The Wedding

The Wedding
Palsu



Esoknya aku dan Faza menghadiri acara Om Hary. Aku berusaha sebaik mungkin agar terlihat ceria dan harmonis bersama Faza. Kugandeng tangan kekar Faza dan selalu diiringi senyuman yang manis, seakan-akan tidak pernah terjadi hal buruk diantara kami.


Ayah dan Ibu Faza langsung menghampiri kami, menyambut kedatangan anak laki-lakinya. Aku mencium tangan Ayah dan Ibu, lalu berhambur menyalami tamu-tamu yang hadir diikuti oleh Faza dibelakangku.


Kepalaku menoleh ke kanan dan ke kiri mencari keberadaan Bianca, sejujurnya salah satu cara melarikan diri agar berhenti bertingkah palsu adalah mengobrol dengan Bianca. Akhirnya aku menemukan Bianca yang sedang sibuk memakan beberapa kue nastar dan putri salju yang terletak diatas meja berbentuk segi empat. Baru saja aku ingin melangkahkan kakiku untuk menghampiri Bianca, tiba-tiba ada yang menarik tanganku, spontan aku melihat ke arah orang yang menarikku, Faza terlihat tersenyum.


"Mau kemana?"


"Aku mau menemui Bianca" jawabku dingin.


"Disini aja" Faza menarikku semakin mendekat dan melingkarkan tangannya dipinggulku.


Aku berusaha untuk melepas tangannya pelan-pelan agar tidak terlihat mencolok oleh orang-orang sekitar, tetapi disaat yang bersamaan Om Hary menghampiri kami, aku terpaksa merelakan Faza merangkulku.


Setelah berbasa-basi, aku pergi untuk mengambil minum dan menghampiri Bianca yang masih sibuk mencicipi kue lainnya.


"Bianca" seruku sambil membawa segelas jus stroberi.


"Aaaah Kak Daisy, daritadi datangnya?" Bianca buru-buru menghampiri dan memelukku.


"Ya lumayan, tadi aku ngobrol-ngbrol dulu disana" jawabku sekenanya dan mulai mengambil beberapa kue yang disajikan di atas meja.


"Kak Faza mana?" kepala Bianca tengok ke kiri dan kenan mencari kakak satu-satunya.


Tanpa sengaja aku melihat Faza yang berdiri dibawah pohon tidak jauh dari tempatku berdiri, dia terlihat sedang berbincang-bincang ditelpon, aku melengos, sepertinya aku tahu dia sedang berbicara dengan siapa. Aku berusaha mengabaikan rasa cemburu yang memuncak.


Aku menikmati makanan yang disediakan oleh keluarga Om Hary dan tentu saja aku lebih memilih menghabiskan waktuku bersama Bianca, kulirik Bianca yang sedang asik bermain dengan ponselnya, lalu tiba-tiba dia terkejut, seperti melihat hantu didepan matanya.


"Bintang Rayhanna? Ngapain tiba-tiba follow aku?" katanya sambil sibuk scroll layar ponselnya.


"Memangnya siapa?" tanyaku.


"Itu looh mantannya kak Faza" jelas Bianca.


Deg..mendengar kata mantannya Faza, hatiku seperti terasa panas, bahkan karena merasa terkejut yang bercampur dengan rasa cemburu, perutku sampai terasa sakit, selera makanku pun langsung hilang. Ngapain dia tiba-tiba follow Bianca? tanyaku dalam hati.


"Oh" jawabku singkat.


"Eh kak Daisy, tapi Bianca engga follow back kok, tenang aja. Lagipula aku engga pernah dekat sama dia selama kak Faza pacaran sama dia" ungkap Bianca berusaha menjelaskan kepadaku.


"Iya, Bianca. Engga apa-apa" jawabku berusaha tersenyum wajar.


Bohong jika kali ini aku merasa baik-baik saja. Aku jelas-jelas sedang cemburu. Aku tidak pernah tahu maksud dan tujuan Bintang itu apa, dia sudah tahu bahwa Faza sudah menikah denganku, ahh..mungkin dia sangat percaya diri bahwa Faza masih mencintainya, jadi tidak menutup kemungkinan bahwa dia bisa menikah dengan Faza suatu hari nanti.


Acara Om Hary pun akhirnya selesai, hari sudah larut malam, setelah berpamitan aku segera menuju mobil Brio milik Faza, Faza terus merangkulku selama perjalanan menuju mobil. Aku langsung masuk ke dalam mobil dan ekspresiku berubah tidak seramah tadi. Jika sudah berdua dengan Faza aku tidak perlu berpura-pura lagi kan? batinku.