The Wedding

The Wedding
Apakah ini malam pertama?



Setelah drama yang terjadi saat aku ingin mandi pun berakhir, selesai mandi aku buru-buru ke dapur dan membuatkan mie dengan telur untuk Faza. Aku sempat melihat Faza, dia sedang duduk dengan santai disofa ruang tv sembari asik memainkan ponselnya.


Beberapa menit kemudian aku sudah membawakan dua mangkuk mie, satu untuk Faza dan satunya lagi untukku, entah mengapa aku pun ikut merasa lapar saat mencium aroma sedap dari mie instan.


Aku duduk disamping Faza, kehadiranku membuatnya langsung meletakkan ponsel diatas meja.


Lalu kami menikmati mie instan sesekali diiringi dengan obrolan ringan, wangi gurihnya membuatku semakin berselera dan pastinya terasa lebih enak lagi karena aku menikmatinya bersama suamiku, aah..sungguh perpaduan yang pas, batinku.


Setelah menghabiskan mie nya, Faza menyimpan mangkuk ke dapur, aku meraih ponselku, aku sedang iseng membuka kalender menstruasiku, aah..hari ini ternyata masa suburku yaa, batinku.


"Lagi masa subur ya?" bisik Faza ditelingaku.


Aku terlonjak dari tempat dudukku, jantungku berdebar-debar.


"Apa-apaan sih, mas" kataku masih menenangkan diri.


"Hahaha kaget yaa, lucu sekali wajahnya" ucap Faza sambil mencubit hidungku pelan.


"Jelas kagetlah, mas, tadi masih ada didapur tiba-tiba ada bisikkan ditelingaku" kataku mengomel. Faza masih tertawa melihat tingkahku.


"Iyaa maaf, eh..tapi benar lagi masa subur nih?" tanya nya.


"Iya" jawabku singkat sembari memainkan ponselku.


"Malam pertama yuk" ajak Faza.


Aku melirik ke arah Faza, ekspresi wajahnya terlihat jahil. Buru-buru aku menutup wajah Faza dengan bantal sofa. Lalu aku kabur masuk kedalam kamar. Faza hanya terkekeh-kekeh melihat ulahku, ternyata menggemaskan sekali istriku, batin Faza.


Di dalam kamar jantungku berdebar, aah..kenapa dia ahli sekali membuat jantungku berdebar seperti ini, memangnya malam pertama bermakna apa untuknya, semudah itu dia mengucapkan malam pertama, aku merasa malu sendiri membayangkan malam pertama bersama Faza. Aku bergegas merangkak naik di atas tempat tidurku setelah mengunci pintu.


Faza masih duduk santai di atas sofa ruang tv memainkan ponselnya, melihat foto-foto yang ada di album, tanpa sengaja dia melihat foto Daisy saat dia melakukan fake honeymoon bersama Daisy. Wajah Daisy terlihat cantik alami dengan senyum manisnya.



source : google.


"Aah ternyata dia manis sekali, kenapa aku baru menyadarinya sekarang, gemas sekali wajahnya" ucap Faza sembari terus memandang foto Daisy.


Sayangnya gagal, bukannya menonton tv, pikiran Faza masih saja berfantasi dengan Daisy. Keinginan alami nya sebagai laki-lakipun muncul, dia tidak bisa membohongi diri lagi, dia bergegas menuju kamar Daisy.


Tok..took..Faza mengetuk pintu kamar Daisy, apakah dia sudah tidur? tanya Faza dalam hati, jika Daisy sudah tidur pasti Faza akan sulit untuk tidur karena dia harus bisa menenangkan hasratnya untuk malam pertama dengan Daisy.


Tak lama Daisy membuka pintu, wajahnya masih terlihat segar menandakan bahwa dia belum tidur.


"Kamu engga mau tidur diatas?" tanya Faza ragu.


"Nanti saja ya, mas. Aku disini dulu malam ini" ucapku.


Bahaya nih kalau aku satu kamar dengannya, aku sedang dalam masa subur, bagaimana kalau aku menjadi agresif saat tidur bersama Faza, pikirku.


"Ya udah, aku tidur disini juga" pinta Faza.


"Loh kenapa?" tanyaku bingung.


"Yaa engga apa-apa. Sudah lama tidurnya engga ada teman" ucap Faza asal.


"Hmm ya udah masuk, tv sudah dimatikan belum?" tanyaku kembali merangkak ke atas tempat tidur.


"Sudah" jawab Faza lalu sambil menutup pintu kamar dan mengikuti Daisy yang sudah ada diatas tempat tidur.


Faza duduk di sebelah Daisy, dia menyandarkan tubuhnya. Melihat kearah Daisy yang membelakanginya, dia membelai rambut Daisy. Lalu Faza menarik selimut sampai menutup setengah badannya.


Jantung Daisy kembali berdebar, saat Faza menyentuh rambutnya dia berusaha untuk tidak memikirkan apa-apa. Kenapa aku begitu terasa sensitif malam ini, batin Daisy.


"Hei, masa aku dipunggungin terus sih" bisik Faza ditelinga Daisy dengan lembut, nafasnya terasa jelas ditelinga Daisy.


"Hmm iya mas" aku membalikkan badanku dan aku menatap wajah suamiku yang tersenyum.


"Serindu ini bisa tidur berdua kamu lagi" ucap Faza masih membelai rambutku.


"Maaf ya, mas" ucapku sebisanya, aku benar-benar berusaha menenangkan diriku, seperti ada rasa semangat yang menggebu-gebu dalam diriku.


Faza semakin mendekatkan dirinya, kini dia mencium keningku. Malam pertamaku pun terjadi, terjadi bukan benar-benar di malam pertama saat menikah tetapi terjadi setelah pernikahan ini berjalan hampir satu tahun lamanya.