The Wedding

The Wedding
43. Mari Kita Pulang Cora



Tony mencapai Rote Ndao menggunakan pesawat rute Jakarta- Kupang. Perjalanannya dilanjutkan menggunakan speedboat dari Kupang menuju Rote Ndao. Dalam hitungan jam Tony tiba di ibu kota Rote Ndao yang berada di Lobalain di jalan Baa. Dibutuhkan waktu sekitar tiga jam untuk sampai ditempat Cora mengajar, Tony harus menggunakan ojek untuk sampai ketempat itu karena sebagian jalanan menuju daerah Cora mengajar hanya bisa ditempuh dengan kendaraan roda dua.


Setelah menempuh perjalanan panjang dan memakan waktu yang cukup lama itu, Tony tiba di desa tempat Cora berada. Ia disambut dengan Intan yang sudah diberitahukan oleh Andri untuk memberikan bantuan pada Tony saat lelaki itu berada didesa tempat Cora mengajar.


"Dimana Cora?" Tony bertanya pada Intan yang saat itu menyambutnya.


"Kak Cora sedang tidur. Anda bisa menemuinya nanti pagi, dia kelelahan."


"Saya tidak bisa menunggu sampai pagi. Setidaknya saya ingin melihat wajah istri saya. Saya merindukannya."


"Baiklah jika anda memaksa, tapi jangan diganggu ya." Intan memperingatkan Tony sebelum ia mengantar lelaki itu kekamar yang ditempati oleh Cora. Ia terkekeh pelan saat melihat wajah Tony yang tampak bahagia karena ia mau mengantarkannya kepada Cora. Mata Tony berbinar-binar saat mendengarkan jawaban dari Intan itu, lelaki itu tidak mau menunggu semenit pun untuk melihat wajah wanita yang dicintainya itu.


Mereka berjalan memasuki sebuah rumah yang dihuni oleh beberapa orang dari yayasan Permata kasih. Tony memandang sekelilingnya. Ia tidak dapat membayangkan istrinya itu harus tidur dirumah yang kecil dan dihuni oleh banyak orang seperti ini.


"Ini kamarnya. . ." Intan membuka pintu di hadapannya dengan perlahan, "Sstttt. . . jangan berisik ya." Intan meletakkan satu jarinya tepat didepan bibirnya. Tony menganggukkan kepalanya dan mengucapkan terimakasih tanpa suara kepada Intan. Gadis remaja itu tersenyum manis dan berjalan meninggalkan Tony.


Tony memandang tidak percaya wanita yang tengah tertidur pulas dihadapannya itu. Ia berjalan ke arah Cora dan dengan perlahan ia membaringkan tubuhnya disebelah wanitanya itu.


Ia memeluk tubuh Cora dengan erat dan ia mengecup puncak kepala wanitanya itu. Ia menikmati aroma tubuh wanita itu yang selama ini selalu ia rindukan.


Saat rindu menghantam perasaanmu, sadar atau tidak, hubungan jarak jauh itu mengajarkanmu akan banyak hal. Hubungan itu juga mengajarkan kamu dan pasangan untuk lebih banyak membisu dan memilih diam. Tony hanya bisa memilih diam saat ia bisa bertemu dengan wanitanya itu. Ia ingin mengamati wanita itu dan mencoba mengurangi sedikit rasa sakit dari rasa rindu yang selama ini menyiksanya.


Dengan perlahan Tony membalikkan tubuh Cora kearahnya, ia tersenyum manis saat menatap wajah yang selama ini dirindukannya itu. Ia mengecup bibir Cora dengan lembut, kecupan yang sangat lama. Ingin rasanya Tony segera membangunkan wanitanya itu dari tidurnya dan melihat reaksi wanita itu saat melihat wajahnya. Ada ketakutan yang merayapi hatinya untuk melakukan itu semua, ia takut Cora menolaknya dan tidak menginginkan kehadirannya. Setelah puas menatap wajah Cora, ia berjalan keluar kamar wanita itu dan meninggalkan tidur dikamar yang sudah disediakan oleh Intan.


"Kak Cora. . . ada yang nyariin kakak." Intan memanggil Cora yang tengah asyik mengajarkan seorang anak perempuan untuk membaca. Cora dan anak perempuan itu tampak tengah bercanda dan tertawa bahagia sebulm Intan menganggu mereka. Cora berpikir sejenak, ia memikirkan siapakah gerangan yang ingin bertemu dengan dirinya.


Ia merasa tidak mungkin ada yang ingin bertemu dengannya, jika memang Andri atau temannya yang lain ingin bertemu mengapa mereka harus meminta Intan untuk memanggilnya.


"Cepetan kak. . . nanti orangnya keburu pergi." Intan menarik tangan Cora tanpa mendengarkan jawaban dari wanita itu. Ia sudah tidak sabar melihat Cora yang sedari tadi tidak mengatakan apapun dan tampak terpaku di tempatnya.


"Pelan-pelan Tan. . . jangan tarik tangan aku sambil lari-lari begini," Cora berkata dengan nafas yang terengah-engah.


"Kakak lama larinya, ayo cepetan. . ."Intan tidak menghiraukan Cora yang tampak lelah dan semakin mempercepat langkahnya.


"Kita sudah sampai kak." Intan tersenyum genit dan melepaskan genggaman tangannya. Ia melambaikan tangannya pada Cora yang berdiri terpaku dengan nafas yang terengah-engah. Setelah mendapat kesadarannya Cora mendengus kesal dan mencoba mengatur nafasnya yang terengah-engah.


Cora membalikkan tubuhnya dan mencoba mencari tahu siapakah orang yang mencarinya. Ia mematung di tempatnya berdiri dan membulatkan kedua matanya. Tanpa ia sadari saat melihat lelaki itu, ia menahan nafasnya dalam hitungan detik. Lelaki itu tersenyum manis kepada Cora, sedangkan Cora berulang kali mengerjapkan kedua matanya. Ia tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Semua itu bagaikan sebuah mimpi, mimpi yang tidak berani ia harapkan untuk menjadi nyata, mimpi yang selama ini selalu menghantuinya.


Walaupun ia sudah mencoba untuk tidak memikirkan Tony, tetapi hatinya tidak mau bekerjasama dengan otaknya. Pikiran dan hatinya tidak dapat berhenti memikirkan lelaki yang saat ini tengah berdiri di hadapannya itu.


Lelaki tampan itu sekarang terlihat lebih kurus, lingkaran hitam menghiasi bagian bawah matanya, bulu-bulu halus menghiasi rahang kokohnya itu. Cora memperhatikan setiap lekuk wajah lelaki yang selama ini sangat dirindukannya itu, wajah yang selama ini tidak pernah hilang dari benaknya. Mata mereka saling bertemu. Mereka saling memandang dalam hening, hanya suara ombak yang memecah keheningan disekitar mereka. Rasa rindu yang selama ini ia pendam telah menyiksanya, rasa cemas dan sakit terus menghantuinya. Ia tidak berani membayangkan bahwa suatu hari nanti mereka akan bertemu kembali seperti saat ini. Ia tidak ingin berharap banyak, ia tidak ingin kecewa saat harapannya itu tidak dapat terkabul. Walau di dalam mimpi sekalipun, ia takut melihat wajah lelaki itu, ia takut pertahanannya akan runtuh karena lelaki itu.


Mata Cora berkaca-kaca saat mendengarkan suara yang begitu dirindukannya. Wajah itu, suara itu, senyuman itu, ia merindukan setiap hal yang ada di diri Tony. Ia berjalan mendekati Tony dan mengelus dengan lembut wajah lelaki yang selama ini dirindukannya. Ia ingin memastikan bahwa lelaki di hadapannya itu bukanlah ilusinya semata. Ia ingin memastikan bahwa semua yang terjadi saat ini bukanlah sekedar mimpi yang akan menghilang saat ia terbangun dari tidurnya. Ia ingin memastikan bahwa semua ini adalah sebuah kenyataan.


Tony mengusap-usap punggung tangan Cora yang berada diwajahnya, ia mengecup tangan Cora dan tersenyum lirih. Cora tidak dapat menahan tangisnya lagi, air matanya mengalir begitu saja tanpa bisa ia kontrol. Semua ini terasa begitu nyata baginya, mimpi yang selama ini ia takutkan untuk menjadi nyata akhirnya, hari ini mimpi itu menjadi sebuah kenyataan. Rindu yang selama ini yang terasa begitu menyiksa menjadi sedikit terobati. Jantung Cora berdebar dengan kencang saat menyentuh wajah lelaki itu, rindu yang selama ini dipendamnya sekarang dapat dikeluarkannya. Air matanya yang sejak tadi keluar tidak bisa dihentikan olehnya. Ia tidak bisa menyangkal lagi, ia mencintai dan merindukan Tony.


Ia tidak dapat memendam rasa rindunya lagi. Benteng pertahanan yang selama satu tahun dibangunnya itu runtuh begitu saja saat ia melihat wajah lelaki itu. Tidak adil rasanya, ia butuh satu tahun lamanya untuk membangun benteng pertahanannya, sedangkan lelaki itu hanya perlu beberapa menit untuk menghancurkan semua benteng pertahanannya itu. Rasa sakit, bahagia, rindu dan sedih bercampur jadi satu di dalam hatinya.


"Ba. . . gai. . . mana. . . kamu.." suara Cora bergetar, ia tidak dapat melanjutkan pertanyaannya. Lebih tepatnya ia tidak tahu apa yang harus ia katakan saat ini. Begitu banyak rangkaian kata yang selama ini telah disusunnya di dalam benaknya, tetapi tidak ada satupun dari kata-kata itu yang dapat keluar melalui mulutnya.


"Bukankah sudah kubilang bahwa seberapa jauh pun kamu berlari, aku akan selalu mengejarmu dan mendapatkanmu kembali." Tony menarik Cora kedalam pelukkannya dan mengecup puncak kepala wanita itu.


Dengan pelukan itu mereka saling melepaskan rindu yang selama ini terasa membunuh mereka. Mereka seakan sedang saling meyakinkan diri mereka sendiri bahwa ini semua bukanlah sebuah mimpi, semua ini nyata dan orang yang berdiri di hadapan mereka adalah orang yang selama ini mereka rindukan. Orang yang selama ini tidak pernah hilang sedikitpun dari pikiran maupun hati mereka masing-masing.


Jika ini mimpi. . . aku mohon jangan pernah bangunkan aku, Cora bergumam didalam hatinya.


"Mari kita pulang Cora." Tony melepaskan pelukkannya dan menatap kedalam manik mata milik wanitanya itu. Ia mengusap air mata yang telah membasahi pipi Cora. Cora memandang sedih kearah Tony. Ia akui bahwa ia sangat merindukan Tony, tetapi jika lelaki itu meminta Cora untuk kembali padanya, ia tidak tahu harus menjawab apa. Di dalam hati kecilnya ia sangat ingin kembali pada Tony, tetapi ada sebagian kecil dari dirinya yang takut untuk kembali ke sisi lelaki itu. Ia takut, takut akan perasaannya sendiri.


"Maaf Tony. . . aku tidak bisa kembali padamu. Hidupku ada disini dan semua perjalananku ini aku membuatku merasa bahagia. Semua ini adalah yang kuinginkan." Cora tersenyum lirih, "Maafkan aku, aku masih ingin menjalani perjalananku yang masih panjang ini." Cora melanjutkan perkataannya.


"Apa kamu masih marah? maafkan aku Cora. . ." Tony berkata dengan lirih, ia menggenggam kedua lengan Cora dan menatap ke dalam manik mata wanita itu. "Aku mohon kembalilah padaku. Aku tidak bisa hidup tanpamu. Sudah cukup satu tahun penderitaan yang kurasakan. Aku tidak mau tersiksa lagi Cora, aku mencintamu. Apa. . . kamu tidak mencintaiku? kamu tidak mau kita bersama?" Tony melanjutkan perkataannya. Sudah cukup satu tahun ia merasa tersiksa dengan cinta dan rindu yang dirasakannya. Ia tidak sanggup dan tidak akan pernah sanggup untuk kehilangan Cora lagi. Ia ingin menghabiskan sisa hidupnya hanya bersama dengan wanitanya itu. Ia tidak akan sanggup lagi untuk menjalani hari-harinya yang bagaikan neraka tanpa wanita itu di sampingnya.


"Aku tidak marah, aku sudah memaafkan semuanya." Cora tersenyum manis dan menyentuh rahang Tony, "Aku mencintaimu Tony, tapi maaf aku tidak bisa kembali padamu, tidak untuk saat ini." Cora menatap sedih lelaki di hadapannya. Air matanya keluar melalui kedua matanya, entah sudah berapa banyak air mata yang dikeluarkannya saat ia bertemu kembali dengan lelaki pemilik hatinya itu. Ia melepaskan dirinya dari Tony dan tersenyum lirih kepada lelaki itu. Ia berlari meninggalkan Tony yang masih berdiri terpaku memandangi kepergiannya.


Tony merasa sakit yang luar biasa didalam hatinya, dadanya terasa begitu sesak seakan tidak ada oksigen disekitarnya. Perkataan Cora bagaikan sebilah pisau yang menusuk-nusuk jantungnya dan membuatnya merasakan sakit yang luar biasa. Ia tidak menyangka Cora akan menolaknya, ia tidak pernah membayangkan Cora akan menolak untuk kembali kepadanya. Ia tahu Cora mencintainya dan ia pun sangat mencintai Cora, tetapi ia tidak mengerti mengapa wanita itu menolaknya dan pergi meninggalkannya. Ia dapat merasakan kerinduan dan cinta yang sama dimata Cora. Saat ini ia tidak tahu apa yang harus dilakukannya lagi untuk membuat wanita itu kembali kepadanya.


Ia tahu wanita itu sudah banyak tersakiti karenanya, tetapi bukankah setiap manusia layak mendapatkan kesempatan kedua? Tony menatap kosong lautan di hadapannya. Pikirannya menerawang entah kemana. Ia berharapdapat mengulang kembali waktu dan memperbaiki semua kesalahannya kepada Cora.


Sementara Tony sedang larut dalam pikirannya. Cora yang tengah berlari menghentikan langkahnya dan duduk disebuah batu besar. Ia menatap kosong laut di hadapannya. Ia tidak tahu mengapa ia harus berlari dari Tony. Saat ini hatinya sangat yakin bahwa ia sangat mencintai dan merindukan Tony. Ia tidak bisa kembali pada lelaki itu karena ia takut akan menjadi wanita lemah dan selalu menangis bila berada disisi lelaki itu. Ia tidak ingin kembali menjadi Cora yang lemah. Ia selalu menjadi seorang yang tidak dikenalnya saat bersama dengan lelaki itu. Ia belum bisa kembali ke sisi lelaki itu, setidaknya tidak untuk saat ini.


Cora mengadahkan wajahnya ke atas dan memandang langit biru yang begitu cerah. Ia memejamkan matanya dan membiarkan angin laut yang terasa hangat itu menerpa wajah cantiknya. Angin itu membelai wajahnya mulusnya dengan lembut dan memberikan sedikit ketenangan pada hatinya yang dilanda kerisauan. Ia berharap angin itu dapat menyapu perasaan yang memenuhi hatinya itu, perasaan yang ia sendiri tidak dapat mengerti. Cora menarik nafas panjang dan menghelanya, ia ingin mengontrol perasaannya saat ini. Ia menikmati deruan ombak yang bergulung dan desiran angin yang dapat membuat hatinya sedikit tenang itu.Jodoh itu aneh dan cinta itu rumit? Ia tidak pernah pintar menghadapi perasaan yang rumit seperti itu. Mencintai itu butuh keberanian dan perjuangan.


.


...****...


🌷🌷🌷


.