The Whole World In A Smartphone Card

The Whole World In A Smartphone Card
45



Esoknya, pukul 07.00.


Julian yang tidur di Hotel Gillan memutuskan untuk kembali ke Mansion.


Sebenarnya dia ingin membawa Zora untuk ikut dengannya, tapi saat mengecek ke Zora, dia masih tidur pulas di bawah selimutnya.


Di Mansion, Julian melihat jika tidak terjadi apa-apa di sana, tentu saja untuk keamanan, Julian memasang sebuah pelindung yang mengelilingi Mansion.


Saat masuk, Terlihat jika keluarganya sedang berada di ruang tengah.


Vinie yang melihat Julian sudah kembali langsung memeluknya.


"Apa ada yang terluka atau sakit?" tanya Vinie khawatir.


"Aku tak apa Bu, lagipula aku punya sisik keras" ucap Julian dengan nada bercanda, entah sejak kapan Julian sudah membuka hatinya untuk keluarganya itu.


"Huh! Ini bukan waktunya bercanda!" teriak kesal Vinie kepada anaknya itu.


"Aku sungguh tak apa, tidak ada luka juga" ucap Julian.


Sedangkan Vinie malah memutar tubuh Julian untuk mengeceknya.


"Apa yang terjadi sebenarnya?" tanya Nattan kepada Julian.


"Monster keluar dari Portal dan mengacau di kota" ucap Julian.


"Bagaimana bisa?" tanya Vinie.


"Ada satu Portal yang memicunya, Ibu ingat saat Ibu ikut denganku ke sebuah Portal?" tanya Julian dan diangguki oleh Vinie.


"Monster di dalamnya yang memicu Portal lain mengalami kelebihan energi dan membuat Monster di dalamnya keluar"


"Oh iya, dimana Zora?" tanya Vinie membuat suasana tegang di ruangan itu menghilang.


"Siapa Zora?" tanya Nattan, Violan dan Vivian juga penasaran.


"Dia gadis yang manis dan cantik, sudah pasti dia adalah calon menantu ku" ucap Vinie.


Nattan, Violan, dan Vivian terdiam karena terkejut, sedangkan Julian melebarkan matanya.


"Bu, dia hanya teman, bukan pacarku!" sanggah Julian.


"Benarkah?" tanya Vinie.


"Tentu saja!" ucap Julian dengan tegas.


'Lagipula bagaimana mungkin aku menikah dengan monster?!' batin Julian.


Vinie yang mendengar itu terlihat kecewa, membuat Julian mengernyitkan dahi.


"Bu, jika Ibu tau Zora itu siapa, mungkin Ibu tidak akan menyukainya" ucap Julian.


"Apa maksudmu? Dia itu gadis yang manis, bagaimana bisa kau berbicara seperti itu?" tanya Vinie.


"Dia…" ucapan Julian berhenti, memikirkan kembali tentang Zora, dia hanya makhluk yang menginginkan kebebasan, jadi Julian tidak mengatakan apa-apa, biarkan saja waktu yang mengungkapkan.


Saat berpikir, tiba-tiba Zora muncul di samping Julian membuat semua orang di sana terkejut karena kemunculannya.


"Julian, kau meninggalkanku tanpa memberikan makanan" ucap Zora pelan yang hanya bisa didengar olehnya dan Julian.


"Oh maaf, kupikir kau masih akan tidur sampai siang" ucap Julian.


Zora sedikit kesal, dia mengeluarkan ekornya dan langsung memukul punggung Julian menyebabkannya terlempar.


Walaupun Zora tidak bisa melukai Julian, tapi tekanan dan hempasan dari kekuatan ekornya membuat Julian terhempas sampai menabrak tembok.


Nattan, Vinie, Violan, dan Vivian terkejut karena Zora memukul Julian sampai membuatnya terlempar, dan pandangan mereka sekarang mengarah kepada ekor Zora.


"Ekor…" gumam mereka berempat tak percaya dengan perubahan tubuh Zora.


"Maaf jika membuat kalian terkejut" ucap Zora membuat keempatnya langsung tersadar.


"Julian! Kau tidak boleh melukai seorang wanita" ucap Vinie, tapi Julian tidak mendengarkannya.


"Aku sudah memberimu makan, memberimu tempat untuk tidur, dan sekarang kau menyerang ku? Kau tidak akan bisa apa-apa di dunia ini jika tidak memiliki uang, bahkan kau tidak memiliki apapun untuk makan, sebelumnya aku berpikir untuk memberimu uang agar kau bisa bersenang-senang di sini, tapi sepertinya aku berubah pikiran!" ucap Julian menahan amarahnya.


"Aku tidak membutuhkan bantuan mu, aku memiliki banyak permata untuk dijual" ucap Zora mencoba melepaskan cengkeraman tangan Julian.


"Hahaha! Dunia ini berbeda, jika kau ingin menjual sesuatu, kau harus mempunyai surat-surat kepemilikan dari benda yang ingin kau jual, jika kau menjual permata itu, yang ada kau hanya akan ditangkap oleh pihak keamanan, ini bukan dunia yang sama dengan duniamu! Kau berada di dimensi berbeda!" ucap Julian.


Zora yang mendengarnya terdiam.


Julian entah kenapa menjadi emosi sekarang, mungkin karena beban yang harus ditanggung sangat besar, apalagi dunianya saat ini sedang kacau.


Julian melepaskan cengkeraman tangannya dari leher Zora, setelah itu sebuah kalung anjing terpasang dileher Zora, dan menyegel kekuatan Zora sampai batas di mana dia sekarang hanya memiliki kekuatan seperti manusia biasa.


Zora yang merasakan jika kekuatannya ditekan sampai batas terbawah ingin menghajar Julian, tapi dia urungkan ketika melihat aura dingin yang dipancarkan tubuh Julian.


"Ini hukuman karena telah memukul Tuan mu" ucap Julian dingin dan langsung pergi ke arah kamarnya.


Menyisakan 5 orang yang menatap punggung Julian yang semakin menjauh.


Setelah Julian tidak terlihat, Zora menggertakkan giginya.


'Aku keturunan Dewa! Bagaimana bisa Naga rendahan sepertinya memojokkan ku! Kontrak Darah sialan!' teriak Zora dalam batin.


Saat pikiran Zora dipenuhi umpatan untuk Julian.


Nattan, Vinie, Violan dan Vivian masih menatap ke arah dimana Julian pergi, mereka tidak pernah merasakan aura milik Julian yang sedingin itu, dan memilih untuk pergi ke kamar masing-masing, meninggalkan Zora seorang diri.


Sena yang tak tega dengan Zora langsung memasukkannya ke dalam Dimensional World milik Julian, dan menemaninya di sana.


...~★~...


Di kamar Julian saat ini.


Julian terlihat berbaring di atas kasur, menutup kedua matanya dengan lengan kanan.


'Ha~ Rasanya aku ingin kembali menjadi manusia biasa' pikir Julian.


Rasanya saat ini pikirannya di penuhi dengan hal-hal yang harus dia lakukan sebagai pemilik sistem sekaligus Guardian yang menjada dunianya.


Julian mengangkat lengan kanannya ke atas, dan menatap langit-langit kamar.


Dengan sekali jentikan jari, warna cat kamar itu berubah, Sekarang kamar Julian di dominasi oleh warna merah darah, menjentikkan jarinya lagi, warna kamar itu berubah menjadi hitam.


'Master sepertinya sedang depresi' pikir Sena saat melihat Julian di balik layarnya, dan terlihat Julian yang merubah warna Kamarnya yang sebelumnya cerah menjadi hitam, dan membuat kamar itu gelap.


Sena kemudian kembali ke Dimensional World milik Julian untuk memberikan waktu untuk Julian menyendiri.


"Kenapa emosiku berubah-ubah?" gumam Julian.


Kadang Julian bisa bersikap dingin, kadang tenang, kadang ceria, lalu berubah dipenuhi amarah.


"Apa darah Naga dan Phoenix bisa mengubah sikap, sifat, dan perilaku ku?" gumam Julian lagi.


Julian mengubah posisinya menjadi duduk, dan melihat kedua tangannya.


Tangan itu sudah membunuh banyak makhluk hidup.


'Kau sepertinya sudah melupakan jati dirimu yang sebenarnya' ucap arogan seseorang (?) yang memiliki suara seperti Julian.


'Kau juga melupakanku, apa kau benar-benar tidak menginginkan kami lagi?' ucap suara lain (??) dipikiran Julian, tapi suaranya terdengar lembut, tenang dan elegan.


'Cih! Kenapa kau tidak mati saja' ucap seseorang lagi (???) dengan suara yang dingin.


'Haha! Akhirnya aku bisa terhubung lagi denganmu!' ucap suara lain (????), tapi sekarang suaranya terdengar ceria, ceroboh dan blak-blakan.


"Hah?! Apa ini? Suara siapa yang bergema di pikiranku? Kenapa suaranya terdengar seperti suara ku?" gumam Julian penuh tanda tanya ketika mendengar suara yang mirip dengan suara miliknya bergema dipikirannya.