Time Travel: Rebirth Of The Daughter Of The Marquess

Time Travel: Rebirth Of The Daughter Of The Marquess
Ch. 57: Wo ai ni



⚠️ Warning ⚠️


Biasakan untuk selalu memberikan like sebelum membaca.


Terimakasih ^^


*πŸ‘πŸ»


.


πŸ‘πŸ»


.


πŸ‘πŸ»


...🀧Siapkan tissue kalian teman-teman!🀧*...


Ibukota kerajaan, Istana kekaisaran...


"Yang Mulia! Pasukan sudah siap!", Ujar seorang ajudan putra mahkota.


"Bagus, langsung menuju ke daerah perbatasan ibukota!", Perintah Putra mahkota.


.


.


.


"Pasukan tidak dikenal tiba dari arah belakang dan membantu menyingkirkan para musuh Yang Mulia pangeran!", Ujar salah satu prajurit mengabari Dong Fang Yu.


"Apakah itu pasukan kekaisaran?", Tanya Dong Fang Yu.


"Bukan, Yang Mulia.", Jawab si prajurit.


"Lalu siapa?", Tanya Dong Fang Yu bingung.


"Mereka... Dari organisasi pasukan Mawar besi, Pangeran!", Jawab si prajurit lagi.


"Mawar besi?", Dong Fang Yu mengernyitkan dahinya.


"Dan... Satu lagi pangeran."


"Apa?", Ujar Dong Fang Yu lagi.


"Mereka dipimpin oleh seorang wanita."


"Bukankah ketua pasukan Mawar besi memang wanita? Lalu apa masalahnya?", Tanya Dong Fang Yu.


"Itu... Yang memimpin mereka adalah Nona An Xie Tian dari Mansion Jenderal besar An.", Jawab si prajurit.


"Apa!?"


...


An Xie Tian bersama dengan pasukannya langsung menyerang para musuh begitu tiba.


Kedatangan mereka yang tiba-tiba membuat semua orang terkejut.


Tak disangka pasukan bantuan musuh kembali berdatangan.


Bahkan dengan tambahan pasukan bantuan dari An Xie Tian, para prajurit kekaisaran masih kewalahan menghalau para pemberontak.


Dong Fang Yu menaiki kudanya dan turun langsung menuju ke tengah pertempuran.


Dia tergesa-gesa mencari seseorang.


Wanita itu...


'Kenapa dia ada disini...'


Dari arah belakang, seorang prajurit musuh mengarahkan pedangnya langsung kearah Dong Fang Yu.


'Trang!'


Pedang itu ditangkis oleh seseorang.


Dong Fang Yu berbalik dan melihat prajurit musuh itu sudah terjatuh dan tumbang karena seseorang.


"Ada apa denganmu? Fokuslah! Kita sedang ada ditengah perang! Kamu ingin membuat dirimu sendiri terbunuh!?", Teriak An Xie Tian pada Dong Fang Yu.


"Kamu...", Dong Fang Yu menatap An Xie Tian dengan kagum.


"Apa? Cepatlah fokus! Kita harus memukul mundur para pemberontak ini!", Ujar An Xie Tian lalu kembali mengayunkan pedangnya kearah musuh-musuh yang datang menyerang.


Dong Fang Yu kembali fokus dan ikut menyerang.


Seseorang melukai kuda An Xie Tian sehingga membuat kudanya tidak terkendali.


An Xie Tian akan terjatuh dari kuda sampai sepasang tangan hangat melingkar di pinggangnya.


"Hati-hati!", Ujarnya.


Dong Fang Yu menatap mata An Xie Tian yang saat ini terdiam di pelukannya.


"Tampan...", Gumam An Xie Tian ditengah tatapan intens nya dengan Dong Fang Yu.


Dong Fang Yu yang mendengar dengan jelas gumaman An Xie Tian langsung memerah karena malu.


"Ah! Tu-turunkan aku!", Ujar An Xie Tian heboh saat tersadar dari lamunan singkatnya.


An Xie Tian benar-benar malu.


'Astaga, bagaimana bisa aku mengatakan hal itu tepat didepan wajahnya? Uggh, memalukan sekali!'


Dong Fang Yu yang melihat tingkah An Xie Tian tersenyum hangat.


'Dia terlihat sangat imut...'


Mereka berdua kembali fokus saat mendengar ledakan besar.


Telinga mereka terasa berdenging karena dampak ledakan tadi.


"A-apa itu..?", Ujar An Xie Tian sambil memegangi telinganya yang masih berdenging.


"Senjata bubuk hitam...", Ujar Dong Fang Yu sambil menatap kearah para prajurit musuh yang melemparkan bola hitam kerah prajuritnya.


"Semuanya! Hidari bola-bola hitam itu!", Teriak Dong Fang Yu pada seluruh prajuritnya.


Namun sudah terlambat, bola-bola itu meledak didekat para prajurit tanpa memandang buluh.


Mau itu prajurit kekaisaran ataupun sesama prajurit pemberontak, semuanya mati karena ledakan dari bola-bola itu.


"Senjata apa itu? Sangat mengerikan?", Ujar An Xie Tian.


Dia tidak mengira kalau didunia ini akan ada orang yang menciptakan senjata dengan dampak hancur yang besar seperti ranjau atau granat.


"Itu adalah senjata dari luar negeri, ternyata itulah senjata pamungkas yang dikirimkan oleh serikat-serikat para pedagang pada Raja Ming.", Ujar Dong Fang Yu sambil menatap benci.


"Kenapa namanya senjata bubuk hitam?", Tanya An Xie Tian.


Sesungguhnya dia sudah memiliki perkiraan tentang senjata jenis apa yang membuat ledakan seperti itu. Tapi dia memutuskan untuk bertanya agar tidak salah kira.


"Mereka membuat senjata itu dari sejenis bubuk hitam, mereka menyebutnya mesiu.", Jawab Dong Fang Yu.


"Apa! Mesiu?", An Xie Tian terkejut.


Ternyata di dunia ini ada orang yang bisa mengenali bahan peledak seperti mesiu.


Dan sekarang senjata itu digunakan untuk hal yang jahat, ini tidak benar.


"Ah! Aku tau! Kumpulkan prajurit dengan inti energi air. Aku punya ide!", Ujar An Xie Tian.


"Baik.", Ujar Dong Fang Yu.


Dong Fang Yu lalu mengumpulkan prajurit yang memiliki inti energi air sesuai permintaan An Xie Tian.


"Nona An Xie Tian, ide apa yang kamu miliki?", Tanya Dong Fang Yu.


"Seperti yang Wangye katakan, mereka menggunakan bubuk mesiu sebagai senjata.


Mesiu lemah terhadap kelembaban, jika mesiu basah, maka mereka tidak akan bisa meledak dan tidak bisa digunakan.", Ujar An Xie Tian.


"Jadi... Kamu!", Dong Fang Yu menyadari ide brilian An Xie Tian.


An Xie Tian mengangguk sambil tersenyum.


Dong Fang Yu yang melihat senyuman An Xie Tian hanya bisa merona.


...


Setelah mendiskusikan strategi...


"Baiklah! Kalian semua sudah mendengar strategi nya, sekarang lakukan!", Perintah Dong Fang Yu.


"Baik Pangeran!", Jawab para prajurit lalu keluar dari kamp militer.


Dong Fang Yu dan An Xie Tian keluar dari kamp bersama.


"Apa yang kamu lakukan disini?", Tanya Dong Fang Yu tiba-tiba.


"Saya datang hanya sebagai rakyat Dongfeng yang mencintai tanah airnya.", Jawab An Xie Tian sambil tersenyum.


"Jadi... Master Aris ya?", Ujar Dong Fang Yu lalu menatap An Xie Tian.


"Hahaha, benar.", Ujar An Xie Tian lalu mengangguk.


"Aku tidak memperkirakan hal itu. Aku kira kamu hanya nona bangsawan biasa. Ternyata kamu adalah Master Aris dan juga calon pewaris sekte awan petir, jujur aku terkejut.", Ujar Dong Fang Yu sambil tersenyum kecil.


"Oh, Wangye tidak berbicara Formal lagi pada saya!?", Ujar An Xie Tian menyadari perubahan Dong Fang Yu.


"Haruskah kamu memikirkan hal itu sekarang?", Ujar Dong Fang Yu lalu tersenyum.


"Hahaha, tidak. Saya hanya terkejut, biasanya Wangye akan bersikap kaku dan berbicara dengan gaya formal. Tapi, itu perubahan yang bagus. Wangye terlihat lebih hidup.", Ujar An Xie Tian lalu tersenyum manis.


'Taukah kamu..., kamulah yang membuatku merasa hidup...'


Dong Fang Yu hanya tersenyum.


...


Kali ini serangan mereka telah dihadang oleh para prajurit kekaisaran dengan inti energi air.


"Sial! Mereka menyadari kelemahan senjata bubuk hitam! Mundur!", Teriak salah satu pemimpin pemberontak.


"Jangan diam saja! Kejar mereka!", Teriak salah satu pemimpin prajurit kekaisaran.


Mereka saling menyerang.


Tapi kali ini tanpa ledakan dari senjata bubuk hitam.


Pasukan kekaisaran hampir berhasil!


Namun keadaan kembali berubah saat sekumpulan prajurit tiba-tiba muncul dari arah bukit.


Mereka bersiap untuk menembakkan hujan panah.


Dong Fang Yu dan An Xie Tian yang menyadari hal itu langsung berteriak secara bersamaan.


"Mundur! Para prajurit pemberontak akan menembakkan hujan panah!"


An Xie Tian menyadari bahwa didekatnya tidak ada tempat berlindung.


'Apakah ini akhir dari diriku lagi?'


An Xie Tian meringkuk kedalam tubuhnya.


Dia takut menghadapi kematian untuk yang kedua kalinya.


"Kumohon, lakukanlah dengan cepat...", Gumam An Xie Tian.


Dong Fang Yu menyadari hal itu langsung mengeluarkan dinding es dari tangannya menuju kearah An Xie Tian.


Dinding itu bisa melindungi An Xie Tian, tapi dia tau, kalau tidak ada yang melindunginya...


Hujan panah itu menembus tubuh para prajurit yang tidak berhasil berlindung.


Setelah beberapa menit, hujan panah akhirnya berhenti...


An Xie Tian membuka matanya.


Baiklah, ini aneh. Dia tidak merasa sakit sedikitpun padahal dia yakin kalau ada ratusan anak panah sudah menuju dirinya tadi.


An Xie Tian merasakan Deja vu atas peristiwa ini.


'Tidak... Ini tidak mungkin...'


An Xie Tian mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru hanya untuk menemukan tubuh para prajurit yang tergeletak mati ditanah dan bau anyir darah mengelilingi area disekitarnya.


Saat berbalik dia menemukan dinding es berdiri kokoh tepat dibelakangnya.


An Xie Tian mulai menangis.


"Tidak... Tidak... Tidak!", Teriak An Xie Tian saat melihat sosok penuh darah yang berjarak beberapa meter darinya.


Sosok itu tengah berlutut ditanah dengan beberapa anak panah menancap di tubuhnya.


Pakaiannya robek dan ternoda, cairan merah menetes dari sudut bibirnya, dan rambut peraknya bergerak-gerak tertiup angin.


Dong Fang Yu menatap An Xie Tian sendu.


Dia lalu tersenyum padanya.


"Wo... ai.. ni..."


(Wo ai ni/ ζˆ‘ζ„›δ½ : Aku mencintaimu)


Walaupun An Xie Tian tidak mendengar suara Dong Fang Yu yang kecil, tapi dia tau apa yang dikatakannya.


"Fang Yu!", Teriak An Xie Tian lalu berlari kearah pria itu.


An Xie Tian memeluk tubuh Dong Fang Yu lalu membawa kepalanya untuk berbaring.


"Fang Yu...", An Xie Tian menangis.


"Ja-jangan menangis... Kumohon. Aku tidak tahan... Melihat air matamu...", Ujar Dong Fang Yu lalu mengusap wajah An Xie Tian.


"Bodoh! Apa yang kamu lakukan? Kenapa kamu melakukan itu? Harusnya kamu melindungi dirimu sendiri dengan dinding es itu, kenapa... Kenapa kamu malah...", An Xie Tian mulai histeris.


"Haruskah kamu bertanya lagi? Bukankah...sudah jelas? Karena... Aku mencintaimu...", Ujar Dong Fang Yu sambil tersenyum lemah.


An Xie Tian menangis semakin kencang.


"Bodoh! Bodoh! Bodoh!", Teriak An Xie Tian.


"Xie Tian... Tiuplah ini untukku...", Ujar Dong Fang Yu lalu mengeluarkan peluit giok dari kantongnya.


"Apa ini?", Tanya An Xie Tian.


"Ini untuk memanggil tentara bulan sabit. Dengan ini... Kita bisa... Memenangkan peperangan ini...", Ujar Dong Fang Yu.


Dia tidak bisa berbicara dengan lancar.


Tidak, tubuhnya terlalu sakit untuk itu.


"Kenapa kamu tidak mengeluarkan ini dari tadi!?", Ujar An Xie Tian terkejut.


"Kesempatan nya hanya sekali. Karena...tadi tidak ada yang aku lindungi sepenuh hati. Sekarang... Ada kamu, walaupun aku pergi... Setidaknya kamu aman...", Ujar Dong Fang Yu sambil tersenyum.


"Bodoh! Kenapa mengatakan hal sial seperti itu!? Kamu akan hidup! Kamu akan kembali ke Dongfeng dan tetap hidup! Lalu... Lalu...


Aku... Kita...", An Xie Tian tidak bisa menyelesaikan perkataannya karena tangisannya kembali pecah.


"Xie Tian, tiuplah sekarang.", Ujar Dong Fang Yu.


An Xie Tian lalu meniup peluit itu.


Tidak lama kemudian prajurit dengan pakaian serba putih muncul dan mulai mengalahkan seluruh pasukan pemberontak.


Para prajurit kekaisaran yang tersisa bersorak senang.


Mereka berhasil!


Peperangan ini dimenangkan oleh mereka!


Para pemberontak berhasil dibasmi.


An Xie Tian tersenyum senang, mereka berhasil.


"Fang Yu, lihat... Kita berhasil.", Ujar An Xie Tian sambil mengusap pipi Dong Fang Yu, matanya sudah tertutup.


Namun Dong Fang Yu tidak merespon.


"Fang Yu? Lihat.. kita berhasil... Bukankah kamu senang?", Ujar An Xie Tian.


Dia sadar kalau tubuh Dong Fang Yu mulai dingin.


"Fang Yu? Fang Yu? Buka matamu. Fang Yu... Fang Yu... Wo... Wo ai ni... Ka-karena itu... Bukalah matamu, kumohon...", Bisik An Xie Tian di telinga Dong Fang Yu sambil menangis.


Dia tidak bisa menahan kesedihannya.


Dia masih menangis sambil memeluk tubuh Dong Fang Yu yang tak sadarkan diri.


Nafasnya sangat lemah.


"Kenapa seperti ini? Kenapa? Ini semua salahku... Cintaku yang melukainya.


Aku... Cintaku adalah kutukan..."


.


.


.


"***Hai guys! Apa kabar nih? Semoga baik dan sehat selalu ya^^"


"Kenapa aku update lagi hari ini? Well...


Aku yakin kalian merasa chapter sebelumnya menggantung, jadi aku sengaja update lagi biar hati kalian tenang, atau malah enggak?


Tapi ya, aku update karena aku tau digantungin itu rasanya gak enak T~T"


"Gimana chapter hari ini?


Seru? Senang? Sedih? Bagikan pendapat kalian di kolom komentarπŸ‘‡πŸΌ"


.


.


.


Jangan lupa klik


Like πŸ‘πŸ»


Berikan komentar πŸ’¬


Tambahkan favorit +❀️


Dan jangan lupa rate 5 bintangnya ya ⭐⭐⭐⭐⭐


Sampai sini dulu chapter hari, sampai jumpa di chapter selanjutnya, bye-bye πŸ‘‹πŸ»


(Note: "Maaf chapter hari ini agak pendek:')"


.


.


.


Tbc***...