
"Aku benar-benar tidak bisa jauh darimu, di awal pernikahan, aku pikir aku akan bisa menarik diriku untuk jauh darimu meskipun kamu adalah istriku, karena aku hanya mencintai Bintang saat itu. Tapi aku salah besar, kamu adalah wanita yang sangat baik, kamu mengurusku, merawatku, melayaniku dengan sangat baik walaupun aku mengabaikan segala kewajibanku sebagai suami, tapi kamu tetap melakukannya dengan baik. Sampai akhirnya aku menyadari bahwa aku sangat membutuhkan kamu dan aku..." Faza tidak meneruskan kalimatnya.
Aku masih terdiam dan merasa pelukan Faza semakin erat. Apa sebenarnya yang dia ingin katakan? Kenapa dia tidak meneruskan kalimatnya, itu membuatku penasaran dan..dan..dan..gugup, batinku.
"...aku mencintaimu, Daisy" lanjut Faza, tubuhnya yang lebih tinggi dariku membuat Faza harus sedikit membungkuk dan hidungnya menempel di leherku.
Aku sangat terkejut mendengar kalimat terakhir yang dia ucapkan, seperti tidak masuk akal untukku, baru saja kemarin dia mengatakan bahwa dia masih mencintai Bintang, bahkan di rumah Om Hary pun dia masih berbicara dengan Bintang lewat telpon, tapi beberapa detik yang lalu dia mengatakan bahwa dia mencintaiku, apa-apaan ini, protesku dalam hati.
Tapi tidak bisa kupungkiri, rasa senang menyusup masuk kedalam hatiku, membuat jantungku berdetak lebih cepat, sekuat tenaga dan hati aku mencoba mengontrol perasaanku, aku tidak ingin terlalu percaya dengan apa yang baru saja Faza ucapkan, bisa saja itu hanya bualan yang dimuntahkan.
Aku melepas pelukan Faza dan menatap matanya. Kali ini aku berhasil mengendalikan diriku.
"Mas Faza, maaf bukan aku tidak menghargaimu atas pernyataan yang baru saja kamu ucapkan, tetapi mas, jangan terburu-buru, baru saja kemarin kamu bilang bahwa kamu masih mencintai Bintang dan sekarang kamu tiba-tiba bilang mencintaiku, bagaimana aku bisa percaya dengan ucapanmu? Sudah mas, aku lelah. Aku ingin mandi lalu tidur" jelasku lalu mencoba pergi meninggalkan Faza.
"Daisy, aku memang baru saja menyadari perasaanku sekarang, kenapa kamu engga dengerin aku?" ucap Faza kesal.
Aku mengabaikan Faza dan bergegas masuk kedalam kamar mandi dan mengunci pintunya. Rupanya Faza mengikuti sampai depan pintu kamar mandi, lalu dia mengetuknya dengan gusar.
Ya ampun tidak bisakah malam ini dia membuatku tenang? gerutuku lalu membuka pintu kamar mandi.
Tanpa berkata apa-apa, pintu terbuka, Faza langsung menarik Daisy dan mencium bibirnya dengan lembut. Beberapa detik kemudian tangannya mulai memeluk tubuhku.
Aku terperanjat, otak dan seluruh tubuhku tidak siap menerima ciuman Faza tiba-tiba tetapi lagi dan lagi, aku malah menikmati ciuman Faza, bodoh sekali aku, batinku.
"Aku tahu mungkin ini akan terasa sangat omong kosong, tapi Daisy, aku mulai mencintaimu, tolong maafkan aku, maaf atas kesalahanku, tidak memperlakukanmu dengan baik, mengabaikan kamu, apapun kesalahannya, aku minta maaf" ucap Faza lembut.
Aku merasa bingung, memang pertama kali menikah dengan Faza, dia bersikap sangat dingin, bahkan aku selalu dibuat kesal olehnya, tapi belakangan ini, dia menjadi sedikit lebih ramah dan manis sikapnya kepadaku, ada sedikit keraguan dihatiku, biasa melihat dan merasakan Faza yang bersikap dingin dan tiba-tiba sikapnya menjadi hangat seperti ini.
Aku menyentuh pipinya, merasakan hangat tubuhnya, aku tahu bahwa aku mencintainya, aku berjanji pada diriku untuk mencintai sepenuh hati orang yang menikahiku, kegagalan percintaan saat bersama Fariq banyak mengajarkanku untuk tidak sembarang mencintai seseorang apalagi sebelum ikatan pernikahan. Aku menepati janji pada diriku sendiri, aku mencintai suamiku, Faza Biantara.
"Aku selalu memaafkanmu, mas. Aku ingin kita bisa menjalani rumah tangga ini dengan baik, jika memang mas mau untuk memperbaiki ini semua, ayo sama-sama, aku ingin kita saling mencintai, saling menyayangi, selalu ada kata saling didalam menjalani ini semua. Tidak bisa hanya satu pihak saja, karena tidak akan berjalan mulus, pasti akan pincang. Jika memang kamu mencintaiku, bisakan kamu melepas Bintang untuk selamanya, jangan pernah menghubungi dan menemuinya lagi, bisakah kamu berjanji untukku?" jelasku kepada Faza.
Faza langsung menganggukkan kepalanya dan memelukku erat. Akupun tak kuasa menahan tangis, akhirnyaa..akhirnya aku bisa mendapatkan cinta dari suamiku, doaku sudah terjawab, betapa senangnya hatiku menerima ini semua, Tuhan Maha Mengetahui kapan waktu terbaik dan tepat untuk hamba-Nya.
"Ya sudah aku mau mandi dulu ya, tolong jangan ketuk pintu nya lagi, okay?" kataku sambil melepas pelukan Faza dan cepat-cepat menghapus airmataku.
"Haha baiklaah, tapi aku boleh minta sesuatu padamu?" pinta Faza.
"Apa?" aku mengernyit.
"Aku mau dibuatkan mie rebus pakai telur ya hahahaa" Faza tertawa.
"Iih ya ampun aku pikir apa gitu yang penting, iyaa..iyaaa..nanti aku buatkan" kataku gemas.