
Setelah sampai di Gillan Hotel, Julian keluar dari mobil paling terakhir, dan menjadi pusat perhatian karena keluar dari mobil keluarga Gillan.
Para wartawan mendekati keluarga Gillan, lebih tepatnya Julian.
Tapi, karena banyak bodyguard yang datang bersama keluarga Gillan, para wartawan itu langsung dihadang agar tidak mendekat.
"Julian, kau harus terbiasa dengan semua ini, di masa depan, kau akan terkenal" ucap Vinie.
"Ya, Bu" ucap Julian.
"Ayah, Ibu, apa Kak Violan akan datang?" tanya Vivian.
"Dia akan datang, tapi mungkin akan telat" ucap Vinie kepada Vivian.
Saat mereka sampai di lantai teratas Gillan Hotel, terlihat sudah banyak orang di sana, Julian hanya mengikuti orangtuanya karena tidak terlalu menyukai tempat yang ramai.
'Sena, jika aku ingin meningkatkan mu ke level maksimal butuh berapa poin' tanya Julian kepada Sena di dalam pikirannya.
>"10 milyar poin"<
Alex tersedak ketika mendengar perkataan Sena.
"Aku tidak punya poin sebanyak itu" gumam Julian.
>"Master bisa menukarkan poin untuk dijadikan uang, setelah itu Master bisa merubahnya lagi menjadi poin"<
'Sangat licik!' pikir Julian ketika mendengar perkataan Sena.
'Sena, tukarkan satu juta poin milikku, ke rekening milikku, jangan yang dari keluarga Gillan"
>"1 juta poin ditukarkan, 100 milyar rupiah ditambahkan ke dalam rekening milik Master… sisa poin 18.535"<
'Tukarkan 100 milyar menjadi poin'
>"Berhasil ditukarkan, sisa poin 100.000.018.535"<
"Sena, mulai upgrade sampai maksimal"
>"Memulai peningkatan… sistem tidak akan aktif selama 1 minggu"<
'1 minggu ya'
[Ding! Sistem cadangan diaktifkan! Memulai proses pengenalan Tuan! Proses pemindaian berhasil!]
Julian mendengar suara yang cukup keras, dan layar transparan muncul di depan Julian, untung saja suara sistem itu hanya bisa didengar oleh Julian.
Tapi, saat Julian akan mengecek sistem cadangan itu, Vinie tiba-tiba memanggilnya.
"Julian, mendekatlah" ucap Vinie.
"Ya"
Julian langsung mendekati Ibunya itu.
"Julian, mereka dari perusahaan Laren's Corp. dia adalah George Laren, pemilik perusahaan Laren's Corp. dan disampingnya adalah Dila Laren, putri dari George Laren" ucap Nattan.
'Ho~, orang yang selalu membully-ku' pikir Julian.
Julian juga melihat orang-orang yang selalu membully-nya di sekolah, mereka adalah Ashan, Roby, Angel, dan Fika, mereka terlihat mendekati Dila.
Nattan tiba-tiba mendapat pesan, dan langsung memberitahu Julian.
"Julian, ada paket untukmu, itu ada di lantai bawah" ucap Nattan.
Julian langsung pergi dari sana.
'Paket? Tapi aku tidak memesan apapun' pikir Julian.
Saat Julian sudah ada di lantai 1, Julian langsung mengambil paket itu dan membukanya.
Saat dibuka, Julian terkejut ketika isi paket itu adalah bom, dan terlihat sisa waktu kurang dari 10 menit.
"Sistem, cari kabel atau sesuatu untuk mematikan bom ini"
[Memindai bom, membutuhkan proses beberapa saat]
Seorang Bodyguard yang melihat perilaku Julian yang aneh, langsung mendekati Julian.
"Tuan muda, apa anda baik-baik saja?" tanya bodyguard itu.
"Jangan mendekat!" teriak Julian.
Saat bodyguard itu melihat ke arah paket yang dipegang Julian, bodyguard itu sangat terkejut.
"Bom!" teriak bodyguard itu.
Semua orang yang ada di lantai 1 langsung panik, dan berlari ke luar. Alarm peringatan juga berbunyi membuat pesta yang ada di lantai paling atas langsung bubar, dan berlari ke luar dari hotel.
"Tuan muda, anda harus membuang bom itu" ucap Brian.
"Ambilkan aku sebuah gunting" ucap Julian, yang membuat Brian bingung.
"Tapi…"
"Ambilkan saja" ucap Julian, dan Brian langsung mencari gunting itu, setelah menemukannya, Brian memberikannya kepada Julian.
[Proses pemindaian selesai… menampilkan struktur bom]
Sebuah hologram langsung muncul di hadapan Julian.
Julian melihat hologram itu, dan langsung memotong kabel yang memiliki warna berbeda di hologram itu, dan bom itu langsung non-aktif.
Brian terkejut karena melihat bom itu mati.
'Tuan muda sangat hebat bisa menghentikan bom' pikir Brian.
Tapi, saat semuanya mulai tenang, bom itu mengeluarkan bunyi yang cukup keras, yang membuat semua orang terkejut.
[Terdeteksi bom cadangan di dalam bom]
"Apa?"
[Bom akan meledak kurang dari 1 menit]
"Brian, suruh semua orang menjauh, ada bom lain di dalamnya!" teriak Julian.
Brian mengangguk dan berteriak untuk menyuruh semua orang menjauh.
"Tuan muda, kita juga harus segera pergi. Tuan, Nyonya, dan Nona juga sudah di luar" ucap Brian.
"Kau pergi dulu, aku akan menyusul" ucap Julian.
Julian masih mengotak-atik bom itu, membukanya, dan terlihat waktunya tinggal 30 detik.
"Sial, tidak akan sempat" umpat Julian.
Julian terus mencoba untuk mematikan bom itu, dan Julian hanya satu-satunya yang ada di dalam hotel.
Saat bom itu hanya tersisa 10 detik, Julian langsung berlari ke luar, tapi entah kenapa pintu keluarnya terkunci.
'Apa ada yang menguncinya untuk membuatku terbunuh?' pikir Julian.
Julian membuka pintu itu dengan kekuatannya, tapi saat pintu itu terbuka, bom langsung meledak dan membuat Julian terlempar sampai menabrak bangunan yang ada di seberang.
"Ukh, aku lupa mengaktifkan armor naga" ucap Julian sambil meringis kesakitan.
Tapi, karena Julian memiliki skill regenerasi, luka ditubuhnya langsung sembuh.
Nattan dan Vinie yang melihat Julian terlempar sampai menabrak tembok langsung menghampirinya. mereka terkejut karena melihat Julian masih baik-baik saja tanpa luka sedikitpun.
"Julian, apa kamu baik-baik saja?" tanya Vinie khawatir dengan keadaan putranya.
"Aku baik-baik saja Bu" ucap Julian sambil berdiri perlahan.
"Tidak ada korban kan?" tanya Julian.
"Tidak ada, tapi kau harus memeriksakan diri ke rumah sakit" ucap Nattan.
"Ayah, aku baik-baik saja, tidak ada luka sedikitpun" ucap Julian.
"Tetap saja, bagaimana jika ada luka dalam" ucap Vinie.
"Baiklah Bu, nanti aku akan pergi ke rumah sakit" ucap Julian.
Saat semua orang sedang panik karena hal yang baru saja terjadi, sebuah mobil terlihat berhenti tak jauh dari Gillan Hotel.
Seorang gadis yang mirip dengan Vivian keluar dari mobil itu, dia adalah Violan.
"Ayah, Ibu, apa yang terjadi?" tanya Violan sambil menghampiri Nattan dan Vinie.
"Violan, kau sudah datang" ucap Nattan.
"Ya, apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Violan.
"Ada seseorang yang mengirim sebuah paket berisi bom, dan untung saja tidak ada korban" ucap Nattan.
"Dia siapa?" tanya Violan sambil menunjuk Julian.
"Dia Kakakmu" ucap Vinie.
"Oh"
'Sikapnya bertolak belakang dengan Vivian' pikir Julian.
"Ayah, Ibu, aku harus berganti pakaian" ucap Julian sambil melihat pakaiannya yang compang-camping akibat ledakan dari bom.
Nattan memanggil seseorang untuk membawakan pakaian baru untuk Julian, dan saat sampai Julian langsung mengganti pakaiannya.
Violan menatap ke arah Julian karena tubuh Julian terlihat atletis, Julian mengganti pakaiannya di sana karena disekitar masih banyak debu, jadi tidak akan ada yang melihatnya dengan jelas.
"Ada apa?" tanya Julian kepada Violan yang terus menatap tubuhnya.
"Tidak apa-apa, hanya saja kau memiliki tubuh yang bagus, tidak seperti Ayah" ucap Violan.
"Violan, apa yang kamu katakan?" tanya Nattan kesal karena perkataan putrinya itu.
Violan hanya memalingkan wajahnya, dan ada sedikit senyuman di bibirnya, walaupun samar, Julian masih bisa melihatnya.