Time Travel: Rebirth Of The Daughter Of The Marquess

Time Travel: Rebirth Of The Daughter Of The Marquess
Ch. 54: Terlambat



⚠️ Warning ⚠️


Biasakan untuk selalu memberikan like sebelum membaca.


Terimakasih^^


👍🏻


.


👍🏻


.


👍🏻


An Xie Tian kembali kerumahnya setelah seminggu pergi mencari tanaman rumput api perak.


XiaoMei menyambutnya dengan gembira.


"Gu Niang! Anda sudah kembali!", Ujar XiaoMei senang.


"Ya. XiaoMei, siapkan air mandiku. Aku merasa seluruh badanku lengket karena keringat.", Ujar An Xie Tian jijik.


"Hehe, Baik Gu Niang.", Ujar XiaoMei lalu dengan cepat pergi dan menyiapkan air mandi untuk An Xie Tian.


An Xie Tian duduk di kursinya yang besar sambil menyandarkan tubuhnya karena kelelahan.


"Huh, capek juga ya..", Ujar An Xie Tian lalu mengelap keringatnya.


Tidak lama kemudian XiaoMei datang dan mengabarkan kalau air mandinya sudah siap.


An Xie Tian dengan cepat melangkah kedalam kamar mandinya.


An Xie Tian memasukkan seluruh tubuhnya yang sudah tidak memakai kain itu kedalam bak air yang berisi air hangat dan kelopak bunga mawar.


An Xie Tian menutup matanya dan mencoba untuk bersantai. Sesekali dia menghirup nafas dalam dan larut dalam aroma lavender dari lilin aroma.


"Hmmm, nyaman sekali...", Ujar An Xie Tian menikmati mandinya.


Setelah berendam selama 15 menit, An Xie Tian keluar dari bak mandinya lalu memakai jubah mandi yang sudah disiapkan.


An Xie Tian kembali ke kamarnya lalu berpakaian dibantu oleh XiaoMei.


An Xie Tian mengenakan hanfu berwarna ungu pucat dengan sedikit sentuhan merah muda, lalu mengikat sederhana rambutnya menyisakan sedikit untuk digerai.


Dia sedang tidak ingin menggunakan kosmetik karena dia tidak ingin kemana-mana.


"Gu Niang, anda cantik sekali.", Ujar XiaoMei setelah selesai mendandani nonanya.


An Xie Tian hanya tersenyum karena perkataan XiaoMei.


An Xie Tian lalu menatap pantulan wajahnya di cermin perak yang ada dihadapannya.


"Oh iya, Gu Niang. Saya harus pergi, saya baru ingat kalau saya sedang memasak kue kacang hijau untuk cemilan anda. Saya pergi dulu.", Ujar XiaoMei lalu dengan cepat berlari pergi.


"Anak itu...", Ujar An Xie Tian tersenyum sambil menatap punggung XiaoMei yang semakin menjauh.


An Xie Tian lalu bangkit dan duduk di kursi yang memang diletakkan didepan jendela.


An Xie Tian duduk sambil menatap langit sore hari yang berwarna jingga.


"Cantiknya...", Ujar An Xie Tian saat menikmati pemandangan langit senja.


Coba tebak siapa yang saat ini sedang bersembunyi diatas pohon sambil memperhatikan An Xie Tian?


Pria dengan surai perak itu duduk diatas pohon sambil memperhatikan An Xie Tian yang tengah menikmati langit senja.


"Dia terlihat senang.", Ujarnya.


"Ah, aku melakukannya lagi.", Ujarnya lalu bangkit dari tempat duduknya diatas pohon lalu pergi.


"Sepertinya aku benar-benar tidak bisa menahan keinginanku untuk melihatnya.", Ujar pria dengan surai perak dan mata biru itu sambil menunjukkan senyum pahit.


Benar, pria itu adalah Dong Fang Yu.


Siapa bilang terakhir kali dia kemari sebulan yang lalu?


Terakhir kali dia kesini adalah 3 hari yang lalu sebelum dia melakukan misi untuk menjadi mata-mata.


Sebelumnya juga begitu, hampir setiap malam dia kemari.


Hanya saja, dia tidak menemui wanita itu.


Dia hanya menatapnya dari jauh, memastikan kalau wanita itu baik-baik saja, lalu pergi.


...


Dong Fang Yu kembali ke kediamannya.


Dia melepaskan penat dan stress dengan berendam di air hangat.


Dia munutup mata sejenak sambil memikirkan hal-hal acak.


Tentu saja kebanyakan dari pikirannya sekarang tak lepas dari wanita itu, wanita yang... dicintainya?


Dong Fang Yu membuka matanya.


"Cinta? Apakah ini cinta? Kata orang-orang cinta itu indah namun juga buruk. Cinta itu obat, juga racun. Kalau begitu pasti ini cinta yang buruk dan beracun.", Ujarnya sambil tersenyum pahit.


Entahlah, rasanya kepalanya mau pecah.


Rasa ingin memiliki wanita itu sungguh tinggi.


Ini terasa seperti iblis menggoda Adam untuk memakan buah terlarang.


Dan Adam saat ini tengah berkutat dengan pikirannya untuk memakan buah itu atau tidak.


"Jika dia buah beracun, maka aku akan dengan senang hati memakannya. Tapi sekarang, aku benar-benar tidak boleh.", Ujarnya lagi.


Dong Fang Yu menenggelamkan dirinya keseluruhan kedalam kolamnya yang besar.


Menutup matanya dalam air berharap jika pikirannya akan kosong saat dia kembali membuka mata lagi.


Tapi tidak, pikirannya tetap kalut dalam bingung, sedih, kecewa, dan marah.


Ah, satu lagi... Cinta.


Orang bilang kalau cinta bisa membuat orang gila.


Sepertinya dia tengah menjalani fase kegilaan itu sekarang.


Dong Fang Yu yang biasanya terlihat dingin, tidak banyak bicara, juga berwajah datar itu terlihat menyedihkan.


Dong Fang Yu keluar dari air saat sudah hampir lemas kehabisan nafas.


Dia bernafas berat.


Tidak bernafas sampai hampir dua menit penuh, membuat otaknya kehabisan oksigen adalah ide yang buruk.


Dong Fang Yu bangkit dari kolamnya, menampilkan sosoknya yang tidak mengenakkan sehelai benangpun dengan tubuh dan rambut peraknya yang basah.


Tubuhnya yang polos itu terlihat putih dan lembut, walaupun ada beberapa bekas luka pedang di bagian punggung juga dadanya, tidak dapat dipungkiri kalau tubuhnya memang indah.


Apalagi otot-ototnya terbentuk dengan sempurna.


Dong Fang Yu mengenakan jubah mandinya dan berjalan keluar hanya dengan itu.


Dong Fang Yu membiarkan rambutnya yang basah dan panjang tergerai di punggung dan dadanya.


Dong Fang Yu lalu duduk didepan jendela sambil menatap langit malam yang dingin.


Dong Fang Yu membiarkan angin malam yang dingin menyapunya, dia terlihat tidak peduli sama sekali dengan dingin yang saat ini menusuknya.


Dong Fang Yu hanya diam sambil tetap menatap langit dan menyesap araknya.


Entahlah, akhir-akhir ini minuman beralkohol itu seperti sudah menjadi minumannya sehari-hari.


Walaupun dia tidak mudah mabuk, tapi tetap saja. Alkohol itu tidak sehat.


...


Pagi harinya...


Dong Fang Yu terbangun karena cahaya matahari yang masuk dari sela-sela jendela menusuk matanya.


Dong Fang Yu bangkit dari ranjangnya, berjalan keluar lalu mandi.


Pagi-pagi setelah sarapan dia pergi ke istana putra mahkota untuk menemui kakaknya itu.


"Ah, Fang Yu.", Sapa putra mahkota saat melihat kedatangan adiknya.


"Salam Taizi.", Sapa Dong Fang Yu juga.


Setelah berbasa-basi sedikit, mereka membahas tentang urusan mereka.


Setelah beberapa saat, Dong Fang Yu keluar dari ruangan putra mahkota.


Dia berjalan menuju taman istana untuk sekedar menenangkan pikiran.


Disana ada putri mahkota yang duduk di gazebo sambil memandangi bunga-bunga yang telah dirawatnya sekian lama.


Dia terlihat senang.


Dong Fang Yu memutuskan untuk menyapa kakak iparnya.


"Salam Taizi Fei.", Sapa Dong Fang Yu.


"Ah, Fang Yu. Urusan dengan kakakmu sudah selesai?", Tanya putri mahkota.


"Benar, urusan kami sudah selesai. Apa yang sedang kakak ipar lakukan disini?", Tanya Dong Fang Yu.


"Sebenarnya, tidak ada. Semua pekerjaan putri mahkota sudah selesai, jadi aku memutuskan untuk pergi jalan-jalan ditaman untuk melepaskan penat. Kamu sendiri?", Tanya putri mahkota balik.


"Sepertinya saya juga begitu, hanya ingin menenangkan pikiran.", Ujar Dong Fang Yu.


Putri mahkota menatap Dong Fang Yu sambil tersenyum.


"Kamu terlihat berbeda akhir-akhir ini, Fang Yu.", Ujar putri mahkota tiba-tiba.


"Ya? Apa maksudnya kakak ipar?", Tanya Fang Yu bingung.


"Kau tau Fang Yu, aku sudah mengenalmu sejak kita masih kecil. Aku tau kamu dengan sikapmu yang dingin dan acuh tak acuh itu, hanya menjawab seadanya, hanya berbicara jika perlu, bahkan hampir tidak peduli apapun kecuali tugas yang diberikan putra mahkota padamu.", Ujar putri mahkota sambil menatap adik iparnya lekat.


"Apa maksud perkataan Taizifei?", Tanya Dong Fang Yu semakin bingung.


"Hahaha, aku tidak akan bicara banyak lagi. Aku tau jika cinta bisa membuat orang banyak berubah.", Ujar putri mahkota sambil tersenyum.


Dong Fang Yu terlihat terkejut, namun ekspresinya kembali datar seperti sebelumnya.


"Saya tidak mengerti maksudnya.", Ujar Dong Fang Yu.


"Fang Yu, cinta itu berharga, jangan menyia-nyiakan peluangnya. Jika kamu tidak bertindak sekarang, takutnya kamu akan menyesal ketika cinta itu direbut seseorang.", Ujar putri mahkota lagi.


Entah kenapa adik iparnya ini susah sekali untuk mengerti maksudnya, benar-benar kertas putih.


"Saya belum paham, tapi saya akan kembali ke kediaman saya sekarang.", Ujar Dong Fang Yu lalu bersiap untuk berbalik pergi.


"Aku tau kamu sedang jatuh cinta, Fang Yu. Apakah kamu benar-benar tidak mengerti apa yang aku coba katakan, atau kamu tidak ingin mencoba untuk mengerti?", Ujar putri mahkota serius.


"Kakak ipar, masalah ini biar saya urus sendiri. Saya permisi.", Ujar Dong Fang Yu.


"Jika kamu khawatir dengan kakakmu, maka aku sarankan kamu hentikan kekhawatiran mu itu.", Ujar putri mahkota lagi.


"Apa... Maksud kakak ipar?", Ujar Dong Fang Yu sekali lagi dibuat bingung.


"An Xie Tian sudah menolaknya.", Ujar putri mahkota akhirnya mengatakannya.


"Menolak... Apa?"


"Dia menolak lamaran kakakmu.", Ujar putri mahkota.


Baiklah, jantung Dong Fang Yu saat ini ingin melompat karena kaget dan senang.


"Saya..."


"Jadi, Fang Yu. Apakah kamu yakin untuk menyerah begitu saja?", Ujar putri mahkota lalu tersenyum.


Dong Fang Yu merasa pikirannya benar-benar kosong saat ini.


"Halo? Apakah jiwa Fang Yu masih ada disini? Boleh aku bicara padanya lagi?", Ujar putri mahkota.


Dia merasa lucu dengan ekspresi Dong Fang Yu saat ini.


"Taizifei...?"


"Apakah kamu yakin kamu tidak mau menulis surat lamaran sekarang? Haruskah aku yang menulisnya untukmu, adik ipar?", Ujar putri mahkota sambil tersenyum.


"Ah! Tidak perlu!", Ujar Dong Fang Yu.


"Lalu apa yang kamu tunggu? Pergi dan lamarlah gadismu!", Ujar putri mahkota sambil tersenyum senang.


Wajah Dong Fang Yu kembali mencerah.


Dia membungkuk pada putri mahkota lalu dengan cepat pergi dari sana.


"Semoga berhasil, Fang Yu...", Ujar putri mahkota sambil menatap punggung Dong Fang Yu yang berlari semakin jauh.


"Bagaimana?", Ujar seorang lelaki berjalan mendekat kearah putri mahkota.


"Seperti yang kamu rencanakan, dia langsung melompat senang. Mungkin kita akan menyelenggarakan pernikahan tidak lama lagi .", Ujar putri mahkota sambil tersenyum senang.


"Ah, aku senang. Aku ingin melihat dia bahagia dengan usahanya sendiri.", Ujar pria itu lagi.


"Tapi, kenapa kamu harus mengatakan hal kejam seperti itu pada Fang Yu? Bukankah lebih baik jika menjelaskannya secara langsung?", Ujar Putri mahkota bingung.


"Hahaha, anggap saja... Aku memberikan pelajaran hidup padanya. Aku ingin mengajarkan padanya, kalau dia tidak bisa mendapatkan segalanya dengan mudah.", Ujarnya.


"Tapi pelajaran mu padanya terlalu kejam, suamiku.", Ujar putri mahkota lalu memeluk suaminya.


Benar, putri mahkota berbicara dengan Putra mahkota, suaminya.


Putra mahkota tersenyum sambil memeluk istrinya.


"Aku hanya ingin dia bahagia dengan usahanya sendiri.", Ujar putra mahkota sambil tersenyum.


...


Dong Fang Yu membuka gerbang kediamannya dengan tergesa-gesa.


Dia pergi ke ruang kerja lalu mengambil kertas, kuas dan tinta.


Dong Fang Yu menulis suratnya dengan cepat hingga tinta mengotori telapak tangan juga bajunya. Oh, jangan lupa noda tinta yang menempel di pipi kirinya.


Setelah selesai menulis surat, Dong Fang Yu kembali keluar dengan tergesa-gesa.


"Pangeran, anda terlihat tergesa-gesa. Ada masalah apa?", Tanya Lao, pengawal pribadinya.


"Dengar Lao, suruh orang untuk menyiapkan seserahan pernikahan dan juga barang-barang untuk melamar. Lalu, kau ikut denganku.", Ujar Dong Fang Yu masih berjalan dengan cepat diiringi dengan Lao yang menatapnya bingung dari belakang.


Namun Lao tetap mengiyakannya dan segera pergi.


Lao kembali menghampiri Dong Fang Yu yang sudah siap diatas kuda hitamnya.


"Pangeran, kita mau kemana?", Tanya Lao lalu naik ke atas kuda coklat miliknya.


"Kediaman Marquis Utara. Hiyaa!", Dong Fang Yu langsung memacu kudanya setelah mengatakan kata singkat itu.


Lao menatapnya dengan bingung, namun dia langsung ikut memacu kudanya mengiringi kuda tuannya dari belakang.


...


Namun sekali lagi,


Sepertinya Dong Fang Yu terlambat...


...


An Xie Tian berdiri didepan gerbang kediaman Marquis Utara, dihadapannya terdapat barisan rapi para prajurit, kereta kuda, dan juga tandu besar dan mewah milik seorang yang agung.


Semua orang yang ada disana bergerombol sambil memperhatikan momen yang akan menjadi bahan perbincangan ibukota mungkin sampai berbulan-bulan nanti.


Itu benar, arak-arakan itu adalah milik Kaisar Tianxing, Qi Chuankang.


Tebak yang akan dilakukannya?


"Nona An Xie Tian dari kediaman Jendral besar An, apakah Anda menerima lamaran dari Kaisar Tianxing, Qi Chuankang?", Ujar Kasim yang membacakan surat lamaran dari Sang Kaisar Tianxing.


"Saya menerimanya.", Ujar An Xie Tian singkat.


"Maka mulai hari ini, nona An Xie Tian dari kediaman Marquis Utara telah resmi menjadi calon permaisuri Tianxing!


Pernikahan akan dilakukan bulan depan, apakah anda menerimanya?", Tanya sang Kasim lagi.


"Tunggu, bulan depan? Bukankah itu tidak terlalu cepat? Ehmmm, jadikan itu 2 bulan.", Ujar An Xie Tian menawar.


Kasim menatap junjungannya yang sedang duduk diatas tandu mewah, itu adalah Qi Chuankang, kaisar muda Tianxing.


Qi Chuankang tersenyum mendengar perkataan An Xie Tian.


"Baiklah, aku terima.", Ujar Qi Chuankang sambil tersenyum.


"Maka pernikahan akan dilakukan 2 bulan dari sekarang!", Umum sang Kasim.


Setelah menyerahkan seserahan Lamaran pada kediaman Marquis Utara, rombongan Kaisar Tianxing pergi dan kembali ke Tianxing.


Mereka akan kembali 2 bulan lagi untuk menjemput mempelai wanita ke Tianxing.


...


Sebelum rombongan Kaisar Tianxing pergi...


Qi Chuankang meminta waktu untuk berbicara sebentar pada An Xie Tian.


"Nah, nona An Xie Tian. Sebentar lagi kita akan menikah.


Tapi aku penasaran,aku datang kesini tiba-tiba lalu melamar mu. Dan... kamu menerimanya begitu saja?", Ujar Qi Chuankang merasa bingung.


Tentu dia senang jika An Xie Tian setuju untuk menikah dengannya, tapi dia kira An Xie Tian akan memberikan syarat-syarat sulit atau bahkan menolaknya.


Tapi tidak, An Xie Tian langsung menerimanya begitu saja.


"Saya menerima lamaran dari Anda, apakah Yang Mulia masih tidak senang?", Tanya An Xie Tian sambil tersenyum.


"Hahaha, tentu saja bukan begitu. Aku hanya mengira kamu akan menolaknya, mengingat sikap kerasmu seperti waktu itu.


Tapi tentu saja, aku sangat senang.", Ujar Qi Chuankang.


"Saya hanya merasa... Jika menjadi permaisuri tidak terlalu buruk juga.", Ujar An Xie Tian lalu tersenyum miring.


"Hmm, aku terkesan.


Ngomong-ngomong, pasukan merak putih datang bersamaan dengan rombongan kali ini. Mereka sudah diberi perintah untuk menaati pemilik token giok.


Kamu bisa memanggil mereka kapanpun kamu mau.", Ujar Qi Chuankang berbisik pada An Xie Tian.


"Ah, Anda menepati janji rupanya. Haruskah saya mengucapkan terimakasih?", Jawab An Xie Tian yang juga berbisik.


"Aku tidak keberatan.", Ujar Qi Chuankang sambil tersenyum.


"Terimakasih, Yang Mulia Kaisar Tianxing.", Ujar An Xie Tian lalu membungkuk hormat.


"Karena kamu adalah calon permaisuri ku, panggil saja aku Kang. Tiadak perlu terlalu kaku.", Ujar Qi Chuankang sambil tersenyum hangat.


"Baik, Yang Mulia, Ah! Maksud saya, Kang.", Ujar An Xie Tian lalu tersenyum.


"Ah, aku sangat senang. Akhirnya aku bisa mendapatkanmu.", Ujar Qi Chuankang sambil tersenyum senang.


"Saya juga senang bisa menjadi calon permaisuri Anda.", Ujar An Xie Tian.


"Baiklah, sepertinya aku sudah terlalu lama. Aku akan kembali lagi ke Tianxing, sampai jumpa 2 bulan lagi, pengantinku...", Ujar Qi Chuankang lalu mencium punggung tangan An Xie Tian.


An Xie Tian hanya tersenyum lalu mengangguk.


Qi Chuankang lalu kembali dan menaiki tandu.


Begitulah lamaran Kaisar Kang menjadi perbincangan seluruh negeri Dongfeng.


"Kamu dengar? Katanya nona An Xie Tian yang tidak berguna itu dilamar oleh Kaisar Tianxing!"


"Benarkah? Hebat juga dia!"


"Katanya dia memang sangat cantik, sepertinya itu memang bukan omong kosong saat melihat dia benar-benar dilamar oleh seorang Kaisar."


"Dia akan menjadi permaisuri di negeri Tianxing, benar-benar sampah yang beruntung..."


"Katanya Kaisar jatuh cinta pada pandangan pertama padanya saat pesta pernikahan putri keempat. Saat itu dia memanggil nona An Xie Tian untuk duduk bersamanya. Benar-benar beruntung!"


"Aku saja, atau kalian juga merasa iri padanya?"


"Kamu bercanda? Memiliki nasib sebaik itu? Siapa yang tidak akan iri?"


.


.


.


Hujan membasahi ibukota.


Sepertinya langit saat ini ikut bersedih untuk seseorang.


Dong Fang Yu menatap kertas ditangannya dengan pandangan lesu.


Kini kertas itu sudah basah karena hujan, pasti tintanya sudah luntur kemana-mana.


"Ah, aku terlambat...", Ujar Dong Fang Yu dengan nada rendah.


"Lagi-lagi... Aku terlambat..."


.


.


.


**Hai guys! Apa kabar nih? Baik aja kan? T~T


Aku sedih nih! Dong Fang Yu malang banget gak sih? T^T


Huhuhu, maaf yah Fang Yu... T∆T


Uggh, oke... :'(


Sampai sini dulu chapter hari ini, see you on the next chapter, bye-bye 👋🏻


Jangan lupa klik


Like 👍🏻


Berikan komentar 💬


Tambahkan favorit +❤️


Dan jangan lupa rate 5 bintangnya ya ⭐⭐⭐⭐⭐**


.


.


.


Tbc...