The Wedding

The Wedding
Pertemuan (2)



Aku terdiam mendengar penjelasan Helwa, gadis cantik istri dari mantan kekasihku, Fariq. Aku pun dapat mengerti kegelisahan yang dia rasakan selama ini karena aku pun merasakannya. Aku berusaha untuk membuatnya merasa tenang dengan memberikan penjelasan yang sebenarnya terjadi.


"Helwa, engga ada yang perlu kamu khawatirkan atau takutkan tentang aku dan Fariq, kami sudah tidak memiliki hubungan apapun, setelah hubungan kami selesai, engga ada lagi komunikasi antara aku dengannya. Fariq akan mencintaimu lebih dari yang dia dulu pernah lakukan untukku, apalagi kamu sedang mengandung anaknya, dia akan amat sangat mencintai dan menyayangi kamu dan anakmu nanti. Percaya padaku" jelasku setelah Helwa berhenti bicara.


"Daisy, maafkan aku, apakah aku terlihat sangat bodoh?" kini isakannya terdengar.


"Engga kok. Kamu berhak mendapatkan penjelasan karena kamu mengetahui tentangku dan sekarang kamu sudah mendapatkan penjelasannya, jadi percayalah pada Fariq, lagipula aku sudah memiliki suami, tidak ada yang perlu dikhawatirkan" ucapku sembari mencari-cari tisu dari dalam tasku dan memberikannya kepada Helwa.


"Terima kasih" ucapnya lalu menghapus airmata yang turun dipipinya.


Entah rasa apa yang aku rasakan saat ini, Helwa sangat cantik, baik dan lembut, aku yakin Fariq akan sangat mencintainya tapi kenapa dia masih bisa merasakan resah seperti ini hanya karena perempuan di masa lalu suaminya? Dia pun tahu bahwa aku sudah tidak ada komunikasi dengan Fariq. Sudahlah, wajar hal ini terjadi jika suami masih menyimpan kenangannya, seharusnya disaat memulai suatu hubungan yang baru apalagi pernikahan, harus dengan hati yang kosong, sehingga siap untuk mencintai dan menyayangi pasangan sepenuh hati. Bukan membawa-bawa masa lalu dikehidupan yang baru.


Aku menghabiskan makan siang masih bersama Helwa, kami membicarakan banyak hal tetapi aku sangat menghindari topik yang berkaitan dengan Fariq karena itu bisa membuatnya sedih ataupun cemburu. Helwa sudah terlihat lebih tenang dan hmm..bisa kubilang ceria. Pastinya aku masih dibuat kagum oleh wajahnya yang cantik seperti seorang model dari Mesir, apa memang dia seorang model? wah hebat sekali Fariq, kataku dalam hati.


Setelah menghabiskan makan siang, Helwa pamit terlebih dahulu karena dia sedang ada urusan lain, aku mengantarnya sampai didepan kafe, dia melambaikan tangannya diiringi dengan senyum manisnya, aku pun melambaikan tangan dan bersiap untuk kembali ke kantor.


Sebelum pergi aku sempat menengok ke arah dalam kafe, tetapi ada satu pemandangan yang sangat mengganggu netraku. Aku melihat seorang pria dan wanita yang sepertinya tidak asing lagi bagiku.


Aku segara masuk kembali ke dalam kafe untuk memastikan bahwa aku tidak salah lihat, aku berjalan sedikit pelan karena tidak ingin kehadiranku diketahui oleh mereka, sekaligus memastikan bahwa aku tidak salah lihat, mereka duduk diujung kafe, pantas saja saat aku masuk kedalam kafe aku tidak melihat mereka, aku duduk dekat sekali dengan pintu masuk.


Sesampainya di meja yang kutuju, aku benar-benar tidak salah lihat, Faza dan Bintang sedang duduk berhadapan, aku melihat makanan yang sudah bersisa, itu tandanya mereka sudah cukup lama berada di kafe ini.


"Mas Faza?" panggilku untuk benar-benar memastikan aku tidak salah orang.


Suaraku sontak membuat dua insan ini terkejut, seperti perampok yang ketahuan sedang melakukan tindakan kriminalnya.


"Daisy..." ucap Faza tidak melanjutkan kata-katanya.


"Mas Faza lagi ngapain sama Bintang disini?" tanyaku menahan amarah yang sudah ingin sekali rasanya menyembur ke permukaan.


"Aku bisa jelaskan, Daisy. Dengarkan dulu penjelasanku" pinta Faza.


Aku terdiam. Menatap nanar keduanya. Entah sejak kapan hidupku menjadi penuh drama seperti ini, yang pasti semenjak pernikahan ini berlangsung hidupku seperti telenovela.