
(Dong Fang Yan POV)
Namaku Dong Fang Yan, pangeran kedua kekaisaran Dongfeng.
Ibuku adalah seorang selir dan naik pangkat setelah melahirkan aku.
Dari kecil aku diajari untuk menjadi anak yang patuh, sama sekali tidak boleh membantah perintah ibu.
Pernah waktu itu diberitakan kalau selir Chu yang juga ibu adik ketiga ku meninggal karena bunuh diri.
Adik ketiga yang masih berumur 3 tahun waktu itu merasa sangat sedih dan terus menangis, aku lalu menghiburnya bersama putra mahkota. Tapi setelah aku pulang ke kediaman ibuku, ibuku malah menamparku.
'Plak!'
"Kamu tidak perlu mengasihani dia. Jika bukan karena ibunya itu, ibumu ini pasti akan mendapatkan cinta kaisar lebih banyak. Jadi jangan pernah merasa kesihan padanya!"
Aku hanya mengangguk patuh saat itu.
Sejak aku berumur 5 tahun, ibuku selalu menyuruhku untuk mendekati permaisuri Zhang dan putra mahkota.
Jadi setiap hari aku akan mengantarkan sup sarang walet untuk permaisuri, setelah itu aku akan bermain bersama putra mahkota, pangeran ketiga, dan putri keempat yang masih kecil.
Lalu saat umurku sekitar 10 tahun, permaisuri Zhang meninggal.
Setelah permaisuri Zhang meninggal, aku merasa sangat sedih. Namun ibuku merasa sangat bahagia.
Dia menamparku jika aku ketahuan menangis untuk permaisuri Zhang atau menemui putra mahkota.
"Mulai sekarang jangan lagi bermain atau berteman bersama putra mahkota atau pangeran ketiga, mengerti? Jangan pernah menemui mereka lagi!"
"Baik ibu." Lagi-lagi aku hanya bisa mengangguk patuh.
Suatu malam aku terbangun, aku mendengar ibu berbicara dengan seorang pria.
"Bagus sekali, racun yang kamu gunakan itu sangat berguna. Racunnya sama sekali tidak terdeteksi bahkan dengan sendok perak sekalipun.", Ujar ibu.
"Aku senang jika kamu senang sayang.", Jawab lelaki itu.
"Akhirnya permaisuri sialan itu mati. Sekarang tinggal menyingkirkan putra mahkota dan pangeran ketiga agar putraku bisa menjadi pewaris tahta.", Ujar ibuku.
Aku sangat terkejut setelah mendengar hal itu, ibuku lah yang meracuni permaisuri Zhang hingga beliau meninggal.
"Benar sekali, tinggal sedikit lagi rencana kita akan berhasil." Ujar pria itu.
"Setelah ini aku akan diangkat menjadi permaisuri, peluang Yan'er untuk naik tahta semakin besar." Ujar ibuku.
"Tak sia-sia aku menyuruh Yan'er untuk mengantar sup racun itu ke permaisuri setiap hari." Sambung ibu lagi.
Aku semakin terkejut. Jadi aku juga menolong ibu untuk meracuni dan membunuh permaisuri? Bagaimana aku bisa menghadapi putra mahkota setelah ini? Dia akan membenciku karena telah membunuh ibunya.
Setelah hari itu, beberapa bulan kemudian ibu diangkat menjadi permaisuri Wang.
Sampai hari ini aku tidak mengetahui siapa pria yang berbicara dengan ibuku malam itu.
Sejak saat itu aku mulai menjauhi putra mahkota dan pangeran ketiga. Rasanya aku tidak sanggup.
Setiap hari ibu selalu mengatakan kalau aku bisa menjadi putra mahkota dan naik tahta jika saja putra mahkota tidak ada.
Sejak saat itu aku mulai merasa iri, dengki dan cemburu yang amat sangat kepada putra mahkota.
Ibu bilang jika aku ingin menjadi seorang kaisar, maka aku harus mempelajari teknik berperang, pintar bermain pedang, pandai bela diri, dan selalu menjadi kebanggaan ayahanda.
Karena itu, aku terus belajar untuk bisa menjadi lebih unggul dari putra mahkota.
Dan benar saja, aku mengikuti perang pertamaku saat umur 16 tahun. Perang itu terjadi di perbatasan wilayah dengan kerajaan jajahan Dongfeng, aku menjadi pimpinan dari perang itu dan membawa kemenangan.
Ayahanda bilang kalau beliau sangat bangga padaku. Sejak saat itu aku mengikuti beberapa perang kecil lainnya di daerah perbatasan dan membawa kemenangan, orang-orang yang mendukung ku menjadi kaisar semakin bertambah banyak.
Namun aku kembali disadarkan.
Hari itu aku pulang lebih awal dari perang di daerah perbatasan Utara, aku berinisiatif pergi ke rapat para anggota parlemen dan kaisar.
Saat itu dari luar ruangan rapat, aku mendengar ada seorang menteri yang menyerahkan petisi agar aku diangkat menjadi putra mahkota dan menurunkan putra mahkota yang sekarang.
"Yang mulia. Menurut saya, pangeran kedua lebih pantas menjadi putra mahkota dibandingkan putra mahkota yang sekarang."
"Itu benar yang mulia, dari kecil fisik putra mahkota sudah lemah berbeda dengan pangeran kedua yang memiliki fisik kuat."
"Pangeran kedua sudah banyak menuai prestasi dalam perang, dia banyak berkontribusi dalam perang-perang kecil di perbatasan. Apalagi alasan yang kurang untuk menjadikannya penerus tahta?"
"Cukup! Zhen sudah banyak mendengar pendapat kalian tentang putra mahkota.
Perang, memang adalah cara yang paling mudah untuk menundukkan lawan. Tapi ada cara yang lebih baik daripada menundukkan lawan, yaitu dengan cara berdamai. Putra mahkota sudah menunjukkan keteguhannya dengan berhasil menandatangani surat perjanjian gencatan senjata antara kekaisaran kita dan kekaisaran Bharat di benua Bharat. Karena perjanjian itu, kekaisaran Dongfeng bisa memperluas jangkauan pasar hingga benua seberang."
"Selain itu, kerugian yang ditimbulkan juga tidak besar dan tidak memakan korban jiwa.", Terang kaisar.
Para menteri yang awalnya menentang tidak bisa berkata-kata lagi dan memilih diam tidak melawan kaisar lagi.
Setelah mendengar rapat pagi itu, aku menjadi semakin membenci putra mahkota.
Aku bertekad untuk mengalahkan putra mahkota dan menjadi lebih unggul darinya.
-----------------
Saat itu umurku 12 tahun, saat ibuku memberitahu kalau dia sudah menunangkan aku dengan seorang putri jendral.
Namanya An Xie Tian.
Aku merasa sangat penasaran dan memutuskan untuk pergi ke rumah Marquis Utara untuk menemuinya.
Saat didepan pintu masuk rumah Marquis Utara, aku dikejutkan dengan seorang gadis kecil yang tiba-tiba saja muncul dan menabrak ku.
Dia terjatuh dan mengaduh kesakitan.
"Kamu tidak apa-apa?", Tanyaku pada gadis kecil itu.
"Emmhh, sakit.", Keluhnya sambil memegangi kakinya.
Rupanya kakinya terluka.
Akupun membantunya berdiri.
Saat dia melihatku dia langsung terkejut dan merapikan pakaian dan rambutnya.
"Saya memberi hormat kepada Huangzi.", Ujarnya sambil membungkuk hormat.
"Eh?", Aku merasa bingung.
"Ma-maafkan saya, saya tadi tidak sengaja menabrak Huangzi.", Ujarnya gugup.
'dia sangat lucu.'
"Ya, tidak apa-apa. Tidak usah dipikirkan.", Ujar ku lalu tersenyum kepadanya.
"Ah, terimakasih Huangzi. Apakah Wangye kesini ingin menemui Jie jie ku?", Tanya gadis kecil itu.
"Jie jie mu? Kamu siapa?", Tanyaku.
"Saya An Yanran, putri kedua Marquis Utara. Salam kenal Huangzi.", Ujarnya sambil tersenyum.
"Ooh, jadi kamu adalah nona kedua Marquis Utara. Iya, aku kesini untuk menemui tunangan ku, An Xie Tian. Bisa kamu mengantarku menemuinya?", Tanyaku.
"Tentu saja Wangye, mari lewat sini.", Ujarnya lalu menuntunku kesebuah tempat sambil tersenyum ceria.
Kami melewati jalan-jalan yang ada di kediaman Marquis Utara. Kediaman Marquis Utara sangat besar dan indah, tidak kalah dengan istana.
Setelah beberapa saat kami berjalan, akhirnya kami sampai disebuah paviliun yang cukup besar yang ada di kediaman Marquis Utara.
"Jie jie, ini aku Yanran. Pangeran datang menemuimu.", Ujar An Yanran.
Setelah dipanggil, terdengar suara keras dari dalam paviliun. Terdengar bunyi beberapa barang yang terjatuh dan langkah kaki yang gusar.
Setelah itu pintu paviliun terbuka dan menampilkan sosok gadis cantik yang menggunakan pakaian yang terlalu norak dan dandanan yang agak menor.
"Saya memberi hormat kepada Huangzi.", Ujar gadis itu sambil membungkuk hormat. Gadis itu tidak bisa menyembunyikan senyumannya dari balik cadar.
Entahlah, dia memang cantik, tapi terlalu berlebihan.
"Ah, iya.", Ujar ku sambil mengangguk.
Kami lalu pergi ke sebuah gazebo yang ada disamping paviliun, gazebo itu berada dekat dengan kolam ikan koi yang dihiasi bunga teratai. Jujur saja, ini sangat indah.
Dari tadi An Yanran masih mengikuti kami dan ikut duduk di gazebo.
Aku melihat kalau An Xie Tian ini melihat An Yanran tidak suka.
"Kamu An Xie Tian?", Tanyaku pada gadis itu.
"Iya Wangye, saya An Xie Tian. Elder Miss di kediaman Marquis Utara.", Ujarnya sambil tersenyum.
"Ah, aku pangeran kedua kekaisaran Dongfeng, Dong Fang Yan.", Ujar ku memperkenalkan diri sebagai formalitas.
"Apakah Wangye suka teh? Saya menyiapkan teh hijau yang diberikan ayah saya untuk hadiah ulangtahun, teh ini berasal dari desa Changzai. Teh ini sangat mahal dan berkualitas.", Ujar An Xie Tian.
Dia lalu menyuruh pelayanannya untuk menuangkan teh.
Pelayanannya lalu menungkan 3 cangkir teh untuk kami.
An Xie Tian melihat cangkir ketiga lalu menaikkan sebelah alisnya.
Dia lalu mengambil cangkir ketiga dan melemparkannya kedalam kolam ikan.
"Yanran, kenapa kamu masih disini? Pulanglah ke tempat ibumu.", Ujar An Xie Tian dengan nada agak kasar.
"An Xie Tian! Tidak seharusnya kamu membentak adikmu.", Ujar ku tidak suka.
"Tidak apa-apa Wangye, saya akan pergi.", Ujar An Yanran terlihat sedih.
"Aku akan pergi bersamamu.", Ujar ku lalu pergi meninggalkan An Xie Tian sendirian di gazebo.
"Wangye? Mengapa anda meninggalkan saya yang tunangan anda ini demi pergi bersama anak selir rendahan itu?", Teriak An Xie Tian dari belakang.
"Nona An Xie Tian, cukup! Anda sudah keterlaluan. Benwang pergi.", Ujar ku tak menghiraukan An Xie Tian yang menangis di belakang.
Aku lalu menarik tangan An Yanran dan menjauh dari situ.
Sejak saat itu aku tidak menyukai tunangan ku itu. Setiap ibu menyuruhku untuk menemuinya, aku hanya akan menjenguknya sebentar untuk bertegur sapa lalu pergi menemui An Yanran.
Setiap ada pesta di istana, An Xie Tian pasti akan pergi menemui dan menggangguku.
Dia akan memarahi siapa saja yang dekat denganku.
Dia juga sering membuat kerusuhan di istana agar bertemu denganku.
Tingkahnya yang kekanak-kanakan itu membuat aku pusing dan semakin tidak menyukainya.
Sampai beberapa tahun kemudian aku mulai menyadari kalau aku menyukai An Yanran.
Akupun menyatakan perasaanku pada An Yanran, dan Yanran juga menerima perasaanku.
Dia bilang kalau dari dulu memang sudah memiliki perasaan terhadapku, namun dia tidak bisa mendekati aku karena kakaknya yang sering memarahinya.
Sejak saat itu aku dan An Yanran menjadi sepasang kekasih tanpa sepengetahuan orang-orang.
...
Hari itu sedang musim dingin dan salju turun di ibukota.
Aku mengajak An Yanran pergi menikmati keindahan danau Jingli yang membeku.
Saat aku sedang berduaan bersama An Yanran, tiba-tiba An Xie Tian datang sambil menangis.
"Kenapa Wangye tega melakukan hal ini kepada saya? Pasti karena si ****** ini yang menggoda Anda, iya kan?", Teriak An Xie Tian marah lalu menampar An Yanran.
"Mengapa kamu menampar An Yanran!", Teriakku marah lalu mendorongnya.
Dia lalu terjatuh ke danau beku, kepalanya terbentur lapisan es yang membeku yang ada di danau.
Aku panik lalu menyelamatkannya dan langsung membawanya ke kediaman Marquis Utara.
Aku memang tidak menyukainya, tapi aku tidak ingin dia mati. Karena ibu bilang dengan bantuan darinya, aku bisa menjadi kaisar.
...
Setelah beberapa minggu mengaalmi koma, An Xie Tian akhirnya kembali bangun.
Aku merasa cukup lega.
Namun setelah itu dia menjadi aneh, dia tidak lagi membuat kerusuhan di istana dan menganggu ku seperti biasanya lagi.
Lalu pada hari ulangtahun ibuku dia menari dan memenangkan kontes yang dibuat Ayahanda kaisar.
Selain hadiah, kaisar bilang akan memajukan tanggal pernikahanku dengan An Xie Tian.
Aku merasa sangat terkejut lalu menghadap kaisar.
"Ayahanda, aku tidak mencintainya. Aku mencintai orang lain.", Ujar ku kepada kaisar.
Tak disangka ternyata An Xie Tian juga malah menolak kaisar. Selain itu dia juga meminta untuk membatalkan pertunangan ku dengannya. Itu aneh, namun aku menerimanya.
Setelah itu hubungan pertunangan kami resmi putus.
...
Setelah pesta hari itu, ibu memanggilku.
Dia memarahi dan menamparku.
Dia bilang kalau aku sudah merusak rencana kami untuk menjadikan aku kaisar. Aku merasa menyesal karena hal itu.
Ibu menyuruhku untuk memperbaiki hubunganku dengan An Xie Tian dan bagaimanapun caranya aku harus berhasil menikah dengan An Xie Tian.
...
Hari itu aku pergi ke paviliun An Xie Tian untuk minta maaf, sekaligus untuk memintanya untuk kembali bertunangan dan menikah denganku.
Entah kenapa, hari itu menurutku An Xie Tian menjadi lebih cantik dan anggun daripada biasanya.
Saat mendengar permintaanku, dia malah menolak dan mengingatkan aku bahwa hubungan kami telah berakhir.
Saat itu An Xie Tian akan jatuh, aku lalu menangkapnya agar dia tidak jatuh.
Jantungku berdetak kencang.
Tapi setelah itu An Yanran datang, dia menjadi salah paham.
An Yanran lalu berlekas pergi dari situ.
An Xie Tian menyuruhku untuk cepat-cepat mengejarnya.
Benar saja, setelah itu aku menemui An Yanran, dan dia sedang menangis karena salah paham.
Aku lalu menjelaskan kejadiannya dan mengapa aku pergi ke paviliun An Xie Tian untuk minta maaf.
Aku juga bilang kepadanya kalau aku perlu An Xie Tian agar aku bisa menjadi kaisar.
Akhirnya An Yanran mengerti dan kami kembali berbaikan.
...
Hari itu adalah hari ulangtahun An Xie Tian, aku juga diundang untuk hadir kesana.
Saat di pertengahan acara pesta, aku dikirimkan segelas teh yang dibawahnya terdapat pesan dari An Yanran.
Dia mau menemuiku di paviliun kosong yang ada di belakang kediaman Marquis Utara.
Saat aku tiba disana, aku melihat An Yanran sedang dalam kondisi yang tidak baik.
Wajahnya merah, dan badannya panas. Dia juga melenguh tak keruan.
Dia melonggarkan pakaiannya dan menyuruhku untuk membantunya.
Sebagai pria normal aku juga termakan suasana.
Saat kami sedang melakukan itu, tiba-tiba saja pintu kamar dibuka dan ada banyak orang yang melihat kami sedang melakukan hal itu.
Setelah hari itu, aku menjadi bahan perbincangan di istana maupun diluar istana.
Akhirnya ibuku menyuruh aku menikahi An Yanran sebagai selir.
Aku ingin menentangnya karena aku sudah berjanji kepada An Yanran untuk menjadikannya permaisuri ku, namun pada akhirnya aku mematuhi perintah ibu.
Aku dan Yanran lalu menikah.
Tak disangka ternyata beberapa minggu kemudian, ibu menyuruhku untuk menikah lagi dengan nona ketiga keluarga Murong.
Pada awalnya aku tidak menyukainya namun aku tetap setuju menikahinya.
Jujur saja, aku tidak pernah melihat nona ketiga Keluarga Murong itu.
Tapi ibu memberitahuku, kalau aku bisa menggunakannya untuk meminjam kekuatan militer jendral besar Murong lalu menyingkirkan putra mahkota dan menjadi kaisar.
Saat malam pertama pernikahan, aku baru melihat wajahnya saat mengangkat tudung merah yang dipakainya.
Awalnya aku ingin memperingatkannya bahwa jangan mengharapkan cinta dariku, karena aku mencintai An Yanran.
Namun aku dibuat tak bisa berkata apa-apa saat melihat wajah cantiknya.
Aku lalu membiarkannya tidur sendiri di ranjang pengantin dan aku tidur di kursi panjang.
Aku merasa bersalah menikahi wanita ini, dia terlihat polos dan tidak tau apa-apa. Namun aku memanfaatkan dia agar aku bisa menjadi kaisar.
Aku orang yang sangat buruk.
.
.
.
Hai guys! sampai sini dulu ceritanya^^
JANGAN LUPA KLIK LIKE DAN KOMEN YAA!!!
JANGAN LUPA FOLLOW AKU JUGA😁
See you on the next chapter, bye-bye 👋
.
.
.
Tbc....
.
.
.
Note: Chapter selanjutnya akan update jika like mencapai 200, terimakasih telah membaca^^