
Ponselku berdering, kulihat layar ponselku yang menyala menunjukkan nomor yang tidak dikenal. Aku sempat mengabaikannya, sejujurnya aku tidak ingin bicara dengan siapapun akhir-akhir ini.
Dua minggu yang lalu Faza datang ke rumah orangtuaku untuk memintaku kembali pulang bersamanya. Aku masih memikirkan pilihan mana yang kupilih. Kembali atau bercerai? Jika aku pilih kembali pada Faza, pasti hubungan kami tidak akan sama seperti dulu sebelum ada luka yang tergores dalam hati. Tetapi jika perceraian, banyak sekali hal yang perlu aku pertimbangkan, pertama anak yang sedang aku kandung, aku tidak ingin dia tumbuh tanpa sosok ayah, bisa saja aku menjadi sosok ibu sekaligus ayah, tapi tetap saja akan berbeda dengan anak-anak yang tumbuh dengan orangtua yang lengkap. Belum lagi aku mengecewakan banyak orang, baik dari pihak keluarga Faza ataupun keluargaku. Aah..entahlah, aku merasa sakit sekali kepala ini memikirkan semua yang terjadi.
Lagi dan lagi nomor yang tidak dikenal terus menelponku, akhirnya aku menjawab panggilan tersebut.
"Halo?" sapaku dengan malas.
"Halo, apa benar ini dengan nak Daisy?" jawab dari seberang telepon, suaranya seperti ibu-ibu paruh baya.
"Ya, betul. Siapa ini?" tanyaku bingung.
"Ini dengan Tante Gina, mama nya Bintang. Nak Daisy kenal dengan Bintang, bukan?" tanya nya dengan lembut.
Deg, jantungku berdebar cepat. Tubuhku terasa lemas, mamanya Bintang menelponku? Ada apa ini? tanyaku panik dalam hati.
"Ya, bagaimana Tante ada yang bisa saya bantu?" tanyaku berusaha tenang.
"Ada yang ingin Tante bicarakan dengan nak Daisy, bisa bertemu di tempat makan Hungryfood jam tiga sore nanti?" tanya nya, masih dengan suara yang lembut.
Aku terdiam, apakah aku perlu menemuinya? Bagaimana kalau mereka ingin mencelakai aku? Atau mereka ingin apa? aku panik.
"Nak Daisy? Halo?" panggil tante Gina memastikan sambungan teleponnya tidak terputus.
"Iya, Tante. Baik aku akan kesana" jawabku.
Aduh..apa yang aku pikirkan, kenapa aku menjawab iya. Aku benar-benar merasa gelisah. Tapi aku berusaha berpikir positif. Bisa saja hal baik yang akan datang.
"Terima kasih sekali Nak Daisy menerima undangan Tante, sampai bertemu disana ya nak Daisy" sambungan telepon pun terputus.
Aku hanya bisa diam saat ini, pikiranku entah melayang kemana. Mamanya Bintang, mantan kekasih suamiku yang sekarang katanya sedang mengandung anak dari suamiku, baru saja menelpon dan memintaku untuk menemuinya. Ya Tuhan ada apa ini?
Saat memasuki Hungryfood, mataku mencari disetiap sudut ruangan, berharap ada yang melambaikan tangannya. Tunggu..bukan kah aku tidak tahu wajah Tante Gina? Bagaimana aku bisa mengenalinya? Apa Tante Gina sudah mengenali wajahku? aku mengernyit.
Mataku berusaha berkeliling lagi mencari orang yang melambaikan tangannya padaku. Tapi tidak ada. Jika aku menelponnya, jujur saja aku merasa tidak enak, mungkin karena Tante Gina adalah orangtua, jadi aku segan.
Saat aku mencoba mencari lagi, akhirnya ada seorang wanita paruh baya melambaikan tangannya padaku. Dia terlihat sendiri. Tidak bersama perempuan muda atau siapapun. Aku tersenyum kepadanya lalu berjalan menuju Tante Gina.
"Halo, Tante" sapaku dengan percaya diri bahwa aku tidak salah orang.
"Halo, Nak Daisy. Sini ayo duduk, tante pesan makanan dulu ya, nak Daisy mau apa?" tawar Tante Gina.
"Apa saja, tante" jawabku dengan sopan.
Ya ampuun..berbanding terbalik antara ibu dan anak. Tante Gina sangat ramah sekali, sedangkan Bintang? Apakah Bintang bersikap menyebalkan hanya karena aku adalah istri Faza? Atau memang dia menyebalkan kepada semua orang? Sudahlah, lupakan saja, kataku dalam hati.
"Nak Daisy..terimakasih sudah menyempatkan waktu nya untuk bertemu dengan Tante" kata Tante Gina membuka pembicaraan.
"Iya, Tan, engga apa-apa, kebetulan saya juga tidak ada kegiatan" jawabku tenang.
"Sepertinya Tante akan bicara langsung pada intinya, ini semua mengenai kehamilan Bintang" ucap Tante Gina hati-hati.
Hatiku terasa ditusuk-tusuk saat mendengar ucapan Tante Gina, benar saja apa yang akan dibahas adalah tentang kehamilan Bintang.
"Nak, Tante dan Bintang tidak tinggal satu rumah, kebetulan Tante tinggal di luar kota, jadi tidak tahu apa yang terjadi pada anak Tante setiap harinya. Baru beberapa hari Tante datang ke kota ini untuk menjenguk Bintang dan Tante sangat dikejutkan dengan kondisinya yang sedang hamil. Tante hanya tahu Bintang berpacaran dengan Faza, karena mereka cukup lama menjalin hubungan. Tapi Tante tidak tahu bahwa Faza sudah menikah, bukan dengan Bintang, tetapi dengan wanita lain" Tante Gina terdiam sesaat seperti sedang mengatur emosi kesedihan dalam dirinya.
"Tante marah besar kepada Bintang, bagaimana bisa dia membiarkan dirinya menjadi seperti ini. Tidak menjaga kehormatan dirinya sendiri. Tante memaksa Bintang untuk menceritakan semuanya tanpa terkecuali dan harus jujur, karena jika dia tidak jujur maka tidak segan-segan Tante memberinya pelajaran. Akhirnya Bintang pun menceritakan semuanya" lanjutnya.
"Nak Daisy, sebenarnya, anak yang dikandung Bintang itu memang..."
Aku terkejut mendengar pernyataan dari Tante Gina, tak terasa airmataku sudah menetes di pipiku.