
Di negeri Dongfeng terdapat empat kekuatan besar setelah kaisar.
-Yang pertama dari kubu perdana menteri kiri yang juga ayah dari permaisuri Wang, Wang Lu chen.
-Yang kedua adalah dari kubu perdana menteri kanan yang juga ayah dari putri mahkota Xiao,Marquis Timur Xiao Jing An.
-Lalu dari kubu militer ada Jenderal besar dalam negeri, marquis selatan Murong Hao.
-Dan yang terakhir dari kubu militer jendral besar luar negeri, Marquis Utara An Zhangye.
Sudah menjadi rahasia umum bahwa kubu perdana menteri kiri dan perdana menteri kanan sedang perang dingin soal penerus tahta kekaisaran.
Hal ini membuat para menteri dan pejabat yang ada dibawahnya juga terbagi-bagi atas dua kubu tersebut.
Kaisar pun sering dibuat pusing atas laporan-laporan yang mereka buat.
Disamping dua kubu yang tengah bersaing tersebut, dua kubu militer lainnya lebih suka bersikap netral dan tidak memilih siapa-siapa.
Hal ini berkat jiwa ksatria yang sudah tertanam dalam diri mereka sewaktu mereka masih berlatih dari kecil.
Prinsip mereka adalah 'Lebih baik mati di Medan perang daripada hidup bahagia dalam kemelut darah rakyat dan kebohongan'.
.
.
.
An Xie Tian sedang menyesap tehnya saat tiba-tiba XiaoMei datang dengan terburu-buru.
"Nona! Itu...itu..!" Ujarnya terengah-engah.
"Ada apa?" Ujar An Xie Tian bingung.
"Itu..., Wakil jendral... Akan datang." Ujar XiaoMei senang.
"Wakil jendral?" Ujarnya bingung.
'siapa wakil jendral?'
"Apa nona lupa dengan tuan muda?" Ujar XiaoMei terkejut.
"Haah? Tuan muda siapa lagi?" Ujar An Xie Tian semakin bingung dan penasaran.
"Itu adalah wakil jendral besar luar negeri, tuan muda keluarga An dari adik jendral besar, An Liu Jin." Ujar XiaoMei.
"Apakah itu kakak sepupu!?" Ujar An Xie Tian terkejut.
Walaupun dia tidak pernah bertemu, tapi didalam ingatan An Xie Tian dia mengetahui bahwa An Liu Jin adalah kakak sepupunya yang juga pewaris kediaman jendral besar Marquis Utara ini, jendral besar masa depan.
Hubungan mereka juga cukup dekat hingga 5 tahun yang lalu An Liu Jin mengikuti An Zhangye untuk berperang saat umurnya 16 tahun.
"Iya nona, kakak sepupu anda akan pulang besok pagi." Ujar XiaoMei.
"Benarkah? Kenapa dia tidak kembali bersama ayah waktu itu?" Ujar An Xie Tian.
"Wakil jendral tidak bisa kembali waktu itu, karena ada masalah di daerah perbatasan. Sekarang dia sudah bisa kembali. Kabarnya jendral besar dan wakil jendral akan diberikan penghargaan oleh kaisar." Ujar XiaoMei dengan mata berbinar-binar.
"Tuan muda juga sangat populer di kalangan para wanita bangsawan, katanya sudah banyak Xiao jie yang menaruh hati padanya" Ujar XiaoMei lagi.
"Wah, kau menjelaskan dengan sangat terperinci." Ujar An Xie Tian sambil tertawa.
"Nona, XiaoMei ini harus mengetahui berita terbaru di negeri Dongfeng ini. Berita yang seperti ini akan sangat mudah sampai ke telinga Nubi." Ujar XiaoMei.
"Hmmm, dasar." Ujar An Xie Tian lalu memasukkan kue kedalam mulutnya.
"Apakah nona tidak ingin menyiapkan hadiah untuk tuan muda?" Tanya XiaoMei.
"Haruskah?" An Xie Tian balik bertanya.
"Dia kan sepupu nona, kenapa tidak kan?" Ujar XiaoMei lagi.
"Yah, akan kupikirkan." Ujar An Xie Tian.
.
.
.
"Haah..., Sudah lama sekali ya, tak terasa sudah 5 tahun aku berada di Medan perang." Ujar lelaki tampan yang sedang menunggang kuda berwarna coklat.
"Tuan, kita pergi lebih awal hanya untuk melihat-lihat pasar, memang apa yang istimewa dengan pasar?" Tanya bawahannya yang menunggang kuda hitam.
"Tidak ada, hanya saja aku mempunyai beberapa kenangan saat aku masih kecil." Ujarnya menjawab pertanyaan bawahannya.
Dari kejauhan mereka melihat ada seorang gadis sedang diganggu oleh beberapa lelaki mudah keturunan bangsawan.
"Ayolah nona cantik, mainlah bersama kami." Ujar salah satu lelaki yang mengganggunya.
"Nona, anda sangat cantik, apakah kamu tertarik untuk menjadi salah satu selirku?" Ujar seorang lelaki lagi yang sepertinya adalah seorang tuan muda bangsawan kaya.
Dia menyentuh pipi gadis tersebut.
'Plak!'
Wanita itu menamparnya.
"Beraninya kamu menamparku! Apakah kamu tidak tau kalau aku adalah putra kedua Mentri keuangan!?" Ujar lelaki itu marah.
"Heh, kau hanya menyombongkan diri. Orang yang seperti kamu yang hanya bisa mengandalkan gelar dan kekuasaan adalah sampah masyarakat yang sesungguhnya!" Ujar wanita itu dengan wajah merah karena marah dan jijik.
"Aph! Dasar perempuan tak tau malu!" Ujar lelaki itu ingin menamparnya.
'Tep!'
Seseorang menahan tangannya.
"Be-beraninnya kamu! Lepaskan tanganku, bre*gsek!" Ujarnya.
Saat dia melihat seorang pria dengan wajah tampan dan perawakan yang gagah, nyalinya agak ciut.
"Si- siapa kamu!?" Ujarnya marah.
"Untuk apa memberi tau mu? Seorang bocah nakal yang mengandalkan kekuasaan dan menindas orang lemah adalah seorang sampah." Ujar pria itu.
"Heh, aku adalah putra Mentri keuangan, kamu akan mati penuh dengan pukulan. Katakan siapa namamu! Agar aku bisa membuatkan batu nisan untukmu!?" Ujar lelaki itu penuh kesombongan.
"Namaku An Liu Jin." Ujarnya tenang.
"Hahaha, An Liu Jin kau akan ma...ti?"
Dia baru sadar dengan nama yang disebutnya.
An Liu Jin yang itu? Wakil jendral besar luar negeri yang turun ke Medan perang 5 tahun lalu saat umurnya masih 16 tahun!?
Yang di beri julukan Elang darah!?
'Tidak mungkin pria ini adalah..!'
"Beri jalan untuk pasukan Elang putih wakil jendral besar luar negeri!"
Teriakan dari arah belakang mengejutkan semua orang.
"Tuan, pasukan kita sudah tiba." Ujar bawahan An Liu Jin.
"Baik, pergilah." Ujar An Liu Jin.
Lelaki tadi tidak bisa berhenti gemetar, dia sudah sadar dengan siapa dia berurusan sekarang.
Wakil jendral besar, An Liu Jin.
Dia...yang akan mati.
Dia dengan cepat memberikan isyarat pada teman-temannya yang lain untuk segera pergi dari sana, tentunya untuk menyelamatkan nyawanya.
Dengan cepat mereka sudah pergi melewati kerumunan manusia dan dengan cepat pula menghilang dari sana.
"Tuan, terimakasih karena telah menolong saya." Ujar gadis yang diganggu tadi.
"Oh, apa kamu tidak kenapa-napa?" Tanya An Liu Jin.
"Iya, berkat tuan." Ujar gadis itu sambil tersenyum.
An Liu Jin yang melihat kecantikan yang tersenyum didepannya merasa perasaan aneh di dadanya.
Sudah 5 tahun dia di Medan perang, disana dia hampir tidak pernah bertemu dengan wanita.
'Wanita ini sangat Cantik!'
"Boleh saya tau siapa nama nona?" Tanya An Liu Jin lagi.
"Nama saya Lin." Ujar gadis itu kembali tersenyum setelah terkejut.
'Lelaki ini sangat tampan!'
"Perkenalkan, Nama saya An Liu Jin." Ujar An Liu Jin.
"Senang berkenalan dengan anda." Ujar wanita bernama Lin itu.
"Maaf, tapi sekarang saya harus pulang. Sekali lagi terimakasih karena telah menolong saya." Ujar Lin.
"Sama-sama, nona" Ujar An Liu Jin.
Setelah itu, wanita itu berjalan menjauh dan pergi dari situ.
"Cantik." Ujar An Liu Jin bergumam.
Dari dadanya terdengar bunyi drum yang samar.
.
.
.
Wanita itu memasuki daerah kumuh yang ada di pedalaman ibu kota.
"Kakak Lin! Kakak Lin datang!" Ujar seorang anak kecil sambil memeluk pinggang wanita itu, beberapa anak kecil juga mengerumuni wanita cantik itu.
"Kakek ada di kamarnya, sepertinya kakek kurang sehat akhir-akhir ini." Ujar anak bernama Ah Yi itu.
Lin memasuki salah satu rumah kecil reyot yang ada disana.
"Kakek? Kakek ada didalam?" Tanyanya.
"Lin? Apa itu kamu?" Tanya seorang kakek buta bersuara lemah.
"Iya ini aku kakek." Ujar Lin sambil tersenyum.
"Aku pikir kamu sudah lupa dengan kakek tua ini" Ujar kakek itu.
"Tentu saja tidak, saya membawakan kakek beberapa daging, sayur, dan buah-buahan. Saya juga membelikan kakek obat herbal." Ujar Lin.
Kakek itu menggenggam tangan Lin dan tersenyum hangat.
"Nak, kamu benar-benar baik hati. Kamu seharusnya menjadi putri kerajaan daripada seorang dayang rendahan seperti sekarang." Ujar kakek itu.
Lin hanya tersenyum mendengar perkataan kakek itu.
"Kakek tau itu tidak akan terjadi." Ujarnya dengan senyum hangat yang dapat melelehkan hati siapapun.
.
.
.
An Liu Jin tiba di kediaman utama keluarga Marquis Utara.
Akhirnya dia pulang.
Walaupun dia adalah keponakan dari Marquis Utara, tapi dari kecil dia sudah tinggal disini.
Ayah dan ibunya meninggal saat umurnya masih 5 tahun, pamannya membawanya kesini dan merawatnya seperti anaknya sendiri.
Karena dia adalah satu-satunya anak laki-laki yang ada di keluarga Jendral An, jadi dialah yang akan mewarisi semua gelar Jendral besar dan Marquis Utara.
Setibanya disana, An Liu Jin sudah disambut oleh keluarga Marquis Utara.
"Liu'er, selamat datang kembali." Ujar An Zhangye menyambut keponakannya.
"Paman, saya senang telah kembali." Ujar Liu Jin.
...
An Zhangye berbincang-bincang dengan keponakannya di ruang tamu.
"Saya dengar Yanran telah menikah dengan pangeran kedua." Ujar An Liu Jin.
"Yah, begitulah. Walaupun dia menikah dengan cara yang tidak bermoral, namun sekarang dia sudah sah menjadi selir pangeran." Ujar An Zhangye.
"Begitu ya..., Lalu bagaimana kabar An Xie Tian?" Tanya An Liu Jin.
"Dia baik, mungkin kamu mau menemuinya. Dia ada di halamannya sekarang ini, kalian sesama sepupu dulu memiliki hubungan yang sangat baik kan?" Ujar An Zhangye sambil tersenyum.
"Hahaha, saya tidak percaya jika sekarang umurnya sudah 17 tahun." Ujar Liu Jin.
"Umurmu sekarang juga sudah 20 tahun kan? Apakah kamu tidak ada rencana untuk menikah?" Ujar An Zhangye.
"Aku bisa mengatur pertunangan mu dengan gadis yang kamu suka." Ujar An Zhangye.
"Hahaha, saya belum berpikir sampai kesitu, paman." Ujar Liu Jin.
"Tapi, sepertinya saya tertarik dengan seseorang..." Ujar An Liu Jin sambil tersenyum.
An Zhangye yang melihat keponakan laki-lakinya yang sedang tersenyum sekarang tau apa yang dipikirkan olehnya.
'Oh, anak ini sedang jatuh cinta rupanya...'
An Zhangye ikut tersenyum melihat keponakannya.
"Oh, maksud saya..itu..". Ujar An Liu Jin gugup setelah sadar apa yang dia katakan barusan.
"Hahaha, lelaki di usiamu sekarang ini wajar saja jika jatuh cinta. Tenang saja, aku akan mendukung apapun pilihanmu." Ujar An Zhangye.
"Iya paman, terimakasih." Ujar An Liu Jin.
"Apa kamu mau menemui Tian'er sekarang?" Tanya An Zhangye.
"Iya, saya akan menemui sepupu saya sekarang, sampai jumpa paman." Ujar An Liu Jin pamit untuk pergi.
...
An Liu Jin tiba dan melihat sepupunya sedang membaca buku dibawah pohon sakura sambil menyesap teh dan kue kering.
"Oh, sekarang gadis kecil itu telah dewasa dan suka membaca buku sekarang?" Ujar An Liu Jin.
"Oh, Biao ge?" Ujar An Xie Tian.
(Biao ge: sepupu laki-laki.)
"Apa kabar Biao Mei?" Ujar An Liu Jin tersenyum.
(Biao Mei: sepupu perempuan.)
"Oh, ternyata ini benar kamu Biao ge!" Ujar An Xie Tian senang.
"Aku senang karena kamu sudah pulang sekarang!" Ujar An Xie Tian.
"Hahaha, aku juga senang." Ujar An Liu Jin.
"Aku membawakan hadiah untukmu." Ujar An Liu Jin mengeluarkan sesuatu dari kantongnya.
Itu adalah sebuah kotak kecil kayu berukir, sangat cantik.
"Waah, apa ini Biao ge?" Tanya An Xie Tian menerima pemberian An Liu Jin.
Dia membuka dan menemukan sebuah gelang yang dihiasi batu safir berwarna biru.
"Ini adalah gelang yang aku dapatkan sebagai rampasan perang di daerah perbatasan. Gelang ini cukup langka dan tempat pembuatannya hanya di daerah perbatasan saja. Batu safir nya mengandung Qi yang dapat membantu kesehatan, karena itu aku memberikannya padamu." Ujar Liu Jin.
"Waah, ini sangat indah Biao ge. Terimakasih!" Ujar An Xie Tian lalu memakai gelangnya di tangannya.
"Bagaimana, cocok tidak?" Tanyanya.
"Hahaha, iya. Itu terlihat bagus." Ujar An Liu Jin.
"Aku juga punya hadiah untukmu, ada didalam kamarku, masuklah dulu, aku akan ambilkan untukmu." Ujar An Xie Tian.
Saat tiba didalam An Liu Jin mencium aroma yang sangat menenangkan pikirannya.
'Bau apa ini? Nyaman sekali.'
"Ini!" Ujar An Xie Tian menyerahkan sebuah kantongan yang cukup besar.
Saat membukanya, ternyata isinya lilin berwarna coklat.
"Apa ini?" Tanya An Liu Jin melihat salah satu dari lilin itu.
"Itu adalah lilin aroma terapi yang khusus aku buat untukmu. Karena kamu baru dari perjalanan jauh, jadi aku membuatkan ini untukmu, itu bagus untuk menenangkan pikiran." Ujar An Xie Tian.
"Tapi aromanya ini sangat enak, apa ini?" Tanya An Liu Jin.
"Ini aroma kopi." Ujar An Xie Tian.
"Kopi?" Tanya An Liu Jin.
Sebenarnya kopi sangat jarang ditemukan di daratan ini, bahkan mungkin tidak ada yang tau apa itu apalagi membuatnya menjadi minuman.
"Yaah, pokoknya aromanya kuat namun sangat nyaman, karena itu aku memilih aroma ini." Ujar An Xie Tian.
"Yaah, memang sangat enak." Ujar An Liu Jin.
"Oh iya, maaf aku tidak bisa lama-lama. Karena baru kembali dari daerah perbatasan yang cukup jauh, jadi aku agak lelah, aku akan kembali ke halamanku dan beristirahat." Ujar An Liu Jin bangkit dari duduknya.
"Ya tentu. Jangan lupa nyalakan lilin aroma terapi buatan ku agar pikiranmu semakin tenang saat tidur." Ujar An Xie Tian.
"Tentu, terimakasih." Ujar Liu Jin.
"Ya, sama-sama." Ujar An Xie Tian.
An Liu Jin lalu pergi dari sana dan kembali kehalalannya sendiri.
Halamannya ini sudah lama kosong karena dia pergi ke Medan perang, tapi tempat ini tetap dibersihkan setiap hari agar tidak kotor.
Setelah sampai di kamarnya, Liu Jin mengganti pakaiannya dan bersiap untuk tidur.
Dia menyalakan lilin aromaterapi buatan An Xie Tian.
"Yaah, pikiranku menjadi lebih tenang." Ujar An Liu Jin.
Lima tahun di Medan perang tentunya membawa dampak buruk bagi pikirannya.
Apalagi di Medan perang dia banyak kehilangan teman seperjuangan atau bawahan yang setia.
Pikiran An Liu Jin terbang ke wanita yang ditolongnya tadi sore.
"Lin..."
.
.
.
***Jangan lupa vote, coment dan follow aku juga ya... ^~^
.
.
.
Tbc***...