
Mama sempat terdiam saat keluar rumah melihatku turun dari mobil dan mengeluarkan koper dari dalam taksi, kebingungan terlihat di wajah mama yang semakin menua, bagaimana mungkin aku membuatnya sedih karena masalah rumah tanggaku, ucapku dalam hati.
Setelah terdiam beberapa saat mama buru-buru menutupi segala kecemasan di dalam hatinya, mama menyambutku dan memelukku erat, lalu mencium keningku penuh kasih sayang.
Tak tahan lagi, aku menangis dipelukan mama, mama dan papa adalah tempat aku pulang, sejauh apapun aku melangkah meninggalkan mereka, tetapi tetap saja mereka lah tempat aku pulang. Mama menepuk-nepuk pelan bahuku, menguatkan dari hati ke hati.
Aku menarik koperku masuk ke dalam rumah, kulihat papa sedang menonton tv, aku segera mencium punggung tangan papa dan memeluknya. Orangtuaku sepertinya sudah mengerti jika terjadi sesuatu dengan rumah tanggaku. Mereka tidak bertanya apa-apa kepadaku, seolah-olah mereka tidak mengerti dan tidak terjadi hal buruk apapun, mereka menyuruhku istirahat di dalam kamar.
Kamar tidur milikku yang dulu aku tempati saat sebelum menikah masih tetap sama tidak ada yang berubah, kamarnya berwarna pink, cermin panjang berwarna putih yang kuletakkan di pojok kamar, meja rias, tirai berwarna marun dan barang lainnya, semuanya masih pada tempatnya.
Aku merebahkan tubuhku di atas kasur, menatap langit-langit kamar berwarna putih, rasanya tubuhku sangat lelah, tetapi otakku masih terus memikirkan Faza, suamiku. Entah apa yang harus aku lakukan, aku seperti tidak bisa menerima perselingkuhan yang benar-benar tidak bisa aku tolerir lagi. Tapi sulit juga bagiku untuk bercerai dengan Faza, apalagi saat ini aku sedang mengandung anaknya. Aku mengelus pelan perutku, airmataku menetes tanpa aku sadari.
"Maafkan ibu, nak..seharusnya ibu harus bahagia saat mengandungmu, tidak seperti ini. Ibu janji akan selalu membuatmu bahagia"
Ponselku terus berdering, sudah lima puluh enam panggilan tak terjawab, aku tahu siapa yang terus menelponku, tidak ada lagi selain Faza jadi aku tidak perlu melihat layar ponselku saat telpon berdering. Aku tidak mengangkat telponnya. Aku butuh waktu sendiri untuk berpikir.
Cahaya matahari masuk melalui celah-celah tirai kamarku, aku membuka mataku perlahan, aku terkejut saat ada seseorang yang duduk di sampingku. Faza. Dia duduk dengan santai mentapku dengan senyuman manisnya. Buru-buru aku bangun dan memposisikan diriku untuk duduk di atas tempat tidurku.
"Sejak kapan mas duduk di sini?" tanyaku masih berusaha menyadarkan diri sekaligus mengatur detak jantungku yang cepat agar kembali normal.
"Hmm.." Faza bergumam seolah-olah sedamg berpikir.
"Sekitar tiga jam yang lalu" lanjutnya.
"Ada perlu apa mas datang ke sini?" tanyaku lagi.
"Aku engga mau, mas. Aku mau di sini saja" jawabku keras kepala.
"Aku sudah minta izin kepada Ayah dan Ibu, mereka memberiku izin untuk membawamu kembali pulang" jawab Faza masih dengan senyum manisnya.
"Aku engga mau" jawabku.
"Daisy, istriku sayang, aku sudah menjelaskan semuanya kepadamu, jika kamu masih belum percaya, kita bisa melakukan tes DNA"
"Mas, mas sadar engga kalau perselingkuhan yang kamu lakukan selama pernikahan kita ini sudah melebihi batas? Bagaimanapun kamu sudah melakukan hubungan intim dengan Bintang, mas" kataku dengan ketus.
"Aku tahu, aku salah, sangat salah, maafkan aku, mungkin kata maaf tidak mengubah apapun saat ini, tapi aku sudah mengatakan semuanya dengan jujur" Faza terdiam sesaat.
"Apa yang harus aku lakukan agar kamu memaafkan aku? Apa yang kamu inginkan?" lanjut Faza, terlihat penyesalan dari sorot matanya.
Ah, lemah sekali hati ini. Rasanya baru beberapa jam yang lalu aku ingin berpisah dengannya, tapi saat ini, melihat Faza didepanku, membuatku sangat lemah dan tidak ingin berpisah dengannya. Jika aku memilih untuk tetap bersama Faza, apakah aku akan bisa memaafkan setulus hatiku dan bisa melupakan luka di hati ini di masa yang akan datang? batinku.
"Beri aku waktu, mas" jawabku pelan.
Faza memelukku dan mencium keningku. Dia mengerti bahwa aku masih belum bisa kembali bersamanya saat ini.
"Aku memang melakukan kesalahan fatal yang sebenarnya itu bisa membuatku kehilanganmu kapan saja, Daisy, dan kamu tetap bertahan bersamaku, itu menyadarkan aku saat semuanya belum terlambat, aku berusaha memperbaiki kesalahanku, karena aku tidak ingin kehilanganmu. Orang yang sangat aku cintai adalah kamu, Daisy. Bukan wanita lain. Tetapi jika kamu tidak bisa memaafkanku, aku siap menerima apapun itu hukumannya" Faza mencium bibirku lembut, tersenyum manis, dan pamit pulang.
Aku tertegun, memikirkan matang-matang keputusan yang harus ku ambil. Memberi kesempatan kedua kepada Faza atau berpisah?