Time Travel: Rebirth Of The Daughter Of The Marquess

Time Travel: Rebirth Of The Daughter Of The Marquess
Ch.36: Kabar baik



Istana putra mahkota...


"Niang-niang, anda terlihat pucat, apa anda tidak apa-apa? Apakah niang-niang merasa sakit?", Tanya pelayan pribadi putri mahkota.


"*Ben gong tidak apa-apa, hanya merasa sedikit lelah. Tapi akhir-akhir ini perutku terasa tidak nyaman, mungkin ada masalah pada lambung ku.", Jawab putri mahkota.


(Ben gong: cara seorang wanita kerajaan menggunakan kata 'aku' yang merujuk pada dirinya sendiri sebagai pengganti nama).


"Apakah niang-niang ingin *Nubi panggilkan tabib kerajaan?", Tanya pelayan itu lagi.


(Nubi: cara seorang pelayan/dayang, untuk menggunakan kata 'aku', merujuk pada diri/ nama panggilannya).


"Tidak perlu, ini bukan penyakit yang parah. Tidak perlu merepotkan tabib kerajaan yang sibuk.", Ujar putri mahkota sambil tersenyum.


"Tapi niang-niang terlihat sangat pucat, dan saya perhatikan ini sudah lama terjadi sejak beberapa hari yang lalu.", Ujar pelayan itu dengan nada khawatir.


Dia tidak mau junjungannya itu sakit, jika tidak mungkin dia akan dihukum karena tidak menjaga majikannya dengan baik.


"Ben gong tidak apa-apa. Sudahlah, Ben gong ingin makan cemilan. Bawakan manisan buah leci kesini.", Ujar putri mahkota.


'Manisan leci? Bukankah Yang Mulia tidak terlalu suka makanan manis? Sudahlah, aku bawakan saja.'


"Baik niang-niang, akan segera nubi bawakan.", Ujar pelayan itu menurut.


Pelayan itu lalu membawakan manisan buah leci dari dapur.


"Ini manisan buah leci nya, yang mulia.", Ujar pelayan itu lalu menyerahkan wadah berisi manisan leci kerajaan yang manis dan enak.


"Baiklah, taruh saja di meja itu.", Ujar putri mahkota sambil menunjuk meja didepannya.


Putri mahkota makan manisan leci yang dibawakan pelayan tadi dengan lahap.


"Manisan ini enak sekali, berikan hadiah tael perak kepada koki yang membuatnya.", Ujar putri mahkota.


"Baik niang-niang."


Sementara pelayan itu pergi untuk mengantarkan hadiah, putra mahkota datang dan menghampiri istrinya tersebut.


"Istriku? Apa yang sedang kamu makan?", Tanya putra mahkota dari belakang.


"Huangzi? Ah, salam Yang Mulia. Qie tidak melihat Taizi datang, mohon maafkan kecerobohan qie.", Ujar putri mahkota sambil membungkuk hormat.


"Istriku, apa yang kamu lakukan? Tidak perlu terlalu kaku padaku.", Ujar putra mahkota menggenggam tangan putri mahkota dan tersenyum padanya.


Putri mahkota tersenyum.


"Baik Wangye.", Ujar putri mahkota tersenyum.


"Apa yang sedang kau makan itu istriku? Kelihatannya kamu sangat menyukainya?", Tanya putra mahkota.


"Ya? Oh, ini adalah manisan buah leci dari dapur, yang mulia.", Ujar putri mahkota.


"Oh? Setahuku kamu tidak terlalu suka makanan manis?", Ujar putra mahkota heran.


"Saya juga tidak tau, tapi saya hanya tiba-tiba ingin makan sesuatu yang manis. Saya tiba-tiba jadi sangat menyukainya.", Ujar putri mahkota tersenyum.


"Begitu ya, kalau begitu makanlah yang banyak, ya.", Ujar putra mahkota sambil tersenyum kepada istrinya.


"Baik Wangye.", Ujar putri mahkota mengangguk.


"Hm, bukankah sudah aku bilang jangan panggil aku dengan panggilan yang kaku? Panggil Benwang Ah Jin.", Ujar putra mahkota sambil mengelus rambut putri mahkota lalu mencium dahinya.


"Wangye! Ah, bukan! Ah Jin! Disini masih ada para dayang, Kasim, dan juga pelayan. Ini memalukan.", Ujar putri mahkota sambil tersipu malu.


"Hahaha, memangnya kenapa? Aku berhubungan baik dengan istriku, bukankah itu bagus?", Ujar putra mahkota sambil tertawa.


Saat sedang asyik mengobrol bersama dengan putra mahkota, tiba-tiba rasa sakit menyerang kepalanya.


Itu terasa sangat sakit dan berat sampai-sampai putri mahkota terhuyung.


"Istriku!", Teriak putra mahkota khawatir saat menangkap istrinya yang hampir jatuh karena terhuyung kedepan.


"Uggh! Sakit."


"Ada apa istriku? Cepat! Panggilkan tabib!", Teriak putra mahkota pada pelayan yang ada diluar.


Pelayan yang ada diluar langsung lari terbirit-birit saat mendengar perintah majikannya.


Tak lama kemudian tabib istana datang dan memeriksa keadaan putri mahkota yang sekarang terbaring di ranjang.


Tabib memeriksa nadinya dan mengangkat kedua alisnya.


Dia lalu meletakkan kembali tangan putri mahkota dan mulai membereskan barang-barangnya.


"Apa yang terjadi tabib? Istriku sakit apa?", Tanya putra mahkota dengan nada khawatir.


"Tidak ada yang perlu dikhawatirkan, niang-niang hanya kelelahan. Ini bisa sembuh dengan banyak istirahat.", Ujar tabib itu.


"Kelelahan? Apakah itu mungkin mempengaruhi kesehatannya?", Tanya putra mahkota.


"Tidak juga. Ini umum bagi seorang ibu hamil untuk merasa cepat lelah.", Ujar tabib.


"Apa!?", Beberapa orang yang berada didalam ruangan itu termasuk putra mahkota dan putri mahkota langsung shock saat mendengar perkataan tabib.


"Ha..hamil? Si.. siapa yang hamil? Aku hamil?", Tanya putri mahkota tak percaya.


"Benar, niang-niang hamil.", Ujar tabib itu sambil mengangguk.


"Boleh saya tanya, kapan niang-niang terakhir kali menstruasi?", Sambung tabib itu lagi.


"Ah! Itu...kalau tidak salah, Ah! Ya, 3 bulan yang lalu? Aku tidak menyadarinya kalau aku terlambat datang selama itu.", Ujar putri mahkota tersadar.


"Hm, kalau menurut yang saya tau dari awal muncul gejala sakit dan beberapa kali anda terlambat menstruasi. Usia kandungan yang mulia sudah 3 bulan.", Ujar tabib itu.


"3 bulan? Aku hamil 3 bulan! Suamiku!", Teriak putri mahkota kegirangan.


"Istriku, terimakasih karena telah memberikan aku kebahagiaan ini.", Ujar Dong Fang Jin sambil memeluk istrinya.


"Iya, Wangye.", Ujar putri mahkota sambil tersenyum.


"Berikan hadiah kepada tabib sekantung tael perak, beberapa perhiasan, dan juga kain sutra. Berikan juga kepada semua Kasim, dayang, dan pelayan yang ada di kediaman putra mahkota hadiah tael perak.", Ujar putra mahkota memerintahkan.


Berita tentang hamilnya putri mahkota tersebar cepat keseluruh istana.


Kediaman putra mahkota dibanjiri ucapan selamat dan hadiah-hadiah dari para selir kaisar juga para menteri yang mencoba menjilat putra mahkota.


Jika anak putra mahkota lahir, maka dia akan menjadi cucu pertama kaisar.


-----------------------------


Sementara itu, kediaman permaisuri...


'Prang!' 'Bruk!' 'Prang!'


Kediaman permaisuri heboh dengan suara barang-barang dan perabot yang dilempar.


Permaisuri marah besar setelah mendengar berita kehamilan putri mahkota.


"Sialan! Ini tidak ada dalam rencana ku! Kenapa putri mahkota harus hamil sekarang!?", Gumam permaisuri sambil masih melemparkan beberapa barang.


"Niang-niang, tenanglah.", Beberapa dayang pribadi permaisuri mencoba menenangkannya yang seperti harimau itu saat marah.


"Aku harus melenyapkan anak itu sebelum dia lahir! Dia tidak boleh lahir!", Teriak permaisuri penuh amarah.


"Tidak bisa begini! Yan'er juga harus memiliki anak dengan istrinya! Aku harus segera menyuruh Yan'er untuk memiliki anak.", Gumam permaisuri.


------------------------------


Kerajaan terjajah, Chu...


"Jendral."


"Ada apa?"


"Kami mengirimkan mata-mata ke Dongfeng sesuai perintah anda untuk menyelidiki pangeran ketiga."


"Lalu?"


"Pangeran ketiga memiliki rambut perak dan mata berwarna biru. Ini sesuai dengan apa yang dikatakan dalam ramalan."


"Hm, kalau begitu aku harus menjemput keponakan itu dari Dongfeng. Sudah saatnya kerajaan Chu bangkit dipimpin oleh raja sejatinya dan bukan raja boneka belaka."


"Baik jenderal."


Pria yang terlihat berusia 50-an itu menatap kearah jendela dan memperhatikan bulan purnama.


"Keluarga kerajaan Chu adalah keturunan langsung dari Dewa bulan. Hanya seorang yang memiliki rambut perak dan bermata biru saja yang dapat menaiki tahta sejati.",


Ujar pria itu sambil mengutip kata-kata dari buku suci klan Chu.


"Kakak ipar, pengorbanan mu tidak sia-sia dengan melahirkan anak itu."


--------------------------


Zaman dahulu dunia manusia berada di zaman kegelapan. Iblis membuat kerusuhan dan membunuh para manusia.


Hanya sedikit yang bisa bertahan.


Kaisar giok, kaisar para dewa memerintahkan kepada para Dewa dan Dewi turun ke dunia manusia untuk membantu manusia memenangkan perang melawan para iblis.


Diantara para Dewa tersebut, yang paling terkenal dan sangat menyayangi manusia adalah Sheng Yue, sang Dewa bulan.


Dewa bulan bersama dengan Dewa lainnya membantu para manusia mengalahkan para iblis. Namun akibat perang tersebut, banyak Dewa-dewa hebat gugur.


Para Dewa yang tersisa diperintahkan untuk kembali ke langit.


Namun Sheng Yue sang Dewa bulan menolak kembali ke langit dan tetap di dunia manusia.


Karena kaisar giok mengetahui rasa sayang Dewa bulan kepada para manusia, akhirnya kaisar giok mengizinkan Dewa bulan tinggal dengan satu syarat, yaitu keabadiannya sebagai dewa akan diambil dan dia akan menjadi manusia biasa.


Dewa bulan menerimanya dan tetap hidup di dunia manusia.


Setelah menjadi manusia yang fana, Dewa bulan memutuskan untuk membangun sebuah negeri yang makmur dan berjaya.


Dengan dibantu oleh Phoenix hitam sang Dewa bumi, Sheng Yue membangun negerinya.


Akhirnya terbentuklah sebuah kerajaan yang kuat, makmur, aman dan damai.


Kerajaan tersebut diberi nama 'Chu'.


Karena tubuhnya yang tidak lagi abadi, Dewa bulan mengalami penuaan lalu meninggal dunia.


Sebelum meninggal, Dewa bulan memberikan sisa kekuatan dewa nya kepada putra semata wayangnya.


Akibat kekuatan itu, anaknya menjadi setengah dewa dan kondisi fisiknya berubah.


Rambutnya yang hitam berubah menjadi berwarna perak dan matanya yang hitam berubah menjadi biru.


Pada akhirnya keturunan langsung dewa bulan yang naik tahta untuk mengurus masalah negeri Chu.


Karena penampilan dewa bulan yang mencolok dengan wajah yang tampan, tubuh yang bersinar sempurna, rambut perak yang berkilauan, dan manik mata biru yang bersinar seperti permata safir. Akhirnya ditunjuklah seorang putra dari Dewa bulan yang setengah dewa untuk menjadi raja.


Dalam satu keturunan, hanya ada satu orang yang bisa mewarisi keistimewaan ini.


Seorang raja terpilih hanya jika dia seorang keturunan kerajaan yang memiliki rambut perak dan mata biru. Seseorang yang memenuhi kriteria tersebut, berhak menjadi raja.


Konon katanya orang yang memenuhi kriteria tersebut adalah setengah dewa yang merupakan titisan dewa bulan suci.


Namun ada satu lagi hal yang tidak diketahui oleh orang luar bahkan hampir tidak diketahui oleh rakyat kerajaan Chu sekalipun, hanya diketahui oleh orang yang mewarisi tahta kerajaan.


Sebelum nafasnya berhenti, Dewa bulan mengumpulkan inti sari kekuatan dewa miliknya yang tersisa dan menciptakan sebuah benih, benih teratai bulan suci.


Menurut ramalan, Dewa bulan akan terlahir kembali hanya jika benih teratai bulan suci mekar di rahim sang penjaga benih.


Benar, sesungguhnya para raja terpilih tersebut adalah orang yang menjaga benih teratai bulan suci.


Karena menjaga ramalan ini juga, kerajaan Chu menjadi kerajaan yang tertutup bagi orang luar namun tetap kuat dan makmur.


Selama beribu-ribu tahun, anggota kerajaan Chu menunggu ramalan ini terwujud.


Karena jika ramalan ini terwujud, maka dewa bulan akan terlahir kembali dan kerajaan Chu sekali lagi akan berada pada masa keemasannya.


Namun, sudah beberapa generasi, hanya seorang pria saja yang terpilih menjadi penjaga benih.


Para penjaga benih menunggu-nunggu kelahiran penjaga benih wanita.


Lalu suatu malam bulan purnama, lahirlah seorang anak perempuan. Chu Jiang Nan.


Dia mendapatkan berkah dengan rambut perak dan bermata biru.


Akhirnya lahir juga seorang penjaga benih wanita, dan terpenuhi lah ramalan dewa bulan dapat terlahir kembali dari wanita tersebut.


Namun sebelum semua itu terjadi, kerajaan Chu di serang oleh 4 kekaisaran besar yang ada di benua timur.


Dongfeng, Tianxing, Da Ling, dan Xia. 4 kekaisaran besar tersebut menyerang kerajaan Chu yang kuat dan makmur secara bersamaan.


Kerajaan Chu jatuh hanya dalam waktu semalam.


Raja Chu yang merupakan ayah dari putri Chu Jiang Nan dibunuh oleh kaisar Dongfeng, Dong Fang Luan Ye.


Setelah membunuh ayahnya, kaisar Ye lalu menikahi Chu Jiang Nan sebagai selir.


Chu Jiang Nan merasa sangat putus asa ketika dibawa ke negeri Dongfeng.


Seharusnya dia menjadi ratu dan membuat ramalan tentang terlahirnya kembali Dewa bulan terwujud, namun dia malah dibawa kesini dan dijadikan selir oleh kaisar ini. Untungnya dia membawa benih teratai bulan bersamanya.


Setelah mengalami keputusasaan selama beberapa bulan, permaisuri Zhang menjadi teman pertamanya di negeri Dongfeng.


Dia menceritakan semuanya kepada Zhang Junda bahwa seharusnya dia melahirkan Dewa bulan.


Akhirnya Chu Jiang Nan memutuskan untuk menelan benih teratai bulan dan melahirkan kembali dewa bulan dalam rahimnya.


Setelah anak itu lahir, dia menjadi pangeran ketiga kekaisaran Dongfeng, Dong Fang Yu.


Chu Jiang Nan langsung tau kalau Dong Fang Yu adalah Dewa bulan suci yang telah terlahir kembali.


Namun dia tersadar, Dong Fang Yu berbagi kekuatan dewa bulan bersamanya.


Kekuatan Dong Fang Yu tidak akan sempurna dan bahkan akan menjadikannya anak yang cacat.


Setelah umur Dong Fang Yu 3 tahun, Chu Jiang Nan memutuskan untuk merencanakan pembunuhan palsu terhadap kaisar. Akibatnya dia dikirim ke istana dingin oleh kaisar.


Setelah di istana dingin, Chu Jiang Nan melakukan ritual pengalihan kekuatan Dewa lalu bunuh diri.


Selama dia hidup, Dong Fang Yu tidak akan pernah bisa memiliki kekuatan Dewa seutuhnya, karena itu dia memilih mengorbankan dirinya untuk Dong Fang Yu.


Setelah Chu Jiang Nan meninggal, putranya diasuh oleh permaisuri Zhang.


.


.


.


**Hai guys! apa kabar Yo?


Kalau ada yang bertanya kenapa aku lama update, well...


Sebenarnya ini belum waktunya update, karena like di chapter sebelumnya belum mencapai 200, hah😩


Aku update kali ini karena kesihan melihat kalian menunggu-nunggu update yang lama😊


Oke, kalau begitu chapter selanjutnya akan di update jika like mencapai 150.


klo kali ini juga gak sampai target, kayaknya aku akan pindah lapak😁


Jadi, itu aja yang mau aku sampaikan:)


Jangan lupa klik like dan beri komentar^^


And See you on the next chapter, bye-bye 👋


.


.


.


Tbc**...