
Setelah kejadian beberapa waktu yang lalu dimana Faza ingin memaksaku melakukan hubungan intim, aku pun mulai menghindari Faza, dimanapun dia berada sebisa mungkin aku menjauh darinya. Bahkan beberapa malam ini aku tidur di kamar yang terpisah dengan Faza, dia memang melarangku untuk pisah kamar tetapi aku tetap memaksa pisah. Rasanya masih takut untuk berada didekatnya. Tetapi hal ini berbanding terbalik dengan Faza, dia semakin sering mendekatiku dan bersikap lembut padaku.
Aku tidak mengerti sikap lembut dan manisnya ini sebagai bentuk penyesalan atau ada rencana lain dalam otaknya, aku sudah hampir tidak memiliki kepercayaan lagi untuknya.
Pagi ini setelah aku membuat sarapan untuk Faza, aku bersiap-siap untuk berangkat kerja. Seperti biasa aku menggunakan transportasi umum, jarak antara rumah dan tempatku bekerja lumayan jauh, jadi aku sudah harus berangkat pagi-pagi.
Aku keluar kamar dan melihat Faza sudah berada di ruang tamu dengan pakaian yang rapi, tumben sekali sudah siap pergi ke kantor, batinku. Aku melanjutkan langkahku, saat sudah mendekati Faza, aku berpamitan dengannya.
"Mas, aku berangkat kerja dulu ya"ucapku, mencium tangan kanannya tanpa melihat wajahnya.
"Ayo aku antar ke kantor" kata Faza dengan senyuman hangat.
"Engga perlu, mas. Terima kasih, aku bisa pakai bus atau apa saja untuk sampai ke kantor" tolakku.
"Engga apa-apa, yuk" Faza berjalan mendahuluiku dan masuk kedalam mobil miliknya.
Sesaat aku bingung untuk menolaknya, tetapi aku masih takut jika berdekatan dengannya. Akhirnya aku memutuskan untuk patuh pada suamiku.
Tak lama mobil Brio milik Faza sudah melaju dijalanan, sepanjang jalan kami hanya diam seperti biasanya, bedanya wajah Faza terlihat tenang dan hmmm..bisa aku bilang ceria.
"Nanti pulangnya aku jemput ya" katanya dengan senyuman manis.
"Hmm" jawabku, rasanya malas sekali berdekatan terus dengan Faza.
"Engga" jawabku singkat.
Akhirnya kita kembali diam, mobil milik Faza tak lama sudah memasuki pelataran kantorku. Aku melepas sabuk pengamanku dan berpamitan. Belum juga aku membuka pintu, Faza memegang tanganku.
"Kamu engga cium aku seperti biasanya?" tanya nya bingung.
Memang aku melakukan kebiasaan memeluk dan mencium pipi kanan dan kiri dia sebelum berangkat kerja meskipun Faza tidak menyukainya, tapi aku tidak peduli tetap melakukannya sehingga itu menjadi rutinitas kami.
"Ah iyaa" kataku dingin, aku memeluknya sepintas dan mencium pipi kanannya. Lalu kembali ingin membuka pintu, tapi Faza masih menahanku.
"Kok cuma pipi kanannya saja?" tanya nya lagi.
Iiissh mau apa sih ini orang, gerutuku dalam hati. Lalu aku menurutinya, aku mencium pipi kirinya. Aku segera membuka pintu mobil lagi untuk ketiga kalinya tapi kali ini Faza masih menahan tanganku.
"Semangat ya untuk hari ini, istriku" dia mengecup keningku lalu turun ke pipi kanan dan kiriku, terakhir dia mencium bibirku dengan lembut, aku terdiam, seperti menikmati lembutnya bibir milik Faza. Lalu tak sadar aku merespon bibir Faza dan mengizinkannya untuk menciumku lebih dalam. Ini kali pertamanya dia mencium bibirku lebih dulu.
Jantungku berdegum. Muka ku terasa panas seperti ada api semangat yang muncul dalam diriku.
Sadar aku terlalu larut dalam ciuman ini, aku buru-buru melepas ciumannya dan bergegas keluar mobil. Faza sempat membuka kaca jendela, melambaikan tangan diiringi dengam senyum manisnya yang belum pernah kulihat sebelumnya.
Apa-apaan ini, kenapa bisa aku menikmati ciumannya? Bukan kah aku sedang kesal dengannya karena dia memperlakukan aku tidak baik dan melukai harga diriku, bodohnya aku, gerutuku.