The Wedding

The Wedding
Malam Pertama



Gaun pengantin berwarna putih yang kupakai saat ini membalut indah tubuhku, rambut yang tertata dengan rapi membuatku terlihat semakin anggun, make up bertema warna peach pun terlihat sangat cocok sekali diwajahku, menyempurnakan aku di hari spesial ini. Aku terlihat sangat cantik. Sempurna.


Hari ini adalah hari pernikahanku dengan Faza, benar..seseorang yang sama sekali tidak pernah terlintas dipikiran ataupun hatiku, aku akan menikah dengan dia. Tetapi hari ini aku sudah sah menjadi istri dari Tuan Faza Biantara.


Aku disambut hangat oleh keluarga Faza, terutama adik perempuannya, Bianca, usianya yang kini menginjak dua puluh tahun. Dia merasa sangat senang mendapat kakak perempuan, kebetulan hubunganku dengan Bianca sudah terjalin dengan baik dari awal pertemuan kami. Faza hanya dua bersaudara dengan adik perempuannya itu.


Garden party yang tertata dengan sangat rapi dan indah menjadi pelengkap pernikahan impianku, semuanya terlaksana sesuai dengan keinginanku, akupun berdoa dan berharap bahwa pernikahan ini adalah awal kebahagiaan antara aku dan Faza.


Aku berjalan mendekati Faza yang sedang asik mengobrol dengan teman-temannya, dengan senyuman manis aku menyapa mereka, aku pikir Faza akan memperkenalkanku kepada teman-temannya, tetapi Faza hanya menyapaku balik dan kembali berbincang-bincang dengan mereka.


Hatiku sedikit kecewa, tapi buru-buru kuhapus kekecewaan itu, mungkin Faza tidak ingin diganggu olehku dulu, batinku. Lalu aku pergi meninggalkan Faza dan teman-temannya.


Bianca yang melihat sikap kakaknya yang menyebalkan, berlari kecil menghampiri Daisy yang berjalan menuju bangku kosong yang terletak tidak jauh dari tempatnya.


"Hai, kak Daisy. Gabung yuk" Bianca menarik tangan Daisy dan mulai bergabung bersama keluarga besar Faza.


Akhirnya pesta pernikahan kami pun selesai, kami menyiapkannya kurang lebih tujuh bulan dan pestanya hanya berlangsung selama lima jam saja.


Sesampainya dirumah Faza, aku turun dari mobil Brio dan mengeluarkan dua koperku. Faza berpesan aku tidak perlu membawa banyak barang karena semuanya sudah tersedia dirumahnya, akhirnya aku pun hanya membawa baju-baju dan keperluanku saja.


Aku berjalan menyusuri taman yang indah, tak jauh pintu utama rumah pun sudah terlihat. Rumah Faza sederhana, tidak terlalu besar tapi tidak juga kecil. Kami memasuki rumah yang semuanya tertata dengan rapi dan bernuansa hitam putih. Lantai satu terdapat dapur, kamar tidur yang dijadikan sebagai kamar tamu, kamar mandi, ruang tv dan ruang tamu, diatasnya tepatnya di lantai dua terdapat dua kamar utama dan kamar mandi didalamnya.


Faza dan akupun segera menaiki anak tangga, sesampainya dikamar utama kami, aku mulai merasa jantungku berdebar kencang, deg deg deg deg ... aku seperti dapat mendengar detakan jantungku. Aku berusaha tenang. Kulirik Faza yang sedang membuka kancing dilengan bajunya, wajahnya terlihat santai, bahkan bisa kubilang wajahnya terlihat dingin. Tidak ada sorot kebahagiaan karena baru saja menikah. Tetapi aku semakin deg-degan. Ini malam pertama aduuuh, kataku dalam hati.


"Mau mandi duluan?" tanya Faza.


Suara Faza menyadarkan ku dari pikiran-pikiran yang sudah melayang jauh.


"Siapa yang mandi duluan? Aku atau kamu?" tanya Faza mengulang pertanyaannya.


"Engga apa-apa, Mas Faza dulu saja" kataku berusaha tenang.


Setelah menikah, aku berkomitmen dengan diriku sendiri untuk memanggil Faza dengan panggilan Mas Faza, sebagai bentuk rasa hormatku kepada suami, walaupun kami sebaya.


"Okay" jawab Faza datar.


Lalu Faza pergi masuk kedalam kamar mandi. Aku mulai panik karena ini saatnya aku melepaskan milikku yang paling berharga. Lima belas menit kemudian Faza sudah keluar dari kamar mandi, dia hanya memakai handuk yang melingkar dipinggulnya. Aku sontak mengalihkan pandanganku. Aku buru-buru masuk ke dalam kamar mandi.


Aku memandang tubuhku dicermin, baiklah aku siap untuk melepas semuanya malam ini untuk suamiku, aku bergumam.


Setelah selesai mandi, aku keluar kamar mandi sudah lengkap dengan baju tidur berwarna pink, aku lihat Faza sedang sibuk dengan ponselnya bahkan dia tidak melirik sama sekali ke arahku.


Lima menit, sepuluh menit, dua puluh menit, tiga puluh menit, satu jam, Faza masih saja sibuk dengan ponselnya, masih tidak mengajakku berbicara. Aku hanya duduk diatas tempat tidur, Faza memang disebelahku tapi aku merasa sendiri. Jarum jam sudah menunjukkan pukul sepuluh malam.


Duh..mau jam berapa ini mulainya, kataku dalam hati.


"Ah sudah malam yaa, yuk kita tidur" Faza membaringkan tubuhnya dan posisi tidurnya membelakangiku.


Aku terdiam. Bingung. Biasanya pengantin baru di malam pertama akan melakukan "pesta pernikahan" bersama pasangannya dikamar, menghabiskan malam penuh dengan cinta. Tapi ini apa? Aku sudah menunggunya dari satu jam yang lalu, diabaikan karena dia sibuk dengan ponselnya, sekarang dia langsung meninggalkanku tidur.


Aku berusaha tenang, memasukkan pikiran-pikiran positif di otakku, mungkin hari ini Faza sangat lelah, mungkin besok dia akan mengajak "malam pertama" nya, kataku dalam hati.