
Julian langsung menyambar handuk, saat memegang pintu kamar mandi, Julian tidak bisa mengendalikannya, merusak gagang pintu itu.
Tak punya pilihan lain, Julian menggunakan teleport untuk masuk ke dalam, dan langsung mandi.
Saat mandi juga Julian menggunakan kekuatan dari elemen angin untuk memutar dan menutup keran air.
Setelah selesai dan keluar dari kamar mandi menggunakan teleport lagi, Julian mengambil pakaian dari lemari.
Julian memakai kemeja putih yang dibalut jas hitam, Julian juga mengenakan celana hitam panjang.
Keluar dari kamarnya, Julian langsung pergi ke ruang makan, dan tentunya menggunakan teleport.
Julian dapat melihat Ibunya yang sedang membantu para pelayan menyiapkan makanan.
"Bu" panggil Julian kepada Vinie.
"Hm, ada apa?" tanya Vinie tanpa menengok ke belakang.
"Aku akan keluar beberapa hari" ucap Julian, membuat Vinie langsung menengok ke arahnya.
Vinie terkejut karena melihat fisik Julian yang berbeda.
"Apa yang terjadi dengan rambutmu?"
"Tak apa, ada sesuatu yang terjadi yang membuat rambutku seperti ini"
"Kau yakin tak apa?" tanya Vinie khawatir.
"Ya"
"Kau mau kemana memakai pakaian rapi seperti itu?" tanya Violan, Violan dan Vivian memandang Julian dengan heran.
Mereka berdua sekarang berdiri beberapa meter dari Julian.
"Ada urusan, mungkin aku akan pergi beberapa hari" ucap Julian.
"Beberapa hari? biasanya kau pergi sampai berbulan-bulan" ucap Vivian membuat Julian terdiam.
"Jika kau pergi, aku juga ikut" ucap Violan.
"Eh! Bagaimana denganku! Aku juga akan ikut" ucap Vivian.
"Tidak, sudah jelas jika Julian berpakaian seperti itu karena ada urusan bisnis, kau bahkan tidak mengerti tentang semua itu, kau hanya akan menjadi beban!" ucap Violan.
"Huh?! Aku juga mengerti walaupun sedikit, jangan meremehkan ku!" ucap Vivian.
Julian hanya menatap kedua adiknya yang sedang berdebat, sebuah senyuman muncul di bibirnya.
Hatinya entah kenapa menjadi hangat melihat pertengkaran kecil yang dilakukan kedua adiknya itu, sikap Violan yang awalnya dingin mulai berubah semenjak Julian datang ke keluarga Gillan.
Bahkan Nattan dan Vinie bersyukur karena sikap Violan yang menjadi lebih hangat dan terbuka kepada keluarganya, bahkan sesekali dia akan bertengkar dengan adik kembarnya, Vivian.
Julian perlahan mendekati Ibunya, dan membisikkan sesuatu.
"Bu, aku akan pergi sekarang, akan terlalu berbahaya jika aku membawa Violan dan Vivian bersamaku" bisik Julian dengan pelan agar tidak didengar oleh kedua adik kembarnya itu.
Menggunakan teleport, dan pergi ke tempat Rigel berada.
Saat muncul kembali, Julian sudah berada di sebuah ruangan, dia berada di perusahaan yang Rigel kelola, dan Julian berada di ruangan kantor milik Rigel.
Julian muncul dengan posisi yang sudah duduk di sebuah sofa di sana.
"Julian, ada perlu apa sampai menemui ku?" tanya Rigel kepada Julian tanpa menoleh, Rigel sedang sibuk dengan semua dokumen yang menumpuk di atas meja.
Ada sesuatu dari Julian yang membuat Rigel penasaran.
Energi, kekuatan, dan fisik Julian berkali-kali lipat lebih kuat dan besar dari pertemuan terakhir mereka.
Saat melihat Julian, Rigel mengernyitkan dahinya karena fisik Julian yang berbeda.
"Apa yang terjadi?" tanya Rigel.
"Kau tau tentang Pohon Kehidupan?" tanya Julian.
"Pohon Kehidupan… pohon yang menanggung semua kehidupan di muka bumi ini?" tanya Rigel.
Julian mengangguk.
"Sepertinya pohon itu memberikan semua energi dan kekuatannya kepadaku" ucap Julian.
"Sebelumnya aku berpikir jika kau mati karena sistem ku mengatakan jika keberadaan sistem milikmu tidak diketahui dan menghilang secara tiba-tiba" ucap Rigel.
"Dia… tidak menghilang, hanya tertidur untuk waktu yang tidak ditentukan" ucap Julian.
Semua Portal Monster dikendalikan oleh sistem mu, apa tidak apa-apa?" tanya Rigel.
"Ya, aku bisa mengendalikan kekuatan Guardian milikku sekarang, tapi aku tidak bisa menghasilkan kekuatan yang aku dapatkan dari Pohon Kehidupan" ucap Julian kemudian memandang kedua tangannya.
Energi ditubuhnya meluap-luap, dan tidak bisa dikendalikan, hanya kekuatan Guardian yang bisa Julian kendalikan sepenuhnya.
Julian kemudian menatap Rigel yang juga menatapnya, mata Rigel bercahaya keemasan.
"Energi yang kau miliki sangat besar, tapi juga kacau" ucap Rigel, menutup matanya sebentar dan membuka matanya lagi, cahaya keemasan itu menghilang.
"Kau pernah bermain game atau membaca cerita yang memiliki konsep mana dan qi?" tanya Rigel.
Julian mengangguk, walaupun dia tidak terlalu menyukai game, tapi dia pernah memainkannya, Julian juga pernah membaca tentang mana dan qi karena dulu teman panti asuhannya selalu memaksanya membaca buku yang pernah dia baca.
"Energi yang kita miliki mirip seperti mana dan qi, itu adalah energi dalam tubuh kita, dan energi itu mengalir dari dari titik ke titik lainnya yang berada di dalam tubuh, seperti aliran darah" ucap Rigel.
Julian duduk bersandar di sofa sambil mendengarkan Rigel menjelaskan.
"Ada titik pusat energi di dalam tubuh, itu bekerja seperti jantung, di mana titik pusat itu mengalirkan energi ke seluruh tubuh, dan energi itu akan kembali lagi ke titik pusat, dan mengalirkannya lagi, seperti jantung yang memompa darah ke seluruh tubuh dan menampungnya kembali" ucap Rigel.
"Di mana titik pusat energi berada?" tanya Julian.
"Titik pusat yang dimiliki tiap orang berbeda tergantung dari kekuatan yang mereka miliki, tapi kebanyakan berada di sekitar atas pusar" jawab Rigel.
"Oh ya, di mana Gianira, Putrimu itu?" tanya Julian.
"Dia ada di ruangan lain, bermain dengan asistenku karena sekarang aku memiliki banyak dokumen yang harus diselesaikan" ucap Rigel sambil menghela napas.
Julian kemudian berdiri berjalan ke arah pintu keluar, tapi saat akan memegang gagang pintu, tangan Julia berhenti.
"Hm, kenapa diam di sana?" tanya Rigel.
"Sebelum aku kemari, aku tidak sengaja menghancurkan gagang pintu kamar mandi saat ingin membukanya, aku takut untuk menghancurkan gagang pintu lagi" ucap Julian.
Rigel yang mendengarnya hanya terdiam dan menghela napasnya ketika mendengar ucapan Julian.
"Apa yang kau lakukan jika memegang benda yang mudah pecah atau hancur?" tanya Rigel.
"Memegangnya tidak terlalu kuat atau bahkan tidak menggunakan kekuatan" ucap Julian, Julian kemudian mengerti apa yang Rigel tanyakan.
Memegang gagang pintu perlahan tanpa menggunakan kekuatannya, tapi saat akan menarik pintu, suara retakan terdengar.
"……"
"……"
Ruangan itu hening, kedua orang di ruangan itu terdiam, sebelumnya Julian berencana untuk pergi melihat Gianira, tapi sekarang Julian urungkan niatnya, akan sangat mengejutkan jika dia tiba-tiba muncul di ruangan tempat asisten Rigel dan Gianira berada.
"Julian, lebih baik kau menyegel sebagian kekuatanmu itu, dan membuka segelnya secara perlahan, kau bisa membagi segel itu menjadi beberapa bagian" ucap Rigel memecah keheningan.
"Setiap segel berisi satu persen kekuatan" ucap Julian.
"Hm, bukankah lebih baik lima persen setiap segel? Jadi tidak akan terlalu banyak segel yang kau gunakan" ucap Rigel.
Julian berpikir sebentar, kemudian mengangguk menyetujui ucapan Rigel.
"Oh ya, untuk sementara waktu aku akan sibuk melatih kekuatan ku, apa kau bisa menggantikan ku untuk menemui orang-orang yang keluar dari menara? Utamakan mereka yang memiliki bakat tinggi, walaupun skill dan job mereka rendah, jika bakatnya tidak terbatas, langsung buat kontrak dengan mereka" ucap Julian.
"Ya, serahkan saja padaku, aku akan menghubungi mereka nanti, jika ada masalah kau bisa menghubungi ku atau yang lainnya, jangan mencoba untuk menanggungnya sendiri" ucap Rigel.
"Tentu saja" jawab Julian, setelah itu Julian menggunakan teleport untuk kembali ke gua di mana dia mendapat kekuatan dari Pohon Kehidupan.
Sesampainya di sana, Julian melihat Raven, Laveer, Ivander, dan Bastiaan sedang berlatih untuk menjadi lebih dan lebih kuat.
Tanpa menggangu mereka, Julian mendekati Pohon Kehidupan yang sekarang sudah tidak memancarkan cahaya, duduk di bawah pohon itu, dan bersandar di batang pohon.
Julian memilih bermeditasi untuk menenangkan diri dan pikirannya, sembari mengendalikan energinya agar lebih tenang dan stabil.