The Whole World In A Smartphone Card

The Whole World In A Smartphone Card
46



"Sena, apa kau juga bisa mendengarnya?" tanya Julian.


[Apa maksud Master? Suara? Sena tidak mendengar apapun]


"Suaranya bergema di pikiranku, bagaimana bisa kau tidak mendengarkannya?"


[Sungguh, aku tidak mendengar apapun, Master]


'Tidak mendengarnya?' pikir Julian.


'Haha, tentu saja tidak akan ada yang bisa mendengar kami kecuali kau, karena kami adalah kau, dan kau adalah kami' ucap (?).


'Selama berbicara dengan kami, sistem milikmu itu tidak akan bisa mendengar apapun yang kita bicarakan' ucap (??).


'Bukankah seharusnya kalian memperkenalkan diri terlebih dahulu?' tanya Julian kepada mereka dalam pikirannya.


'Oh, benar juga… Namaku, hm, sebenarnya aku tidak terlalu ingat siapa aku, tapi aku ingat kehidupanku sebelumnya aku dipanggil Raven, mungkin kau juga bisa memanggilku Raven' ucap (?) yang sekarang akan kita panggil Raven, dengan suara yang arogan.


'Kau bisa memanggilku Laveer' ucap (??) dengan suara yang tenang, kita panggil Laveer sekarang.


'Ivander' ucap (???) dingin, sekarang kita panggil Ivander.


'Yo! Kau bisa memanggil Bastiaan' ucap (????) dengan nada yang semangat, kita panggil sekarang sebagai Bastiaan.


Raven, memiliki sikap dan perilaku yang tidak disukai Julian, karena dari nada suaranya saja sudah terdengar sombong dan arogan, cukup sulit jika berdebat dengannya.


Laveer, dari nada suaranya saja Julian bisa dipastikan jika dia adalah sosok yang tenang dan bisa diandalkan.


Ivander, suaranya yang dingin dan mengintimidasi membuat Julian berpikir jika diantara yang lain, Ivander adalah yang paling bisa diandalkan dan juga paling kuat, dan Julian berpikir jika Ivander dulunya adalah seorang pemimpin.


Lalu yang terakhir, Bastiaan, suaranya yang ceria sudah dipastikan jika dia adalah orang yang ceroboh, tapi diantara yang lainnya, dia adalah yang paling asik untuk diajak bicara.


'Baiklah, aku sudah mengingat nama kalian, kalian juga tau namaku kan?'


'Ya/Tentu saja' ucap mereka berempat bersamaan, sudah pasti kalian tau siapa yang hanya berucap Ya.


'Kami menyatu dengan jiwamu dari kau kecil, tentu saja kami tau' ucap Raven.


'Kami selalu menemanimu dari kau berusia 3 tahun sampai 6 tahun, setelah itu entah kenapa kami tidak bisa berbicara denganmu lagi' ucap Laveer.


'Hum! Hum!' seru Bastiaan.


'Oh ya, Bastiaan itu anak yang polos, jangan mempengaruhinya dengan hal-hal negatif, dan maklumi saja jika sikapnya kadang menyebalkan' ucap Laveer.


'Huh! Aku tidak polos, lagipula kenapa kalian selalu mengejekku dari dulu!' ucap Bastiaan tak terima.


'Ya, ya, anak kecil lebih baik diam saja' ucap Raven dan Bastiaan hanya terdengar menggerutu kesal, setelah itu Julian tidak mendengar lagi suara Bastiaan yang khas.


'Apa aku bisa menemui kalian?' tanya Julian.


'Tentu saja, kau hanya perlu memikirkan untuk bertemu dengan kami, lagipula kami berada di alam bawah sadar mu' ucap Laveer.


Setelah Julian memikirkan untuk bertemu dan berada di alam bawah sadarnya, saat membuka mata, Julian merasa takjub melihat pemandangan di depannya.


Di depannya terdapat sebuah danau yang ditengahnya terdapat pohon yang besar, dan di sekeliling danau adalah hutan dengan pohon rindang mengelilinginya.


Hutan itu gelap, tapi pantulan cahaya bulan dari danau mengelilingi pohon besar yang ada di tengahnya.


Bahkan banyak kunang-kunang yang menerangi tempat itu.


Yang membuat Julian lebih takjub adalah pohon besar yang berada di tengah danau itu mengeluarkan cahaya berwarna biru yang indah.


Di pohon itu terdapat sebuah pintu dan beberapa jendela.


Saat pintu terbuka, Julian melihat sosok yang sangat mirip dengannya, hanya saja warna rambut dan matanya berbeda.


Pemuda yang mirip dengannya itu memiliki rambut pirang keemasan, pemuda itu melambai kepada Julian dan menyuruhnya untuk ke sana.


Beberapa saat kemudian, beberapa batu dengan permukaan rata terlihat muncul dari dalam danau, dan membuat jalan untuk Julian.


Saat sudah sampai, pemuda dihadapannya memperkenalkan diri.


"Halo Julian, aku Laveer, yang lain sudah menunggu di dalam" ucap Laveer sambil berjalan masuk ke dalam pohon besar itu.


Julian mengikutinya dari belakang.


Saat masuk ke dalam, Julian melihat jika hampir semua barang di sana terbuat dari kayu, di sana juga terdapat sebuah meja kayu berbentuk bulat dan kursi kayu di mana 3 pemuda yang memiliki wajah yang mirip dengan Julian duduk melingkar di meja itu.


Laveer juga langsung duduk di salah satu kursi yang kosong.


Julian mengikutinya dan duduk di samping Laveer dan juga seseorang yang memiliki rambut berwarna cokelat tua.


"Akhirnya kita bertemu lagi, Julian" ucap seorang dengan rambut merah.


"Raven?" tanya Julian ketika mendengar nada bicaranya.


"Ya, ini aku" ucap yang berambut merah.


'Namanya Raven, tapi kenapa rambutnya berwarna merah? Bukankah Raven artinya hitam?' pikir Julian bingung.


"Haha! Kau pasti bertanya jika warna rambut dengan namaku berbeda jauh, aku juga tak tau kenapa namaku Raven" ucap Raven.


"Aku! Aku Bastiaan!" ucap yang berambut cokelat muda dengan semangat.


"Aku Ivander" ucap yang berambut putih dengan nada datar dan dingin.


Julian hanya mengangguk menanggapi perkenalan mereka.


"Aku tidak ingat jika aku pernah bertemu dengan kalian" ucap Julian.


"Itu sudah lama, jadi wajar jika kau tidak ingat" ucap Reven dan diangguki oleh yang lain.


"Kami adalah jiwamu yang lain dari dimensi dan waktu berbeda" ucap Laveer.


"Oh ya, apa kau sering merasa lelah dan kekuatanmu menjadi lemah belakangan ini?" tanya Laveer.


"Ya" ucap Julian.


"Maaf" ucap Laveer.


"Kenapa meminta maaf?" tanya Julian bingung.


"Kami membutuhkan energi yang banyak agar bisa mempertahankan wujud kami dan agar bisa bertemu denganmu, jadi kami mengambil energi mu dan kekuatanmu untuk bisa membuat kami langsung terhubung dengan mu" ucap Laveer, dan Julian hanya terdiam mendengarnya.


"kami minta maaf karena menggunakan energi dan kekuatanmu tanpa izin" ucap Bastiaan dengan nada sedih.


"Tak apa, lagipula itu tidak terlalu mempengaruhi ku" ucap Julian.


"Oh ya, untuk hal itu mungkin kami bisa menggantinya dengan kekuatan, keahlian, dan pengalaman yang kami miliki" ucap Raven.


"Benar juga, apa keahlian yang kalian miliki?" tanya Julian


"Aku dulunya adalah seorang Pedagang kaya yang memiliki banyak musuh, tapi pengalamanku mungkin akan membantumu di masa depan" ucap Raven dengan nada sombongnya.


"Aku seorang Pangeran Mahkota, tidak, aku seorang Raja, aku diangkat menjadi Raja di usia muda, keahlian ku hanya memerintah dan memimpin. Sama seperti Ivander, dia memiliki aura pemimpin yang besar karena dulunya dia adalah seorang Jenderal Besar yang terkenal dengan kekejamannya, tidak sedikit juga yang memanggilnya Tiran karena dia sangat kejam' di medan perang dan sikapnya yang dingin tak tersentuh" ucap Laveer.


"Bagaimana kau tau tentang Ivander?"


"Entahlah, tapi kami mendapat ingatan dari masing-masing, mungkin karena jiwa kami terhubung, tapi kami tidak bisa membagikan ingatan denganmu, jadi aku memiliki kesimpulan jika ingatan kami terhubung karena kami hanya sebuah jiwa yang tidak memiliki tubuh dan hanya saling terhubung, tapi karena kau memiliki tubuh, kami tidak bisa membagikan ingatan kami denganmu" ucap Laveer.


"Jadi hanya bisa membagikan ingatan ke sesama jiwa atau roh yang tak memiliki tubuh dan harus saling terikat?" tanya Julian.


"Hm, mungkin" ucap Laveer sedikit ragu.


"Oh benar, jangan tertipu dengan wajah lugu dan polos Bastiaan, dia sebenarnya adalah seorang pembunuh bayaran yang memiliki pangkat tinggi dan sudah membunuh ribuan orang, dia sangat mengerikan jika sedang menjalankan misinya" ucap Raven memperingati.


Julian langsung melihat ke arah Bastiaan yang duduk di sampingnya, menatapnya dengan tatapan tak percaya, sedangkan Bastiaan yang ditatap hanya cengengesan.