
β οΈWarning!β οΈ
(Biasakan beri like sebelum membaca)
π
π
π
Tandu berhenti di depan gerbang kediaman pangeran kedua.
An Xie Tian turun dari tandu dibantu seorang pelayan.
Di depan gerbang sudah ada seorang pelayan tua menyambut kedatangannya.
"Salam nona, saya adalah bibi Liu. Saya akan mengantarkan anda ke ruangan putri." Ujar pelayan tua itu hormat.
"Baik, pimpin jalan." , Ujar An Xie Tian.
Pelayan itu mengantarkan An Xie Tian ke ruangan Murong Qiuyue yang sekarang adalah istri pangeran kedua.
Siapa yang tau bahwa di tengah perjalanan dia bertemu adiknya, An Yanran.
"Salam saya kepada selir.", Ujar pelayan tua itu menunduk hormat pada An Yanran.
"*Jie jie? Kamu disini? Apa yang kamu lakukan disini? Apa kamu kesini untuk menemui ku? Kenapa tidak memberikan kabar terlebih dahulu?", Ujar An Yanran ramah sambil tersenyum palsu.
(*Jie jie: kakak perempuan.)
"Ah, tidak. Aku kesini untuk bertemu dengan putri, dia adalah temanku. Aku kesini untuk mengunjunginya.", Ujar An Xie Tian tak kalah ramah dan senyumnya tak kalah palsu.
"Oh, begitu? Kukira jie jie kemari untuk menemuiku karena merindukanku.", Ujar An Yanran berpura-pura sedih.
"Aku akan menemuimu lain kali, jadi tunggu saja.", Ujar An Xie Tian sambil tersenyum manis.
Entah kenapa saat melihat senyuman manis An Xie Tian, An Yanran merasa merinding dan takut.
"Ba-baiklah jie jie, aku akan menunggumu.", Ujar An Yanran sambil tersenyum canggung.
"Kalau begitu aku pergi dulu, sampai jumpa.", Ujar An Xie Tian.
"Oh, maaf aku menghalangi jalan Jie jie ya.", Ujar An Yanran sambil tersenyum canggung lalu menyingkir dari jalan.
An Yanran lalu pergi menjauh dari jalan An Xie Tian.
An Xie Tian lalu melewatinya dan melanjutkan perjalanannya.
An Yanran berbalik kebelakang sambil melihat punggung kakaknya yang berjalan menjauh darinya.
'Heh, sombong sekali dia. Lihat saja, kamu dan juga putri sialan itu akan aku singkirkan.'
An Yanran lalu kembali berbalik dan pergi menjauh.
...
An Xie Tian sampai ke ruangan milik Murong Qiuyue.
"Jie jie, kamu sudah sampai. Aku senang sekali saat menerima surat darimu yang mengatakan kamu akan berkunjung!", Sambut Qiuyue senang saat melihat An Xie Tian.
"Salam kepada Putri.", Ujar An Xie Tian sambil menunduk hormat.
"Jie jie! Apa yang kamu lakukan! Ayo bangun,kenapa memperlakukan aku seperti orang asing.", Ujar Qiuyue lalu menarik bahu An Xie Tian agar tegap kembali.
"Saya tidak berani yang mulia.", Ujar An Xie Tian masih menundukkan kepalanya.
"Jie jie! Jangan main-main.", Ujar Murong Qiuyue cemberut.
"Hahahaha, baiklah baiklah! Aku tidak akan menggodamu lagi.", Ujar An Xie Tian sambil tertawa.
"Jie jie! Ternyata kamu sedang menggodaku! Aku tidak suka!", Ujar Murong Qiuyue cemberut manja.
"Qiuyue...", An Xie Tian memperhatikan Murong Qiuyue sambil tersenyum.
Mereka lalu berpelukan.
"Ayo jie jie, kita masuk. Aku sudah menyiapkan teh dan juga cemilan." ,Ujar Qiuyue lalu menarik tangan An Xie Tian masuk kedalam ruangan miliknya.
An Xie Tian dan Murong Qiuyue lalu duduk di kursi santai sambil menyesap teh dan makan cemilan.
"Jie jie?", Panggil Qiuyue.
"Ya, ada apa?", Tanya An Xie Tian.
"Bukankah kamu dulu adalah tunangan pangeran kedua?", Tanya Qiuyue canggung.
"Pft! Apa?", An Xie Tian terkejut sampai dia hampir memuncratkan teh yang ada dalam mulutnya.
"Ma-maksudku, apa kamu tidak apa-apa dengan pernikahanku?", Tanya Qiuyue lagi.
"Apa? Hahahaha, tentu saja tidak apa-apa. Lagipula pertunangan kami sudah dibatalkan waktu itu, apa lagi yang kamu pikirkan.", Ujar An Xie sambil tersenyum.
"Be-begitu ya..., Ehm.. lalu kenapa jie jie tiba-tiba mau menemuiku hari ini?", Tanya Qiuyue.
"Yah, aku hanya merindukanmu. Dan...ada sesuatu yang ingin aku katakan padamu.", Ujar An Xie Tian.
"Eh? Apa itu jie jie?", Tanya Qiuyue.
"Aku kesini untuk memberikan tips padamu!", Ujar An Xie Tian.
"Tips? Apa itu?", Tanya Qiuyue bingung.
"Hahahaha, pokoknya aku akan memberikan kamu cara untuk mendapatkan hati pangeran seutuhnya!", Ujar An Xie Tian sambil tersenyum bangga.
"Hah? Cara untuk mendapatkan hati pangeran?", Ujar Qiuyue bingung, pipinya merah karena malu.
"Ouuu, kamu malu ya? Hahahaha, tak usah malu Qiuyue. Lagipula sekarang pangeran adalah suamimu, kamu harus mendapatkan dia seutuhnya!", Ujar An Xie Tian.
"Apa maksudmu jie jie?", Ujar Qiuyue sambil mengernyitkan dahinya tak suka.
"Eh? Yah, kau tau..., Pangeran memiliki selir bukan? Kamu jangan mau kalah dengan selirnya, kamu harus mendapatkan hati pangeran sepenuhnya agar bisa mengalahkan para selir itu.", Ujar An Xie Tian.
"Jie jie, aku tau An Yanran adalah adikmu dan juga selir pangeran. Apakah maksudmu aku bisa disingkirkan olehnya karena aku tidak cukup menarik bagi pangeran daripada An Yanran?", Ujar Qiuyue marah.
"Apa? Hey, Qiuyue, aku..aku kesini untukmu. Aku tidak bermaksud begitu.", Ujar An Xie Tian canggung.
"Tidak! Aku tau apa maksudmu sebenarnya jie jie. Kamu pasti merendahkan aku dan mengira aku tidak cukup baik untuk pangeran bukan? Menurutmu kamu yang lebih pantas menjadi putri daripada aku, iya kan?", Ujar Qiuyue marah.
"Apa? Tidak, bukan begitu Qiuyue, aku..aku..."
"Aku tau kamu cemburu kan? Sebenarnya kamu masih memiliki perasaan pada pangeran, karena itu kamu mau mempengaruhi aku. Iya kan!" Teriak Qiuyue marah.
"Ti..tidak Qiuyue, kamu salah paham.", Ujar An Xie Tian bingung.
"Qiuyue, aku tidak seperti itu. Kamu salah paham, kenapa kamu jadi berpikir seperti itu sih?", Ujar An Xie Tian bingung dengan tingkah Qiuyue yang tidak seperti biasanya.
"Sudahlah jie jie! Kamu pergi saja!", Bentak Murong Qiuyue.
"Wangfei!" Teriak seseorang dari arah pintu.
Itu adalah pangeran kedua, Dong Fang Yan.
"Wang..Wangye?", Ujar Qiuyue terkejut.
"Kenapa kamu membentak An Xie Tian?", Tanya Dong Fang Yan.
"Apa? Ti..tidak, bukan begitu. Dia mencoba mempengaruhi aku..." Ujar Qiuyue bingung.
"Aku tidak begitu!", Sahut An Xie Tian marah.
"Bohong! Kamu kesini untuk mempengaruhi aku dan menggoda pangeran, iya kan?", Ujar Qiuyue lagi.
"Apa? Tidak! Bukan begitu. Aku kesini hanya untuk menemuimu dan memberikan sedikit saran untuk kebahagiaan pernikahanmu Qiuyue.", Ujar An Xie Tian mencoba menjelaskan.
"Apa yang bisa diberikan gadis yang belum menikah tentang saran pernikahan? Kamu bahkan belum menikah, bagaimana bisa kamu memberikan saran pernikahan kepadaku?", Ujar Qiuyue.
"Sudah hentikan!", Ujar Dong Fang Yan mencoba menghalat.
"Hei! Apa maksudmu!?", Ujar An Xie Tian.
"Heh, aku tau. Kamu pasti sering menggoda laki-laki, karena itu kamu memiliki banyak trik didalam lengan bajumu.", Ujar Qiuyue.
"Apa kamu bilang!", Teriak An Xie Tian.
"Sudah cukup! Hentikan! Kalian berdua!", Teriak Dong Fang Yan marah.
Suasana langsung hening.
"Wangfei, tenangkan dirimu. Dan nona An, silahkan, saya akan mengantarkan anda sampai tandu.", Ujar Dong Fang Yan.
An Xie Tian lalu pergi mengikuti Dong Fang Yan.
Qiuyue yang melihat hal itu semakin bertambah marah.
"Benar apa yang dikatakan ibu. Jie jie ternyata tidak sebaik itu...", Ujar Qiuyue.
Air mata lalu menetes dari pelupuk matanya.
...
Beberapa jam yang lalu, kediaman pangeran kedua...
"Ibu, selamat datang!", Ujar Qiuyue menyambut nyonya Murong.
"Yue-er, ibu merindukanmu nak.", Ujar nyonya Murong lalu memeluk Qiuyue.
"Aku juga merindukan ibu...", Ujar Qiuyue dalam pelukan ibunya.
Mereka lalu duduk di kursi santai.
"Yue-er, sekarang kamu sudah menikah. Kamu sudah menjadi putri dan istri pangeran, ibu bangga padamu.", Ujar nyonya Murong sambil tersenyum lembut.
"Ibu...", Qiuyue yang tersentuh lalu tersenyum.
"Tapi nak, kamu tau kan? Pangeran memiliki selir yang juga adalah nona kedua keluarga An. Ibu dengar dia dan pangeran saling mencintai, namun karena dia kelahiran selir, karena itu permaisuri Wang tidak mau menjadikannya putri. Hah...", Nyonya Murong berbicara lalu menghela nafas.
"Ibu, apa maksudnya menceritakan ini padaku?", Tanya Qiuyue.
"Yue-er, kamu tau kan? Kalau An Xie Tian yang juga adalah kakak selir An dulunya adalah tunangan pangeran?", Ujar nyonya Murong.
"Iya, aku tau ibu.", Ujar Qiuyue sambil mengangguk.
"Ibu dengar, dulu An Xie Tian sangat menginginkan menjadi istri pangeran. Dia juga sangat mencintai pangeran. Ibu tidak tau bagaimana dia sekarang, tapi berhati-hatilah padanya Qiuyue.", Ujar nyonya Murong.
"Ibu, nona An Xie Tian bukan orang yang seperti itu. Aku tau bagaimana dia.", Ujar Qiuyue sambil tersenyum.
"Nak, kamu terlalu polos. Ibu dengar kalau kamu berteman sangat dekat dengannya, benar begitu?", Tanya nyonya Murong.
"Benar ibu.", Ujar Qiuyue sambil tersenyum.
"Nak, kamu harus berhati-hati padanya. Kita tidak mengetahui isi hati seseorang. Karena itu jangan menjadi orang yang terlalu baik dan polos. Pangeran adalah suamimu, kamu harus menjaganya. Ibu takut kamu akan tersakiti oleh teman baikmu sendiri nantinya.", Ujar nyonya Murong.
"Ibu, tak perlu khawatir. Nona An tidak akan melakukan itu.", Ujar Qiuyue.
Walaupun dia mengatakan itu, Qiuyue merasakan keraguan dalam hatinya.
"Baiklah Yue-er, terserah padamu. Ibu hanya memperingatkan kamu untuk selalu berhati-hati padanya dan juga selir An. Ibu tidak mau kamu tersakiti." Ujar nyonya Murong lalu membelai pipi putrinya.
"Baiklah ibu, tidak perlu khawatir.", Ujar Qiuyue sambil tersenyum.
"Baiklah, tidak baik jika ibu terlalu lama disini. Ibu akan pergi, jaga dirimu Yue-er." Ujar nyonya Murong pamit.
"Baik ibu, berhati-hatilah di jalan.", Ujar Qiuyue sambil tersenyum.
...
Sementara itu...
"Tidak perlu mengantarkan saya, yang mulia. Saya bisa pergi sandiri." ,Ujar An Xie Tian.
"Tidak apa-apa, lagipula Ben Wang hanya akan mengantarmu sampai tandu.", Ujar pangeran kedua.
"Baiklah kalau Wangye tidak keberatan.", Ujar An Xie Tian menerima.
Akan tak sopan jika An Xie Tian menolak tawaran pangeran.
Mereka lalu sampai di depan gerbang kediaman, dan tandu sudah menunggu disana.
"Saya pamit undur diri, Wangye.", Ujar An Xie Tian pamit lalu masuk kedalam tandu setelah pangeran kedua mengangguk tanda mengizinkan.
An Xie Tian pergi dan pulang menuju kediamannya.
Di dalam tandu, An Xie Tian benar-benar marah besar. Namun dia menghela nafas dan membiarkannya saja.
"Qiuyue hanya salah paham saja, aku akan menyelesaikan masalah ini nanti...", Ujar An Xie Tian lalu menghela nafas.
.
.
.
***Tbc...
Update selanjutnya besok***...