The Whole World In A Smartphone Card

The Whole World In A Smartphone Card
47



"Oh ya Julian, apa kita bisa membuat kesepakatan?" tanya Raven.


"Kesepakatan?"


"Ya, buatkan kami sebuah tubuh, mau itu robot atau hewan, karena tidak mungkin jika kau bisa membuat tubuh manusia karena itu akan melawan hukum semesta yang ada" ucap Laveer.


"Apa untungnya bagiku?" tanya Julian.


"Kami bisa membantumu ketika dalam bahaya, buatkan saja satu tubuh untuk kami, lagipula jiwa kami terikat dengan mu, dan kami tidak bisa terlalu lama terpisah dengan mu" ucap Laveer.


"Kau memiliki kekuatan, dan kami memiliki pengalaman, kami benar-benar akan melatih tubuhmu agar bisa bergerak dan beradaptasi dengan keahlian yang kami miliki" ucap Bastiaan sambil tersenyum cerah.


"Aku akan melatih otak dan kata-katamu" ucap Raven.


"Aku akan melatih perilaku, ketenangan dan gerak tubuhmu agar terlihat berwibawa dan mendominasi" ucap Laveer.


"Aku akan melatih mu cara bertarung dengan benar dan strategi pertarungan atau strategi perang" ucap Ivander.


"Aku akan melatih mu cara membunuh" ucap Bastiaan dengan senyuman cerahnya, sedangkan Julian berkeringat dingin ketika melihat ke arah Bastiaan.


Pemuda berambut cokelat itu terlihat polos dan ceria, tapi aura membunuhnya disekitarnya sangat mencekam.


"Hahaha! Jangan membuat ekspresi seperti itu, kau pasti akan membutuhkan semua keahlian yang dimiliki Bastiaan, itu akan sangat membantu dalam membunuh monster dengan cepat" ucap Raven.


"Uh- ya, sepertinya aku akan membutuhkannya" ucap Julian.


"Kalau begitu, kita buat jadwalnya dulu, untuk seminggu ke depan, Raven akan mengajarimu, lalu Minggu depannya giliran ku, setelah itu Ivander, lalu Bastiaan. Kita akan terus berlatih sampai setahun ke depan, bagaimana?" tanya Laveer.


"Tidak ada libur?" tanya Julian.


"Libur? Kau bercanda, lagipula pelatihan mu akan dilakukan di sini, di alam bawah sadarmu, tubuhmu juga dalam kondisi tertidur dan istirahat, kenapa harus ada libur?" tanya Raven.


Julian yang mendengarnya hanya menatap datar ke arah Raven.


"Untuk sekarang, kau kembalilah dulu, besok kita akan mulai" ucap Laveer.


Julian hanya mengangguk, setelah itu kesadaran Julian kembali, dan dia melihat langit-langit kamar dalam penglihatannya.


Saat melihat ke arah samping kanan, Julian melihat Sena dalam wujud anak kecilnya sedang duduk di sampingnya.


"Master! Akhirnya kau bangun, apa yang terjadi?" tanya Sena khawatir.


"Sena, kau tau alam bawah sadar?" tanya Julian.


"Eh? Tunggu sebentar" ucap Sena, setelah itu dia menghilang dari hadapan Julian.


Julian bangkit dan duduk di tepi kasur.


[Tidak ada artian yang spesifik mengenai alam bawah sadar, tapi Sena menyimpulkan jika alam bawah sadar adalah tempat di mana perasaan, pikiran, dorongan keinginan, dan kenangan yang tidak pernah kita sadari. Bentuk emosi yang tersimpan juga beragam, mulai dari perasaan sakit, cemas, hingga trauma masa lalu]


Sebuah hologram muncul di hadapan Julian.


[Kenapa Master tiba-tiba bertanya?]


"Tidak ada apa-apa" ucap Julian.


Menghela napas kasar, Julian berdiri, mengambil handuk, dan langsung berjalan masuk ke kamar mandi.


15 menit kemudian Julian keluar dari kamar mandi dengan hanya handuk yang melilit di pinggangnya, menutupi area pinggang sampai lutut.


Mengambil pakaian dari dalam lemari dan langsung memakainya.


Julian memakai Hoodie biru tua dan celana hitam panjang.


rambutnya yang basah Julian biarkan agar kering sendiri.


[Master, ini sudah malam, Anda ingin pergi kemana?]


"Mencari angin" ucap Julian.


Tak lupa Julian membawa ponselnya, setelah itu berjalan keluar dari Mansion.


Saat tiba di gerbang, terlihat beberapa penjaga di sana.


"Tuan Muda, Anda mau kemana?" tanya salah satu penjaga.


"Keluar sebentar, bisa bukakan gerbangnya?"


Penjaga itu mengangguk, dan langsung membukakan gerbang besar itu.


Julian berjalan keluar, selama berjalan, semuanya terlihat gelap, tidak ada satupun lampu jalan yang menyala, karena insiden monster yang keluar dari Portal, untuk sementara lampu akan padam.


Mansion Julian pengecualian karena memiliki konduktor listrik sendiri, apalagi di Mansion Gillan terpasang panel listrik tenaga surya.


Julian berjalan tak tentu arah, sampai tiba di sebuah tempat di mana semua bangunan di sana hancur, rata dengan tanah.


Dengan bantuan mata Naga yang dimiliki Julian, Julian bisa melihat dalam kegelapan, mata Julian terlihat bercahaya keemasan.


Melihat sekelilingnya, tidak ada siapapun di sana, mungkin hanya beberapa hewan kecil seperti tikus dan kucing yang berkeliaran mencari makanan.


Mata Julian perlahan memancarkan cahaya, dan pupil matanya mirip seperti jam, dimana terdapat angka dan jarum jam.


Sesuatu yang mirip seperti lingkaran jam melayang di atas kepala Julian.


Cahaya terang mengelilingi seluruh dunia, Perlahan jarum jam bergerak mundur, dan dalam sekejap mata, bangunan yang awalnya hancur dan rata dengan tanah perlahan terbentuk kembali seperti semula.


Bahkan tumbuhan dan pohon yang sebelumnya hancur perlahan tumbuh kembali.


Cahaya dan jam di atas kepala Julian menghilang, mata Julian juga kembali ke warna emasnya, bangunan sudah kembali berdiri kokoh seperti tidak pernah terjadi apa-apa.


Tentu saja Julian hanya memperbaiki bangunan saja, sedangkan untuk barang-barang yang hancur, Julian tidak memperbaikinya seperti semula agar negara menggantinya nanti, karena Julian tidak mungkin terus-menerus memperbaiki sesuatu yang hancur karena serangan monster.


Lampu jalan yang hancur juga dibiarkan begitu saja tergeletak di jalanan.


Julian kemudian melanjutkan perjalanannya, berjalan tak tentu arah dan membiarkan kakinya terus melangkah membimbingnya kemanapun dia mau.


Saat berhenti, Julian melihat di depannya terdapat hutan rindang yang gelap, bahkan kabut samar mengelilingi hutan.


[Master, hutannya terlihat menyeramkan (*﹏*;)]


Menghiraukan hologram di depannya, Julian melangkah masuk ke dalam hutan.


[Master, lebih baik kita kembali, sudah beberapa jam dan Master sudah berjalan sejauh 35 km dari Mansion]


"Sudah sejauh itu?" gumam Julian.


[Benar, Master]


Julian berhenti berjalan dan melihat sekitar, setelah itu kembali berjalan ke kedalaman hutan.


Saat tepat berada di tengah hutan, Julian melihat sebuah air terjun yang sangat indah, cahaya bulan menerangi air yang mengalir ke sungai di bawahnya, membuat air terjun dan sungai itu terlihat memancarkan cahaya.


Julian mengikuti aliran air sungai itu, beberapa saat kemudian, Julian melihat air sungai itu mengalir menuju sebuah gua.


Julian masuk ke dalam gua itu, lama berjalan, di ujung Julian bisa melihat cahaya terang.


ketika keluar dari gua itu, Julian terpana melihat apa yang ada di sana.


Tempat itu sama dengan tempat yang ada di alam bawah sadarnya, yang membedakan adalah, sekelilingnya adalah sebuah taman bunga warna-warni, dan tepat di tengah-tengahnya terdapat sebuah pohon besar bercahaya.


"Ini…" gumam Julian.


'Pohon Kehidupan' suara Ivander terdengar di pikiran Julian.


'Pohon ini sama dengan yang ada di sana kan?'


'Ya, tapi juga berbeda' ucap Laveer.


'Tapi… Apa itu Pohon Kehidupan?' tanya Julian.


'Pohon Kehidupan menopang kehidupan dunia, seperti inti bumi yang menopang planet ini, Pohon Kehidupan juga sangat berperan penting untuk kehidupan semua makhluk hidup apalagi tumbuhan, menurutmu apa yang akan terjadi jika tidak ada tumbuhan di dunia ini?' tanya Raven.


'Pemanasan Global, dan semakin menipisnya oksigen'


'Benar, apalagi sayuran, buah-buahan, bumbu makanan dan tanaman obat, jika semua itu mati, apa yang akan terjadi?' tanya Laveer.


Julian yang mendengarnya hanya terdiam, sudah pasti dunia akan kacau dan banyak orang yang akan jatuh sakit.


.......


.......


.......


.......


.......


.......


.......


.......


.......


.......


...________________________...


...Thor sempet kehenti ketik ceritanya dipertengahan karena tiba-tiba aja Thor gak bisa mikir alurnya, baru bisa di lanjut sekarang....