xie Tian lalu menyabut tangan Lu Zao yi.
"Tuanku.", Ujar Lu Wu Mei sambil menyenggol pelan tangan An Zhangye.
"Ah, iya. Em, Tian-er. Ayah sudah merencanakan sesuatu, ayah harap kamu tidak keberatan.", Ujar An Zhangye.
"Rencana apa itu ayah?", Tanya An Xie Tian.
"Ayah berencana menikahkan kamu dengan Lu Zao yi.", Ujar An Zhangye senang.
"What!", Ujar An Xie Tian terkejut hingga tidak sadar mengeluarkan bahasa asing.
"Ah, maksudku. Maksud ayah, aku...menikah?", Ujar An Xie Tian.
Dia memang memiliki firasat buruk, tapi ini? Ini keterlaluan.
"Ya, ayah sudah lama mencarikan kamu suami sejak pertunangan kamu dan pangeran kedua dibatalkan. Walaupun banyak lamaran yang masuk, namun lamaran dari Lu Zao yi lah yang membuat ayah paling tertarik.", Ujar An Zhangye.
"Ayah! Bagaimana bisa ayah mencarikan aku suami tanpa sepengetahuanku?", Ujar An Xie Tian tidak terima.
"Ayah tau Tian-er, tapi... Ayah khawatir melihatmu yang tidak pernah dekat dengan para pemuda. Sebagai ayahmu, aku merasa sangat khawatir padamu.", Ujar An Zhangye.
"Tapi ayah...", Ujar An Xie Tian mencoba menyanggah ucapan An Zhangye.
"Tian-er, ayah melakukan ini demi kebaikanmu. Jika ayah tidak mencarikan kamu suami, ayah takut kamu tidak akan pernah menikah.", Ujar An Zhangye lagi.
"Tapi ayah, aku bisa mencari priaku sendiri. Sungguh.", Ujar An Xie Tian.
"Tian-er, sebelum kamu menolak. Ayah harap kamu mau mencobanya dulu. Kamu bisa mencoba mengenal Yi-er dengan baik, ayah tau Lu Zao yi adalah pemuda yang baik untukmu.", Ujar An Zhangye.
"Ayah mohon? Cobalah dulu sebelum kamu menolak.", Pinta An Zhangye pada An Xie Tian.
An Xie Tian yang melihat wajah memohon ayahnya merasa tidak enak hati.
"Hah, baiklah. Tapi jika ternyata dia bukan pria yang baik, aku akan menolak perjodohan ini.", Ujar An Xie Tian menyerah.
"Ya, tentu Tian-er.", Ujar An Zhangye sambil mengangguk senang.
Akhirnya ada kesempatan putrinya bisa menikah.
...
Setelah makan malam, paviliun An Xie Tian...
"Arrrrggghh! Sial!", Teriak An Xie Tian dibalik bantalnya.
"Huk, ayah tega sekali...", Ujar An Xie Tian sambil meratapi hidupnya.
"Baiklah, aku cukup yakin jika Lu Zao yi tidak sebaik yang ayah pikir. Lagipula dia adalah keponakan Lu Wu Mei yang licik.", Ujar An Xie Tian.
"Aku harus membuat rencana..."
...
Kerajaan Ming Utara...
Seorang pria berdiri didepan jendela sambil menatap langit malam.
Sekelabat bayangan hitam terlihat samar-samar dan memasuki ruangan pria itu.
Bayangan hitam itu berdiri dibelakang pria itu lalu berlutut.
"Yang mulia."
"Bagaimana?", Tanya pria itu.
"Perdana menteri Wang dan para pengikutnya menyetujui persyaratan kita.
Mereka setuju untuk bergabung dengan kita, yang mulia.", Ujar sosok hitam itu.
"Bagaimana dengan jenderal Murong?", Tanya pria itu lagi.
Sosok hitam menyodorkan sebuah kotak kecil kepada pria itu.
" Jendral Murong setuju untuk bergabung dengan kita.", Ujar sosok hitam itu.
Pria itu mengambil kotak kecil dari tangan sosok hitam.
"Hem, tentu saja dia setuju. Jika rencana ini berhasil, putrinya akan menjadi permaisuri yang memimpin Dongfeng dimasa depan.", Ujar pria itu sambil memperhatikan benda yang ada ditangannya.
"Yang mulia, anda juga mendapatkan balasan surat dari tuan besar Lu.", Ujar sosok hitam itu.
"Katakan isi suratnya.", Perintah pria itu.
"Tuan besar Lu setuju untuk menyokong keperluan tentara dan keperluan kita yang lain.", Ujar sosok hitam lagi.
"Bagus, tidak sia-sia Yan-er menikahi cucu Tuan Lu sebagai selir. Ternyata menantuku yang satu itu berguna juga.", Ujar pria itu sambil tersenyum licik.
Pria itu adalah Raja Ming Utara, Dong Ming Liu.
Dong Ming Liu tersenyum licik.
"Lihat saja kakak, aku akan membalas perbuatanmu dan mengambil kembali hak yang seharusnya menjadi milikku.", Ujarnya sambil tersenyum miring dan sebelah alis terangkat.
...
Kediaman Marquis Utara, paviliun An Xie Tian...
"Xu Lian, Dong Li, Minji. Kalian aku berikan tugas untuk menyelidiki Lu Zao yi. Ingat, kalian harus menyelidikinya dengan teliti jangan sampai ada yang tertinggal.", Ujar An Xie Tian memperingatkan para bawahannya.
"Baik master!", Ujar mereka serempak lalu dengan cepat menghilang dari hadapan.
"Oh, satu lagi....", An Xie Tian berbisik pada ketiga wanita yang merupakan bawahannya itu.
Mereka mengangguk saat An Xie Tian selesai bicara.
"Lu Zao yi, aku akan membongkar kedok mu apapun itu..."
.
.
.
**Hai guys! Apa kabar nih? Baik aja dong^^
Jangan lupa klik like, komen, dan gabung di grup chat aku biar kita bisa berbincang ria gitu loh 🤭
.
.
.
Tbc...
(Update selanjutnya besok**...