
DUAR! BOOOOMM!
Suara ledakan terdengar memekikkan telinga, Julian yang sedang melihat sekitarnya terkejut ketika melihat gunung yang awalnya menjulang tinggi sekarang tidak terlihat dan rata dengan tanah, bahkan bekas ledakan itu membuat kawah yang sangat besar.
"Apa itu?" gumam Julian.
Dengan cepat Julian mendekati gunung itu, yang membuatnya terkejut adalah seorang anak kecil yang berada di tengah-tengah kawah itu.
'Seorang anak kecil?" pikir Julian.
Anak kecil itu memiliki sepasang sayap berwarna hitam dan putih.
[Woah! Jarang sekali ada keturunan Iblis dan Malaikat]
'Keturunan Iblis dan Malaikat?'
[Ya, mereka jarang ada karena Iblis dan Malaikat saling membenci dan mereka musuh, jika ada Iblis dan Malaikat saling mencintai itu hukum tabu untuk para Iblis dan Malaikat, terkadang jika ketahuan mereka akan dihukum dan keturunan mereka akan dilenyapkan]
'Itu sangat kejam'
[Memang kejam, tapi harus bagaimana lagi, makhluk yang memiliki darah Iblis dan Malaikat memiliki elemen kegelapan dan cahaya, jika tubuhnya tidak bisa menampung kekuatan itu, maka tubuhnya akan meledak dan ledakannya sangat besar, jadi mereka harus dilenyapkan sebelum hal itu terjadi]
'Bagaimana jika dia bisa mengendalikan kedua elemen itu?'
[Sudah pasti akan memiliki kekuatan yang sangat besar, jika dia ada di pihak pada Malaikat, maka itu akan baik-baik saja, tapi jika memilih pihak Iblis, sudah pasti seluruh alam semesta akan hancur karenanya]
'Bukankah tidak semua Iblis jahat, dan juga tidak semua Malaikat itu baik?'
[Memang benar, bahkan para Iblis baik membentuk wilayah mereka sendiri dan hidup saling menolong satu sama lain, dan Malaikat yang jatuh dalam kegelapan disebut Malaikat Jatuh atau Fallen Angel, dan Fallen Angel akan diketahui jika sayapnya perlahan berubah menjadi hitam]
Sembari melihat penjelasan dari Sena, Julian mendekati anak kecil bersayap itu, anak itu terlihat seperti berusia 3-4 tahun.
Setelah berada di sampingnya, Julian berjongkok dan melihat ke arah sepasang sayap burung berbeda warna itu.
Sayap Kirinya berwarna hitam dan sayap kanannya berwarna putih.
'Apa anak ini sengaja dibuang kemari?'
[Benar Master, jika dilihat dari pelindung yang mengelilingi tubuhnya, sudah pasti dia sengaja dibuang oleh para Malaikat]
'Kenapa Malaikat?'
[Biasanya Malaikat lebih memilih membuang anak Malaikat-Iblis itu ke dunia fana daripada membunuhnya, dan mungkin karena anak itu ditemukan pertama kali oleh para Malaikat, jadi mereka langsung membuangnya. Jika diketahui oleh para Iblis, sudah pasti akan langsung dibunuh]
'Berapa usianya'
[Usianya baru 1 Minggu jika dilihat dari bentuk sayap, warna sayap, dan lagi dia belum memiliki tanduk yang biasanya dimiliki oleh Iblis]
Julian terus menatap anak itu, rambutnya berwarna perak keunguan, kulitnya seputih susu, anak itu juga memiliki bulu yang panjang dan lentik, jangan lupakan sepasang sayap di punggungnya yang membuatnya semakin imut.
Perlahan Julian mengangkat tubuh anak itu, dan memilih untuk membawanya ke Rumah Kaca agar Zev bisa merawatnya.
Menggunakan teleportasi ke sana, Julian langsung menyuruh Sena untuk membuat sebuah ruangan khusus yang bisa dijadikan kamar, dan membeli kasur kemudian meletakkannya di pojok ruangan itu.
"Zev"
Panggil Julian setelah meletakkan anak itu di atas kasur, dan seekor Anubis kecil muncul di samping Julian.
"Jaga dia sementara waktu, aku masih ada urusan, jika sudah sadar langsung hubungi aku"
"Baik Yang Mulia" ucap Zev.
'Dia memanggilku seperti itu lagi' batin Julian sweetdrop karena dia masih tidak terbiasa.
Saat Julian akan pergi, sebuah tangan kecil memegang jari kelingkingnya.
"Apa kamu Papa Rin? Mama bilang jika ada yang membawa Rin, dia Papa Rin" ucap anak kecil itu.
'Apa dia benar-benar berusia satu Minggu?'
[Benar Master, Malaikat terbuat dari energi, jadi akan ada 2 orang Malaikat dan mereka adalah pasangan, saat mereka saling menyatukan energi mereka, Malaikat baru akan terlahir. Biasanya energi sepasang Malaikat itu akan membentuk sebuah bola cahaya seukuran bola voli, setelah itu bola cahaya itu akan terus membesar, setelah 1 Minggu, bola cahaya akan retak dan melahirkan Malaikat baru]
'Caranya sangat unik'
[Malaikat itu genderless, jadi akan ada Malaikat yang berperan sebagai pria, dan ada yang berperan sebagai wanita, dan Malaikat wanita itu yang akan membuat sebuah bola cahaya yang terbuat dari energinya dan juga pasangannya. Semua bola cahaya yang terbentuk akan dibawa ke ruang khusus di mana ruangan itu dipenuhi oleh energi ilahi dan cahaya seperti kekuatan dan elemen yang dimiliki oleh para Malaikat]
Julian kemudian menatap anak yang sedang memegang jarinya.
"Maaf, saya bukan Papa kamu, mungkin sebentar lagi Papa Rin akan datang, jadi tunggu saja ya" ucap Julian selembut mungkin agar tidak membuat anak itu takut.
"Siapa namamu?" tanya Julian.
"Rin, Rhinessa Elettra Lucifer"
[❗❗❗]
'Lucifer?!" pikir Julian terkejut.
>"Ma-master"<
'Ada apa Sena, tidak biasanya kau berkomunikasi dengan ku menggunakan suara'
[Di belakang!]
"Kau ingin apakan putriku!"
Suara dari pria itu membuat tubuh Julian kaku dan tidak bisa digerakkan.
"Siapa?" tanya Rin, sedangkan tangan kecilnya memegang jari Julian makin erat.
"Rin tidak kenal Papa?" tanya Lucifer lembut kepada anak itu.
'Lucifer, dulunya adalah Malaikat yang jatuh ke dalam kegelapan?'
[Ya, Master, bahkan dulunya Lucifer adalah salah satu Malaikat Agung yang melayani Absolute God]
.......
.......
.......
(A/N : karena sebelumnya ada beberapa yang protes karena membawa-bawa Tuhan di sini, walaupun seorang penulis memang Tuhan di dalam ceritanya karena semua alur cerita ada di genggaman tangannya… jadi, sekarang kita sebut aja Sang Absolute atau lebih enaknya Absolute God? Mungkin Absolute God lebih enak dibaca :v, dan semua cerita ini hanya karangan author semata, jangan dimasukkan ke hati)
.......
.......
.......
Julian hanya bisa menahan napas ketika merasakan niat membunuh yang sangat pekat mengarah padanya.
"Maaf jika saya lancang membawa putri Anda, saya hanya takut jika dia kenapa-napa, jadi saya membawanya kemari agar dia istirahat" suara Julian bergetar ketika berbicara.
Lucifer menatap tajam ke arah Julian.
"hiks… Papa…"
Lucifer langsung mengalihkan perhatiannya, dan menatap lembut ke arah Rin.
Dia mendekat ke arah Rin, kemudian mengusap pucuk kepalanya dengan lembut.
Julian hanya bisa diam karena jari tangannya masih digenggam erat oleh Rin.
"Mama… Mama sudah tidak ada…" suara Rin bergetar, antara takut dan sedih.
'Trauma?' pikir Julian ketika mendengar suara Rin yang bergetar, bahkan Julian bisa merasakan tangan Rin juga bergetar seperti telah melihat sesuatu yang seharusnya tidak dia lihat.
Julian pernah merasakannya, dia bahkan memiliki trauma terhadap sesuatu.
Karena ketika masih kecil, Julian sering diculik oleh musuh kedua orang tuanya atau mereka yang menginginkan harta dari keluarga Gillan.
Bahkan karena seringnya jarum suntik menusuk tubuhnya, Julian memiliki trauma dengan jarum suntik dan juga saputangan.
Saputangan yang selalu di olesi obat bius, dan juga suntikan yang berisi bius, obat tidur, atau obat penenang membuat Julian trauma, semua itu menyebabkannya kehilangan sebagian ingatannya.
Ingatan tentang kedua orangtuanya, waktu itu Julian tidak mengetahui siapa orangtuanya, bagaimana rupa mereka berdua, yang dia ingat hanya suara mereka yang lembut dan hangat, yang selalu menyayanginya.
Julian yang mengingatkan hal itu kembali membuat tubuhnya bergetar, napasnya menjadi tidak beraturan.
'Huft! Aku tidak ingin mengingat itu kembali'
.......
.......
.......
.............
.......
.......
.......
.......
.......
.......
...________________________...
...Rhinessa Elettra Lucifer...
...Lucifer...
...(Saat jadi Malaikat → Setelah jadi Fallen Angel)...