
Julian menatap Inti Bumi yang ada di tangannya, saat dia mengalirkan mana ke Inti Bumi itu, Inti bumi bersinar, dan 2 sosok kecil keluar dari dalam Inti Bumi.
2 sosok itu hanya sebesar jari kelingking Julian, satu memiliki rambut berwarna cokelat, satu lagi berwarna hitam.
Roh Penjaga itu terbang di atas Inti Bumi, dengan bunga mengelilingi tubuh mereka, dan mereka tertidur lelap di atas bunga itu.
Keduanya perlahan terbangun karena cahaya yang memasuki indera penglihatan mereka.
"Eh?" Roh Penjaga berambut cokelat itu melihat sekitar dengan kebingungan, sedangkan Roh Penjaga berambut hitam menatap Julian.
"Ada yang bisa saya bantu, Tuan Guardian?" suara lembut terdengar dipikiran Julian.
"Telepati?" gumam Julian.
Roh Penjaga itu hanya tersenyum ke arah Julian.
"Tu-tuan Guardian!" pekik Roh Penjaga berambut cokelat.
"Saya Artlen Via Zexruen" ucap Roh Penjaga berambut hitam bernama Artlen itu.
"Len, apa tidak apa-apa aku memanggilmu begitu?" tanya Julian.
Artlen hanya mengangguk mengiyakan pertanyaan Julian.
"Nama Saya Halen Via Zexruen"
"Nona Artlen, Nona Halen senang bisa melihat kalian lagi" ucap Lex.
"Sudah lama, Lex" ucap Artlen.
"Oh ya, siapa gadis yang ada di sampingmu?" tanya Halen, Artlen juga menatap arah pandang Halen.
"Dia keturunan saya" jawab Lex.
"Benarkah? Kau tidak dibohongi kan?" tanya Halen kembali.
"Tidak, dia memiliki tanda bulan sabit seperti yang saya miliki di ekornya" ucap Lex.
Artlen dan Halen hanya mengangguk.
"Bumi sedang dalam masa kekacauan saat ini" ucap Artlen tiba-tiba, membuat ketiga makhluk berbeda ras di sekelilingnya terdiam membeku.
"Tuan Guardian, keselamatan bumi ada di tangan Anda sekarang, apa yang Anda lakukan kedepannya akan berdampak pada Bumi" ucap Artlen.
"Ya, aku tau itu" ucap Julian, yang hanya dibalas senyuman oleh Artlen.
"Kami akan selalu membantu Anda, dalam menyelamatkan Bumi, ataupun melakukan peperangan dengan Dewa sekalipun, jika itu demi Bumi ini yang sudah di jaga oleh Para Guardian sebelumnya, saya akan melakukan apapun, walaupun itu menentang Tuhan sekalipun" ucap Artlen dan Halen bersamaan.
Artlen kemudian mendekati wajah Julian, dan mengecup keningnya, sedangkan Halen mengecup bagian bawah mata Julian
Sebuah tanda berbentuk bulan sabit dengan matahari ditengahnya muncul tepat diantara kedua alis Julian.
Dan tanda berbentuk seperti sebuah lingkaran muncul di bagian pipi dekat dengan mata Julian.
Julian merasakan jika energi yang dia miliki semakin besar dan kuat.
Beberapa saat kemudian, Inti Bumi yang ada di tangan Julian mengeluarkan cahaya merah, yang menandakan Bumi sedang dalam bahaya.
Dan itu membuat mereka tiba-tiba diteleport ke tempat kekacauan terjadi, dan lokasinya berada di London, Inggris.
Penglihatan mereka tertuju pada makhluk besar yang menghancurkan kota itu, bahkan sebagian besar bangunan di sana sudah rata dengan tanah, bahkan kabut tebal menutupi kota.
Julian terlihat sangat marah saat ini, Jiwanya yang seorang Guardian sangat ingin memusnahkan monster yang telah menghancurkan kota itu.
Monster yang mereka berlima lihat mirip seperti seekor kelabang, tapi tinggi dan panjangnya mencapai ratusan meter.
Yang mereka lihat hanya bayangan monster itu.
...≈≈≈≈≈★≈≈≈≈≈...
...Portal Monster Rank F (1)...
...Status : Break...
...Level Monster 6.789...
...≈≈≈≈≈★≈≈≈≈≈...
"Kau telat, Sena" gumam Julian.
[Maaf Master, tidak tahu mengapa ketika berada di tempat itu, Sistem tidak bisa mendeteksi apapun yang ada di permukaan, seperti ada penghalang]
'Begitu ya'
Julian kemudian merubah tubuhnya menjadi Naga dengan ukuran yang lebih besar dari monster kelabang itu.
Julian lebih memilih menggunakan skill fly, jika dia mengepakkan sayapnya, bisa-bisa kota itu lebih hancur dari sekarang.
Kedua kaki depan Naganya mencengkeram erat monster kelabang itu, tapi monster kelabang tiba-tiba berubah menjadi bayangan.
'Kekuatan yang merepotkan!' pikir Julian.
[Master, gunakan elemen es untuk membekukannya saja, jika tubuhnya membeku, monster itu tidak akan bisa menggunakan skill bayangan yang dia punya]
Udara di sekeliling Julian langsung berubah menjadi dingin, saat monster kelabang itu muncul, Julian langsung mengeluarkan uap dingin yang membekukan sebagian tubuh monster kelabang karena monster kelabang itu sangat panjang membuat Julian sedikit kesulitan untuk membekukannya.
Srrt!
Monster kelabang itu mencoba untuk menyerang Julian, tapi karena perbedaan level mereka yang jauh, Julian tidak terluka sedikitpun.
Seringaian tercetak dibibir Naga Julian, menyalurkan elemen es nya ke tanah dan berhasil membekukan seluruh kaki monster kelabang.
Julian mengaktifkan , membuat monster kelabang itu terkena paralyse, dan setelah es menutupi tubuh monster itu, Julian menggunakan napas api Naganya untuk menghancurkan monster kelabang yang sudah membeku itu.
Dalam sekejap monster kelabang langsung lenyap, dan Julian menatap kearah Portal Monster.
"Kenapa belum tertutup?" gumam Julian.
Julian mendekati Portal Monster yang tidak jauh dari tempatnya berada, merubah wujudnya menjadi manusia kembali, Julian langsung masuk ke dalam Portal Monster.
Di dalam Portal Monster, Julian disuguhkan pemandangan yang menakjubkan.
Julian seperti berada di dalam sebuah gua yang luas, di tengahnya terdapat sesuatu yang membuat Julian terpana untuk sesaat.
...≈≈≈≈≈★≈≈≈≈≈...
...Ball of Life...
...Status : Locked...
...Sebuah benda tingkat Dewa karena memiliki kekuatan untuk menghidupkan seseorang, menjadi incaran para Dewa karena kekuatan yang dimilikinya. Hanya akan terbuka untuk seseorang yang dia akui....
...≈≈≈≈≈★≈≈≈≈≈...
Julian mendekati Bola Kehidupan itu, dan seketika bola itu bercahaya terang.
Bola Kehidupan yang awalnya terkunci oleh altar di bawahnya, memberontak sampai membuat altar itu hancur, mendekati Julian, dan langsung masuk ke dalam tubuh Julian, lebih tepatnya ke jantung Julian berada
[Selamat karena Master sekarang adalah pemilik Ball of Life \(^o^)/]
"Semudah itu?" tanya Julian kepada Sena.
[Tidak, mungkin karena Bola itu merasakan energi dari Guardian milik Master, jadi Bola itu berpikir jika Master akan menggunakannya dengan baik]
"Berarti aku bisa menghidupkan mereka yang sudah menjadi korban dari serangan Monster itu" ucap Julian sambil menganggukkan kepalanya.
[Eeehhhhh! Master, kehidupanmu akan berkurang sebanyak satu tahun jika Master menghidupkan 1 juta orang! dan Korban dari monster itu lebih dari 20 juta orang!]
"Sena, apa tugas dari Guardian?"
[Menjaga kedamaian dunia yang dia jaga dari segala serangan dari luar ataupun dalam, dan mencegah jatuhnya banyak korban jiwa akibat serangan seseorang. Guardian juga harus menjaga Inti Bumi karena jika Inti Bumi hancur, dunia juga akan hancur]
"Jadi aku harus menggunakan Bola ini untuk menghidupkan mereka yang sudah menjadi korban"
[Tapi…]
Julian menghiraukan Sena, dan memilih untuk melihat sekitarnya.
Julian menemukan sebuah pintu tak jauh dari tempatnya berdiri.
Julian mendekati pintu itu, membukanya perlahan.
Saat masuk, di tengah-tengah ruangan itu terdapat telur dengan warna berbeda, merah, oranye, hijau, ungu, dan biru.
Telur berwarna biru itu berada ditengah, sedangkan yang lainnya mengelilingi telur itu seperti melindunginya.
Satu persatu telur itu menetas, dari telur berwarna merah, lalu oranye, hijau, ungu, dan terakhir biru.
Julian menatap kelima telur itu, dan sosok makhluk seperti burung terlihat ketika bagian atas telur itu pecah, menampilkan kepala anak burung itu.
Kelima burung itu lalu menatap Julian, dan mengira jika Julian adalah induk mereka.
Sedangkan Julian terkejut karena tubuh kelima anak burung itu mengeluarkan api yang sama dengan cangkang telur mereka.
.......
.......
.......
.......
.......
.......
.......
.......
.......
.......
...________________________...
...Bentuk telur...
...Warna api yang dikeluarkan kelima anak burung itu...