
"Daisy?" panggil orang itu.
Aku mendongakkan kepalaku dan seketika mataku terbelalak siapa yang ada didepanku sekarang, seseorang yang bajunya baru saja aku siram dengan matcha latte.
"Fariq" ucapku pelan.
Tatapan kami bertemu, ada rasa rindu yang menyelinap keluar dari dalam hatiku, rindu yang sudah lama kupendam dalam-dalam. Bahkan aku tidak ingin mengingatnya sedikitpun karena aku tahu disaat aku ingat dia, maka rasa yang dulu pernah ada akan muncul lagi. Sekuat itu rasa sayang dan cintaku untuknya.
Sudah lama aku tidak memikirkan Fariq sama sekali dan kini tiba-tiba dia ada dihadapanku dan berada ditempat yang penuh dengan kenangan kami.
Akhirnya kami memutuskan untuk berbincang-bincang sebentar. Dia tidak banyak berubah hanya terlihat lebih tampan dan dewasa.
"Maaf untuk bajunya" ucapku merasa bersalah.
"Engga masalah kok, aku sudah ganti matcha latte yang tumpahnya yaa haha" wajah Fariq terlihat sangat bahagia.
Tanpa aku sadari, aku ikut tersenyum disaat melihat senyum manisnya.
"Apa kabarmu?" tanyaku.
"Baik, hmm...aku minta maaf kalau dulu pernah sama aku, aku sering menyakiti hati kamu" ucapku ragu.
"Engga, kamu engga lakukan kesalahan juga. Aku yang engga bisa kasih kamu kepastian. Aku kaget banget saat tahu kamu menikah" kata Fariq, kini matanya sudah menatapku.
"Maaf, tapi keputusan ini aku ambil karena aku pikir kamu benar-benar sudah melupakan dan meninggalkan aku. Lagipula jika menunggu kamu, aku menunggu sesuatu yang engga pasti" kataku.
"Daisy, sejujurnya setelah kita putus, aku sedang menyusun rencana dan memperjuangkan kamu agar kita bisa menikah, tapi memang salahku, aku tidak bilang kepadamu untuk menungguku, karena jika aku bilang terlebih dulu, aku takut akan membuatmu kecewa, tapi aku tidak bisa bohong kalau aku hanya ingin menikah denganmu, Daisy. Disaat aku tahu kamu menikah, entahlah aku benar-benar merasa kacau sekali, kamu juga tidak mengundangku ke pernikahanmu, aku baru tahu kamu akan menikah juga semalam sebelum hari pernikahanmu. Semoga suami mu benar-benar bisa membuatmu bahagia. Dia sangat beruntung mendapatkan kamu, kamu adalah istri idaman. Daisy, saat kamu masih menjadi kekasihku, kamu adalah segalanya untukku. Jika tanpa syarat aku harus menikahi gadis keturunan Arab, aku sudah menikahimu sejak awal, aku tidak ingin menggantungkan hubungan kita, aku sudah sangat berusaha berkorban untuk hubungan kita. Tapi maafkan aku, aku tidak bisa membuat impianmu, impian kita, untuk menikah" jelas Fariq, aku bisa melihat matanya berkaca-kaca.
Aku tidak mampu berkata-kata, kenyataan ini sangat menyakitiku. Aku pikir Fariq sudah tidak mencintai dan menyayangiku setelah kita putus. Sudah cukup lama aku menunggu nya kembali tapi dia tidak kembali kepadaku. Tapi aku kembali menyadari bahwa aku sudah bersuami, tidak selayaknya aku membiarkan perasaan yang dulu sudah kupendam kembali mencuat dalam hatiku. Ku kubur dalam-dalam perasaanku ini.
"Maaf kan aku, Fariq. Maaf telah membuatmu kecewa. Aku menikah dengan suamiku berharap agar aku memiliki kehidupanku yang sesungguhnya. Aku menerima Faza karena banyak faktor yang membuatku yakin memilih dia sebagai suamiku, meskipun sebelum aku memutuskan menikah, aku benar-benar menunggumu kembali, tapi nyatanya kamu tidak kembali" kataku
"Aku menyesal telah menggantungkan hubungan kita, menyia-nyiakan kamu, Daisy" ucap Fariq lirih.
Aku hanya terdiam meminta maaf telah membuatnya sedih dan kecewa, tapi inilah kenyataannya, kamu adalah khayalanku yang dulu pernah ada, khayalan bahwa kamu adalah suamiku, faktanya aku menikah dengan orang lain, seseorang yang telah menyeretku dalam kehidupan rumah tangga yang sangat membingungkan.