Time Travel: Rebirth Of The Daughter Of The Marquess

Time Travel: Rebirth Of The Daughter Of The Marquess
Ch.61: Pertunjukan



...**⚠️ Warning ⚠️...


...Biasakan untuk selalu memberikan like sebelum membaca....


...Terimakasih^^...


...👍🏻...


.......


...👍🏻...


.......


...👍🏻**...


Malam hari, kekaisaran Tianxing...


Kaisar Kang, An Xie Tian, dan para selir Kaisar Kang duduk di tempat yang sama untuk acara makan malam bersama.


Chen Guifei duduk di sebelah Mu Fei dan Li Fei, sedangkan An Xie Tian duduk disebelah Gu Pin.


(-Guifei: selir tinggi kekaisaran.


Diatas Guifei masih ada Huang Guifei yang merupakan selir agung kekaisaran.


(-Fei: selir resmi kekaisaran


(-Pin: Selir biasa/gundik


Kaisar Kang memecah suasana tegang disekitarnya dengan berdehem.


"Ehem, baiklah. Kita berkumpul disini untuk acara makan malam bersama menyambut Xie Tian Gu Niang yang juga kalian tau adalah sebagai calon permaisuri ku.", Ujar kaisar Kang.


"Kalau begitu, mari kita mulai acaranya.", Ujar Kaisar Kang.


Beberapa musisi dan penari memasuki ruangan dan mulai mempertunjukkan lagu-lagu juga tarian mereka.


Tiba-tiba Chen Rong/Chen Guifei angkat bicara.


"Yang Mulia, kita sudah sering melihat penampilan dari musisi dan penari istana. Bagaimana jika kita melihat penampilan lain hari ini?", Ujar Chen Guifei.


"Penampilan lain? Penampilan lain apa yang kamu maksud Guifei?", Tanya kaisar Kang tertarik.


"Bagaimana jika saya dan juga para Mei-mei menampilkan bakat kami? Saya yakin akan menjadi lebih menyenangkan. Bagaimana menurut kalian?", Tanya Chen Guifei.


"Saya setuju dengan Chen Jie-jie!", Ujar Mu Fei.


"Saya juga setuju.", Ujar Gu Pin bersemangat.


Sedangkan Li Fei hanya mengangguk tanda menyetujui.


"Baiklah, kalau begitu. Kalian bisa menampilkan bakat kalian.", Ujar Kaisar Kang.


Penampilan pertama dimulai dengan Gu Pin yang menampilkan pertunjukan menyanyi.


Suara Gu Pin sangat indah dan merdu, membuat semua orang kagum dan bertepuk tangan.


Penampilan selanjutnya adalah Mu Fei yang menampilkan permainan Guzheng yang indah sehingga menyihir semua orang.


Selanjutnya adalah penampilan dari Li Fei yang mempertunjukkan seni lukis dan puisi.


Lukisan dan puisi yang ditulisnya sangat indah sehingga membuat semua orang terkagum-kagum dengan kelembutan goresan kuas dan kata-kata yang dirangkai Li Fei.


Penampilan terakhir dibawakan oleh Chen Guifei.


"Yang Mulia, kali ini saya sebagai putri dari perdana menteri yang terkenal akan kehebatan berpedang nya akan menampilkan seni tari pedang.


Namun, tari pedang tidak akan menyenangkan jika hanya ditarikan sendiri.


Karena itu...", Ucapan Chen Guifei terhenti.


"Karena itu?", Tanya Kaisar Kang.


"Saya mendengar Xie Tian Gu Niang adalah pendekar pedang yang hebat. Dia bahkan mendirikan organisasi pasukan Mawar besi yang terkenal di Dongfeng dan menjadi penerus sekte awan petir, apa benar?", Tanya Chen Guifei.


'Aku merasakan niat buruk dari wanita ini...', Ujar An Xie Tian dalam hati.


"Saya tidak sehebat apa yang dideskripsikan Chen Guifei. Organisasi pasukan Mawar besi juga adalah organisasi baru, tidak terlalu terkenal juga. Dan soal pewaris sekte awan petir, itu memang benar adanya.", Jawab An Xie Tian dengan suaranya yang merdu dan lembut.


Semua orang yang mendengar suara An Xie Tian yang begitu indah hanya bisa terdiam.


"Ah, jangan merendah. Aku hanya berharap, jika Xie Tian Gu Niang tidak keberatan kalau aku mengajaknya berduel sekarang.", Ujar Chen Guifei.


An Xie Tian tidak keberatan dengan menarikan tarian pedang, lagipula kemampuan pedangnya juga tidak rendah.


Yang membuatnya was-was adalah niat dari wanita didepannya ini.


*Flashback...


"Kamu lihat wanita tadi? Aku tidak suka melihatnya, sepertinya dia orang yang sombong. Dia terlihat sangat percaya diri datang ke Tianxing mentang-mentang dia adalah calon permaisuri.", Ujar Mu Fei.


"Mu Mei-mei, jaga perkataanmu.", Ujar Li Fei mengingatkan sambil menyeruput tehnya.


"Cih, wanita itu...", Chen Guifei bergumam dengan matanya yang berkilat kejam.


"Kudengar wanita itu adalah pendekar pedang yang hebat. Baru-baru ini dia mengungkapkan identitas lainnya sebagai Master Aris yang terkenal di Dongfeng, dia juga diketahui sebagai ketua organisasi pasukan Mawar besi dan pewaris sekte awan petir di Dongfeng.", Ujar Gu Pin menambahi.


"Pendekar pedang?", Chen Guifei nampak tertarik.


"Benar. Aku dengar dari ayahku, kalau dia sebagai Master Aris adalah pendekar pedang yang terkenal. Tapi...", Ucapan Gu Pin terhenti seakan memikirkan sesuatu.


"Tapi?", Chen Guifei mengernyit karena Gu Pin tidak melanjutkan perkataannya.


"Dia tidak pernah menunjukkan wajahnya sekalipun, dia selalu menggunakan cadar yang menutupi wajahnya. Ada rumor yang mengatakan kalau dia sebenarnya memiliki wajah yang sangat cantik, namun memiliki bekas luka atau semacam penyakit diwajahnya sehingga selalu ditutupi.", Semua selir mendengarkan penjelasan Gu Pin secara seksama.


"Kurasa itu masuk akal juga. Maksudku, jika dia memang memiliki wajah yang cantik, kenapa menutupinya? Jika itu aku, maka aku akan dengan senang hati menunjukkannya. Kecuali jika memang ada luka menjijikkan...", Mu Fei berkata dengan wajahnya yang mengernyit.


"Jika itu benar, maka...


Heh. Para Mei-mei sekalian, sepertinya aku mempunyai rencana.", Ujar Chen Guifei sambil tersenyum miring.


*Flashback off...


An Xie Tian tersenyum mendengar perkataan Chen Guifei yang mengajaknya berduel sambil menarikan tarian pedang bersama.


"Baiklah, kenapa tidak.", Ujar An Xie Tian sambil tersenyum.


'Mari kita lihat permainan seperti apa yang ingin kamu mainkan...'


An Xie Tian maju kedepan dan naik keatas panggung.


Dia berdiri berhadapan dengan Chen Guifei.


Chen Guifei tersenyum kepada An Xie Tian lalu melemparkan sebilah pedang kearahnya.


"Mari.", Ujarnya sambil tersenyum.


"Mari.", Sambut An Xie Tian dengan senang hati.


Mereka sama-sama mengacungkan pedangnya kearah masing-masing lalu menyatukannya sehingga terdengar bunyi samar dentingan pedang.


Mereka lalu sama-sama mengambil posisi.


Chen Guifei memasang kuda-kuda nya.


"Kamu siap, Xie Tian Gu Niang?", Tanya Chen Guifei sambil mengacungkan pedangnya kearah An Xie Tian.


An Xie Tian juga ikut memasang kuda-kuda lalu tersenyum.


"Tak pernah sesiap ini, Guifei Niang-niang.", Jawab An Xie Tian sambil tersenyum.


Mereka lalu mulai menyerang satu sama lain tanpa menyentuhkan pedang-pedang mereka.


An Xie Tian menunjukkan posisi menghindar ketika serangan pedang Chen Guifei hampir mengenai wajahnya.


'Apa yang direncanakan wanita ini?'


"Refleks tubuh yang bagus, Xie Tian Gu Niang.", Ujar Chen Guifei.


"Anda juga sangat bersemangat, Guifei Niang-niang.", Jawab An Xie Tian.


Mereka kemudian saling beradu kembali dengan sama-sama mencoba menyerang.


Kali ini Chen Guifei kembali mengarahkan pedangnya kearah wajah An Xie Tian, namun An Xie Tian berhasil menghindar.


Sayangnya, cadar yang dipakai oleh An Xie Tian ikut tertarik oleh pedang Chen Guifei.


Cadar itu melayang mengikuti arah pedang Chen Guifei.


An Xie Tian yang menyadari kalau penutup wajahnya hilang refleks menutupi wajahnya dengan tangan kanannya.


"Ada apa Xie Tian Gu Niang? Apa ada yang salah dengan wajahmu?", Tanya Chen Guifei.


Didalam hati dia merasa sangat senang dan tersenyum licik karena rencananya berhasil.


An Xie Tian mendongakkan kepalanya dan menarik tangannya dari wajah.


An Xie Tian menunjukkan wajahnya dengan berani.



Semua orang terperangah dengan kecantikan An Xie Tian.


"Sepertinya anda sangat bersemangat mengincar penutup wajah saya, Guifei Niang-niang. Apakah anda penasaran dengan wajah saya?", Tanya An Xie Tian sambil tersenyum.


Senyuman An Xie Tian membuat semua orang merasa buta sesaat karena cahaya dan keindahan yang dipancarkannya.


"Ah, maaf. Aku tidak sengaja.", Chen Guifei menjawab dengan agak terbata.


'Sial, bukankah Gu Pin bilang kalau wajahnya memiliki luka menjijikkan? Mana lukanya!?'


"Kalau begitu, haruskah kita lanjutkan?", Tanya An Xie Tian.


"Te-tentu...", Jawab Chen Guifei gugup.


An Xie Tian dan Chen Guifei kembali berhadapan.


Chen Guifei kembali menyerang An Xie Tian lebih dulu, namun seperti sebelumnya berhasil dihindari dengan mudah oleh An Xie Tian.


An Xie Tian membalikkan pedangnya kearah yang tidak tajam lalu menyerang kearah Chen Guifei.


Pedang itu kini bersarang di leher Chen Guifei.


"Sepertinya, kali ini aku yang menang.", Ujar An Xie Tian sambil tersenyum.


Para selir serempak berdiri karena tidak percaya.


Mereka selalu mempercayai kemampuan berpedang Chen Guifei yang tidak kalah dari ksatria pedang sekalipun.


Namun sekarang mereka melihat dengan mata kepala sendiri kalau Chen Guifei dikalahkan dengan mudah oleh wanita cantik didepan mereka.


'Sekuat dan sehebat apa dia?', Para selir bergumam bersamaan dalam hati.


'Prok! Prok! Prok! Prok! Prok!'


"Bagus, bagus sekali!", Ujar Qi Chuankang sambil bertepuk tangan.


"Kalian berdua sangat berbakat, keahlian berpedang kalian sungguh hebat.", Sambung Qi Chuankang lagi.


An Xie Tian melepaskan pedangnya dari Chen Guifei.


Chen Guifei memegangi lehernya yang tadi bersarang pedang An Xie Tian disana.


'Menakutkan...', Itulah kata Chen Guifei dalam hati.


An Xie Tian lalu tersenyum. Dia lalu berjalan kesamping panggung dan mengambil cadarnya yang terjatuh disana.


An Xie Tian meniupnya sedikit lalu kembali memakainya.


"Terimakasih atas pujian Yang Mulia.", Ujar An Xie Tian lalu mengangguk tanda hormat.


"Te-terimakasih atas pujian Yang Mulia.", Ujar Chen Guifei terbata.


An Xie Tian dan Chen Guifei lalu menuruni panggung.


"Baiklah, karena kita sudah bersenang-senang dan acara makan malam bersama nya juga sudah selesai. Maka kalian bisa kembali ke kediaman kalian sekarang.", Ujar Qi Chuankang.


Dia lalu turun dari tahtanya dan pergi.


An Xie Tian mengikutinya lalu keluar dari ruangan acara.


Chen Guifei bersama para selir lain masih terdiam disana.


Para selir lain menatap Chen Guifei ngeri karena ekspresinya yang saat ini sangat menakutkan.


...


An Xie Tian menghampiri Qi Chuankang yang sedang berjalan diiringi oleh para Kasim dan dayang nya.


"Ah, Tian-er. Ada apa? Kamu membutuhkan sesuatu?", Tanya Qi Chuankang.


"Jika anda tidak keberatan, ada sesuatu yang harus saya bicarakan dengan anda. Apa anda keberatan jika saya berbicara empat mata dengan anda?", Tanya An Xie Tian.


"Baiklah, kamu bisa mengikuti aku ke ruang kerja sekarang. Mari.", Ajak Qi Chuankang.


An Xie Tian lalu tersenyum dan mengangguk patuh. Mereka lalu berjalan bersama ke ruangan kerja Kaisar.


...


"Jadi, apa yang mau kamu bicarakan?", Tanya Kaisar Kang.


'Sudah kuduga dia kesini karena ada maksud lain...'


"Jadi begini. Saya mendengar kalau Tianxing memiliki harta Karun berupa pil yang bisa menyembuhkan penyakit. Mau itu penyakit luar, penyakit organ dalam, maupun keracunan. Apa itu benar?", Tanya An Xie Tian tanpa basa-basi.


"Apa yang kamu maksud pil naga emas?", Tanya Kaisar Kang.


"Benar, pil naga emas!", Ujar An Xie Tian.


"Ada apa dengan pil itu?", Tanya Qi Chuankang.


"Seperti yang anda tau, saya belum meminta hadiah pernikahan untuk pernikahan kita. Jadi, bolehkah aku meminta pil itu sebagai hadiah pernikahan?", Tanya An Xie Tian.


Qi Chuankang menatap An Xie Tian datar.


Dia lalu menyesap tehnya.


"Kudengar, saat penyerangan pemberontak terjadi, pangeran ketiga terluka parah dan berada di kondisi hidup dan mati?", Pertanyaan kaisar Kang membuat An Xie Tian berjangkit kaget.


"I-itu benar...", Jawab An Xie Tian.


'Mengapa dia tiba-tiba menanyakan hal ini, apakah dia tau kalau aku ingin menggunakan obat itu untuk menyembuhkan pangeran ketiga!?'


"Aku ingin bertanya, jawablah dengan jujur, An Xie Tian.", Ujar Qi Chuankang sambil menatap mata An Xie Tian serius.


"Ba-baik.", Ujar An Xie Tian sambil mengangguk.


"Kamu setuju untuk menikah denganku... Apakah kamu melakukannya karena memiliki perasaan padaku, atau ada hal lainnya yang membuatmu terpaksa menerimanya?", Tanya Qi Chuankang.


An Xie Tian menunduk, ekspresinya saat ini terlihat sangat sulit.


"Malam itu, saat aku mengunjungimu di malam hari. Saat aku pulang, seorang pria menghentikan ku. Rambut perak, mata biru, dan wajah sebelah kiri ditutupi topeng. Seingatku, orang dengan ciri seperti itu hanya ada satu di Dongfeng. Dong Fang Yu.", Ujar Qi Chuankang.


"Apakah kamu meminta pil itu untuk kesembuhannya?", Sambung Qi Chuankang lagi.


An Xie Tian memandang Qi Chuankang yang ada di hadapannya.


An Xie Tian kembali menunduk kemudia mengangguk lemah.


"Lalu, mengapa kamu menerima lamaranku? Yang aku lihat kalau dia memiliki perasaan untukmu, dan kamu juga begitu. Lalu kenapa?", Tanya Kaisar Kang sambil menautkan kedua alisnya.


"Kadang, kita harus memutus takdir untuk menghindari takdir buruk yang akan datang.", Ujar An Xie Tian masih sambil menunduk.


"Apa? Apa itu masuk akal? Aku tidak percaya kamu mempercayai takhayul seperti itu. Jika ingin bersama ya bersama saja, mengapa harus ada takdir buruk segala? Memangnya kamu tau masa depan?", Ujar Qi Chuankang.


An Xie Tian mendongakkan kepalanya lalu tersenyum.


"Sepertinya memang benar begitu.", Ujar An Xie Tian.


Perkataan An Xie Tian membuat Qi Chuankang bingung.


Bagian mananya yang seperti itu? Apanya yang benar? Kalau dia bisa melihat masa depan, begitu? Jangan bercanda! Mana ada yang bisa melihat masa depan.


"Aku tidak tau alasanmu. Tapi, maaf. Kali ini aku tidak bisa membantumu. Jika kamu meminta perhiasan, permata, emas, atau berlian sekalipun, aku bisa memberikannya. Tapi soal pil naga emas, aku tidak bisa. Pil itu adalah satu-satunya didunia, dan tidak ada lagi yang bisa membuatnya sejak 200 tahun lalu. Maafkan aku, Xie Tian.", Ujar An Xie Tian.


An Xie Tian menunduk kecewa.


Dia gagal? Lalu bagaimana lagi?


An Xie Tian lalu menatap Qi Chuankang dan tersenyum padanya.


"Baiklah, terimakasih atas pengertianmu. Maaf sudah mengganggu.", Ujar An Xie Tian lalu kembali menunduk.


An Xie Tian mencoba untuk menyembunyikan air mata yang saat ini menggenang di matanya.


Qi Chuankang mengetahui hal itu hanya bisa mengangguk. Walaupun sekarang ini dia sangat ingin memeluk wanita yang ada didepannya ini dan menenangkannya, tapi hatinya belum siap.


Hatinya belum siap menerima kenyataan kalau wanita yang dicintainya mencintai orang lain.


An Xie Tian bangkit dari tempat duduknya.


"Ini sudah larut, maaf karena sudah menggangu waktu istirahat Yang Mulia Kaisar. Saya permisi kalau begitu.", Ujar An Xie Tian lalu keluar dari ruangan kerja Kaisar Kang.


Qi Chuankang masih menatap punggung An Xie Tian yang kian menjauh.


Dia akan membiarkan wanita itu begitu saja.


"Ah, apa yang harus kulakukan...", Ujar Qi Chuankang lalu mengacak rambutnya sendiri karena frustasi.


.


.


.


Sementara itu,


Kekaisaran Dongfeng...


Kaisar Ye menatap putranya yang sedang terbaring lemah.


Wajahnya pucat dan nafasnya berat.


"Yu-er, maafkan ayahanda yang sudah menjadi ayah yang buruk untukmu. Maaf karena dulu tidak memperhatikanmu, tidak memberikan kasih sayang, dan tidak mengurus mu.", Ujar kaisar Ye menyesal sambil menundukkan kepalanya.


"Tidak. Aku tidak memerlukan semua itu dari anda, Yang Mulia Kaisar.", Ujar Dong Fang Yu lalu membuka matanya.


"Yu-er? Kukira kamu tidur nak.", Ujar Kaisar Ye lalu tersenyum pada putranya.


"Anda tidak perlu menyesal dengan apa yang sudah terjadi pada saya. Sesali saja atas apa yang terjadi pada Ibunda saya.", Ujar Dong Fang Yu dingin dengan ekspresi datar.


"Yu-er? Ti-tidak bisakah kau memaafkan aku nak?", Tanya Kaisar Ye.


"Bagaimana bisa saya berani? Anda adalah Kaisar Dong Fang Luan Ye yang hebat, bagaimana bisa anda meminta maaf dari saya?", Ujar Dong Fang Yu lagi-lagi mengeluarkan kata-kata sarkastik.


"A-aku mengerti. Tidak apa-apa jika kamu tidak mau memaafkan Ayahanda, tapi berjanjilah Yu-er. Berjanjilah agar kamu sembuh.", Ujar Kaisar Ye lalu mencoba menggenggam tangan Fang Yu.


Namun tangannya dengan cepat ditepis.


"Anda tau, jika masalah hidup dan mati, sakit dan sembuh, ada di tangan Tuhan. Tentunya saya tidak bisa menjanjikan hal seperti itu.", Ujar Dong Fang Yu.


"Yu-er. Ayahanda tau kalau kamu kesal dengan apa yang terjadi pada Ibunda mu. Tapi, bisakah kamu memberikan Ayahanda kesempatan untuk mendapatkan maaf mu?", Tanya Kaisar Ye sekali lagi.


"Selama 17 tahun saya hidup, 12 tahunnya saya lewati tanpa seorang ibu. Anda tau apa yang dikatakan orang-orang tentang saya? Anak dari wanita tidak tau diri. Anak pengkhianat. Anak malang. Itulah beberapa sebutan orang-orang untuk saya, Yang Mulia Kaisar.", Ujar Dong Fang Yu.


Entah kenapa saat membicarakan Ibunya, air mata Fang Yu seperti tidak bisa ditahan.


Setetes air berhasil lolos dan menetes di pipi putihnya.


"Yu-er. Ma-maafkan Ayahanda, Ayahanda menyesal. Ayahanda menyayangimu seperti pangeran dan putri yang lain, mendidikmu lebih keras hanya agar menjadikanmu sosok yang lebih kuat. A-ayah tidak bermaksud...", Kaisar Ye berkata dengan beberapa tetes air mata bercucuran ke pipinya tanda dia sangat menyesal atas perbuatannya di masa lalu.


Tentu saja Fang Yu yang melihat air mata ayahnya merasa tergerak. Namun rasa kesalnya lebih besar daripada rasa iba nya saat ini.


"Anda adalah seorang Kaisar dari negeri yang besar, Yang Mulia. Tidak pantas bagi seorang kaisar untuk menangis.", Ujar Dong Fang Yu.


"Seorang kaisar tidak boleh menangis? Seorang kaisar juga manusia! Aku juga mempunyai perasaan! Aku menyayangimu dan juga Nan-er. Kamu pikir aku tidak sedih atas kematiannya? Dia adalah wanita yang paling aku cintai, kehilangannya adalah hal terberat dalam hidupku!", Ujar Kaisar Ye penuh emosi.


Mata Dong Fang Yu membulat karena terkejut atas perkataan ayahnya.


'Ibunda adalah wanita yang paling dicintai kaisar? Aku tidak pernah dengar tentang hal itu?'


"Kamu tidak pernah mendengar hal itu bukan? Benar, Chu Jiang Nan adalah wanita yang paling aku cintai. Aku merasa sangat hancur ketika dia tertangkap ingin membunuhku.", Ujar Kaisar Ye lalu menunduk.


"Hingga aku sadar setelah kematiannya, itu semua adalah rencananya.", Ujar Kaisar Ye lalu tersenyum.


"Rencana... Ibunda?", Dong Fang Yu menatap ayahnya bingung.


"Rencana untuk menyelamatkan putra kami satu-satunya. Kamu, Fang Yu.", Ujar Kaisar Ye lalu menatap putranya tepat di manik biru itu.


"Apa maksudnya itu? Ibunda...sengaja melakukan semua itu? Sengaja tertangkap? Lalu...lalu...bunuh diri?", Tanya Fang Yu tak percaya.


"Maafkan aku Fang Yu. Aku yakin Nan-er tidak akan senang jika kamu mengetahui ini, tapi aku harus menceritakan pengorbanannya untuk anaknya sendiri. Kamu berhak untuk tau.", Ujar Kaisar Ye lalu mengelus kepala putranya.


Dong Fang Yu menatap ayahnya dengan tatapan yang sulit diartikan. Bulir-bulir air mata menetes di pipinya.


Kaisar Ye lalu berinisiatif untuk memeluk putranya itu.


"Tidak apa-apa. Ayahanda disini.", Ujar Kaisar Ye sambil mengelus pundak putranya.


Ini adalah pelukan pertamanya sejak 12 tahun yang lalu.


Hatinya merasa sangat hangat dan senang.


Dong Fang Yu memeluk balik ayahnya dan menangis didalam pelukannya.


Dia tidak peduli lagi dengan apa yang dikatakan orang-orang setelah mengetahui kebenarannya.


Tidak. Dia memang tidak peduli.


Kata siapa dia tidak menyayangi ayahnya?


Hanya saja rasa bencinya menutupi semua rasa sayang itu.


Tapi tidak. Sekarang dia sudah tau kebenarannya dan kebenciannya telah hilang.


Kaisar Ye menatap putranya hangat.


Sungguh, dia sangat senang karena hati putranya telah terbuka untuknya.


Dia tersenyum disela pelukan hangatnya.


Tiba-tiba dada Fang Yu terasa sangat sakit.


Fang Yu dengan cepat melepaskan pelukannya lalu terbatuk-batuk.


'Uhuk! Uhuk!'


Batuk darah.


"Fang Yu...", Kaisar Ye menatap putranya sedih.


Putranya terluka, dan bahkan seorang kaisar dari negeri besar sepertinya tidak bisa berbuat apa-apa.


Dong Fang Yu menatap ayahnya.


"Kebencian saya memang telah hilang, tapi rasa sayang saya tidak bisa ditunjukkan dalam waktu lama seperti saya menunjukkan rasa benci saya.", Ujar Dong Fang Yu sambil menunduk pasrah.


"Tidak! Kamu akan sembuh Yu-er, jangan berkata seperti itu.", Ujar Kaisar Ye takut.


"Saya tau waktu saya sendiri, Ayahanda. Dan saya yakin waktu saya tidak akan lama.", Ujar Dong Fang Yu lalu tersenyum kepada ayahnya.


Kaisar Ye menatap putranya sendu.


Dia tidak tahan dengan kata-kata putranya yang seakan menyerah untuk hidup itu.


'Tuhan, aku mohon. Turunkan lah keajaiban untuk putraku. Selamatkan lah dia, sembuhkan lah dia...'


.......


.......


.......


...**Hai guys! Apa kabar nih? Semoga baik dan sehat selalu ya^^...


...Jangan lupa klik like 👍🏻...


...Berikan komentar 💬...


...Tambahkan favorit +❤️...


...Dan jangan lupa rate 5 bintangnya ya ⭐⭐⭐⭐⭐...


...Sampai sini dulu chapter hari ini, sampai jumpa di chapter selanjutnya. Bye-bye 👋🏻**...


.......


.......


.......


~To be continued...