The Wedding

The Wedding
Pertemuan yang menentukan



Setelah beberapa terakhir bertemu dengan Fariq, aku mencoba untuk menjalani kehidupanku senormal dan sebaik mungkin walaupun aku tetap saja tidak bisa membohongi diriku bahwa aku masih sangat mencintainya.


Aku berjalan menyusuri jalanan kota sore ini, biasanya aku langsung naik bus untuk pulang ke rumah. Tapi entah mengapa hari ini rasanya aku ingin menikmati sore hari dengan berjalan kaki lalu aku akan melanjutkan perjalanan kerumah menggunakan kendaraan ojek online.


Tinggg...ponselku berdering, ada satu pesan masuk.


From : Faza


Daisy, ada waktu malam ini untuk makan malam bersama?


To : Faza


Boleh, kebetulan aku belum pulang ke rumah. Dimana?


From : Faza


Ditempat makan kemarin kita bertemu ya.


To : Faza


Okay.


Ku masukkan ponsel ke dalam tas ku yang berwarna biru dongker. Aku langsung menuju tempat dimana waktu itu aku makan malam bersama Faza untuk pertama kalinya.


Sesampainya di tempat makan yang menyajikan makanan-makanan khas Indonesia, aku memilih tempat duduk dekat jendela, alasannya karena suka saja melihat pemandangan diluar jendela, melihat orang berjalan sibuk dengan aktifitasnya masing-masing.


Sepuluh menit kemudian Faza datang menghampiriku.


"Sudah datang daritadi?" tanya nya dan duduk berhadapan denganku.


"Sekitar sepuluh menitan" jawabku dengan senyuman


Aku hanya menatapnya, sibuk dengan pikiranku, mungkin kah dia bisa menggantikan Fariq dalam hidupku? tanyaku dalam hati.


"Daisy, ada yang ingin kubicarakan" kata Faza, wajahnya terlihat tenang.


"Iya, ada apa?" tanyaku


"Kamu mau menikah denganku?" tanya nya, masih dengan wajah yang tenang dan tanpa basa basi


Aku terkejut mendengar perkataan Faza yang sangat tiba-tiba ini, dia sama sekali tidak ada basa basi langsung bicara pada intinya. Seperti ada kupu-kupu yang terbang didalam perutku. Ada rasa senang, sangat mengejutkan, tidak percaya dengan apa yang terjadi, campur menjadi satu.


Aku bergeming menatap garpu didepanku. Aku menundukkan kepalaku. Tidak bisa bicara apa-apa.


"Maaf kalau ini terlalu mendadak untuk Daisy. Kita kan kenal sudah lama, ada ya sekitar tiga tahun kenal, tapi memang kita belum pernah jalan atau hubungannya dekat sebelumnya, kita jalan juga baru satu kali ya, tapi aku rasa apa sebaiknya kita menikah saja?" tanya nya lagi.


"Kamu engga salah? Kamu sudah pikir matang-matang?" tanyaku ragu


"Iya sudah. Sudah bicara dengan kedua orangtua dan keluargaku, mereka setuju. Sudah saatnya menikah juga seusia kita. Kamu suka aku engga?" kata Faza


"Iya suka" jawabku singkat, karena aku tidak bisa berkata apa-apa lagi.


"Kita engga perlu pacaran dulu, hanya akan membuang-buang waktu saja" lanjut Faza


"Aku akan izin ke mama papa dulu, apakah mereka setuju atau tidak" jawabku


"Tentu saja. Kamu kasih aku kabar kalau sudah dapat jawaban dari orangtua kamu ya" wajahnya tetap terlihat tenang, tidak ada ketegangan atau gugup yang terlihat dari wajahnya.


Aku sempat ragu, tapi aku berpikir bahwa ini adalah doaku yang dikabulkan. Aku menikah dengan seseorang yang setidaknya aku sukai. Aku belum jatuh cinta dengan Faza, karena aku berjanji pada diriku sendiri, aku akan mencintai seseorang lagi hanya kepada suamiku. Cukup bagiku merasakan kecewa yang begitu besar dan rasa sakit yang luar biasa karena aku jatuh cinta pada orang yang salah, bagiku mencintai suami adalah mencintai seseorang yang tepat di waktu yang tepat juga.