The Whole World In A Smartphone Card

The Whole World In A Smartphone Card
42



Julian menghela napasnya pelan, dadanya masih terasa sesak mengingat kembali ingatan yang tidak ingin dia ingat.


Julian tersadar kembali ketika merasakan jika tangan Rin lepas dari tangannya.


Melihat ke arah Lucifer berada, dan terlihat Rin yang berada di gendongan Lucifer sambil menangis.


"Aku akan membawanya" ucap Lucifer.


"Mungkin lebih baik dia di sini dulu"


"Apa maksudmu manusia rendahan" ucap Lucifer.


"Apa kau yakin jika membawanya ke tempatmu akan membuatnya berhenti menangis dan bisa menenangkannya?"


Perkataan Julian membuat Lucifer terdiam.


"Putrimu, Rin mengalami trauma, itu terjadi karena Ibunya tiada di hadapan matanya sendiri, apa kau yakin bisa menenangkannya jika dia masih teringat dengan Ibunya?"


"…"


"Satu-satunya cara adalah mengalihkan perhatiannya dari ingatan yang membuatnya trauma itu semakin dia tidak mengingat traumanya, itu semakin baik"


"Kau seperti sudah biasa dengan hal seperti ini" ucap Lucifer membuat Julian tersenyum kikuk.


Julian kemudian mendekati Rin yang berada di gendongan Lucifer.


"Rin, mau ikut Kakak lihat bunga?"


"Bunga?" ucap Rin masih sesenggukan.


"Iya, diluar ada banyak bunga yang cantik seperti Rin"


Rin yang mendengar itu hanya mengangguk, merentangkan kedua tangannya ke arah Julian, Julian yang melihat itu langsung menggendong Rin.


Lucifer hanya bisa diam, rasanya tidak rela jika putrinya bersama orang lain.


'Oh iya, Zev ada di mana?'


[Dia ada di luar, saat Lucifer datang, dia langsung berlari keluar]


'Anak itu, dasar! Meninggalkan Tuannya sendiri di sini!'


Julian berjalan keluar ruangan itu sambil menggerutu di dalam hati.


Saat keluar, mata Rin berbinar ketika melihat bunga berwarna-warni di sekelilingnya.


"Woah! Bunganya cantik" kagum Rin melihat semua bunga di sekitarnya.


Julian yang melihat itu menurunkan Rin, membiarkan Rin melihat-lihat.


Di belakang Julian, Lucifer hanya berdiri diam melihat putrinya yang tersenyum bahagia ketika melihat bunga.


Menghilangkan sayapnya, Lucifer memilih duduk di salah satu bangku taman yang ada di sana.


Sesaat kemudian Narin tiba-tiba muncul mengagetkan Julian yang sedang fokus melihat Rin.


"Julian!" teriak Narin.


"Bisakah jika datang kabari dulu? Sedang ada tamu di sini" ucap Julian, Narin hanya terkekeh.


Perhatian Narin kemudian terarah kepada seorang pria berambut putih yang sedang duduk di salah satu bangku taman di Rumah Kaca itu.


Lucifer yang merasa diperhatikan langsung melirik ke arah Narin, mata mereka bertemu membuat Lucifer terdiam.


"Meeza…" gumam Lucifer ketika melihat Narin.


"Hei, dia siapa?" bisik Narin kepada Julian.


"Kenapa bertanya?" tanya balik Julian.


"Dia tampan" ucap Narin sambil terkekeh pelan.


"Maaf saja, dia sudah punya seorang anak" ucap Julian sambil menunjuk Rin yang saat ini bermain dengan Zev.


Sedangkan Narin yang mendengar itu menjadi muram.


Rin yang tadinya bermain dengan Zev, perhatiannya teralihkan kepada Narin, dan Rin tiba-tiba berlari ke arah Narin dan langsung memeluknya.


"Huwaaaa…"


"Eh-ehhhh…" kaget + panik Narin ketika Rin menangis, dan langsung berjongkok menyamakan tingginya dengan Rin.


"Cup-cup, nanti cantiknya ilang kalau nangis" ucap Narin yang malah membuat tangisan Rin makin keras.


Narin yang tidak ada pengalaman dengan anak kecil membuatnya panik.


"Meeza" ucap Lucifer yang tiba-tiba berada di belakang Narin.


"Eh? Meeza? Siapa?" tanya Narin.


"Kau bukan Meeza?"


"Namaku Narin, bukan Meeza" ucap Narin.


"Mama…" lirih Rin.


Narin hanya terdiam, apa yang harus dia respon sekarang? Dia tidak pernah melakukan hubungan apapun dengan laki-laki, bagaimana dia memiliki seorang anak sebesar ini.


"Kau mirip dengannya, mungkin karena itu juga Rin menganggap mu sebagai Ibunya" ucap Lucifer, Narin hanya terdiam.


'Ugh, suaranya benar-benar memabukkan' batin Narin.


Pak!


Julian menggeplak kepala Narin karena tahu apa yang sedang dipikirkan oleh wanita itu.


"Heh! Tidak sopan main pukul kepala orang yang lebih tua!" kesal Narin.


"Jangan berpikiran yang tidak-tidak, apa perlu aku mencuci otakmu yang kotor itu" ucap Julian datar, Narin yang mendengarnya hanya mengerucutkan bibirnya.


Julian menatap datar dengan wajah gelap ketika melihat tingkah Narin yang sok imut itu.


"Ingat umur" gumam Julian yang masih bisa terdengar oleh Narin.


"Heh! Anak kecil diam aja ya!"


"Haru mau dikemanakan?" tanya Julian yang membungkam Narin, dan membuat wajahnya merah padam.


Narin menyukai Haru, dan Haru juga menyukai Narin, tapi diantara mereka tidak ada yang berani mengungkapkan perasaan.


>"Jangan sampai Narin berpindah hati, apalagi kepada Iblis seperti Lucifer"<


Julian yang mendengar suara Sena dibenaknya hanya bisa mengangguk setuju.


"Ekhem! Apa maksudmu?" tanya Narin mencoba menenangkan diri.


"Ha~h, nada bicara dan perilaku mu seperti remaja yang masih puber" ucap Julian sedatar-datarnya.


Wajah Narin semakin memerah, dia tidak bisa menyangkalnya.


"Aku benar-benar diabaikan di sini" ucap Lucifer.


"Oh- maaf, tadi kau bilang dia mirip dengan Ibu Rin kan?" tanya Julian kepada Lucifer.


"Ya, wajahnya mirip, tapi sikap dan sifat mereka sangat berbeda, Istriku memiliki sifat yang lembut, anggun, dan penyayang. Tapi dia… hah~ aku tidak bisa berkata apa-apa" ucap Lucifer.


Ketika mendengar itu wajah Narin menjadi muram, perempatan tercetak di dahinya.


"HAH! APA YANG KAU KATAKAN! SANGAT TIDAK SOPAN BERBICARA SEPERTI ITU KEPADA SEORANG WANITA" teriak Narin.


Teriakan Narin membuat Rin takut, lalu berlari ke belakang Julian.


"hiks… Mama jadi menyeramkan" ucap Rin, tubuhnya gemetar ketakutan, bahkan Rin mencengkeram celana Julian erat.


"Huh?! Ternyata kau sangat pemarah seperti ini, kau benar-benar berbeda dengannya"


"Memangnya kenapa? Aku Narin, bukan seseorang yang kau sebut Meeza itu, Narin! Ingat itu" geram Narin kepada Lucifer.


Lucifer yang mendengar itu menjadi marah, wajahnya benar-benar dingin, bahkan aura membunuh mengguar dari tubuhnya.


Aura membunuh itu membuat Julian dan Narin membeku di tempat, bahkan napas mereka menjadi sesak.


Sedangkan Zev sudah menjauh sejauh mungkin dari mereka berempat.


Lucifer hanya mengeluarkan aura membunuhnya kepada Julian dan Narin, jadi Rin baik-baik saja walaupun dia didekat Julian.


"Papa" panggil Rin, membuat Lucifer melepas aura membunuhnya itu, dan menatap Rin dengan ekspresi hangat.


'Hot Daddy benar-benar beda' batin Narin.


Sedangkan Julian mundur beberapa langkah sambil menyeret Narin menjauh dari Lucifer ketika pegangan tangan Rin lepas dari celananya.


"Ada apa?" gumam Narin.


"Jangan dekat-dekat dengannya"


"Huh, memangnya kenapa sih?"


"Kau tidak tau dia siapa?" tanya Julian, dan Narin menggeleng karena tidak tau.


"Sistem mu tidak memberitahu?"


"Tidak, aku mengubahnya menjadi mode diam karena berisik, dan aku juga mematikan mode layarnya" ucap Narin.


"Ha~, dia itu Lucifer"


"Lucifer? Raja Iblis dari dunia bawah?" tanya Narin.


"Ya" Julian mengangguk mantap.


"Sialan! Habis sudah" gumam Narin, tubuhnya merosot ke bawah, dan sekarang dia sedang berjongkok dengan kedua tangan menutup wajahnya.


"Ada apa, tadi kau marah-marah padanya, sekarang kau seperti orang frustasi" ucap Julian membuat Narin semakin menundukkan kepalanya.


"Dia bukan seseorang yang bisa kita anggap remeh, dia berani menentang Absolute God, apalagi kita yang hanya semut di matanya" gumam Narin yang hanya bisa di dengar oleh Julian.


Julian hanya mengedikkan bahunya, karena selama Rin dekat dengannya, tidak mungkin Lucifer melakukan sesuatu padanya.


Julian kemudian duduk si salah satu bangku taman, melihat Narin yang sedang frustasi.


'Kenapa se-frustasi itu, bahkan dia tidak menganggap mu' batin Julian ketika melihat Lucifer yang sudah menjauh.


Lucifer mengikuti putrinya di belakang seperti anak ayam, dan Rin yang terus berbicara kepada Lucifer sambil melihat-lihat lagi bunga yang ada di rumah kaca itu, bahkan mereka berdua diabaikan olehnya.


Dan Sena yang dari tadi sedang memakan popcorn di dimensi sistemnya, sambil melihat layar yang menampilkan semua hal yang terjadi di rumah kaca itu.


'Lumayan tontonan gratis' batin Sena yang hanya bisa didengar olehnya sendiri.