The Wedding

The Wedding
Helwa, gadis cantik



Semakin hari semakin baik hubunganku dengan Faza, sikapnya kepada aku pun sudah berubah drastis, dia bersikap menjadi sangat hangat, romantis dan sangat perhatian, tidak dingin seperti dulu.


Kami banyak menghabiskan waktu bersama saat pulang kerja ataupun hari libur, meskipun hanya menonton beberapa film dirumah, tapi kami sangat menikmati saat-saat berdua.


Setelah malam pertama dimalam itu, kami juga tidak hanya melakukannya dimalam itu saja, tetapi ada "malam pertama" di hari-hari berikutnya. Mungkin hal seperti ini juga yang bisa membuat aku dan Faza semakin dekat. Entah mengapa Faza selalu saja ingin berada didekatku.


Selesai mandi aku lihat Faza sedang menonton tv, aku berjalan mendekatinya dan langsung meletakkan kepalaku dipaha Faza sambil memainkan beberapa permainan diponselku, aaah..posisi paling nyaman seperti ini, batinku.


Tiinngg...notifikasi masuk diponselku, permintaan teman disalah satu media sosialku. Aku mengabaikannya, permainan diponselku seakan posesif membuatku tidak ingin meninggalkannya saat ini. Faza membelai rambutku lembut, matanya masih fokus ke arah tv.


Tinggg...kali ini DM di Instagram pun masuk, tetapi nama yang tertera tidak aku kenal, aku segera membuka pesan tersebut.


Dari : Helwa Shafiya Alkhansa


**Halo Daisy perkenalkan aku Helwa. Aku sangat yakin kamu tidak mengenalku, tetapi aku sedikit mengenalmu secara tidak langsung. Maaf aku lancang mengirimmu pesan seperti ini, aku sudah beberapa bulan ini mencegah diriku untuk menghubungimu secara langsung tetapi sepertinya lebih baik aku melakukannya saja demi ketenangan hatiku.


Daisy, mungkin saat ini kamu sangat penasaran siapa aku, kamu bisa membuka akunku, kamu akan tahu siapa diriku, jika kamu sudah tahu, apakah kamu mau bertemu denganku? Aku hanya ingin mengenalmu dan sedikit berbincang tentang seseorang.


Jika kamu bersedia aku akan menunggumu besok pukul 12 siang di Kafe Gardenia, pasti kafe ini sudah tidak asing lagi bagimu, dulu kamu sering datang ke kafe ini dengan seseorang, bukan?


Terima kasih sudah bersedia membaca pesanku. Aku tunggu ya, Daisy**.


Selesai membaca pesan tersebut aku langsung melihat akun yang bernama Helwa Shafiya Alkhansa tersebut, ada beberapa foto selfie, waah cantik sekali, batinku.



source : google


Aku terdiam sesaat, aku mengalihkan tatapanku dari layar ponsel menuju layar tv, aku sedang berpikir apa yang harus aku lakukan, apakah aku sebaiknya menerima tawarannya untuk bertemu? Tapi mau apa? Aku dan Fariq sudah tidak ada hubungan apa-apa, pikirku.


Setelah berpikir beberapa saat, niatku sudah bulat untuk menjawab pesannya, tak lama jari-jariku sudah berjalan kesana kemari, sibuk mengetik balasan untuk Helwa.


**Untuk : Helwa Shafiya Alkhansa


Halo juga, Helwa. Senang kenal denganmu, sekarang sedikitnya aku sudah tahu siapa kamu.


Selamat untuk pernikahanmu dengan Fariq.


Semoga kalian selalu bahagia.


Kebetulan aku punya waktu luang, kita bisa bertemu besok.


Sampai bertemu besok**.


Aku meletakkan ponselku diatas meja, aku hanya terdiam, rasa cemburu itu enggan untuk pergi dari dalam hatiku. Aku menatap kosong layar tv, Faza tidak menyadari kegelisahan yang sedang dirasakan oleh istrinya.


Terlintas kenanganku saat bersama Fariq, memang indah saat bersamanya, tetapi aku tidak bisa seperti ini. Aku sudah punya Faza, hubunganku dengan Faza pun sudah menjadi lebih baik. Apa yang harus aku keluhkan? Apa yang harus aku cemburui?


Aku bangun dan menatap Faza yang menyadari pergerakkanku, dia menatapku bingung.


"Ada apa, sayang?" tanya nya.


Aku tidak berkata apa-apa, aku langsung memeluk suamiku. Entah rasa bersalahku jauh lebih besar yang aku rasakan dibanding dengan rasa cemburuku tentang Fariq. Aku tidak boleh memikirkan laki-laki lain disaat aku sudah memiliki suami, batinku.