The Wedding

The Wedding
Tembok yang runtuh



Sore ini sesuai dengan yang Faza katakan pagi tadi, dia menjemputku sepulang kerja. Dia mencium keningku saat aku masuk ke dalam mobil.


Hari ini dia terlihat tampan, sebenarnya dia memang tampan hanya saja sikapnya yang menyebalkan membuatku tidak menyadari ketampanannya. Rambutnya dia sedikit ikat dibagian belakang, menggunakan kemeja berlengan panjang dan dia gulung sampai siku. Aku mengalihkan pandanganku keluar jendela, jika terus menerus memperhatikan wajahnya bisa saja aku terhipnotis lag



Alunan lagu Can't take my eyes of you terdengar menenangkan ditelingaku, kebetulan aku sangat menyukai lagu ini. Tiba-tiba Faza memegang tanganku, dia sengaja menggenggam tanganku erat. Pandangannya masih fokus ke jalan tetapi tangannya tidak salah untuk memilih dan genggam tanganku.


"Besok lusa kita dapat undangan makan malam di rumah Om Hary ya" katanya


"Om Hary yang mana?" tanyaku berusaha mengingat-ingat.


"Itu sepupu mama, kamu lupa?" tanya nya.


"Aah yang itu, baiklah" kataku bohong jika aku ingat orangnya.


"Nanti seperti biasa kita palsu lagi?" tanyaku.


"Maksudnya gimana?" tanya Faza bingung.


"Yaaa pura-pura romantis, pura-pura kalau hubungan kita harmonis, kita harus begitu lagi kan?" jelasku.


"Engga perlu, biasa saja. Aku juga sudah terbiasa ada kamu didekatku, jadi tidak perlu pura-pura lagi" jelas Faza.


"Maksudnya apa sih?" tanyaku lagi.


"Kita itu nikah udah hampir setahun, aku sudah mulai terbiasa dengan kehadiran kamu, kamu itu selalu menjagaku, disaat sakit kamu sangat mengurusku sampai aku sembuh, kamu juga sabar meskipun sikap aku juga engga baik. Jadi untuk pegang atau cium kening kamu bukan hal yang canggung lagi"0 jelas Faza, kini mobilnya sudah mulai memasuki halaman rumah.


"Tapi kalau cinta engga kan, mas?" tanyaku, sebenarnya hatiku terasa dag dig dug, aku tidak ingin berekspektasi apapun, aku tidak ingin kecewa tapi tetap saja sepertinya aku berharap dia menjawab bahwa dia mencintaiku.


"Mas, masih tetap engga cinta sama aku?" tanyaku ulang.


"Masih mencintai Bintang?" tanyaku lanjut.


"Iya" jawabnya singkat.


Hatiku terasa panas, aku benar-benar merasa kesal dan dipermainkan olehnya. Baru saja beberapa hari ini dia bersikap sangat manis kepadaku, apalagi tadi pagi ciuman itu..ciuman itu apa makna nya untuk dia? gerutuku dalam hati.


Tanpa bicara apa-apa lagi, aku langsung keluar mobil dan meninggalkan Faza. Kenapa hatiku begitu lemah, aku berusaha membuat tembok pertahanan saat Faza mencoba memaksaku waktu itu, aku sudah hampir berhasil membuat tembok yang kokoh, hanya karena ciuman itu tembok yang kubuat runtuh kembali dan sekarang aku harus menelan mentah-mentah kenyataan pahit lagi tanpa tembok pertahanan.


Aku masuk kedalam rumah dan diikuti Faza dibelakangku, Faza berusaha mengejarku yang saat ini diselimuti oleh amarah. Cemburu, benar..aku memang cemburu dia masih saja mencintai Bintang, seakan-akan kehadiranku selama ini dalam hidupnya tidak memiliki makna.


Akhirnya Faza berhasil menarik tanganku. Seketika langkahku terhenti dan berpaling kepadanya.


"Jangan marah" ucap Faza masih memegang tanganku.


"Mas ini mau nya apa? Memang kalau aku marah kenapa mas?" tanyaku dingin.


"Aku engga suka kamu marah" jelas Faza dengan jujur.


"Apa pengaruhnya untuk mas?" tanyaku sinis.


"Iya, bikin mood ku jadi buruk" Faza memelukku.


"Sudahlah, mas. Urus saja Bintang mu itu" buru-buru ku lepas pelukannya dan masuk kedalam kamar ku yang dibawah.


Faza tertegun. Dia hanya menatapku. Dia memang merasa bersalah mengatakan hal yang sejujurnya tetapi memang itu kenyataannya. Dia masih mencintai Bintang.