The Whole World In A Smartphone Card

The Whole World In A Smartphone Card
48



Julian mendekati Pohon Kehidupan itu, entah kenapa semakin dia mendekat, tubuhnya serasa tertarik ke depan untuk lebih dekat ke Pohon Kehidupan itu.


Setelah tepat berada di depan pohon itu, Julian meletakkan tangannya di batang Pohon Kehidupan.


Sebuah ingatan tiba-tiba muncul memenuhi pikiran, seperti melihat sebuah film tapi dengan kecepatan tinggi.


Setelah beberapa saat, ingatan itu menghilang, Julian terengah-engah setelah semua ingatan itu berhenti berputar.


Menetralkan napasnya, Julian langsung duduk di atas tanah.


Mencoba mengingat kembali ingatan yang masuk ke otaknya.


Julian terkejut, semua ingatan itu berada di sudut pandangnya sendiri, seperti dia yang mengalami semua itu.


Di ingatan itu, Julian melihat sosok ular besar, Ular itu terus mengeluarkan racun mematikan dari tubuh dan napasnya.


Racun itu menyebar ke seluruh dunia, dan manusia mati satu-persatu.


"Jormungand… ini berbeda" gumam Julian.


Tapi ular raksasa itu berbeda dengan Zora, sisik Zora berwarna ungu, sedangkan ular itu seluruh sisiknya berwarna hitam pekat, dan mata merah menyala miliknya yang mengintimidasi.


"Apa ini?" gumam Julian kembali.


Julian kembali menggali ingatan itu, dan kemudian dia melihat dua ular raksasa sedang bertarung satu sama lain, menyebabkan kehancuran di mana-mana.


Racun yang tersebar di udara juga sudah mencemari gua ini, dan Pohon Kehidupan tidak bisa bertahan lebih lama.


Cahaya Pohon Kehidupan mulai meredup seiring berjalannya waktu, bagian daunnya mulai menghitam dan layu, ranting dan batang pohon juga mulai menghitam, saat akarnya juga menghitam, tanah di seluruh dunia mulai retak.


Guncangan yang terjadi menyebabkan gunung berapi meletus, dan tsunami terjadi di mana-mana, menenggelamkan satu persatu pulau dan negara yang ada.


Julian yang saat itu bersama keluarganya di sebuah dataran yang tinggi dikejutkan dengan tanah yang mulai terbelah, semuanya terjatuh ke sana termasuk dirinya, setelah itu semuanya gelap.


Tapi ada satu hal yang lebih mengejutkan, dia merasakannya jika bibirnya bergerak membuat beberapa kalimat.


"Jika aku lebih kuat, mungkin semua ini tidak akan terjadi, semua yang terjadi… adalah kesalahanku" gumam Julian, tanpa sadar air mata mengalir di pipinya dan jatuh ke tanah.


Ingatan lain tiba-tiba berputar, itu adalah tempat berbeda.


Julian dan 1000 orang pemilik sistem lainnya ingin menyelesaikan Portal Monster Rank-SSS yang tiba-tiba muncul.


Mereka semua sudah siap, bahkan level mereka sudah ratusan ribu, tapi ketika mereka masuk, mereka dikejutkan dengan level monster yang ada di dalam Portal.


999.999 itu adalah level Monster yang menyerupai ular raksasa itu.


bahkan level Zora saat itu berbeda 100.000 dengannya.


Zora melawan ular hitam raksasa itu, mereka saling mengeluarkan racun mematikan, menggigit, membelit, dan saling mengeluarkan sihir masing-masing untuk menjatuhkan lawannya.


Julian dan yang lainnya tidak berani ikut bergabung dalam pertempuran itu karena mereka bertarung dengan brutal, bukannya membantu, mereka bisa langsung pergi ke akhirat jika terkena serangan kedua ular raksasa itu.


Setalah beberapa bulan bertarung, Zora kehabisan energi dan membuatnya terluka parah.


Julian membawa Zora ke Dimensional World miliknya untuk penyembuhan oleh para pemilik sistem yang memiliki job Healer.


Sisanya langsung menyerang ke arah ular hitam raksasa itu, tapi dilihat dari manapun, ular raksasa itu terlihat tidak kelelahan sama sekali, bahkan tubuhnya yang sebelumnya terluka langsung sembuh tanpa meninggalkan bekas.


Mereka hanya bisa bertahan selama beberapa hari bertarung dengan ular raksasa itu.


Bahkan para pemilik satu-persatu mati karena kelelahan atau terluka parah.


Karena itu para pemilik sistem yang tersisa memilih untuk mundur, dan menyebabkan ular hitam raksasa itu keluar dari Portal dan mengacau di mana-mana.


Ingatan itu langsung berhenti, Julian memegang kepalanya yang berdenyut.


'Ini, tak mungkin ini adalah masa depan' batin Julian.


Tubuh Julian bergetar, entah bagaimana dia merasa jika suhu di sekelilingnya mulai mendingin, bahkan dirinya entah bagaimana merasakan ketakutan.


"Tidak! Jika aku seperti ini, semua yang aku lihat itu bisa menjadi kenyataan di masa depan, aku harus lebih kuat dengan cepat!" ucap Julian dengan penekanan di seluruh kata-katanya.


Tiba-tiba tubuh Julian mengeluarkan cahaya biru keemasan.


Rambutnya yang semula hitam pendek berubah menjadi perak bercahaya dan rambutnya mencapai punggung, matanya yang semula biru dan emas perlahan berubah menjadi emas seluruhnya, telinga bagian atasnya meruncing, taring menjadi sedikit panjang dan tajam, kulitnya juga berubah menjadi lebih putih dan cerah.


Setelah itu Julian langsung tersadar, dan melihat tangannya sendiri, dirinya seperti jadi lebih kuat bahkan sangat kuat dari sebelumnya.


"Apa yang terjadi?"


"Sena?" panggil Julian, tapi tidak ada respon.


...[PERINGATAN!]...


...[SISTEM ERROR!]...


Sebuah layar berwarna merah muncul di hadapan Julian, dan setelah itu layar itu dipenuhi kata ERROR.


"Sena!" Julian mencoba menyentuh hologram di depannya, tapi tangannya menembus hologram itu, dan hologram itu langsung menghilang.


"Sena… sistem!" gumam Julian, tapi tak ada yang merespon.


'Sepertinya kau sudah tak membutuhkan kami lagi' ucap Laveer tiba-tiba, menggema di pikiran Julian.


"Apa?"


'Dari ingatan yang kau dapat, kau sudah mendapatkan semua hal yang seharusnya kami ajarkan padamu' ucap Bastiaan.


"TIDAK! SETELAH SENA, APA KALIAN JUGA AKAN MENINGGALKANKU?!" teriakan Julian menggema di gua itu.


Ketika Julian melihat ke arah Pohon Kehidupan, cahaya pohon itu meredup, dan entah bagaimana ingatan tentang dunia yang hancur memenuhi kepala Julian.


'Julian, kami bisa bertahan, tapi kau harus membuatkan tubuh permanen untuk kami' ucap Raven.


'Lagipula, walau kami menghilang, kau masih memiliki keluargamu' ucap Laveer.


Julian tidak menjawab apapun, ketika Sena tidak meresponnya, ada sesuatu di dalam dirinya yang terasa kosong.


Julian menghela napasnya perlahan, mencoba untuk tenang, ini seperti bukan dirinya.


Mendekati Pohon Kehidupan yang sekarang terlihat seperti pohon biasa.


Menyentuh batang pohon itu, tapi tidak ada respon apapun.


"Raven, Laveer, Ivander, Bastiaan, jika aku membuatkan tubuh untuk kalian, kalian tidak akan menghilang, kan?" tanya Julian.


'Ya, bisa dibilang begitu' ucap Raven.


Julian kemudian merentang tangan kanannya ke depan, tangannya mulai mengeluarkan cahaya, dan 4 buah cahaya muncul di depan Julian, dan berlahan berubah bentuk.


Harimau Putih, Ular Black Mamba, Rubah Putih dan Burung Elang.


4 sosok transparan tiba-tiba muncul, dan memasuki keempat tubuh hewan itu.


Raven memasuki tubuh burung Elang, dan buku elang yang sebelumnya berwarna hitam dan cokelat perlahan berubah menjadi merah.


Laveer memasuki tubuh Rubah, bulu rubah itu berubah yang sebelumnya berwarna putih keseluruhan, bagian telinga dan ujung ekornya berubah menjadi warna keemasan.


Ivander memasuki tubuh Harimau Putih, dan bulu Harimau itu berubah, dari awalnya berwarna putih dan belang hitam, menjadi berwarna hitam dengan belang putih.


Bastiaan memasuki tubuh ular Black Mamba, dan tubuh ular yang sebelumnya berwarna hitam, terlihat sebuah garis berwarna cokelat tepat di tengah-tengah bagian atasnya, memanjang dari kepala sampai ekornya.


"Kenapa aku harus berada di tubuh ular?!" jeritan Bastiaan terdengar menggema di gua itu, membuat Julian, Raven, Laveer, dan Ivander menutup telinganya.