Time Travel: Rebirth Of The Daughter Of The Marquess

Time Travel: Rebirth Of The Daughter Of The Marquess
Ch. 58: Setelah itu...



⚠️ Warning ⚠️


Biasakan untuk selalu memberikan like sebelum membaca.


Terimakasih^^


👍🏻


.


👍🏻


.


👍🏻


Penyerangan yang terjadi di ibukota kerajaan membuat seluruh kekaisaran Dongfeng murka.


Tiga kekaisaran besar lainnya juga terkejut dengan keberanian para pemberontak yang langsung menyerang Ibukota kerajaan Dongfeng.


Para pemberontak sudah merencanakan penyerangan mulai dari 3 tahun yang lalu sehingga rencana yang mereka buat benar-benar matang.


Sayangnya rencana mereka belum sempurna dan berhasil ditaklukkan dengan kecerdikan putra mahkota dan pasukan kekaisaran.


Walaupun begitu, tentunya kecerdikan putra mahkota dan pasukan kekaisaran belum cukup.


Jika bukan karena pasukan bulan sabit yang tiba-tiba muncul setelah tiupan peluit giok milik Dong Fang Yu, maka kemungkinan besar ibukota kerajaan saat ini sudah diserang oleh pasukan pemberontak.


Raja Ming dan permaisuri Wang ditetapkan sebagai pengkhianat dan dihukum mati.


Beberapa kerajaan yang terlibat dengan pemberontakan dicabut kepemimpinannya sebagai kerajaan dan diambil alih sepenuhnya oleh kekaisaran lalu dijadikan kota.


Perkumpulan para pedagang yang terlibat karena memberikan dana dan pemasukan senjata para pemberontak dibubarkan, para petingginya ditangkap atas tuduhan pengkhianatan.


Tuan besar Lu yang menjadi ketua perkumpulan para pedagang dihukum mati karena terlibat langsung dalam pemberontakan.


An Yanran yang juga terlibat walaupun tidak langsung juga ditetapkan sebagai pengkhianat karena memberikan informasi didalam istana kekaisaran dan memberikan saran-saran untuk penyerangan.


Sayangnya dia berhasil kabur keluar kekaisaran.


Tubuhnya ditemukan tidak bernyawa 10 kilometer dari perbatasan kekaisaran, diduga dia diserang oleh para bandit karena membawa banyak barang berharga.


Jendral besar Murong yang juga ayah dari Putri Qiuyue ikut terlibat pemberontakan dengan memberikan 1000 tentaranya kepada para pemberontak untuk menyerang istana.


Karena hal itu, seluruh keluarga Murong ditetapkan sebagai pengkhianat.


Namun mengingat jasa keluarga Murong yang sudah setia pada kekaisaran sejak dulu, keluarga Murong diberikan keringanan dengan hanya dicabut gelar bangsawan nya menjadi rakyat biasa dan diasingkan ke daerah Pegunungan dekat dengan kuil.


Pangeran kedua yang tidak terlibat dengan para pemberontak memilih untuk melepaskan gelar pangerannya dan mengasingkan diri mengikuti keluarga Murong di daerah pegunungan dan membantu mengurus kuil.


Dia berharap bisa mengintropeksi diri dan menyucikan diri juga berdoa untuk dosa yang telah dilakukan oleh ibu dan ayah kandungnya (Raja Ming).


Prajurit kekaisaran yang gugur dalam pemberontakan kali ini diberikan penghormatan terakhir juga hadiah untuk keluarga yang ditinggalkan.


Pangeran ketiga, Dong Fang Yu yang memimpin pasukan kekaisaran untuk mengahalau pemberontak kali ini terluka parah.


.


.


.


"Bagaimana keadaannya tabib Li?", Tanya putra mahkota khawatir menanyakan kondisi adik ketiganya.


"Maafkan saya Yang Mulia, saya tidak bisa melakukan banyak hal kecuali menjaganya tetap hidup sampai sekarang. Saya tidak bisa berjanji berapa lama pangeran ketiga dapat bertahan...", Ujar tabib Li.


Wajahnya terlihat putus asa. Bagaimana tidak? Dia adalah tabib kerajaan dan juga tabib terbaik di seluruh kekaisaran, namun dia tidak bisa melakukan apapun untuk menyelamatkan pangeran ketiga yang berjasa besar terhadap kekaisaran.


Kaisar yang mendengarnya langsung tertunduk lemah.


Siapa bilang dia tidak menyayangi putranya? Siapa bilang dia tidak peduli pada putranya?


Dia hanya tidak tau bagaimana cara menunjukkan rasa sayang dan peduli kepada putranya yang terkenal dengan sikap dinginnya itu.


Bagaimana bisa dia tidak sayang dan peduli kepada putra yang dilahirkan oleh wanita yang paling dicintainya itu?


Benar, Chu Jiang Nan adalah cintanya.


'Nan-er, apa yang harus aku lakukan? Putra kita...', Kaisar berbicara didalam hatinya yang gundah.


Bagaimana bisa dia hanya menatap putranya yang sekarat tanpa bisa melakukan apa-apa?


"Ayahanda...", Panggil putra mahkota ketika melihat ayahnya yang tertunduk lesu.


"Ah, Ya?", Jawab Kaisar Ye lemah.


"Apakah Ayahanda lelah? Saya akan mengantarkan Yang Mulia ke ruangan kaisar.", Tawar putra mahkota karena melihat ayahnya yang terlihat lelah.


"Tidak apa-apa, Zhen akan tetap disini. Zhen ingin menghabiskan waktu bersama Yu-er. Waktu yang tidak bisa Zhen habiskan bersamanya dulu...", Ujar kaisar.


"Ayah...", Putra mahkota yang mendengar perkataan sedih ayahnya hanya bisa tertunduk lalu mengangguk.


Bagaimanapun juga, hanya dia yang tau bagaimana perasaan ayahnya.


Tentu saja dia tau seberapa sayang dan pedulinya Kaisar terhadap pangeran ketiga, hanya saja... Hubungan ayah dan anak diantara mereka terlalu rumit untuk diurus dirinya sendiri.


Putra mahkota lalu tersenyum lalu keluar dari ruangan itu.


...


An Xie Tian duduk dibawah pohon sambil menunduk lesu.


Taman istana kekaisaran yang indah tidak bisa memperbaiki perasaannya yang sedang campur aduk sekarang ini.


An Xie Tian melihat tabib Li berjalan mendekat kearahnya.


"Salam Xie Tian Gu Niang.", Salam tabib Li.


"Ah, tabib Li. Salam.", Ujar An Xie Tian sambil tersenyum.


"Ba.. bagaimana keadaan pangeran ketiga? Kapan dia akan pulih?", Tanya An Xie Tian dengan ekspresi khawatir.


Sangat jelas dari wajahnya yang lesu dan bawah matanya yang terlihat menghitam bahwa dia saat ini sedang kacau.


Dan siapa tau apakah lingkaran hitam dibawah matanya disebabkan karena tidak bisa tidur atau karena terlalu banyak menangis, tapi sepertinya itu karena keduanya.


"Saya...tidak bisa menjanjikan kepulihan Yang Mulia pangeran ketiga. Salah satu panah mengarah langsung ke dadanya dan hampir menembus jantung, jika menancap lebih dalam beberapa sentimeter lagi maka nyawa pangeran akan melayang saat itu juga.", Ujar tabib Li.


Dia tau kalau ilmu pengobatan An Xie Tian tidak bisa dianggap remeh, jadi dia tidak ragu menjelaskan semuanya.


Walaupun begitu, ilmu pengobatan An Xie Tian saat ini tidak bisa membantu banyak.


"Jadi...dia akan pulih kan? Di-dia akan selamat, benarkan?", Ujar An Xie Tian dengan wajahnya yang kembali cerah karena menemukan harapan.


Namun sepertinya harapan itu kembali sirna.


"Sayangnya tidak. Panah itu tidak menembus jantung, tapi membuat paru-paru pangeran mengalami kebocoran. Saat ini paru-parunya terisi penuh dengan darah, saya takut waktunya tidak banyak lagi...", Jelas tabib Li membuat raut wajah An Xie Tian kembali menggelap.


"Ti-tidak mungkin...", Ujar An Xie Tian.


Bulir hangat kembali menetes di pipinya.


An Xie Tian kembali menangis.


Dia jelas tidak berdaya.


Salahkan dia karena tidak memperhatikan gurunya saat menjelaskan ilmu kedokteran dan hanya tertarik mempelajari ilmu racun dan obat-obatan.


Jika saja ini di dunia modern, An Xie Tian yakin kalau Dong Fang Yu bisa sembuh.


Tabib Li hanya bisa tertunduk melihat tangis An Xie Tian yang kembali pecah.


Dia ingat bagaimana kondisi An Xie Tian saat memapah tubuh Dong Fang Yu yang penuh darah.


Dia terlihat sangat putus asa dan menangis dengan sangat keras.


Satu yang dia tau, nona itu mencintai pangeran ketiga sehigga dia berani menentang kaisar dan pergi langsung ke daerah perbatasan lalu bertempur membantu pangeran ketiga menghalau pemberontak.


'Wanita yang hebat...', Itulah kata yang tepat untuk mendeskripsikan An Xie Tian bagi tabib Li.


"Maafkan saya nona, saya tidak bisa membantu banyak. Ilmu pengobatan saya tidak cukup hebat hingga bisa menyembuhkan pangeran.", Ujar tabib Li menyesal.


"Tidak, ini bukan kesalahan anda tabib Li.


Tapi... Apakah benar-benar tidak ada cara lain? Tidak adakah cara lain untuk menyelamatkannya? Cara agar bisa membuatnya... Tetap hidup?", Tanya An Xie Tian penuh harap.


Satu saja, satu saja...


An Xie Tian mohon, hanya satu.


Maka dia akan mencarikan segala cara untuk menyelamatkannya walaupun itu nyawanya sendiri.


"Saya...", Tabib Li berpikir keras.


Bukan karena tidak ada cara lain, hanya saja satu-satunya cara yang ada tidak mungkin dilakukan.


Namun tabib Li memilih untuk tetap memberi tahukan satu-satunya cara itu agar An Xie Tian sebaiknya menyerah.


Bagaimanapun, dia tetaplah tunangan Kaisar Tianxing. Jikalau pangeran ketiga berhasil selamat, mereka tetap tidak akan bisa bersama.


"Ada satu cara. Hanya saja... Saya ataupun anda tidak akan bisa melakukannya.", Ujar tabib Li.


"Apa? Apa itu? Katakan padaku!?", Ujar An Xie Tian mendesak tabib Li untuk bicara.


"Pil naga emas. Pil naga emas yang legendaris. Dulu pil itu dibuat oleh seorang ahli alkemis pertapa terhebat di zamannya.


Walaupun dia sangat hebat, tapi dia hanya berhasil membuat 4 buah pil.


Bahkan sampai sekarang tidak ada yang bisa membuatnya selain ahli alkemis itu.


Bukan hanya karena tidak tau resep yang tepat, tapi juga karena pembuatannya yang membutuhkan waktu puluhan tahun.


Satu-satunya pil naga emas yang tersisa saat ini hanyalah...", Tabib Li tidak menyelesaikan perkataannya sehingga membuat An Xie Tian semakin penasaran.


"Hanyalah? Dimana pil itu!?", Tanya An Xie Tian.


Walaupun jika pil itu dijaga spirit beast terkuat atau bahkan seekor naga sekalipun, An Xie Tian akan berusaha mendapatkannya tidak peduli apapun itu.


"Pil itu sekarang berada didalam penyimpanan harta warisan kekaisaran Tianxing. Tianxing terkenal dengan ilmu alkemis nya yang hebat, ahli alkemis itu menjadi bapak ahli alkemis dari Tianxing.


Dialah nenek moyang dari leluhur keluarga kekaisaran Tianxing.", Jelas tabib Li.


Bagaimana bisa An Xie Tian bisa mendapatkan pil itu? Walaupun dia calon permaisuri Tianxing, kaisar Kang tidak akan mungkin memberikan warisan keluarga kekaisaran Tianxing yang hanya ada satu-satunya di dunia itu kepada An Xie Tian begitu saja.


Kecuali jika dia gila.


"Hanya itu?", Tanya An Xie Tian.


"A-apa?"


Terkejut? Tentu saja!


Bagaimana bisa harta warisan kekaisaran Tianxing yang hanya ada satu-satunya di dunia menjadi 'hanya itu' saja di mata An Xie Tian?


Darimana keberanian wanita ini datang? Atau, lebih tepatnya darimana kebodohan wanita ini datang?


"Jadi, pil itu ada di Tianxing?", Ujar An Xie Tian lalu tersenyum miring.


"Baiklah.", Ujar An Xie Tian lalu bangkit dari tempat duduknya.


"Gu.. Gu Niang! Tu-tunggu dulu! Anda mau apa?", Tanya tabib Li yang berhasil menangkap maksud sebenarnya dari perkataan An Xie Tian.


'Wanita ini akan ke Tianxing untuk mengambil pil naga emas?'


"Tentu saja mendapatkan pil itu. Apalagi?", Ujar An Xie Tian dengan mudahnya.


"Memang apa yang akan anda lakukan? Meminta pil itu pada kaisar Tianxing begitu saja? Apa anda gila atau bodoh? Bisa-bisa anda ditangkap dan dimasukkan ke penjara karena itu!", Ujar tabib Li.


"Apa maksudmu? Saya tidak bodoh apalagi gila, dan saya tidak akan pergi tanpa membawa rencana yang baik di kepala saya. Anda tidak perlu khawatir.", Ujar An Xie Tian lalu tersenyum.


Tabib Li hanya menggeleng tidak percaya saat melihat An Xie Tian yang mulai menjauh.


Dia pergi...begitu saja. Ya!


"Aku khawatir sesuatu yang buruk akan terjadi padanya...", Ujar tabib Li.


.


.


.


Malam hari,Kediaman Marquis Utara...


Seseorang berpakaian serba hitam memasuki kediaman secara diam-diam melalui atap-atap.


Dia berjalan dengan cepat dan hati-hati menuju paviliun Wisteria.


Dia membuka pintu kamar dengan hati-hati lalu menarik pisaunya dan mengarahkannya tepat kearah wanita yang sedang tidur di ranjang.


"Siapa kamu?", Ujar seorang pria dari belakang sambil mengarahkan pedangnya pada orang berpakaian serba hitam itu.


Wanita yang tertidur di ranjang terbangun karena mendengar suara.


"Liu Jin?", Ujarnya lalu melihat seseorang yang sedang memegang pisau.


"Si-siapa kamu!?", Ujar Dong Fang Lin terkejut.


"Lin-er, tenanglah.", Ujar An Liu Jin sambil masih mengarahkan pedangnya kearah orang itu.


"Siapa yang mengirim mu? Kenapa kamu ingin membunuh sang putri?", Tanya An Liu Jin pada orang yang ada didepannya itu.


"Membunuh sang putri?", Ujar orang itu.


An Liu Jin terkejut karena menyadari suara orang itu yang sangat lembut dan indah, suara wanitu.


Dan entah kenapa dia merasa familiar dengan suara itu.


"Siapa kamu!?", Tanya An Liu Jin sekali lagi.


Wanita berpakaian serba hitam itu berbalik lalu menatap An Liu Jin.


Dia lalu membuka kain hitam yang menutupi separuh wajahnya.


"Kamu!?", An Liu Jin terkejut saat melihat wajah itu.


"Salam tuan. Benar, ini saya. Xiao Lin.", Ujar wanita itu yang sebenarnya adalah Xiao Lin.


"Ba-bagaimana bisa...", An Liu Jin terdiam sejenak karena terkejut.


"Kenapa kamu terkejut? Apakah karena kamu berpikir aku adalah wanita cantik yang sederhana dan lembut, makanya aku tidak mungkin melakukan hal ini?", Tanya Xiao Lin sambil tersenyum miring.


"Menyedihkan...", Ujarnya lagi.


Dong Fang Lin yang terduduk di ranjang tidak bisa melakukan apa-apa.


Dia terkejut. Xiao Lin mantan dayang nya selama ini adalah...


"Benar putri! Saya sebenarnya di perintahkan oleh master saya untuk mengawasi mu juga untuk membunuh kamu dan suamimu.", Ujar Xiao Lin lalu menatap sang putri.


"Ah, dan satu lagi. Wan-er adalah penjaga yang dikirimkan putra mahkota untuk melindungi mu, sayang sekali dia terlalu bodoh sehingga berhasil kubunuh.", Sambung Xiao Lin lagi sambil tersenyum miring.


"Wan... Wan-er...", Putri Keempat menangis karena mendengar hal itu.


"Kamu... Apakah kamu mata-mata yang dikirimkan Raja Ming? Sekarang Raja Ming sudah dihukum mati, mengapa kamu masih mau membunuh kami? Apa keuntungan yang kamu dapatkan? Apakah ada yang membayar mu?", Tanya An Liu Jin.


"Membayar ku? Hahaha... Sama sekali tidak. Aku melakukannya karena keinginanku sendiri, karena dendam ku sendiri.", Ujar Xiao Lin.


"Dendam? Dendam apa yang kamu miliki?", Tanya An Liu Jin bingung.


"Ah, tentu kamu tidak tau. Atau lebih tepatnya tidak mau tau. Jangan bilang kalau kamu tidak tau perasaanku padamu. Aku mencintaimu, tapi kamu malah memilih dia!", Ujar Xiao Lin sambil menunjuk kearah sang putri.


"Aku...", An Liu Jin mengernyitkan dahinya.


Tentu saja dia tau, bahkan dia juga sempat memiliki perasaan pada Xiao Lin. Tapi dia sudah memiliki putri disampingnya, dia tidak ingin menjadi pria bren*sek yang memiliki istri lebih dari satu atau berselingkuh.


"Cih, lelaki seperti mu yang meremehkan perasaan seorang wanita sepertiku tidak pantas hidup!", Ujar Xiao Lin lalu mengarahkan pisaunya kearah An Liu Jin.


An Liu Jin yang tidak siap tidak bisa menghindar.


"Liu Jin!", Dong Fang Lin langsung berdiri dan berlari melindungi suaminya.


Bahunya terkena tusukan pisau.


"Lin-er!", Teriak An Liu Jin saat melihat darah mengalir dari bahun Dong Fang Lin.


Karena keributan dari dalam, para penjaga dengan cepat memasuki ruangan itu.


"Tuan muda!", Para penjaga yang melihat sang putri terluka dan seorang wanita mencurigakan berpakaian serba hitam langsung mengambil tindakan.


Mereka langsung menangkap Xiao Lin dan mengikatnya dengan tali.


"Amankah wanita ini! Kita akan membawanya ke pengadilan. Panggilkan juga tabib, Putri keempat terluka!", Perintah An Liu Jin.


An Liu Jin lalu menggendong Dong Fang Lin ke tempat tidur sambil sebisa mungkin merawat lukanya.


Dia terlihat sangat panik dan khawatir.


"Liu Jin...", Panggil Dong Fang Lin.


"Ya, Lin!?", Ujar An Liu Jin langsung menatap Fang Lin.


"Aku tidak apa-apa, ini bukan luka yang parah. Kamu tidak perlu khawatir.", Ujar Dong Fang Lin sambil tersenyum.


"Baiklah, aku tidak khawatir. Tapi kamu tetap terluka, ini salahku karena tidak bisa melindungi mu...", Ujar An Liu Jin lalu tertunduk karena menyesal.


"Ini bukan salahmu... Lagipula aku tidak kenapa-napa dan wanita itu sudah ditangkap. Lihat, aku tidak apa-apa.", Ujar Dong Fang Lin sambil tersenyum.


An Liu Jin menatap istrinya penuh kasih.


Wanita yang menjadi istrinya itu benar-benar memiliki hati yang baik dan lembut.


Dia merasa menjadi seorang pria yang paling bahagia di dunia karena memiliki wanita itu disisinya.


Tidak lama kemudia tabib datang dan mengobati luka putri keempat.


"Bahunya tidak apa-apa dan lukanya tidak akan meninggalkan bekas yang serius. Anda tidak perlu khawatir. Dengan mengoleskan obat dan beristirahat yang cukup, putri akan kembali pulih satu sampai dua minggu.", Ujar sang tabib pada An Liu Jin.


An Liu Jin hanya mengangguk.


Dia lalu menatap istrinya yang saat ini sedang tertidur setelah diberi obat penghilang rasa sakit.


"Baik, terimakasih banyak tabib.", Ujar An Liu Jin sambil tersenyum.


An Liu Jin merasa sangat tenang, paling tidak Dong Fang Lin tidak apa-apa sekarang.


An Liu Jin duduk disamping tempat tidur sambil menatap istrinya.


Dia lalu mengelus kepala istrinya dengan lembut dan penuh kasih sayang.


"Cepatlah sembuh Lin-er...", Ujar An Liu Jin lalu mencium dahi Dong Fang Lin.


.


.


.


Hai guys! Apa kabar nih? Semoga baik dan sehat selalu yaa ^^


***Jangan lupa klik


Like 👍🏻


Berikan komentar 💬


Tambahkan favorit +❤️


Dan jangan lupa rate 5 bintangnya ya ⭐⭐⭐⭐⭐


Sampai sini dulu chapter hari ini, sampai jumpa di chapter selanjutnya. Bye-bye 👋🏻


.


.


.


Tbc***...