
⚠️ Warning ⚠️
Biasakan untuk selalu memberikan like sebelum membaca!!!
Terimakasih^^
👍🏼
.
👍🏼
.
👍🏼
Istana kekaisaran Dongfeng...
An Liu Jin dan Dong Fang Lin turun dari kereta kuda saat sudah sampai di Istana.
Mereka akan menemui Kaisar dan permaisuri untuk memberikan salam.
Sesampainya di istana utama atau kediaman kaisar, Kasim mengumumkan kedatangan mereka berdua kepada kaisar dan permaisuri yang ada didalam.
"Yang mulia! Putri keempat dan pangeran pendamping An Liu Jin telah tiba!"
"Biarkan mereka masuk.", Ujar kaisar Ye senang.
Dong Fang Lin dan An Liu Jin masuk kedalam ruangan.
Disana sudah ada kaisar dan permaisuri, putra mahkota dan putri mahkota, pangeran kedua dengan Qiuyue dan An Yanran, dan juga pangeran ketiga yang kembali mengenakan topeng peraknya.
"Salam kepada ayahanda kaisar dan permaisuri.", Ujar Dong Fang Lin lalu berlutut dan diikuti oleh An Liu Jin.
"Sudahlah, lupakan formalitas. Duduklah.", Ujar kaisar.
"Terimakasih Yang Mulia.", Ujar Dong Fang Lin dan An Liu Jin bersamaan.
Mereka lalu duduk di tempat yang sudah disediakan.
"Lin-er, bagaimana kabarmu?", Tanya permaisuri pada Putri keempat.
"Saya baik-baik saja berkat anda permaisuri.", Jawab Dong Fang Lin.
"Baguslah, aku senang mendengarnya.", Ujar permaisuri Wang.
'Cih, lihatlah dia. Dia pikir jika sudah keluar dari istana maka dia sudah bebas? Lihat saja nanti...'
"Liu Jin, apakah Lin-er memperlakukan kamu dengan baik?", Tanya kaisar pada An Liu Jin.
"Y-ya, Yang Mulia. Putri sangat baik.", Ujar An Liu Jin sambil merasa agak gugup dan bingung.
Masalahnya pertanyaan kaisar biasanya ditanyakan pada perempuan, dan kaisar bertanya hal itu padanya.
"Hahahaha, bagus baguslah. Aku berharap kalian pasangan suami istri bisa hidup bahagia bersama-sama.", Ujar kaisar Ye.
"Terimakasih Yang Mulia.", Jawab mereka berdua bersamaan.
"Ehem, kapan kalian berencana untuk memberikan aku cucu?", Tanya kaisar.
Pertanyaan kaisar membuat An Liu Jin dan Dong Fang Lin terbelalak kaget.
Wajah mereka langsung berubah merah padam karena malu.
"A-ayahanda!", Ujar Dong Fang Lin tidak suka.
"Hahahaha...", Semua orang yang ada di ruangan tertawa karena melihat ekspresi lucu Dong Fang Lin dan An Liu Jin.
"Adik keempat, kamu ingin apa untuk hadiah pernikahanmu?", Tanya putri mahkota lembut.
"Aku belum ingin apa-apa kakak ipar.", Jawab Dong Fang Lin sambil tersenyum.
"Adikku tidak ingin hadiah? Bukankah dulu kamu selalu merengek meminta hadiah padaku atau kakak ipar mu?", Ujar putra mahkota.
"Kakak tertua! Ayahanda, kakak tertua menggangguku...", Ujar Dong Fang Lin sambil merengek.
"Jin-er, Lin-er. Sudah sudah, jangan bertengkar.", Ujar kaisar Ye sambil tersenyum.
Hatinya merasa hangat dengan kebersamaan yang dia dapat sekarang ini, karena kebersamaan seperti ini sangat jarang ada.
"Eh, kakak ketiga. Kemarin saat di pesta aku melihat kakak ketiga tidak memakai topeng. Sangat tampan! Kenapa juga kakak selalu memakai topeng itu?", Tanya Dong Fang Lin.
"Uhuk uhuk! A-aku hanya ingin memakainya saja.", Jawab Dong Fang Yu singkat.
"Aiaaa, kakak ketiga selalu seperti itu. Selalu saja menjawab singkat.", Ujar Dong Fang Lin sambil cemberut.
"Kakak ketiga, kakak tidak ada niatan untuk mencari istri?", Tanya Dong Fang Lin lagi.
Semua orang tiba-tiba tertarik dengan topik ini.
Masalahnya selama ini, Dong Fang Yu tidak pernah dikabarkan dekat dengan wanita manapun. Dia bahkan jarang sekali terlihat.
"A-aku...", Dong Fang Yu bingung ingin menjawab apa.
Masalahnya adalah, dia memang ingin melamar seorang istri yaitu An Xie Tian. Namun situasi tidak memungkinkan sekarang.
"Yu-er, apakah ada seorang wanita yang kamu sukai? Kamu bisa mengatakannya pada Ayahanda, Ayahanda bisa menikahkan kalian berdua.", Ujar kaisar Ye sambil tersenyum hangat.
Ekspresi Dong Fang Yu berubah dingin.
"Tidak perlu.", Ujarnya.
"Saya ada suatu urusan, saya harus undur diri dulu.", Ujar Dong Fang Yu dengan nada dingin.
"Ah, be-begitu ya. Baiklah, kamu boleh pergi.", Ujar kaisar Ye mengangguk.
"Saya permisi.", Ujar Dong Fang Yu bangkit dari tempat duduknya, membungkuk hormat pada kaisar dan permaisuri lalu pergi dari ruangan itu.
'Sepertinya Fang Yu masih belum memaafkan aku atas apa yang terjadi pada ibunya...'
Situasi didalam ruangan berubah dingin dan canggung setelah Dong Fang Yu pergi.
Acara memberikan salam berlalu begitu saja.
"Ayah, kami akan kembali ke kediaman saya untuk mengambil beberapa barang dan memilih dayang pribadi. Kalau begitu saya permisi dulu.", Ujar Dong Fang Lin pamit kepada kaisar.
"Baik, pergilah.", Ujar kaisar.
Setelah Dong Fang Lin dan An Liu Jin pergi, semua orang yang ada disana juga pamit undur diri.
Akhirnya kaisar kembali sendirian.
Dia memutuskan kembali ke ruang kerja untuk mengurus permasalahan negara.
...
Kediaman putri, paviliun mawar...
Seperti namanya, paviliun milik putri ditumbuhi banyak sekali bunga-bunga mawar yang beragam jenisnya.
Mawar disini memiliki kualitas yang sangat bagus karena bibitnya berasal dari upeti dari kerajaan atau kekaisaran lainnya.
Dong Fang Lin dan An Liu Jin berjalan berdampingan sambil menikmati pemandangan bunga-bunga mawar yang bermekaran.
"Bagaimana perasaanmu?", Tanya putri Lin.
" Saya baik.", Ujar An Liu Jin sambil tersenyum.
"Baguslah...", Ujar Dong Fang Lin.
Mereka berjalan dengan diam tanpa perbincangan.
Akhirnya mereka sampai ke kamar sang putri.
"Aku akan mengambil beberapa barang dan memilih dayang. Kamu mau ikut dan menunggu didalam atau kamu ingin jalan-jalan disekitar sini?", Tanya putri Lin.
"Saya akan jalan-jalan saja.", Ujar An Liu Jin sambil tersenyum.
"Baiklah.", Ujar Dong Fang Lin balik tersenyum.
Mereka lalu berjalan terpisah.
Sementara sang putri mengambil beberapa barang dan memilih dayang, An Liu Jin memilih jalan-jalan sambil menikmati pemandangan bunga-bunga mawar yang ada di paviliun mawar ini.
Saat berjalan cukup lama, An Liu Jin berpapasan dengan seorang dayang wanita dari kediaman putri.
"Eh, bukankah kamu Lin?", Tanya An Liu Jin pada gadis dayang itu.
"Ah, iya tuan.", Ujar Lin sambil tersenyum.
"Kebetulan sekali. Apakah kamu salah satu dayang yang akan dibawa sang putri untuk menjadi dayang pribadi?", Tanya An Liu Jin.
"Sepertinya tidak, putri mungkin tidak memilih saya.", Ujar Lin.
"Ooh, begitu ya.", Ujar An Liu Jin sambil mengangguk.
"Kalau begitu saya kembali dulu, saya permisi.", Ujar Lin lalu berjalan pergi, tidak sengaja kakinya terinjak batu dan terjatuh.
An Liu Jin yang melihat hal itu langsung melingkarkan tangannya di pinggang Lin agar wanita itu tidak jatuh.
'deg deg, deg deg, deg deg...'
"Kamu tidak apa-apa?", Tanya An Liu Jin lalu menarik Lin ke posisi berdiri.
"Saya tidak apa-apa, terimakasih sudah menolong saya.", Ujar Lin.
"Liu Jin? Kamu bicara dengan siapa?", Tanya Dong Fang Lin dari belakang.
"Ah, apa anda sudah selesai?", Tany An Liu Jin.
"Ya, aku sudah selesai. Eh, ini Xiao Lin? Aku mencarimu kemana-mana tadi. Ayo, kemasi barang-barang mu, kamu akan ikut denganku dan menjadi dayang pribadi.", Ujar putri sambil tersenyum.
"Anda memilih saya?", Ujar Xiao Lin terkejut.
"Iya, ayo cepatlah.", Ujar Dong Fang Lin.
"Baik putri. Saya permisi dulu tuan.", Ujar Xiao Lin lalu pergi.
"Kamu kenal dengan Lin?", Tanya Putri pada An Liu Jin.
"Ah, kami hanya kebetulan pernah bertemu beberapa kali.", Jawab An Liu Jin.
"Begitu ya, baiklah. Ayo kita bersiap, setelah ini kita akan kembali.", Ujar Dong Fang Lin.
'Aku melihat mereka bertatapan tadi, tatapannya terlihat sangat hangat. Apakah Liu Jin memiliki perasaan pada Xiao Lin?', Ujar putri keempat dalam hati.
"Baik putri.", Ujar An Liu Jin.
Setelah itu mereka kembali ke kereta kuda dan menuju kediaman Marquis.
Beberapa dayang yang sudah dipilih oleh putri menaiki kereta kuda yang lain dan mengikuti di belakang kereta kuda sang putri.
Setelah beberapa saat, merekapun sampai di kediaman Marquis Utara.
An Liu Jin dan Dong Fang Lin lalu kembali ke paviliun wisteria.
Di paviliun wisteria sudah disediakan kamar khusus untuk para pelayan.
Wan-er dan Xiao Lin adalah dayang yang dipilih oleh putri keempat menjadi dayang pribadinya.
"Wan-er, Xiao Lin. Seterusnya kalian akan tinggal disini, layani aku dengan baik ya.", Ujar putri keempat sambil tersenyum.
"Baik tuan putri.", Jawab kedua dayang pribadinya.
Setelah menunjukkan kamar untuk dayang pribadinya, putri keempat kembali ke kamarnya.
Putri Lin membuka cadarnya dan membasuh wajah dan kakinya dengan air bersih.
Seharusnya itu adalah pekerjaan pelayan, tapi Fang Lin lebih suka melakukannya sendiri.
Sedari kecil dia tidak terlalu suka dilayani oleh para pelayan, dia merasa tidak nyaman. Namun karena dirinya adalah sang putri, dia tidak dapat menolaknya.
"Dulu Ibunda mengajariku sebagai seorang putri untuk selalu rendah hati, tidak sombong, ramah dan anggun. Nyaman atau tidak, seorang putri harus selalu terlihat anggun dan sempurna. Namun dulu aku terlalu nakal, tidak mendengar perkataan ibunda dan malah lari berkeliaran diluar istana sehingga membuat ibunda cemas.
Setelah ibunda meninggal, tidak ada lagi yang mengomeli ku kalau keluar istana.
Aku merindukan ibunda...", Putri Lin berkata.
Setelah mengatakannya, bulir-bulir air mata menetes dari pelupuk matanya.
"Aku rindu dengan anak-anak di gang kumuh, Ah Yi, dan juga kakek...", Ujar putri Lin sambil mengusap matanya.
"Sekarang aku sudah menikah, aku juga menyukai suamiku. Tapi, kenapa aku selalu merasa ada yang salah dengan hatinya? Seolah-olah hatinya bukan milikku seorang saja...", Ujar Lin sambil mengernyitkan dahinya.
'Tok tok.' Suara ketukan terdengar dari arah pintu.
"Putri, ini saya.", Ujar suara lelaki dari luar.
Itu adalah An Liu Jin.
Dong Fang Lin dengan cepat menghapus bekas air mata dari wajahnya lalu membukakan pintu.
"Liu Jin? Kenapa tiba-tiba kesini? Apa kamu perlu sesuatu?", Tanya Dong Fang Lin.
"Ah, ti-tidak. Saya hanya ingin menjenguk anda sebentar. Sa-saya juga membawakan es serut kacang merah untuk anda.", Ujar An Liu Jin sambil menyodorkan dua mangkuk berisi es serut yang ada ditangannya.
"Wah, Es serut! Sepertinya enak. Masuklah Liu Jin.", Ujar Fang Lin sambil tersenyum.
An Liu Jin masuk kedalam kamar sang putri dengan dua mangkuk es serut ditangannya.
"Bibi Meng yang membuatkan ini. Katanya tadi pengiriman es balok baru tiba dari gunung, jadi untuk menghibur semuanya Bibi Meng membuatkan Es serut kacang merah ini.", Ujar An Liu Jin.
(Note: Jadi disini Es balok didapat dari danau yang ada di gunung. Air di danau itu membeku dan orang-orang memotong esnya menjadi balok lalu menjualnya.
Es balok harganya sangat mahal karena mudah mencair.)
An Liu Jin dan Dong Fang Lin duduk berdampingan.
Putri Lin mulai menyuap sesendok es serut ke mulutnya.
"Wah, ini sangat enak! Sampaikan pujianku pada Bibi Meng jika bertemu.", Ujar putri Lin.
"Haha, baik putri.", Ujar An Liu Jin sambil tertawa, Dong Fang Lin terlihat sangat imut saat memakan es serut nya.
An Liu Jin memperhatikan mata putri yang terlihat agak merah dan sembab.
"Putri, ada apa dengan matamu? Apa kamu habis menangis?", Tanya An Liu Jin.
"Ah, ti-tidak! Tadi mataku kemasukan sesuatu, jadi berair dan merah. Hehehe.", Ujar putri Lin sambil memegangi matanya.
"Ah, begitu ya...", Ujar An Liu Jin.
Mereka kembali melanjutkan makan es serut nya.
...
Sementara itu...
"Huaaa, sudah lama aku tidak makan es serut! Dulu aku sering membelinya di pinggir jalan. Apa lagi kalau ada es krim, atau atau! Gelato! Waah! Enak sekali! Es serut juga tidak masalah.", Ujar An Xie Tian sambil menyuapkan sesendok es serut ke mulutnya.
'Aneh, dulu Gu Niang tidak suka makan es serut kacang merah. Kenapa sekarang makan dengan sangat semangat?', Ujar XiaoMei dalam hati.
"Gu Niang, es krim dan gela...jela..gelatwo itu apa?", Tanya XiaoMei.
"Aiyaaa. Kamu tidak tau. Es krim dan gelato itu makanan, mereka hampir sama, tapi menurutku gelato lebih enak. Mereka terbuat dari semacam olahan susu yang dibekukan, aiyaaa! Pokoknya jika kamu memakannya kamu pasti suka!", Ujar An Xie Tian mencoba menjelaskan.
"Waah! Sepertinya itu enak. Apa Gu Niang bisa membuatnya?", Tanya XiaoMei lagi.
"Itu... Mudah sih..., Tapi aku sangat malas. Nanti saja ya.", Ujar An Xie Tian.
"Baik Nona...", Ujar XiaoMei kecewa.
"Aiyaaa! XiaoMei, jangan kecewa. Aku akan membuatnya di lain waktu.", Ujar An Xie Tian sambil tersenyum.
"Hehe, baik nona!", Ujar XiaoMei semangat.
.
.
.
**Hai guys! Apa kabar nih?
Maaf aku telat update yaa^^∆
Dari kemarin tugas sekolah online aku numpuk banyak banget sampai segunung T~T
Aku pas mau nulis jadi males karena sudah capek banget...
Tapi pas hari Sabtu kemarin aku sempatkan untuk nulis, rencananya mau di publish hari Minggu kemarin. Eh, malah lupa dong ^∆^"
Aku minta maaf banget yaa, huhuhu T~T
Jangan lupa klik like 👍🏼
Berikan komentar 💬
Tambahkan favorit +❤️
Dan jangan lupa rate 5 bintangnya ya ⭐⭐⭐⭐⭐
Sampai sini dulu chapter hari ini, sampai jumpa minggu depan^^
Bye-bye 👋
.
.
.
Tidak ada sesi tanya-jawab kali ini 😂
.
.
.
*To be continued***...