
Sesampainya dirumah, aku langsung menuju dapur dan mengambil minum dari dalam lemari es, rasanya panas sekali. Ini cuacanya panas atau hatiku yang panas, omelku.
Masih terbayang jelas dalam otakku kejadian di supermarket tadi. Melihat Faza menggandeng Bintang didepan mataku, iya aku, istri sahnya yang dia tinggalkan.
"Kenapa juga kamu nikahin aku sih? Kamu tinggalin aku sendiri demi perempuan itu loh Faza! Aku ini kan istri kamu loh, ISTRI. Sedangkan dia itu mantan kekasihmu. Aku sampai pulang pakai taxi, tapi kamu kemana? Masa lebih perhatian si bapak taksi daripada kamu. Kenapa juga kamu cari yang tidak halal sedangkan kamu sudah punya yang halal didepan mata kamu?" omelku menumpahkan segala kekesalanku.
Kuminum air dingin yang kuambil dari lemari es, rasanya sedikit membuatku tenang. Setelah merasa sedikit lebih baik, aku segera menaiki anak tangga dan menuju kamar mandi yang ada didalam kamarku. Rasanya berendam menjadi pilihan terbaik untuk saat ini.
Aku berendam didalam air mawar, kelopak-kelopaknya kumainkan, sebenarnya pikiranku masih saja berfokus pada Faza. Entahlah, aku benar-benar merasa lelah dengan sikap Faza. Sembilan bulan pernikahan kami seperti tidak berarti apa-apa untuknya.
Tiga bulan lagi pernikahan kami sudah memasuki waktu satu tahun. Jika memang tidak ada perubahan dalam hubungan kami, apa yang harus kulakukan? Ah...semakin lelah rasanya jika memikirkan seseorang yang memang sejak awal tidak menginginkan kehadiranku dalam hidupnya.
Setelah aku merasa cukup untuk berendam, aku membersihkan tubuhku kembali dan mengambil handuk yang kugantung didekat pintu kamar mandi. Kulilitkan handuk berwarna oranye di tubuhku.
Saat keluar kamar mandi, aku terlonjak kaget, Faza sudah ada didalam kamar dan sedang duduk diatas ranjang memainkan ponselnya, wajahnya masih terlihat kesal.
Aku menarik nafas melalui hidung dan mengeluarkannya lewat mulut, berusaha untuk tenang. Entah kenapa jantungku berdetak lebih cepat. Aku juga merasa tidak nyaman dengan kondisiku yang hanya menggunakan handuk, karena selama menikah kami tidak pernah berganti pakaian saat ada pasangan, selalu bergantian kamar, jika tidak seperti itu aku atau Faza memakai baju didalam kamar mandi.
Aku berdiam diri sesaat, aku tidak membawa baju gantiku, jadi percuma jika aku balik ke kamar mandi. Lagipula kupikir Faza belum sampai dirumah, melainkan masih sibuk dengan mantan kekasihnya.
Aku berusaha tenang dan melangkahkan kakiku menuju lemari yang terletak diujung kamar yang mana aku harus melewati ranjang. Tidak peduli berapa langkah yang harus kulewati, dipikiranku saat ini adalah mengambil baju dan pakaian dalamku lalu segera kembali ke dalam kamar mandi.
"Kenapa kamu bersikap seperti itu?" tanya Faza tiba-tiba.
Aku menghentikan langkahku. Menatap Faza bingung.
"Maksud mas apa?" tanyaku bingung sesekali menahan handuk agar tidak terlepas.
"Sikapmu ke Bintang itu tidak menyenangkan sama sekali. Bintang sudah berusaha bersikap ramah dan sopan padamu" ucap Faza ketus.
Aku memutar bola mataku, tidak percaya dengan apa yang baru saja dikatakan oleh Faza. Dia terang-terangan membela Bintang.
"Mas engga terima aku tanya dia mantan kekasih mas atau bukan? Hanya sekedar itu dan sekarang mas marah sama aku?" kataku kesal.
"Jelaslah" jawabnya
"Mas, aku ini istrimu loh, berhak bertanya, menanyakan siapa perempuan yang bernama Bintang itu, orang yang mas kenalin ke aku" kataku sambil berlalu menuju lemari pakaian.
"Kalau kamu istriku memang kenapa? Berhak untuk bersikap menyebalkan seperti tadi? Lagipula apa sih spesialnya seorang istri? Kamu selalu bilang istri istri dan istri, maumu apa?" bentak Faza.
"Mas, seharusnya aku yang tanya ke mas itu maunya apa. Aku selama ini berusaha untuk diam dan mengalah mas. Mas belum pernah menyentuhku sebagai istripun aku berusaha terima, mas" kataku menahan tangis.
"Oh jadi dipikiranmu itu cuma ada tentang s*x saja ya? Okay itu yang kamu mau ya, sini" Faza mendekatiku dan menarikku kasar, dia melempar tubuhku diatas kasur.
Dia langsung melepas kaos dan celana jeans nya lalu melemparnya dengan asal ke lantai. Dia naik ke atas ranjang tepatnya dia menaiki tubuhku, dia ada diatasku sekarang.
Aku menangis, entah mengapa harga diriku terluka, aku bukan menginginkan hal seperti ini, kalaupun aku melepas keperwananku kepada Faza, aku ingin dengan cara yang baik bukan cara paksa seperti ini.
"Jangan begini, mas" kataku mencoba menahan handukku.
Faza mencoba melepas handukku dengan paksa. Handukku terasa kendur, aku masih berusaha menahannya agar tidak terbuka.
"Katanya kamu istriku, kamu menginginkan hal ini kan?" ucap Faza masih berusaha menarik handukku, lagi dan lagi hampir saja handukku terlepas.
Aku berusaha menyingkirkan tangan Faza dan tetap menahan handukku. Aku merasa kalah, tenaga dia lebih besar dariku, aku mengumpulkan tenaga sekuat mungkin, tanpa sadar aku menampar pipi Faza.
"Berhenti, Faza!!" teriakku, satu tamparan melayang dan mendarat dipipi Faza.
Faza terhenti, wajahnya terlihat sekali jika dia terkejut dengan tamparanku. Sesungguhnya aku sudah tidak peduli. Jika dia ingin menamparku balik, aku pasrah. Atau dia ingin menceraikan aku pun terima.
"Daisy?" ucap Faza pelan.
"Maafkan aku, Daisy. Apa yang kulakukan, maafkan aku" katanya dan bergegas turun. Dia mengambil handuk lainnya dari dalam lemari.
Faza langsung menutup tubuhku yang terbuka dengan handuk yang dia bawa. Lalu dia memakai kaos dan celananya kembali.
Aku masih duduk ditepi ranjang dan menangis, Faza benar-benar membuatku takut. Tak lama setelah pakaiannya lengkap, dia datang mendekatiku. Dia menyentuh pipiku lembut, ini kali pertama nya Faza melakukan hal itu.
"Maafkan aku, Daisy. Kamu pasti ketakutan melihatku seperti itu. Aku tidak bermaksud. Maaf aku terbawa emosi marahku. Maafkan aku, sama sekali tidak bermaksud melukaimu" ucap Faza mengelus-elus lembut pipiku, suaranya begitu lembut, baru kali ini aku mendengar Faza berkata lembut kepadaku.
Aku masih terdiam berusaha menenangkan diriku. Aku merasa sangat kotor dan malu. Seperti akan diperkosa oleh seseorang. Aku tahu itu Faza suamiku, tetapi aku tidak menyangka dia akan melakukan hal seperti ini.
"Sekarang pakailah bajumu, aku akan keluar kamar."
Faza keluar kamar dan pergi meninggalkanku sendiri.
Aku masih enggan berdiri dan memakai pakaianku, aku hanya ingin diam untuk beberapa saat. Tangisku sudah berhenti, hanya saja rasa sakit masih terasa dihatiku, belum juga ingin pergi dari sini.